The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 227



Lembah Utara.


Dai luan menatap dingin sekelilingnya.


HARUS SAMPAI KAPAN IA BERDIRI SEPERTI ORANG BODOH DIDEPAN PINTU MASUK DIHADAPANNYA INI !!!..


Patung naga hitam bermata merah, masih menatapnya dengan penuh perhitungan. Mata merah milik naga itu bergerak menatap sosok dai luan, badan patung yang tadinya kaku telah bergerak melindungi pintu masuk dibelakang tubuhnya.


Dada dai luan terlihat naik turun menahan emosi, ia berusaha menahan dirinya untuk tidak menghormati perintah tuannya. Alhasil dai luan lebih memilih untuk kembali mengumpulkan sisa-sisa inti spiritualnya di lembah suci ini.


Tubuh dari naga pelindung itu berdiri tegak ditengah-tengah udara dingin dan tak mempengaruhi dirinya. Ia masih berdiri kokoh dengan lingkaran energu spiritual yang berpendar hitam keemasan mengelilingi seluruh tubuhnya.


Atmosfer lembah utara yang penuh dengan energi spiritual murni menjadi bertambah berat karena tekanan memontum dua energi sosok besar didalamnya.


Pasukan kekaisaran dunia atas yang telah bergerak cepat turun kedunia manusia, beberapa pasukan dari kekaisaran dunia atas diam-diam bergerak tanpa suara.


Seluruh pasukan kekaksaran yang dalam kondisi pengaruh yuan itu bergerak seperti boneka hidup.


Tatapan mata kosong.


Tanpa emosi, dan rasa takut akan kematian jiwa spiritual mereka.


Tanpa suara, para pasukan itu bergerak cepat dan berpencar.


Bulan sabit yang telah muncul diatas langit malam bersinar suram tertutupi sebagian awan gelap.


Keempat kerajaan besar di wilayah dunia manusia juga ikut bersiap untuk kemungkinan buruk yang tak mereka ketahui bencana apa itu.


Segalanya terlihat mencengkam.


Satu-persatu teriakan serta raunagn mahluk-mahluk buas terdengar saling bersautan satu sama lain memenuhi sebagian besar wilayah di keempat kerajaan besar dunia manusia.


"Apa itu ?!", tanya seorang prajurit manusia saat mendengar suara mengeriakan diujung wilayah kerajaan timur.


Hening.


Para prajurit manusia itu berdiri dibenteng-bentenh pertahanan mereka dengan perasan waspada yang perlahan-lahan merayap menjadi rasa ketakutan.


Sedangkan itu, di wilayah lain kerajaan timur, wilayah barat tengah didera kondisi panik.


Getaran-getaran besar terdengar dari tanah yang membuat beberapa prajurit hampir tak bisa menahan tubuh mereka sendiri untuk berpijak pada tanah.


"Ibuu... ibuuu", teriak seorang anak kecil ketakutan.


"Tenang... tenang... disini aman... kita aman", sahut sang ibu yang terlihat pasrah akan keadaan yang tak pernah ia alami selama hidupnya itu.


"Ibu... hikks hiks aku takkkuttt", jawab anak kecil itu yang kini berasa didalam pelukan ibunya.


Keheningan mencekam disekitar mereka membuat semuanya bertambah ketakutan. Hingga terdengar suara seorang prajurit dari atas benteng kerajaan barat.


Diujung perbatasan wilayah kerajaan barat, disana !!... mereka melihat puluhan ah tidak mungkin ratusan mahluk mengerikan yang mempunyai ukuran tubuh mengerikan berlari cepat mendekati wilayah barat.


Sinyal bahaya berdering nyaring, Lonceng berdentang kencang. para prajurit itu membunyikan lonceng semakin keras dan keras yang membuat seluruh pasukan disekitar benteng besar kerajaan ikut melihat dimana arah yang ditujukan.


Mereka tercenga tak percaya dengan apa yang telah mata mereka lihat. Tubuh mereka gemetar ketakutan.


"KALIAN BERSIAPPP !!!...", Teriak raja dari kerajaan barat yang menyadarkan pikiran mereka dari rasa ketakutan.


Tangan-tangan para prajurit pemanah jarak jauh terlihat pucat dan bergetar hebat, raja kerajaan barat melihatnya. Ia juga merasakan apa yang dirasakan seluruh prajuritnya.


Tapi, apa yang bisa ia perbuat. Mereka, nyawa mereka dan bahwa dirinya serta seluruh rakyatnya termasuk keluarganya sedang berada diujung tanduk. Walaupun mereka tahu bahwa ada selubung besar yang menyelimuti hampir seluruh wilayah barat.


