The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 98



Malam itu so ah takkan tau bahwa pada akhirnya ia akan kembali merasakan rasa bersalah yang amat sangat terasa menyakitkan didalam hatinya.


Malam yang semakin larut membuat rombongan para petani itu untuk berhenti dan membuat sebuah tempat peristirahatan.


Api unggun dinyalakan, aroma ubi bakar mulai tercium diudara dengan suara canda para petani yang terdengar bahagia menceritakan keluarga mereka.


Nian yang sedang menata jerami diatas gerobak kayunya tersentak kaget dengan apa yang ia lihat, dan karena posisi mereka sekarang ada di bukit hijau dari kejauhan ia bisa melihat obor-obor yang dari kejauhan bergerak dengan cepat menuju kearah mereka. Ia yang merasakan firasat buruk langsung turun dari atas gerobaknya dan berlari memberitahukan semua yang ia lihat kepada para petani itu tapi sayang suara peringatannya terendam dengan suara drum yang di pukul keras.


"Nyonya, nyonya ayo kabur..."ucap Nian panik.


"Kenapa ??"tanya so ah yang tanpa kata-kata lagi Nian langsung menarik tangan so ah dan menyuruhnya untuk naik keatas kudanya.


"Cepatlah pergi nyonya"desak nian.


"Kau... kau tak ingin pergi..."tanya so ah cemas.


"Aku... aku akan menyusul... cepatlah"ucap nian dan langsung memukul tubuh belakang kudanya.


Kuda cokelat itu langsung melesat memasuki hutan yang gelap hanya sinar bulan purnama yang samar-samar menerangi hutan itu.


Nian tau bahwa kemungkinan ia takkan bisa melihat matahari terbit besok, ia memilih tidak melarikan diri karena rombongan ini sudah ia anggap sebagai keluarga, jika ia pergi... kemana ia akan pulang ??... ia juga merasa lega bahwa didetik terakhir dirinya bisa membuat nyonya malaikat itu menjauh dari kesialan...


So ah bisa mendengar suara teriakan samar dibelakangnya...


So ah bisa merasakan punggungnya merembes keringat dingin bercampur rasa takut....


Nian...


Nian...


Maafkan aku hiks...


Maafkan aku...


Nenek gu maafkan aku...


Hati so ah terasa sangat sesak, air matanya turun dengan deras, ia merasa bahwa kehadirannya hanya membawa nasib sial pada orang-orang baik itu.


Tangannya yang memegang perutnya dan yang satunya memegang tali kekang itu mengepal erat.


So ah bisa merasakan orang-orang berkuda dibelakangnya sepertinya sedang mengejarnya, dalam keadaan panik ia terus memacu kudanya agar lebih cepat lagi.


So ah memberhentikan kudanya, ia langsung turun dari kudanya dan menepuk kudanya agar pergi berlari lagi, sedangkan dirinya langsung bersembunyi diantara semak-semak tinggi.


Ia merasakan rasa nyeri di bagian bawah perutnya apalagi ditambah dengan guncangan saat menaiki kuda tadi cukup membuat wajahnya sepucat kapas.


Hentakkan kaki kuda yang terlihat samar dan semakin besar menuju kearahnya, jantungnya yang berdegub keras membuat so ah tak berani bergerak seincipun dari tempatnya bersembunyi.


"Dimana kuda itu !"desis seseorang diatas kudanya.


"Periksa tanah cepat !!"perintahnya lagi dengan kasar.


"Ke arah barat daya komandan"ucap bawahannya.


"Ayo cepatt !!"ucap komandan itu pada para prajuritnya.


So ah merasa lega dengan kepergian mereka, ia lebih memilih berjalan kearah yang berlawanan dan dengan hati-hati mengawasi sekitarnya agar tidak diketahui mereka.


Dirinya yang kelelahan dan ditambah lagi malam semakin larut, so ah lebih memilih untuk tidur di atas pohon. Ia mengulurkan tangannya dan terciptalah sulur-sulur tanaman yang membawanya keatas pohon  besar, ia membaringkan tubuhnya ditengah-tengah batang pohon yang sudah ia perintahkan untuk mencekung dalam.


Keesokkan harinya Huang de murka, ia memukuli semua bawahannya satu persatu.


"Cepat cari lagi keberadaannya !... jika kalian tak mendapatkan sehelaipun keberadaannya... kepala kalian akan aku gantung digerbang kerajaan !!"desis huang de marah.


Para bawahannya langsung dengan pergi memulai percarian lagi, mereka pikir so ah pergi dari arah dimana kuda pergi itu dan pasti seorang wanita lemah takkan jauh dari titik dimana kudanya pergi jadi mereka menyusuri kedalam semak-semak yang so ah masuki.


Disisi lain so ah mendatangi tempat dimana semalam rombongan para petani beristirahat.


Bumbungan asap hitam bekas gerobak kayu yang dibakar menyisakan bau asap yang menyesakkan udara bercampur dengan bau aliran darah dan mayat para petani yang terlihat mati dengan sangat mengenaskan.


