
So ah menatap dua buah hatinya yang saat ini tengah terlelap dalam ayunan mereka, nama apa yang harus ia berikan kepada keduanya. Ia menatap sedih kedua anaknya, hingga kedua dayang yang melayaninya datang ia langsung dengan cepat mengubah ekspresinya.
"Panggilkan weida de baohu long dai ke hadapanku"ucap so ah lembut.
Kini setelah ia tahu bahwa dai luan bukanlah sosok biasa yang bisa ia panggil namanya dengan santai, dan sekarang ia memanggil ge ge angkatnya itu dengan nama kebesarannya.
Rou shi langsung dengan cepat memenuhi perintah so ah, sedangkan rou shu menyiapkan jamuan untuk naga pelindung agung.
"Ada apa ah mei ??"tanya dai luan yang baru saja tiba didalam ruangan so ah.
"Ge ge, bantu aku memberikan nama untuk keduanya"sahut so ah sembari tersenyum.
Dai luan yang mendengar permintaan so ah langsung menegang, ia bingung akan membantu so ah dengan nama yang seperti apa dan bagaimana.
Diam-diam punggung dai luan berkeringat dingin.
Hening.
So ah menatap keadaan tenang disekitar mereka dari balik jendela besar paviliunnya.
Kilauan danau keabadian yang bersinar indah, kelopak-kelopak bunga persik dan sakura yang berpadu jadi satu, saling berlomba untuk jatuh ketanah dengan lembut diterpa angin. Gemerisik gesekan daun terdengar samar ditelinganya karena ruanhan yang hening dan tenang ini ia juya bisa mendengar tetesan air yang jatuh dari ujung kolam. Mungkin jika ia kesana, suara itu akan sangat terdengar keras.
Indah.
So ah tak menyangka bahwa ia melihat sebuah keindahan yang amat teramat sangat tenang ditempat ini.
Ia memandang dua buah hatinya, dan kembali menatap keluar. Di taman itu ia membayangkan tiga siulet yang tengah bermain dengan bahagia, ia sangat ingin melihatnya.
Mata so ah sedikit meredup saat memandang warna langit senja yang mulai menggelap dan secara perlahan menampilkan bulan purnama yang terlihat sangat besar ditengah pekat awan sekaligus membawa keindahan.
"Xi Yao, Ying Yue"bisik so ah.
Dai luan langsung melihat so ah dengan pandangan bertanya. So ah tertawa pelan, ia kemudian duduk didepan dai luan.
"Xi Yao artinya Giok senja... aku ingin dia menjadi seorang lelaki jujur dan terang serta lembut seperti senja"ucap so ah.
"Ying Yue, bayangan bulan"ucap so ah lagi.
"Yao er, Yue er bukankah itu nama yang sangat manis gege"lanjutnya lagi.
"Bayangan bulan, kenapa kau memberikan nama itu ??"tanya dai luan kaku dan disaat bersamaan lidahnya terasa manis saat mengucapkan nama belahan jiwanya itu.
"Putriku yue er yang berharga akan menjadi seorang gadis kuat dan lembut seperti bulan yang menerangi kegelapan, ada harapan atas terang cahaya bulan ditengah gelap pekatnya kegelapan"sahut so ah.
Deg.
Deg.
Jantung dai luan berdetak kencang.
Ying Yue.
Nama itu begitu indah saat terdengar ditelinganya.
"Mungkin dikemudian hari kami akan mencarikan lelaki muda yang baik untuk putri kecil ini"ucap so ah lagi sembari terkekeh lembut.
Akhh, sadarlah bodoh !!!..., bentak dai luan pada dirinya sendiri.
Jiwanya seakan tertampar saat so ah mengatakan tentang lelaki muda, apakah ia termasuk diantaranya ??.. awan mendung samar terlihat dibelakang tubuh dai luan.
"Ge... ge ge"panggil so ah.
"Ap..apa ah mei ??"tanya dai luan gugup sekaligus kaget, sudah cukup harga dirinya sekarang pergi setelah memikirkan nama belahan jiwanya itu dan umurnya kini.
"Tentu, xuan akan menyukainya"ucap dai luan.
Rou shi dan rou shu yang baru saja masuk kedalam ruangan paviliun memperhatikan bahwa naga pelindung agung dan yang mulia permaisuri agung tengah memperbincangkan sesuatu, mereka tak berani mendekat.
