The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 166



Di ruangan kamarnya, yuan duduk diam dalam kegelapan. Ia enggan untuk menghidupkan cahaya, dalam diam ia memandang keluar jendela kamarnya.


Malam.


Bintang.


Bulan.


Hilang.


Tak ada satupun cahaya dilangit malam, ia hanya memandang langit gelap diluar sana dengan pandangan kosong.


Yuan menutup matanya dan dengan cepat ia pergi menuju ke ruang dimensi dimana jiwa spiritual xuan berada. Lelaki itu masih tetap ditempatnya tak berubah ataupun terbangun. Ia sampai detik ini masih belum bisa menghancurkan penghalang yang menyelimuti tubuh xuan serta keempat pilar yang mengurung tubuh itu.


"Apa yang tengah kau rencanakan !!"desis yuan dingin.


Disisi lain, rambut hitam panjang milik xuan sudah sepenuhnya berubah warna menjadi keperakan. Jiwa spiritual xuan tetap mengambang dan transparan, hingga sosok jiwanya itu hanya terlihat tembus pandang jika bukan karena rambut peraknya yang berkilat itu mungkin jiwa xuan akan benar-benar tidak terlihat.


"Dimana kau sembunyikan so ah !!"desis yuan lagi dingin.


Tak ada jawaban dari sosok tertidur itu, keheningan hanya menyambut pertanyaannya.


Yuan yang juga frustasi karena baobao masih belum terbangun dari tidur panjangnya, kini harus dikagetkan dengan fakta bahwa tubuh naga tunggangannya itu menjadi transparan.


Apa yang tengah terjadi !!!....


Yuan mendekati tubuh naga tunggangannya yang kini masih tetap tidak membuka matanya. Ia melihat tanda rumit yang bersinar terang tepat di kening milik naganya, tanda itu bersinar tajam dan mengalir keseluruh tubuh naganya seperti rantai yang mengikat tubuh. Dan ketika yuan akan menghilangkan tanda itu dari tubuh naganya, tiba-tiba saja sebelum tangannya menyentuh baobao. tanda kuno itu terlebih dahulu menghilang dengan cepat diikuti tubuh transparan naganya yang terhisap kedalam pusaran tanda kuno.


Mata yuan terbelalak kaget, ia berdiri dalam kebingungan.


"Tak ada yang bisa keluar dari tempat ini tanpa izinku kecuali xuan !!!"pikir yuan.


Ia langsung melihat kearah jiwa yang kini tengah diam dalam keheningan, entah apa yang telah terjadi pada jiwa milik xuan tapi ia harus selangkah lebih cepat mencari cara agar xuan bisa mati dan terbunuh tanpa perlawanan.


Pengecut ??... ia tak berfikir itu merupakan sikap pengecut tapi itu juga merupakan langkah awal agar kekaisaran dunia dan kedua dunia lainnya terap damai dan aman walau kenyataannya dalam beberapa waktu lagi dunia atas dan dunua bawah bersitegang akan berperang. Selagi hal itu belum terjadi ia harus menyelesaikan dua hal itu dengan jalan damai.


***


So ah memandang putra dan putrinya dengan pandangannya sayang, ia tengah tidur menyamping dan memandang dua buah hatinya yang tengah tertidur lelap.


Seharian ia bermain bersama yao dan yue er bersama dengan dua dayangnya. Mungkin kedua buah hatinya ini lelah, terlihat dari dengkuran yang terdengar halus saat mereka sedang tertidur lelap, sangat lelap hingga ia yang tadinya mengelap tubuh keduanya harus menggelengkan kepala melihat tingkah kedua bayi kembarnya ini yang tak bangun ataupun terusik.


So ah memencet pipi gemuk yao er dengan gemas ia mengecup pipi montok balita itu.


"Huu..."


So ah langsung melihat ke arah sebelah yao er dimana yue er tengah terbaring tidur disana.


"Hahaha..."so ah tertawa lembut melihat tingkah lucu putri kecilnya.


Ia dengan lembut membawa yue er kedalam pelukannya.


