
Jing changxi yang masih tetap menunggu untuk bertemu zheng bai, ia berusaha bersikap tenang dan lemah lembut. Ia juga tak ambil pusing dengan masalah yang telah ia perbuat, karena ia yakin bahwa semua yang ia bawa adalah milik kediaman klannya.
Jing changxi yang kini tengah bersolek dan menatap pantulan dirinya sendiri, terlihat segar penuh dengan energi menggairahkan dari tunas yang tumbuh bertambah dewasa.
Ia memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh berisinya, dengan santai berjalan menuju ke arah jendela besar kamar.
Ia kemudian bersama dengan para pelayannya berjalan menuju ke ruang makan kerajaan.
"Apa benar raja ada disini ?"tanya jing changxi memastikan lagi informasi yang diterima pelayannya.
"Benar, nona..."sahut pelayannya.
"Hmpt.. awas jika kau salah, ambil hukumanmu di kediaman"balas jing chanxi dingin.
"Baik, nona"sahut pelayannya lagi.
Para pelayannya sudah terbiasa dengan hukuman-hukuman yang mereka terima dan bahkan mereka yang telah melakukan kesalahan akan dengan sukarela datang ke ruang penghukuman bagi para pelayan yang membangkang atau kegagalan tugas yang diberikan oleh tuan mereka. Mereka hanya patuh pada tuan mereka, kediaman jing karena hal yang sangat mereka ingin jaga selalu di gunakan untuk mengancam diri mereka sendiri hingga para pelayan dari kediaman klan jing tidak bisa berbuat apapun selain terpojok dan patuh pada perintah tuan mereka.
Jing mei yang sedang duduk ditaman, diam membaca buku kuno miliknya.
"Yang mulia, apakah anda tidak masuk kembali kedalam"tanya kepala dayang kerajaan padanya.
"Tidak apa, aku ingin sendiri"sahut jing mei masih tetap fokus pada bukunya.
"Baik, yang mulia"sahut kepala dayang sopan.
Jing mei menikmati teh hitamnya dan buku yang ia baca. Ketenangan dan kedamaian yang ia inginkan saat berada ditaman kerajaan adalah hal yang sedikit bisa menghiburnya.
Zheng bai yang tengah berada didalam ruang makan merasakan bahwa ada sosok lain yang sedang mendekat kearahnya hanya mendengus dingin, ia langsung pergi menghilang.
Lelaki itu berjalan dilorong kelam bersama dengan satu orang berjubah hitam yang mengikuti dirinya.
"Chen ru, pergi dan ambil benda itu"ucap zheng bai.
"Baik, yang mulia"sahut lelaki itu dan kemudian hilang dalam bayang-bayang kegelapan.
Ia melirik taman kerajaan yang tepat berada disampingnya dan saat matanya tanpa sengaja melihat siulet seorang wanita yang ia kenal, dirinya langsung pergi menuju wanita itu.
"Akan ada permainan yang menyenangkan dan dirinya ingin sedikit menyalakan sumbu pemanasnya", pikir zheng bai tersenyum mengejek.
"Apa yang kau lakukan ?"tanya zheng bai pada jing mei.
Jing mei kaget mendengar suara seorang pria yang tepat berada disebelah telinganya.
"...."jing mei hanya menatap zheng bai, ia menatap datar sosok yang kini tengah berdiri disampingnya.
"Apa yang anda butuhkan yang mulia ?"tanya jing mei sopan.
Ia menutup lembut buku yang ia baca dan dengan anggun menaruhnya diatas meja.
"Hmpt... apa kau tidak menjamu raja ini ?"ucap zheng bai berbisik pada jing mei, ia dengan santai menarik kursi yang berada di samping kursi jing mei dan menduduki kursi itu.
Hening.
Hening.
Keheningan yang terasa mencekik tanpa ada satupun dari keduanya yang mengatakan sesuatu membuat jing mei jengah dan merasa tertekan. Ia yang sudah menenangkan dirinya mulai kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda karena kehadiran zheng bai.
