The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 214



Long yang masih dalam pengaruh kekuatan yuan melesat dengan cepat menuju ke dunia manusia, ia mencari keberadaan para jenderal tertinggi sekaligus pemimpin klan dunia atas. Mata long yang terlihat kosong terlihat menelisir kesegala arah, ia mencari keberadaan aura spiritual miliknya yang sedikit ia tinggalkan di tubuh zhe ze. Tak memakan waktu lama, ia telah mendapatkan arah dimana auranya tertinggal.


Gunung utara.


Long dengan cepat melesat menuju gunung utara, beberapa pasukan dibelakangnya ikut mengikutinya.


Dai luan yang baru saja sampai didunia manusia langsung menyembunyikan keberadaannya saat mengetahui ada beberapa mahluk dari dunia atas.


"Apa yang mereka lakukan ?", pikir dai luan. lelaki berkulit tan itu mengerutkan dahinya.


Dai luan berfikir bahwa dunia atas takkan mungkin bergerak secepat itu karena kekacauan besar terjadi disana dan jika bekas pertarungan disalah satu dari lima daratan itu tidak diperbaiki akan lebih banyak lagi hal kacau disana.


Ck, kenapa mereka tidak memperbaiki hal utama itu terlebih dahulu !, pikir dai luan kesal. ia memikirkan belahan jiwanya yang berada di tempat suci, jika bukan karena fakta itu akan lebih mudah untuk mengacaukan sebagian daratan disana.


Dunia bawah juga sudah mulai bergerak, sepertinya aku juga tidak punya waktu lagi untuk bersantai, pikir dai luan lagi tapi saat matanya melihat arah dimana para mahluk dunia atas itu tuju. Ia langsung bergegas melesat mengikuti mereka.


Apa yang akan mereka lakukan digunung utara ??!


Lembah akan tetap aman jika rou shi tetap menjaga so ah mei disana, tapi tidak dengan jika keduanya keluar. Dai luan mulai sedikit panik dengan pikiran yang tiba-tiba melintas itu. Ia mendecak dan dengan cepat mengejar mahluk dunia atas itu.


Dai luan melihat sesuatu yang cukup membuatnya bertambah kesal.


Tepat dibawah lereng gunung, aura spiritual suram penuh dengan kepekatan dari dunia bawah berkumpul bahkan pasukan monster yang wan yu dan chen qi perintahkan untuk datang kedunia manusia mulai mendatangi aura spiritual yang penuh dengan esensi kegelapan itu.


Long yang lebih dulu menjumpai binatang spiritual ganas mulai membunuh beberapa binatang spiritual buas yang menghalangi jalan mereka.


GGGRRROOAAAAA ....


GRRRRRGG...


Geraman melengking terdengar saat pedang long menebas leher binatang buas spiritual ganas dari dunia bawah itu, saat kepala binatang buas spiritual terbelah beberapa binatang buas spiritual kecil disekitarnya langsung memangsa bangkai yang masih segar itu untuk dijadikan santapan bagi mereka.


Long dengan acuh mengabaikan para binatang buas spiritual ganas itu hingga ia tak menyadari para binatang buas spiritual ganas kecil yang memakan mahluk buas besar dihadapan mereka kini telah bertransformasi menjadi binatang buas spiritual ganas.


Puluhan binatang buas spiritual ganas mulai terbentuk. Long dan pasukan yang ia bawa mulai bertarungan dengan para binatang buas spiritual itu dan dai luan memperhatikan mereka dari sudut kegelapan.


Ia menaikkan alisnya saat memperhatikan perubahan besar dari para binatang buas spiritual kecil itu.


"Apa yang telah dunia bawah lakukan selama ini", desis dai luan. Hal yang ia lihat kini bukanlah hal yang bisa ia remehkan.


Aura spiritual pekat mulai memenuhi sekelilingnya, dai luan mendengus kesal karena energi disekitarnya ini terasa begitu buruk.


CRAKKKK.


KRAKKKKKKKKK..


Pisau angin muncul dari udara hampa dan membelah dua sesuatu yang ingin menyerang tubuh dai luan.


"Cih", decih dai luan saat ada satu binatang buas spiritual ganas menyerangnya dan berakhir dengan menjadi bangkai segar dibawah kakinya.


Ia melihat bangkai binatang buas spiritual ganas yang ia bunuh tadi dengan cepat di kerubungi mahluk-mahluk spiritual kecil yang kini secara cepat mulai merubah bentuk tubuh mereka. Jika terus dibiarkan hal ini akan merugikan, tapi itu bukan urusannya.


Sebelum itu disisi lain, Hui, Bingbing dan Yi tak lagi berkutik karena serangan cheng rou. Tubuh mereka kini telah terikat dalam penjara serangga hitam yang telah mengelilingi tubuh mereka.


"Apa yang kau inginkan ??", tanya bingbing.


Hening.