Ia tak berharap besar pada selubung yang terlihat melindungi wilayah barat ini.


Kematian terasa dekat dinadinya, hal yang sama juga mungkin dirasakan seluruh rakyatnya.


Raja kerajaan barat memegang erat pedang miliknya, ia bersiap untuk kemungkinan terburuk.


Keadaan yang sama juga terjadi didua wilayah lainnya.


Dikekaisaran qi, kini kaisar qi juga tengah mempersiapkan para prajurit memanah milik kekaisaran. Disisi lain permaisuri shui lan tengah bersama dengan seluruh rakyatnya.


Malam-malam tenang yang biasanya mereka lewati dengan damai kini telah berubah drastis.


Permaisuri shui lain memikirkan, Wangye dan wangfei kekaisaran qi yang kini entah berada dibagian wilayah kerajaan mana. Hati permaisuri bergetar resah.


Zhenh bai yang berada diatas kepala mahluk buas dari dunia bawah kini sedang duduk malas melihat sekelilingnya.


Gelap.


Dunia manusia ketika malam hari hampir sama seperti dunia bawah yang entah siang atau malam. Segalanya didunia bawah terlihat suram dan gelap, walaupun begitu dirinya menyukai tempat itu.


Sebentar lagi, apa yang ia inginkan akan berada di genggaman tangannya.


"Ugh, niang", desis zheng bai tiab-tiba.


ia memegang kepalanya yang terasa sakit karena benturan energi spiritual.


"Apa yang kau lakukan !!", decih zheng bai kesal.


Ia melompat dari mahluk buas dibawahnya ini dan menghilang.


"ARRGGGHH..." desis zheng bai kesal.


Ia melihat cheng rou yang saat ini tengah membuang-buang energi spiritual. Dirinya bertambah kesal saat cheng rou tak menyadari keberadaannya.


"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN TUBUH INI !!", ucap zheng bai murka.


Tubuh istimewa milik wanita di depannya ini sangat berharga, termasuk inti dan jiwa spiritual miliknya.


"MEREKA !!..MEREKA MEMBUAT RATU INI MARAH !!!", balas cheng rou dengan nada suara yang berbeda.


Hui yang memperhatikan sesuatu yang aneh diantara keduanya, ia hanya diam tak berani menerka sesuatu itu. Tapi, ia yakin bahwa cheng rou kini lebih berbahaya dari sebelum mereka melarikan diri.


"Siapa yang mendiami jiwanya ??", pikir hui dingin.


"Maafkan aku, niang", ucap cepat zheng bai.


"Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu", ucap zheng bai lagi, ia terlihat seperti anak penurut didepan cheng rou dan hal itu menambah rasa curiga hui.


Hui yak bisa melihat ekspresi cheng rou, dan hanya busa memperhatikan gerakan zheng bai yang terlihat patuh itu.


Siapapun itu !!...


Ia harus lebih waspada.


"Dimana rubah itu ??", tanya cheng rou dengan nada suara dingin pada zheng bai.


"Rubah itu telah aku lemparkan dipenjara dunia bawah", sahut zheng bai santai.


Ia tak butuh waktu lama untuk membuat yi lemah, hanya dengan satu serangan dan serbuan para mahluk buas. Lelaki rubah itu telah bermandikan darah rubah sendiri.


Sangat menyenangkan untuk diliat, pikir zheng bai gila.


Disisi lain, sulur-sulur hidup yang melindungi tubuh so ah kini bergerak lembut menempel disebuah pohon raksasa.


Sulur itu membalut tubuh so ah dan bersembunyi dengan menempel sempurna di batang pohon raksasa.


Bulu mata lentik dan panjang itu bergerak lembut, dan perlahan membuka matanya. Beberapa emosi terlihat melintas dari mata yang baru terbuka itu hingga tatapan mata kosong linglung dengan apa yang telah terjadi.


So ah menyentuh perutnya yang rata.


"Dimana bayi-bayinya ?!", pikir so ah yang panuk.


Ia terlihat sedikit kehilangan sebagian ingatannya.


Jantungnya seakan-akan jatuh saat mengingat fakta bawah ia dan bayi dalam perutnya ini tengah diincar yuan. Tidak, bayinya akan nerada dalam bahaya.


So ah panik.


Pikirannya tumpangĀ  tinding menjadi satu.


Memori yang beberapa waktu lalu saat ia memasuki dunia mimpinya juga ikut bercampur menjadi satu.


Rasa pahit merusak hatinya.


Ia merasakan sakitnya.