The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 236



Jing mei membuka tudung jubah miliknya. Ia bersimpuh dihadapan so ah, perlahan mengeluarkan sebuah botol kristal bening dan meminumkan isi botol itu ke so ah.


"Ku mohon, bertahanlah", bisik jing mei pelan.


Mata jing mei bergulir panik saat merasakan suhu dingin ditangan so ah, ia menyentuh leher dan pipi so ah yang juga telah bersuhu sama dinginnya.


Bagaimana ini !!!..


Setelah sekian lama, jing mei yang tak pernah menggunakan energi spiritual miliknya itu berusaha mengeluarkan energinya. ia berusaha menyembuhkan so ah.


Ia berusaha berkali-kali untuk mengeluarkan kembali kekuatan spiritual miliknya, tapi saat aliran spiritual miliknya hampir keluar. Inti spiritual jing mei terasa seakan diremat dengan ganas.


Jing mei mendesis kesakitan, segumpal darah dari inti spiritual jing mei, keluar dari tenggorokannya.


"hah...hah", desis jing mei yang berusaha untuk mengeluarkan kembali energi miliknya.


Ia tahu bahwa energi spiritual miliknya yang telah di ikat zheng bai, takkan mungkin bisa ia gunakan kembali. tapi, dirinya masih terus berusaha dan bersikeras walau ia tahu pada akhirnya tetap dirinya yang akan terluka.


Akhirnya jing mei menyerah. Wajahnya terlihat pucat pasi dan sedikit lelah. hanfu hitam miliknya terlihat beberapa tetes darah miliknya.


Mata jing mei sedikit menyala saat melihat darahnya sendiri. benar !!.. ia bisa menyembuhkan manusia ini.


Setelah membersihkan seluruh tubuh so ah, dan menganti pakaian so ah dengan yang hanfu hitam baru. jing mei cepat-cepat mengambil ramuan obat miliknya. wanita itu dengan sepenuh hati menumbuk ramuan obat dengan tangannya sendiri, setelah ramuan obat itu tertumbuk rata, jing mei dengan hati-hati memerasnya dan menaruhnya di cangkir obat.


ia perlahan mengambil pisau kecil disamping bahan ramuan obat. sedikit, ia menggores ujung jarinya dan meneteskan darah miliknya disana. merasa cukup, jing mei perlahan mendekati tempat tidur dan meminumkan ramuan itu pada so ah.


sepanjang malam, ia menghabiskan waktunya di dalam ruangan itu untuk merawat manusia dihadapannya ini. setelah beberapa kali mengompres dahi so ah yang tadinya demam tinggi setelah meminum ramuan obat yang ia buat, jing mei tertidur disamping tempat tidur so ah. ia kelelahan dan tubuhnya terasa lemah karena sebelumnya ia terus berusaha mengeluarkan terlalu banyak energi spiritual dari tubuhnya.


Disisi lain, zheng bai terlihat murka karena tidak menemukan keberadaan jing mei. hingga akhirnya ia melihat beberapa wanita dari klan ular terlihat menjaga ruangan di sayap timur istananya.


"Apa yang kalian lakukan !", desis zheng bai dingin.


"Yang mulia raja ?", kaget para wanita setengah ular itu saat melihat zheng bai.


"Apa yang kalian lakukan !", desis zheng bai.


cepat-cepat para wanita setengah ular itu langsung menjawab pertanyaan raja dunia bawah. mereka tadinya berfikir bahwa sosok yang berada didalam ruang itu adalah raja mereka, dan saat melihat zheng bai yang lain datang. mereka langsung tahu bahwa satu orang yang berani melakukan hal itu hanyalah ratu jing.


jing mei yang tertidur sangat lelap tak mengetahui keributan besar di luar kamar. Wajah cantiknya terlihat pucat, sama halnya dengan warna bibirnya. Zheng bai melihat penampilan kuyu wanita yang tengah tertidur dengan posisi tidak nyaman itu merasa kesal.


Jing mei tersentak kaget saat ia merasakan keberadaan seseorang lain didekatnya. matanya yang linglung terbuka cepat.