Maafkan aku, batin so ah terus merasa bersalah, air matanya terus mengalir dengan deras melihat tempat yang penuh dengan mayat-mayat orang tak bersalah.


"Dimana Nian ??"pikir so ah mengalihkan pandangannya kesegala arah.


Ia melihat tubuh gadis kecil itu tergeletak kaku dengan kondisi yang jauh dari kata baik masih ditempat yang sama, terlihat tubuh yang penuh bekas cambukan serta sayatan pedang diseluruh tubuhnya dan juga terlihat bekas pelecehan diarea pribadinya menjadi bukti bahwa semalam ia disiksa habis-habisan oleh para prajurit itu. So ah menangis disamping mayat yang hampir hancur tak berbentuk itu, jika bukan karena tangan gadis ini memegang erat kantung sutra miliknya yang mungkin semalam terjatuh, ia takkan mengenali gadis ini.


So ah menangis pilu, jiwanya sangat terguncang dengan apa yang telah terjadi.


Nyawa warga desa yang ia tinggali sebelumnya...


Nyawa orang-orang yang sudah eksekusi dikerajaan timur...


Nyawa para petani ini dan Nian kecil...


Setelah menutupi mayat Nian dengan jerami, ia berusaha menguatkan hatinya dan tertatih-tatih berjalan memasuki kedalaman hutan.


Air mata masih mengalir deras menuruni pipinya tapi so ah masih tetap teguh untuk masuk lebih dalam, saat ia kelelahan dan beristirahat disebuah pohon terdengar geraman rendah dari arah semak belukar dan tanaman yang rimbun dari arah sampingnya yang hanya berjarak beberapa meter itu.


Mata so ah terbebelak kaget, ia dengan perlahan berusaha untuk tidak membuat sebuah pergerakan yang mencolok tapi sayang dari arah itu keluar dua srigala besar, menatapnya dengan tatapan hewan buas kelaparan.


So ah tak menyadari masa habis dari pil yang ia makan sudah tidak berefek besar pada tubuhnya dan ia yang semalaman berlarian didalam hutan kemudian kembali lagi dan berlari lagi tak menyadari bahwa aromanya telah membawa bencana bagi dirinya sendiri.


Aroma darah dan tubuhnya yang tercium langka membangkitkan rasa lapar bagi para monster-monster buas dari dunia bawah yang masih bersembunyi diantara kegelapan.


Gerombolan srigala yang ia jumpai tadi adalah salah satu dari para monster buas itu.


So ah yang berusaha melarikan diri tanpa berani melihat kebelakang itu terus berlari dengan rasa ketakutan yang menggerogoti hatinya. So ah yang merasa bahwa gerombolan hewan buas dibelakangnya seperti mulai bertambah lagi, ia berusaha menghalau hewan-hewan mengerikan itu dengan tanaman-tanaman yang sengaja ia tumbuhkan tak bisa menghalau mahluk-mahluk itu.


Disisi lain, para prajurit yang diperintahkan huang de berada diarah dimana so ah berlari.


"Tolong... tolong akuu"ucap so ah dengan suara yang hampir habis, ranting pohon yang menggores tubuhnya dan juga lumpur hitam mengotori hampir sebagian tubuhnya membuat ia bagaikan itik buruk rupa dalam kubangan lumpur busuk, itu yang dipikirkan para prajurit huang de saat melihat wanita hamil menyedihkan ini berlari dengan ketakutan.


"Srigala... banyak srigala..."ucap so ah dengan suara serak kehabisan nafas, ia hanya bisa terduduk lemas ditanah.


Para prajurit itu hanya menganggap sepele ucapan so ah, mereka langsung mengikat kedua tangan so ah.


So ah menatap nanar para prajurit yang menantang kematian didepannya itu, ia berusaha menyeret tubuhnya sendiri dan ia hanya dihadiahi tawa menghina dari para prajurit yang berdiri beberapa meter didepannya itu. Segalanya terjadi dengan begitu cepat, gerombolan srigala yang entah ada berapa itu datang menyerang para prajurit dan memakan daging yang sudah dicabik-cabik dengan keji itu.


Darah...


Potongan tubuh yang berceceran dengan isi yang berhamburan...


Mata so ah terbelalak ketakutan hingga kengerian sampai ia merasakan mual diperutnya, ia sudah tak mempunyai tenaga lagi untuk menumbuhkan pohon sebagai tempat berlindungnya.


Di depan matanya, ia melihat para srigala besar itu berubah menjadi sosok-sosok serupa manusia yang dibalut dengan bekas darah segar di mulut dan badan mereka, mereka mulai berjalan datang kepadanya.


"Mangsa yang lezat"desis lelaki yang memimpin paling depan.


Semakin mereka mendekat semakin so ah merasa putus asa melihat kematian yang berada tepat di depan matanya, ia menutup matanya dan memegang erat perutnya dengan kedua tangannya.