"Rou chi menghadap yang mulia permaisuri"ucap sebuah suara dari luar pintu kamar so ah.
So ah dan dai luan serta rou shi dan rou shu terdiam.
"Bukakan pintu untuknya"ucap so ah yang menyadarkan lamunan para dayangnya.
"Ahh... maafkan saya yang mulia permaisuri"ucap rou shi dan rou shu secara bersamaan.
So ah hanya tersenyum dengan tatapan mata lembut, berkata bahwa tidak ada hal yang harus dikhawatirkan.
Rou chi yang sudah memasuki ruangan so ah melirik dai luan yang tengah duduk didepan permaisuri, ia berfikir bahwa jika tuan agung datang kembali. Ia harus melaporkan tentang kedekatan dua mahluk didepannya ini.
"Ada apa ?"tanya so ah.
Dai luan melirik tajam dan hanya sekilas ia memberi peringatan pada lotus busuk dihadapannya itu.
"Yang mulia, aku sebagai pemimpin roh tumbuhan suci spiritual dari danau keabadian mempunyai permintaan"ucap rou chi penuh dengan nada lemah.
"Katakan, apa yang kau inginkan ??"tanya so ah.
"Sebelum itu, aku tak tahu apa perkerjaanmu disini"ucap so ah lagi.
Rou chi merasa terhina saat so ah bertanya tentang pekerjaannya yang sama saja ia disamakan dengan para dayang rendahan.
"Nona ini hanya seorang pemimpin roh spiritual lotus, yang mulia"ucap rou chi menahan rasa kesalnya, tapi tidak dengan nada arogan terselip di antara kalimat yang ia ucapkan tak bisa ia sembunyikan.
So ah menatap rou chi, ia merasa sedikit tidak tenang dengan keberadaan mahluk asing didepannya ini, samar ia ingat bahwa wanita ini yang membantunya melahirkan.
"Pemimpin roh spiritual lotus suci ini ingin mengajukan diri untuk merawat pangeran dan tuan putri"ucap rou chi.
So ah terdiam, dai luan menatap tajam rou chi sedangkan rou shi dan rou shu menahan nafas menunggu apa yang akan diucapkan rou chi setelahnya.
"Sejak kapan seorang roh tumbuhan ingin ikut campur dalam masalah pribadi milik weida de tianghuang"desis dai luan tajam.
"Maafkan kelancangan dayang kamar pribadi milik weida de tianghuang ini, yang mulia naga pelindung agung"ucap rou chi dengan nada penuh penekan disana khusus di kata dayang pribadi milik weida de tianghuang.
So ah hanya menatap datar wanita dengan wajah cantik serta tubuh semampai yang saat ini tengah mengucapkan kata yang mungkin aaja jika ia tak berfikir dingin, disaat itu pula ia bisa saja tersulut emosi akibat minyak yang tengah disiramkan kepadanya.
ia menghela nafas lembut, dan kemudian so ah tersenyum kepada rou chi.
"Atas dasar apa seorang dayang seperti mu ingin merawat dua harta berharga milik permaisuri ini"ucap so ah, suaranya penuh dengan wibawa sekaligus menekan.
Rou chi yang mendengar nada bicara wanita manusia itu sedikit berubah dan ia yang entah kenapa merasa tertekan tanpa sebab merasakan rasa ketakutan mulai merayapi hatinya.
"Maafkan dayang ini yang mulia permaisuri tapi tubuh manusia anda tidak akan kuat merawat pangeran dan putri agung"jawab rou chi, ia masih dengan percaya diri meminta dua bayi so ah dibawah pengasuhannya.
Dai luan langsung berdiri dari tempat duduknya saat mendengarkan ucapan lancang dan kurang ajar yang dikeluar mulut lotus menjijikan itu. Tapi, so ah lebih dulu berdiri dari tempat duduk, wanita itu berjalan kearah rou chi.
"Tubuh manusia katamu ??"bisik so ah lembut.
So ah mengangkat dagu rou chi, dan mendongakkan dagu wanita itu hingga menatap kearahnya.
Tubuh rou chi bertambah gemetar hebat saat tangan so ah mengangkat dagunya, ia merasa bahwa tanpa berbicara wanita didepannya ini sangat berbahaya tapi ia menepis rasa takutnya itu.
ia masih tetap pada keserakahannya.