"Apa yang kau lakukan !!", bentak marah zheng bai.


Lelaki itu memegang kedua lengan jing mei dan sedikit menggoyangkannya denhan kasar. jing mei langsung tersadar ketika ia melihat wajah zheng bai dihadapannya. ia langsung tahu apa yang tengah zheng bai katakan padanya.


Jing mei hanya diam dan menatap datar sosok lelaki dihadapannya ini. lengannya terasa panas karena cengkeraman tangan zheng bai dikedua lengannya, ia tak merasakan sakitnya lagi atau mungkin ia telah bosan dengan rasa sakit yang tak seberapa dibanding hari-harinya yang penuh dengan penghinaan. tapi, saat ini tubuhnya begitu lemah.


"Apa yang aku lakukan tidaklah salah, bukankah yang mulai telah sepakat ?", ucap dingin jing mei.


"Ikut aku !!!..", desis marah zheng bai.


"Apa yang akan kau lakukan !!", sahut jing mei dingin.


"Ck, persetan dengan manusia menjijikan disana !!!... sekarang kau harus ikut dengan ku !! atau kau ingin masuk kedalam ruangan itu lagi ?!", desis dingin zheng bai.


Seketika tubuh jing mei tegang, ia meremang kaku.


"Tidak !!!.. aku tidak mauu...", ucap marah jing mei.


"Lepas !!!.. lepaskan aku !!!", ucap jing mei yang semakin memberontak.


Zheng bau tak mengidahkan teriakan marah jing mei. Jing mei yang tadinya berontak dan terus berontak merasakan cengkeraman zheng bai padanya sedikit mengendur, ia menghempaskan kasar tangan lelaki itu.


"Bagus, bagus, disaat seperti ini kau berani melawan perintah raja ini", desis dingin zheng bai.


Jing mei tersentak mundur hingga tubuhnya menabrak sisi tempat tidur.


Zheng bai melihat sosok yang tengah tertidur lelap dibelakang tubuh jing mei dengan pandangan dingin. Jing mei mulai waspada saat melihat tatapan mata itu.


"Pergi, atau aku bunuh manusia itu", ancam zheng bai dingin.


Jing mei terdiam mendengar ucapan zheng bai. ia yakin lelaki dihadapannya ini tak pernah main-main akan kata-kata yang keluar dari mulut berbisanya itu. Akhirnya, ia lebih memilih menurut pada zheng bai.


"Pegang kata-katamu", ucap jing mei pelan. Zheng bai hanya diam dan Jing mei melangkahkan kakinya mendekati zheng bai.


Zheng bai yang melihat tubuh limbung jing mei dengan cepat ia menahan tubuh tak sadarkan diri itu. ia menatap dingin antara tubuh jing mei dan tubuh manusia fana yang sama-sama tak sadarkan diri. tapi, ia mengabaikan manusia itu dan pergi membawa tubuh jing mei.


"Jaga tempat ini, jangan biarkan siapapun masuk", ucap zheng bai memberikan perintahnya dan pergi dari tempat itu.


.


.


.


"*Jie jie", panggil seorang anak kecil cantik yang tengah berlarian di padang rumput penuh kupu-kupu. didepan anak kecil cantik itu terlihat sosok yang sedikit lebih tinggi darinya.


"mei mei, jangan berlarian", ucap sosok anak yang dipanggil jie jie.


Tawa riang dan bahagia terdengar renyah dari kedua anak kecil yang sedang bermain itu. Sedangkan disisi lain, terlihat dua sosok lain yang melihat bagaimana interaksi manis antara kedua anak itu.


Hingga segalanya berubah menjadi buram dan buram, berganti tempat.


Sebuah tempat yang penuh dengan sosok-sosok dalam balutan baju perang terlihat tengah menyerang sebuah kediaman.


Pedang yang saling beradu, teriakan-teriakan para pelayan yang memohon pengampunan hingga genangan darah yang tercecer menempel disetiap sudut kediaman.


"MEI MEI Takut", bisik suara kecil ketakutan yang kini tengah bersembunyi diantara tumpukan padi kering.