Cheng rou masih tetap diam seakan-akan pertanyaa bingbing hanyalan angin lalu ditelingannya. Tak menyerah, sekali lagi bingbing bersuara.


"Cheng rou, kembalilah ke dunia atas bersama kami....", ucap bingbing pada cheng rou.


"Kau siapa ?", jawab cheng rou lagi sembari tertawa sinis.


Bingbing, Hui dan Yi hanya diam.


"Apa yang akan dunia atas berikan padaku jika aku pergi ke tempat itu hmm ??", ucap cheng rou santai.


Hening.


"Sepertinya anak kecil pengecut itu tidak ada disini", ucap cheng rou lagi, matanya melirik sinis kesekitarnya.


"Apa yang kau katakan !!!!", bentak bingbing kesal.


"Aku ingin anak itu", desis cheng rou lagi.


"Jika kau ingin bertemu dengan saudari mu, ayo ikut kami kedunia atas", ucap yi.


"Pulanglah bersama kami, kau bukan seorang pengkhianat ataupun pendosa", sambung hui.


Hening.


Cheng rou hanya diam mendengar ucapan demi ucapan yang dikeluarkan dari mulut ketiga mahluk immortal dari dunia atas itu, hingga bahunya mulai bergetar dan ia tertawa terbahak-bahak hingga menyebabkan serangga hitam disekelilingnya terbang menjauh darinya.


"Lelucon busuk !!!", desis cheng rou kasar.


Bingbing menggertakkan rahangnya begitu juga hui.


"Jika kalian bisa memberikan aku apa yang aku inginkan aku akan pergi kedunia atas", ucap cheng rou sembari tersenyum manis.


"Apa yang kau inginkan ?", tanya hui dengan suara berat menahan emosinya. Mereka harus bisa bebas terlebih dahulu dari jeratan serangga cheng rou dan kemudian melarikan diri sejauh mungkin.


"Dimana zhe ze", tanya cheng rou.


Hening.


"Tidak, tidak... mungkin senjata spiritual dan darah miliknya akan lebih berharga", ucap cheng rou.


"Sialan !!!... apa yang kau inginkan hah !!!", bentak marah bingbing.


"Ya, aku ingin keduanya", desis cheng rou menaikkan dagunya angkuh.


Hui dan bingbing hanya bisa memelotot tajam menatap sosok cheng rou yang kini tengah duduk santai dibawah pohon bersama dengan serangga yang mengelilingi disekitar tubuhnya itu.


"Dari tadi kalian terus mengacaukan pikiranku !!!... cih sialan", desis cheng rou dingin.


"Tapi, kenapa para jenderal agung tertinggi kekaisaran bisa dengan mudahnya aku tangkap hmm... tanpa perlawan bahkan aku tidak terkesan sama sekali oleh kekuatan melarikan diri itu", desis cheng rou tersenyum dingin.


"Tidak ada urusannya dengan ****** bedebah seperti kau !!!", bentak bingbing penuh amarah.


"Bing jie !!!", desis yi memperingatkan bingbing.


"Hahahaha... menarik... menarik", balas cheng rou.


Ia kini berdiri dihadapan ketiga mahluk immortal dari dunia atas itu dan menjulurkan jari telunjuknya.


"Benar, aroma apa ini ???... begitu lezat ahh... lebih lezat dari aroma milik pewaris vermillion, "desis cheng rou.


Yi yang memperhatikan kata-kata serta tindakan aneh dari wanita didepannya ini mulai menjadi lebih waspada, dari aura yang telah wanita ini keluarkan pun ia terus meningkatkan kewaspadaannya tapi tidak dengan hui dan bingbing yang telah mengenal cheng rou lebih dulu dari yi, mereka melihat bahwa kini sosok cheng rou begitu menyedihkan. Mungkin hal itu terjadi karena sosok wanita muda dihadapan mereka ini harus menanggung beban dari klan vermillion yang mengharuskan setiap anggota klan untuk saling bertahan hidup dan membunuh sosok yang berpotensi untuk menyingkirkan mereka dari kediaman itu dan lagi ditambah dengan darah yang mengalir dinadi cheng rou. darah terkutuk yang seharusnya seorang burung suci vermillion tidak boleh memilikinya.


Darah dari salah satu klan di wilayah dunia bawah, dan itu telah menjadi aib besar serta rahasia menjijikan dimasa lalu.


Hui dan bingbing yang iba pada cheng rou, Yi yang mulai merasakan sinyal bahaya besar mulai mendatangi mereka.


"Kenapa kalian diam hmm ??", tanya cheng rou santai.


Hening.


"Rou mei, ayo pulang kembali kedunia atas", ucap bingbing lembut.


Cheng rou hanya diam mendengar ucapan bingbing, dimenit berikutnya ia meneteskan air mata dan tersenyum.


"Berikan aku darah dari pewaris klan vermillion dan pemilik aroma ini terlebih dahulu", ucap cheng rou sembari tersenyum manis dengan sisa air mata di pipinya.