The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 144



Dunia bawah yang selalu diselimuti kegelapan kini dipenuhi dengan asap-asap hitam tebal yang terbang membumbung tinggi, menyatu dengan langit kelam.


Semua monster dengan berbagai bentuk bekerja keras disetiap pos-pos mereka. Suara gemuruh api yang membakar besi hingga menjadi cairan merah mengkilat dan tumbukan-tumbukan palu besar terdengar riuh. Semua budak-budak yang dipekerjakan paksa juga ikut andil dalam pembuatan senjata dalam jumlah yang sangat besar. Cambukan demi cambukan mereka terima ditubuh mereka jika terlihat mulai berhenti hanya untuk sekedar bernafas dan beristirahat barang sejenak.


Raja mereka secara langsung memerintahkan sang racun malam, wan yao untuk membuat lebih banyak senjata baru.


Lelaki itu langsung mengawasi setiap pos dengan replikanya yang ia sebar di keempat penjuru pos senjata.


Cheng qi yang juga ditugaskan zheng bai kini sedang meneliti sebuah buku usang.


Sedangkan itu, sang raja mereka kini tengah berada didalam kerajaan yang tak pernah surut dari kata kematian.


Kamar suram dengan penerangan lilin di tiap sudut ruangan hanya memperlihatkan bayangan samar.


Zheng bai tengah memperhatikan wanita yang kini tengah tertidur lelap disampingnya. Ia menatap datar ekspresi jing mei yang tengah tidur itu, saat ini jing mei yang tubuhnya ia lilit dengan selimut hangat masih tetap mengigil kedinginan.


"Ck"decak zheng bai kesal.


Ia memanggil kepala pelayan kerajaan dan memerintahkannya untuk membawa sebuah ramuan penurun demam. Ia juga dengan sembarang mengambil selimut lain untuk jing mei.


"Jika anda tidak keberatan biarkan hamba yang rendahan ini merawat ratu, yang mulia"ucap kepala pelayannya.


"Pergi"ucap zheng bai dingin.


Ia langsung membanting pintu kamarnya dengan kasar dan pergi menaiki ranjangnya lagi.


Wajah jing mei yang terlihat pucat dengan bibirnya yang bergemeretak kedinginan terkubur jauh didalam selimut yang hanya menunjukkan wajahnya saja. Ia kemudian membuka kembali selimut tebal yang membungkus tubuh jing mei.


"Brengsek !!"decak zheng bai saat tangannya tak sengaja menyentuh gunung lembut yang hanya dipisahkan selembar kain.


Zheng bai menatap tajam wanita yang tetap lelap dalam tidurnya itu dengan pandangan kesal.


Paginya, jing mei terbangun dengan perasaan sesak dan rasa sakit luar biasa di seluruh tubuhnya, ia merasa lemas dan tak bertenaga. Saat ia merasakan angin dingin berhembus menerpa kulitnya, ia baru sadar bahwa ia tak memakai sehelai benangpun.


Jing mei diam saat melihatnya, ia berusaha mengingat memori yang tertinggal dipikirannya tapi tak menemukan satu petunjuk, dan seberapa banyakpun ia berusaha keras menggali ingatannya kembali hasilnya tetap sama.


Krieett.


Kepala jing mei menoleh kearah pintu yang terbuka, ia menatap tajam sosok lelaki dengan rambut panjang abu-abu kelam. Pakaian lelaki itu tidak diikat dengan benar dan membuatnya hanya menggantung disisi bahunya.


Matanya menyipit sinis.


Zheng bai yang merasakan tatapan tajam jing mei hanya mendengus.


"Apakah kau mengingat memori panas kita ?"tanya zheng bai santai.


"Apa maksud mu !!"sahut jing mei kasar.


"Hahaha kau memberikan hiburan yang menarik, ratuku"ucap zheng bai.


"Hmm apakah kau ingin mengingat memori panas tadi malam dengan jelas, kebetulan pagi ini terasa sejuk dan dingin tapi oh lihat hari ini juga terang"ucap zheng bai lagi.