"Lain kali aku harus memerintahkan mereka untuk memberitahukan kedatangan lelaki ini" pikir jing mei dalam hatinya. Ia terus menekankan kalimat itu rapat-rapatĀ didalam pikirannya.
Zheng bai yang melihat jing mei kembali fokus kepada buku usang dan teh, hanya diam tanpa suara. Ia menyandarkan dagunya di tangan kanannya, menatap jing mei dari samping. Zheng bai makin berani memainkan rambut hitam jing mei dan menggoda wanita itu.
"Apakah kau sudah puas sekarang ?!"desis jing mei mulai risih.
"Apa yang kau lakukan !!"bisik jing mei tajam.
Bagaimana tidak, sekarang tubuhnya tengah berada dipangkuan lelaki yang amat sangat ia benci, ia sangat jijik apalagi jika harus bersentuhan langsung dengan zheng bai.
"Apakah raja ini tidak boleh memanjakan ratunya ?"tanya zheng bai pada jing mei, suaranya yang bagaikan sebuah lonceng mengerikan berdering nyari ditelinganya.
Jing mei yang merasakan akan ada bahaya datang mendekat, langsung mengedarkan pandangannya kesekeliling taman tapi tangan besar zheng bai mengahalanginya.
"Apa yang kau lakukan ratuku ?"tanya zheng bai, suaranya masih terdengar dingin tapi hati jing mei terasa disiram air dingin saat matanya melihat kesudut tempat dimana sesosok wanita tengah berdiri disana.
"Apakah taman ini lebih indah daripada wajahku ?"tanya zheng bai lagi, ia sangat senang melihat ekspresi kebingungan dari jing mei.
Kebingungan yang terasa menekan jing mei membuat zheng bai sangat girang, ia senang melihat wajah dingin dari jing mei yang tiap kali berhadapan dengannya kini hancur hanya karena jalang kecil menyedihkan dari klan jing itu.
"Maafkan nona muda ini karena mengganggu kebersamaan yang mulia raja dan yang mulia ratu"ucap jing changxi lembut, wanita itu terus menahan emosinya saat harus melihat pemandangan panas tepat didepan matanya.
"Hahaha tidak apa-apa, ratu ku sangat lelah karena altivitas kami semalam, mungkin sekarang ini ia butuh teman berbincang"ucap zheng bai dingin.
"Bukankah begitu, ratuku"tanya zheng bai, ia menyisihkan rambut jing mei kebelakang telinga wanita itu dan dengan mesra ia mengecup pelipis jing mei.
Jing mei yang masiu belum sadar akan kondisi yang tengah terjadi, langsung merespon saat kecupan zheng bai terasa bersentuhan dengan kulit pelipisnya. Ia menyentug bibir zheng bai dan dengan sensual mengelusnya.
"Yang mulia, anda membuat saya malu didepan adik perempuan hamba"ucap jing mei dengan suara lembut.
"Hahaha tidak apa, kita keluarga sekarang"ucap jing changxi sopan dan lemah lembut.
Zheng bai menatap datar wanita yang berani menyela pembicaraannya dengan jing mei tapi disisi lain ia juga senang melihat ekspresi jing mei yang hanya ditunjukkan sekilas itu.
Rahang jing mei sedikit mengeras saat jing changxi dengan santai membicarakan kata keluarga didepannya, ia merasa bahwa adik perempuan dari ibu yang berbeda ini mulai kehilangan arah dan ingin membawa kehancuran klan menjadi lebiu dekat kejurang jika membiarkan jing changxi bergerak sesuai kemauan gadis itu sendiri.
Ia tak ingin usaha dalam mengorbankan dirinya sendiri harus tak berarti karena gadis labil didepannya ini.
Jing mei juga melihat bahwa jing changxi melirik zheng bai malu-malu dengan harapan lelaki yang tengah memangkunya ini tertarik padanya.
"Tapi, adik perempuan bukankah sangat tidak sopan bagi seorang nona muda pergi dan menginap terlalu lama ditempat lain ?"tanya jing mei lembut.
Jing changxi menahan amarahnya yang terus menerus meluap, ia ingin menghancurkan wajah milik jing mei itu hingga menjadi tak berbentuk.