"Fuqin, Muqin, jiejie", panggil anak kecil itu semakin ketakutan. sosok kecil itu bergetar hebat. terlihat begitu ketakutan.


Ketika kepala kecilnya sedikit mengintip, ia melihat sosok yang begitu ia kenali tengah berlari membawa pedang ditangannya menuju kesuatu tempat. Mata anak kecil itu berbinar penuh harap, tapi mata itu harus terbelalak penuh ketakutan saat melihat sosok yang begitu ia kenali itu tengah diintai bahaya besar dibelakang tubuhnya.


"JIE JIEEE.... JIEE JIEE...", panggil panik anak kecil cantik itu.


Remaja yang ia panggil jie jie itu menoleh, tapi terlambat. Pinggangnya telah tergores dalam oleh pedang yang menyerangnya. tak mau kalah, remaja itu menyerang kembali dan menebas leher lawannya. ia bergegas pergi menuju adiknya.


"Mei mei, dimana muqin dan fuqin ?", tanya remaja itu pada adiknya.


"mei mei tak tahu, mei mei tak tahu, tapi... tapi mereka membawa fuqin dan muqin", ucap sosok kecil cantik yang kini terlihat menyedihkan itu.


Seakan mengerti situasi yang tengah terjadi, remaja itu dengan cepat menggendong adik kecilnya.


"Tutup matamu, mei mei. jangan buka matamu hingga jie jie menyuruhmu. ingat !", desak remaja itu pada adiknya.


"En", sahut cepat adiknya.


Remaja itu dengan cepat membawa tubuh adik kecilnya menuju ke salah satu ruangan di kediaman mereka. Tapi, sayangnya ia telah salah langkah besar. Tubuhnya yang telah terluka parah bertambah terluka karena serangan tak terduga dari sosok lain yang ternyata telah menunggunya didalam ruangan itu, pedang tajam mengarah ketubuh adik kecilnya. melihat hal itu, ia dengan cepat menghalaunya dan pedang itu menancap tepat di inti spiritualnya.


Seteguk darah.


Seteguk darah. Terus keluar dari dalam mulut remaja itu. Ia masih tetap memeluk tubuh adiknya.


"jie jie, jie jie... jie jie... turunkan mei mei", desak anak kecil itu. ia terlihat gelisah karena penutup mata yang sebelumnya telah dipasang jiejie-nya padanya.


"ingat, sebentar lagi huandi akan datang... mei mei harus menurut dan patuh padanya", bisik jiejienya yang nafasnya mulai terdengar berat.


sedangkan itu, musuh yang menyerangnya tengah bahagia karena remaja yang telah ia lukai tengah sekarat.


"dua kecantikan surgawi begitu memikat dan langka, raja ini ingin memiliki dua-duanya", desis cabul sosok yang memanggil dirinya sendiri itu raja.


"maafkan putri ini, yang mulia. tapi putri pertama klan ini telah mempunyai perjanjian pernikahan darah oleh salah satu dari klan dunia bawah milik kerajaan anda", desis dingin remaja itu.


Sosok dihadapannya diam.


"hahahahaha... raja ini telah membunuhnya hahahaha... seluruh klan itu telah mati dibawah kaki raja ini", ucapnya sombong.


Segalanya berubah dengan cepat. raja itu melarikan diri karena kehadiran huandi agung. dan sosok remaja itu kini telah terbaring lemah diatas tempat tidur.


"jie jie, jie jie... ayo kita pergi mencari muqin.. ah tidak... biar mei mei yang mencari muqin... jie jie bertahan", ucap panik anak kecil cantik itu dengan wajah ketakutan.


"mulai kini, dengarkan patuh ucapan huandi", bisik lemah remaja yang kini seluruh tubuhnya telah tergenang oleh darahnya sendiri.


Teriakan pilu, tangisan keras, dan dobrakan pintu mengiringi kepergian remaja cantik pemberani itu.


Langit yang hitam kelam, Udara dingin yang turun drastis hingga membekukan sebagian wilayah itu. ikut merasakan kesedihan orang-orang dari kediaman itu*.