The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 105



Licik.


Keji.


Penuh perhitungan.


Dan sangat licin.


Itu yang yi lihat dari cara bertarung wan yao, dan ketika ia melihat bagaimana wan yao membawa tubuh wanita beracun itu dengan tanpa belas kasihan mengikat tubuh itu dengan sulur kematian yang melilit tubuh ling zhi tanpa ampun.


Ketika mereka menghilang dari portal yang sudah dibuat wan yao, yi langsung bergegas menghilang bersama para pasukannya.


"Apa yang ada dipikiran raja dunia bawah !!?"pikir yi, ia yang sudah mengetahui bahwa zheng bai dan ling zhi terlibat sebuah hubungan karena ada salah satu dari mata-matanya tak sengaja melihat kedua orang bejat itu bergumul ditempat terbuka, didalam kedalam hutan terlarang.


Kemungkinan ada satu hal dan itu pasti sedang ada masalah didalam kerajaan dunia bawah yang melibatkan wanita beracun itu.


Yi semakin waspada, dan ia langsung mengirimkan roh rubah kecil dengan sebuah pesan kepada kaisar agung.


Disisi lain, xuan memeluk tubuh so ah dengan lembut. Ia mengelus pelan wajah istrinya yang tengah tidur terlelap itu, matanya menatap dalam wajah so ah yang sudah menunjukkan warnanya itu walaupun hanya sedikit.


Semalam jika tanpa energi murni dari alam mungkin hari ini so ah takkan bisa terbangun. Ia tetap memangku tubuh mungil yang terasa sedikit berisi karena ada dua kehidupan didalam perut so ah.


"Pergilah menuju dunia atas dan sembuhkan dirimu di tempat peristirahatanku"perintah xuan pada dai luan. Nada suaranya yang tanpa celah untuk membantah itu membuat dai luan tanpa bertanya apapun menurut pada perintah xuan.


Tempat peristirahatan yang dimaksud xuan bukanlah tempat biasa melainkan sebuah tempat yang penuh dengan energi kekuatan spiritual suci dan tempat itu tepat berada diatas kekaisaran agung dunia atas.


"Baik, yang mulia. Aku akan dengan cepat menyembuhkan diriku"ucap dai luan yang kemudian hilang.


Ruangan itu hening sampai beberapa pelayan dari penginapan datang membawa makanan untuk sarapan pagi mereka, dari balik tirai tempat tidur xuan mengawasi gerakan para pelayan itu dan ia bisa melihat sesuatu yang aneh dari makanan yang mereka bawa. Tak ambil pusing dengan hal itu, Setelah merasakan hawa keberadaan para manusia itu tidak ada, xuan langsung memakaikan hanfu berwarna biru ditubuh so ah dengan gerakan kaku kemudian langsung memasangkan jubahnya lagi. Ia dengan lembut memperlakukan so ah, dan karena ia yang sengaja membuat so ah untuk tidak sadar dalam beberapa waktu agar racun itu bisa didetoksinifikasi secara sedikit demi sedikit, ia tak ingin membuat so ah kesakitan jadi ia bisa tenang walau ada rasa khawatir karenanya ia memeluk tubuh ringkih itu untuk lebih membawa energi alam yang dinetralkan.


Saat ini ia hanya menunggu so ah yang akan terbangun sebentar lagi.


Sembari menunggu so ah terbangun, xuan memasakkan bubur dan beberapa masakan lainya, ia sangat tidak suka jika harus memakan makanan yang dibuat oleh para manusia itu ditambah lagi ada sebuah aroma yang tak asing baginya.


Aroma pelumpuh tubuh.


Jebakan yang baginya hanya mainan sampah itu, ia biarkan mendingin disudut meja ruangan jauh dari jangkaun so ah, ia hanya takut jika so ah terbangun dan secara fatal memakan makanan diatas meja itu dan itu juga bisa berakibat fatal karena tubuh so ah masih lemah.


Tak memakan waktu lama, xuan datang dengan dua nampan di kedua tangannya dan ketika masuk kedalam kamar ia bisa melihat so ah yang tengah duduk di pinggir tempat tidur mereka.