Ia merasa semenjak ia terbangun dari tidurnya kepalanya seakan ingin pecah dan itu sangat menyakitkan. Ia juga jijik saat mendengar bahwa ia dan zheng bai melewatkan malam panas.


Brengsek bajingan, pikir jing mei penuh rasa jijik.


Seorang pelayan tiba-tiba saja datang mengerakkan lonceng pintu kamar utama raja, yang menandakan bahwa ada pesan untuk sang raja dunia bawah.


"Salam kepada yang mulia raja dan ratu dunia bawah, dayang rendahan ini membawakan pesan dari putri kedua klan jing"ucap dayang itu.


Ia yang takut dan gemetar, diam-diam mencuri pandang raja dan ratunya.


Zheng bai kini duduk di samping jing mei dan tengah memainkan rambut kusut wanita itu, tak memperdulikan sang pembawa pesan.


"Putri kedua klan jing ingin bertemu dengan yang mulia raja dan yang mulia ratu, putri kedua klan jing ingin bernostalgia bersama dibawah pohon taman kerajaan"ucap dayang itu.


"katakan bahwa aku sedang tidak sehat"ucap jing mei acuh tak acuh.


"Baik, yang mulia"sahut dayang itu sopan dan langsung mengundurkan dirinya.


Hening.


Hening.


"Hahaha kau sangat hebat dalam bersandiwara"bisik zheng bai dingin.


"Ya, jika itu bisa membuat segala sesuatu lebih mudah"sahut jing mei dingin.


"Izinkan hari ini aku tidak beraktivitas, aku ingin beristirahat"ucap jing mei acuh tak acuh.


Ia mengangkat selimutnya lagi, dan mengabaikan zheng bai yang tengah berada disamping. Ia tidak perduli jika tubuhnya diberlakukan secara salah oleh lelaki brengsek di belakangnya, karena itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang ratu yang hanya menjadi boneka milik raja.


Toh, lebih baik ia terlelap dan tidak sadar agar rasa jijik pada tubuhnya sendiri tidak terlalu besar.


Dayang yang sudah di suap oleh jing changxi kini sedang bergegas pergi ke paviliun tamu yang berada jauh di luar paviliun utama.


Keringat dingin terus mengalir deras dari sekujur tubuhnya hingga ia tak sadar bahwa pakaian dayangnya lembab.


"Katakan"ucap jing changxi dingin.


Wanita itu sedang duduk di kursi santainya, beberapa pelayan yang yang bawa dikediaman terlihat tengah melayani dan mengipasi dirinya dari pinggir kursi santai.


"Maafkan hamba putri klan, yang mulia raja dan yang mulia ratu tidak bisa menghadiri acara apapun hari ini"ucap dayang itu sopan.


Jantungnya berdetak keras saat melihat putri dari klan jing itu memerintahkan para pelayan kediaman klan jing untuk keluar dari dalam ruang.


"Katakan !"desis jing changxi kasar, tangannya mencengkram pipi dayang yang malang itu.


"Kau sudah ku beri imbalan !!... dan kau tidak bisa mencari cara yang sesuai agar raja datang bertamu"desisnya lagi marah.


"Maafkan hambaa putriiii...."sahut dayang itu ketakutan.


"Apa yang mereka lakukan, hingga matahari akan mulai naik !"desis jing changxi tajam.


"Yang mulia raja dan yang mulia ratu sedang berada didalam ruangan yang sama putri, keduanya terlihat sangat intim dan mesra bahkan yang mulia raja sangat memanjakan yang mulia ratu, putri"ucap dayang pembawa pesan itu cepat.


Plaakkkk....


Pllakkkk...


Brruukkkkk....


Jing changxi meluapkan amarahnya pada dayang yang sudah ia suap untuk membawa pesan darinya. Ia sangat kesal mengetahui fakta bahwa jing mei beberapa kali tingkatan lebih tinggi darinya dalam hal status dan kekuasaan.


Ia membenci nya !!!...


Jing changxi menghancurkan semua barang-barang yang ada didalam ruangan itu, ia melemparkan tubuh dayang pembawa pesan yang kini sudah dilumuri darah kedepan pintu kamarnya.


"Berikan pada anjing"desis jing changxi dingin.