Untung tadi rou shi dan rou shu sudah mengatur tempat tidurnya dan memasang sebuah penghalang kecil disudut lain ranjang. Jadi, ia tidak takut jika yao er atau yue er terjatuh dari ranjang ketika bergerak bebas dalam tidur mereka karena ada penghalang yang menahannya. Sebenarnya so ah tak meminta keduanya untuk memasang penghalang kecil itu karena ukuran tempat tidur ini sangat besar yang mungkin saja sangat cukup dan lebar untuk ditiduri lima orang manusia. Tapi, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan so ah lebih memilih untuk membiarkan rou shi dan rou er memasang penghalang disisi lain tempat tidur.


Yao er yang sedikit terusik dalam tidurnya karena kaki kecil yue er yang mendorong tubuh balitanya kesamping lain sisi tempat tidur mengernyitkan dahi balitanya yang halus.


Balita gemuk itu hanya bangun sebentar dan menggeser sendiri tubuh kecilnya kesisi tempat yang tidak bisa dijangkau adik kecilnya.


Yue er yang kini sudah tidak lagi berada dipelukan so ah, tidur dalam posisi yang sangat tidak tahu malu. Kedua kaki kecilnya terbuka dilain sisi begitupun dengan kedua tangannya yang seakan berkata bahwa ini adalah tempat kekuasaannya.


So ah hanya tertawa geli melihat dua posisi tidur yang berlainan dari kedua anaknya.


Yang satu tidur dengan tenang dan yang lain tidur dengan bebas. Dan pikiran so ah pun langsung tertuju kepada xuan.


Sangat tidak mungkin jika xuan tidur dengan gaya seperti itu, apakah mungkin ketika aku tidur seperti ini ???, pikir so ah saat melihat bagaimana cara tidur yue er.


Wajahnya langsung memerah padam, malu.


Ia perlahan mendudukan dirinya, dan bersandar pada dinding tempat tidurnya. So ah menoleh melihat kearah jendela yang tertutup rapat, ia kemudian turun dari tempat tidurnya setelah sebelumnya menaruh penghalang lagi disisi tempatnya tidur, merasa bahwa kedua anaknya aman dan hangat so ah berjalan menuju ke jendela dan membukanya.


Hembusan angin malam menerpa tubuhnya. So ah memandang langit malam terlihat pekat dan gelap, tanpa cahaya.


"Sampai kapan aku akan menunggu ??.."bisik so ah lembut.


Hening.


Hening.


Keheningan yang kini tengah ia rasakan membuatnya nyaman walau pada kenyataannya ia sangat takut pada rasa hening karena di sana rasa kesepian seakan mencengkeram hatinya dan melumatkan harapannya.


Panas.


Lagi, so ah merasakan panas menyengat dari tanda yang tercetak jelas di atas kulitnya. Ia beberapa hari ini bisa menahan rasa panas di atas dadanya dan sedikit menahan diri saat rasa panas itu tiba-tiba datang. Tapi, kali ini rasa panas yang ia rasakan semakin menyengat menyakitkan.


"Akhh..."desis so ah kesakitan.


"Agh..."desisnya lagi, ia menahan suaranya agar tidak membuat kedua anaknya terbangun.


Tubuhnya merosot jatuh dan terduduk. Bibir merahnya itu ia gigit dengan kejam, ia berusaha merendam suaranya sendiri. So ah mencengkeram kain pakaiannya, tepat diatas tanda itu berada dan membukanya dengan kasar hingga pakaiannya berantakkan, memperlihatkan setengah bahu telanjangnya.


"Hah... hah... hah.. akh.. apa ini ??"bisik so ah pada dirinya sendiri saat melihat tanda semerah darah itu mulai membentuk sesuatu.


Panas.


Kembali tubuhnya menggigil kesakitan, ia hanya bisa bersandar dibawah tiang tempat tidurnya sembari terus menggigit bibirnya. Perlahan darah ikut mengalir dari dalam bibirnya yang sobek, membasahi dagu hingga turun ke leher dan pakaiannya yang berantakan.


Disisi lain, bulu mata xuan bergetar  dan kemudian kembali normal seakan hanya diterpa angin lalu.