Rambut hitam panjangnya yang terurai panjang dan sedikit berantakan, dan wajah yang masih linglung melihat sekeliling kamar hingga mata yang sedikit sayu itu menatapnya dengan tatapan terkejut sekaligus tak percaya.


Xuan meletakkan kedua nampan yang ia bawa keatas meja, ia langsung bergegas berjalan menuju kearah so ah.


"Kenapa ??"tanya xuan lembut.


"Siapa kau ??"tanya so ah dengan suara serak, ia masih trauma dengan sosok yang sama dengan sosok yang yang melukainya waktu itu.


"Aku ?.. aku suamimu"ucap xuan yang berjongkok didepan so ah, kedua tangannya berada dikedua sisi tubuh so ah.


Ini bukan mimpi, beberapa potong ingatan kabur yang melintas dipikirannya membuat so ah sedikit bingung dan linglung.


Ketika ia melihat wajah didepannya ini rasa tak percaya masih mengantung dihatinya. Ia masih takut, apalagi sekarang ia dikurung dalam posisi yang sedikit aneh ini.


Tapi tetap saja ini bukan mimpi, pikirannga menjerit ngilu hatinya terasa sangat tertekan.


Alis pedang yang terlihat sangat tegas sekaligus berwibawa dengan mata bunga persik yang terlihat tajam bagai burung phonix itu membawa aura malas tetapi juga tatapan yang membuat siapa saja tunduk padanya, hidungnya yang mancung dan bibir tipis itu terlihat tersenyum tipis.


So ah tak melihat aura yuan pada lelaki dihadapannya ini melainkan ada aura berbahaya yang terasa begitu samar tapi ia tak merasakan rasa takut pada auranya.


"Xuan"ucap so ah lirih.


"Ya..."jawab xuan.


"Apakah itu benar dirimu ??"tanya so ah sekali lagi dengan suara lirih.


"Ya ini aku..."jawab xuan.


So ah mengangkat tangannya dan menyentuh wajah xuan dengan lembut, ia menyentuh rahang tegas yang sedang mendongak melihatnya.


Pria yang sama.


Wajah yang sama.


Dan ia tak menampik fakta bahwa xuan juga ikut serta membuat kemalangan dalam hidupnya.


Tapi kenapa lelaki ini masih ada di didepannya ??...


Xuan melihat mata sayu itu berkaca-kaca seakan menahan air mata yang kapan saja bisa jatuh dari mata itu, hidung yang mulai memerah membuat xuan tau so ah sedang menahan air matanya sendiri.


"Menangislah"ucap xuan lirih, suaranya yang rendah terdengar lembut ditelinga so ah.


Xuan memeluk pinggang so ah dengan kedua tangannya dan ia dengan lembut menaruh kepalanya sendiri diatas perut so ah yang buncit itu, samar bisa ia dengar detak jantung lemah milik anak-anaknya.


So ah masih terpaku kaget dengan apa yang dilakukan xuan padanya, ia hanya bisa melihat bagaimana lelaki didepannya ini memeluk pinggangnya, ragu-ragu so ah mengelus surai hitam panjang milik suaminya ini.


Ada rasa nyaman diantara keduanya...


Ada rasa dimana mereka tak bisa mengungkapkan apa yang berkecamuk didalam hati dan diam-diam mulai sedikit saling memahami...


Seorang weida de tianghuang, penguasa ketiga alam sekaligus iblis penghancur yang dingin dan kejam tanpa perasaan menurunkan harga dirinya didepan wanita ringkih yang perlahan-lahan mulai menggaruk sedikit demi sedikit hatinya.


Ia merawat so ah dengan lembut, dan dengan sabar menyuapi wanita itu bubur yang telah ia buat.


Tak ada yang berbicara dan hanya dentingan sendok dan kunyahan lembut memenuhi ruangan kamar penginapan ini, tapi itu lebih dari cukup untuk kondisi yang terasa sangat harmonis dan damai itu.