The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 241



Jing mei yang merasakan bahaya besarĀ  menarik tangan so ah dan dengan cepat mereka menghindar.


Suara ledakan besar dan runtuhan dinding istana menambah keributan besar didunia bawah. Zheng bai tak perduli. Ia kembali kehilangan wanita itu karena kabut akibat ledakan yang telah ia buat.


Beberapa prajurit yang sedang berjaga melihat hal aneh diwilayah penjagaan, mereka bergegas pergi menuju sumber keributan lain. Berfikir bahwa itu musuh tapi ternyata adalah ratu mereka yang terlihat terburu-buru bersama dengan seorang manusia fana.


"Minggir !", desis jing mei dingin pada prajurit yang ia temui, seketika semua prajurit hanya bisa menurut pada perintah tuan mereka. Seluruh prajurit dunia bawah yang masih tersisa memberikan hormat mereka hingga bahu kecil ratu dunia bawah itu menghilang dengan cepat.


Tak berselang lama, raja mereka datang.


"Bajingan !!!.. apa yang kalian lakukan !!!", bentak marah zheng bai pada prajuritnya.


Seluruh prajurit zheng bai hanya bisa terdiam ketakutan mendengar amarah dari raja dunia bawah.


"Dimana ratu !!", bentak marah zheng bai lagi.


"Ampuni kamii, yang mulia rajaaa agung", ucap mereka yang langsung bersimpuh di kaki raja.


"Yang mulia ratu, pergi dengan cepat menuju arah utara", jawab cepat salah satu dari mereka.


Zheng bai dengan cepat menghilang dan mengejar jing mei. Ia haris mengambil darah milik jing mei, hanya sekali ini saja dan semuanya akan berakhir. Ia tak ingin lagi melihat bagaimana wajah dingin itu menahan rasa sakit yang luar biasa hingga ia sendiri tak bisa membayangkannya.


Tunggu, bagaimana jika ia mencoba menukar mereka dan mengambil darah wanita manusia itu ?!!...


Senyum dingin penuh dengan rasa serakah tampil di sudut bibir zheng bai. Tapi senyum itu luntur ketika melihat benteng kayu tebal dihadapannya.


Apa ini !!...


Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia belum pernah menemukan hal semacam ini.


Ketika ia menghancurkan benteng kayu didepannya, hancur dan kemudian tertutup lagi. Mata zheng bai menyipit tajam. Benteng ini hidup !..


Siapapun pemilik energi spiritual ini pastilah sosok yang sangat diincar di ketiga dunia.


Manusia itu hanya seorang fana dan tidak mungkin memiliki energi spiritual, dan berarti selama ini jing mei telah diam-diam mengumpulkan sesuatu yang tidak ia ketahui !!..


"Hah... hah... hah...", suara nafas jing mei yang tengah terduduk terdengar putus-putus.


Ia sangat kelelahan, kekuatan spiritual miliknya terasa terkuras dan saat ia menggunakannya dengan paksa ia merasakan rasa sakit lagi yang kembali menyerangnya.


Jing mei masih tetap berusaha melarikan diri bersama dengan so ah, kini ia tengah terduduk pucat disudut istana miliknya sendiri.


Ia yakin jika dirinya ketempat ini, zheng bai takkan bisa menebaknya karena tempat ini begitu ia benci. Sayangnya, apa yang ia pikirkan salah nesar. Aura dingin gelap terasa menusuk punggungnya, ia menoleh dan langsung terbelalak dengan apa yang ia lihat.


"Bagus... kau melakukan tugasmu", bisik dingin zheng bai. Lelaki itu memeluk erat tubuh jing mei.


"Apa yang kau katakan !!", desis balik jing mei.


"Hahaha... karena terlalu fokus padamu dan melihat tangan mu menyentuh manusia hina, aku merasa sangat kotor...", ucap zheng bai.


"Jika kau merasa aku kotor, bebaskan aku", ucao jing mei datar.


"Hahahaha... tidak.. tidak.. kau terlalu berharga, ratuku", balas dingin zheng bau.


Lelaki itu mengangkat jing mei kedalam pelukannya, ia sangat tahu bahwa wanita yang kini berada digendongannya telah lemas dan kehabisan tenaga untuk melawan.


Jing mei yang tak tahu akan makna ucapan zheng bai hanya bisa diam mengacuhkannya. Ia melirik tubuh so ah yang juga terlihat kehabisan tenaga itu.


Hatinya merasa bersalah.


Jing mei menunduk semakin dalam. Ia tak berguna, dikehidupan ini ataupun kehidupan lalu ia tak bisa melindungi adiknya.


Jing mei tadinya ingin langsung memberitahukan so ah tentang hubungan mereka di kehidupan sebelumnya. Tapi, hatinya bimbang.


Apakah benar, so ah yang seorang manusia fana akan berani menganggap ia yang seorang iblis dunia bawah sebagai saudari sedarah, sedangkan disisi lain ada zheng bai yang bisa saja membunuh kehidupan so ah.


Hening.


"Bawa aku kesana... dan bebaskan manusia itu", ucap jing mei.


"Tidak bisa", balas cepat zheng bai.


"APA YANG MAU KAU LAKUKAN PADANYA!!!", desis marah jung mei.


"Manusai itu yang akan mengantikanmu mulai detik ini", balas zheng bai sembari tertawa senang.


"Kau GILA !.. apakah kau tahu dia hanyalah seorang manusia !.. tubuhnya takkan bisa menahannya...", ucap jing mei yang suaranya mulai goyah karena panik.


"TURUNKAN AKU !!!", bentak marah jing mei.


"Kenapa kau begitu melindungi orang asing daripada dirimu sendiri, dan lagi dia hanya mahluk fana dan begitu lemah bahkan jika sekarang aku bisa membunuhnya dalam sekejap mata", tanya zheng bai yang bingung dengan pola pikiran wanita di dekapannya ini.


"Lupakan pertanyaanmu... apakah otak mu gila !!... lepaskan wanita itu", ucap jung mei lagi.


"Tidak", balas singkat zheng bai.


Ia berjalan dan membawa jing mei dalam gendongannya bersama dengan tubuh so ah yang kembali melayang karena kekuatan spiritual miliknya.


So ah yang setengah sadar tak mengetahui apa yang tengah dibicarakan antara jing mei dan zheng bai.


Setelah memaksakan dirinya sendiri untuk membangun sesuatu yang terlintas dalam pikirannya, tubuhnya langsung terasa lemah. Bahkan untuk menggerakkan satu jarinya pun terasa berat. So ah sedikit memejamkan matanya, mungkin jika ia memanfaatkan sedikit waktu, tubuhnya akan sedikit tidak kesakitan seperti ini.


Jing mei bergerak gelisah dalam gendongan zheng bai.


"Diam", desis zheng bai.


"Kumohon, biar aku saja yang mengantikannya", ucap jing mei lemah.


Zheng bai berhenti, ia menatap dingin jing mei yang kini tengah menundukkan wajahnya. Ia tak bisa melihat apa yang tengah dipikirkan wanita ini. Zheng bai kesal.


"Apakah sampai akhir kau ingin berkorban lagi demi orang lain ?!", ucap zheng bai dingin.


"Ku mohon, jangan lakukan itu lagi", ucap jing mei pelan.


"Aku... aku akan menuruti semua ucapanmu mulai sekarang ah tidak... detik ini juga, kau bisa melakukan apapun yanv kau mau... aku... aku tidak akan melanggar sumpahku sendiri... tapi kumohon, bebaskan manusia itu... kumohon, jangan bawa dia ketempat itu...", ucap jing mei yang terlihat kacau. Tapi, sorot matanya yang biasanya terlihat kosong tanpa emosi itu kini tengah merah berkaca-kaca.


Zheng bai terdiam melihat jing mei. tapi, sebelum zheng bai akan menjawab ucapan jing mei. Seseorang telah menyerang mereka dari arah belakang dan mengambil alih tubuh so ah.