
Yuan yang melihat wanitanya berlumuran darah tepat didepan matanya hanya bisa mematung tidak percaya dengan apa yang telah ia lakukan. Ia melihat pedangnya sendiri yang berlumuran darah so ah, darah itu terus setetes demi setetes menetes ke lantai kayu hingga bercampur dengan genangan darah merah tepat di bawah kakinya.
Xuan yang ada didalam tubuh yuan melihat apa yang telah dilakukan serpihan jiwa kekuatannya ini secara tiba-tiba tanpa prediksi darinya sendiri langsung murka. Ia dengan ganas berusaha menarik jiwa itu dengan paksa dan mengurungnya.
"So ah..."ucap xuan yang perlahan mendekati so ah.
"Lepaskan..."desis so ah dengan suara yang menahan rasa sakit.
Xuan hanya bisa menarik tangannya sendiri, tapi secara tiba-tiba yuan yang tadi ia kurung dengan paksa didalam tubuh ini memberontak dengan brutal.
"Pergi !!.."ucap xuan dengan suara berat.
"Ka..kaauu ?? Xuan !!..."ucap so ah kaget karena ia bisa merasakan momentum yang berbeda dari lelaki di depannya ini.
"pergiii !!!"desis xuan dengan menarik tangan so ah hingga wanita itu berada didalam pelukannya. Ia dengan cepat memberikan so ah sedikit energi spiritualnya dan membuat beberapa lapisan pelindung ditubuh so ah untuk berjaga-jaga dikemudian hari agar kejadian ini takkan terulang.
"Cepat pergii sejauh mungkin dan temukan dai luan !! "desis xuan lagi dengan suara yang semakin berat karena yuan didalam tubuh ini terus memberontak dengan membabi buta dan ditambah dengan kondisi tubuh ini yang sudah terkena racun ia tak bisa menahannya lebih lama lagi.
So hanya mematung, ia benar-benar tak bisa mencerna apa yang terjadi tepat didepan matanya. Xuan menggunakan sisa tenaganya memanggil seekor burung raksasa dan mendorong so ah kepada burung itu.
"Cepaattt !!!"desis xuan.
So ah yang tersadar langsung menaiki burung raksasa itu. Ia hanya bisa memandang lelaki yang ada di bawahnya itu dengan pandangan tak percaya.
Burung itu terus membawa so ah terbang menjauhi gunung Ji selatan, dari atas so ah bisa melihat bahwa mereka semakin jauh dari gunung itu.
Matanya hanya menatap sayu gunung ji dari kejauhan dan ia hanya menyandarkan dirinya pada leher burung itu. ia merasa sangat lemah karena darah yang ia keluarkan sangat banyak.
"Akhhh"lirih so ah sedikit mengernyit sakit, ia perlahan memegang sisi perutnya yang robek dan bisa merasakan bahwa luka diperutnya tertutup walau tidak sepenuhnya.
Setelah kepergian so ah, xuan dan yuan bertarung dengan ganas. Dua sosok dalam satu jiwa yang saling murka satu sama lain dan tak ingin mengalah itu terus bertempur hingga salah satu dari mereka terpental jauh.
Yuan yang terpental karena amukan xuan hanya mendecih geram.
"Kau memang serpihan yang tidak tahu malu !!"desis xuan sinis.
"So ah milikku !.. kau tak mempunyai hak atasnya"balas yuan dingin.
"Hahaha cih... tapi dia mengandung benihku"jawab xuan arogan.
Yuan mendengar jawaban menohok xuan tersulut emosi.
"Kau takkan bisa melihat benih itu tumbuh dan besar... hahaha aku sudah memberi racun agar anak itu takkan lahir ke dunia ini !!!"kata yuan gila mulai kehilangan akalnya.
Yuan yang melihat xuan diam mulai tersenyum mengejek.
"Jika kau menyakiti janin yang ada didalam rahim so ah itu sama artinya kau menyakiti so ah"kata xuan dingin.
Yuan langsung terdiam kaku mendengar apa yang dikatakan xuan. Kenapa ia membuat sebuah keputusan tanpa berfikir terlebih dahulu !!... kenapa ia bertindak implusif !!!..., pikir yuan mulai cemas.
Ia dengan cepat kembali ke tubuhnya, saat membuka mata ia melihat darah segar yang menghitam masih melimuri pedangnya. Xuan yang ada didalam tubuh yuan melihat hal itu menahan rasa amarah bercampur khawatir tapi tetap berusaha tenang dan berfikir dingin tapi tetap saja ia tak bisa menahan amarahnya. Ia tak yakin jika energi spiritualnya bisa tetap menyembuhkan luka itu atau tidak tetapi ia menjamin keselamatan wanitanya karena pelindung kuno yang telah ia pasang didalam tubuh so ah takkan bisa di tembus oleh apapun.
So ah yang diturunkan burung itu di sebuah hutan belantara hanya terdiam. Ia melihat tubuh burung hitam itu yang menyusut menjadi kecil dan terbang di sekelilingnya. Ia yang berlumuran darah jatuh terduduk berusaha untuk tetap tersadar tapi karena sekarang ini kondisi dirinya yang tengah berbadan dua sangat sulit, untuk bernafas saja ia harus berusaha untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Tangannya yang gemetaran hebat masih terus menekan luka tusukan pedang yuan itu ia tekan dengan erat agar menghentikkan sedikit pendarahan di perutnya, dengan tangan gemetaran so ah berusaha bangkit dari duduknya dan berjalan dengan terseok-seok mencari sebuah gua untuk berlindung.
Pakaian putihnya yang penuh dengan bekas kotoran tanah dan darah yang mengering tak ia perdulikan.
Keringat yang membasahi dahinya ia lap dengan tangannya yang penuh dengan bekas kotoran tanah yang menempel bercampur darahnya.
Air matanya yang terus meleleh keluar dari kedua matanya meleleh turun melewati pipi yang semakin pucat. So ah tetap berjuang untuk terus berjalan, walau langkah kakinya mulai melemah dan tenaganya sudah hampir akan habis ia tetap mempertahankan kesadarannya demi anak yang berada didalam kandungannya.
Ia berhenti sebentar bersandar di batang pohon, sejenak mengambil nafas dan beristirahat. Ia saja bahkan baru sadar bahwa sekarang ini ia tak memakai alas kaki.
"Tenang... jangan takut..."bisik so ah lembut sembari mengelus perutnya dengan satu tangannya yang lain.
Rasa perih yang terus terasa menusuk di luka tusukan itu ia tahan dengan kuat apalagi kedua kakinya yang tak memakai alas pun ikut terluka semakin ia berjalan memasuki kedalaman hutan ini, mata so ah yang mulai lelah dan lemah melihat burung hitam itu hinggap di sebuah tempat yang terlihat seperti gundukkan daun hijau tapi setelah ia perhatikan ternyata itu sebuah pintu gua yang tertutupi banyak tanaman merambat yang menutupinya itu matanya langsung terbuka. Ia melihat sekelilingnya yang penuh dengan pepohonan besar dan rumput-rumput, So ah berusaha menggunakan sisa kekuatannya untuk menutupi jejak dan aromanya dengan aroma hutan.
Setelah dengan waspada memeriksa gua didepannya so ah perlahan masuk kedalam gua.
Pada awalnya ia takut karena berfikir mungkin didalam gua akan sangat gelap dan kotor tetapi ketika ia masuk kedalam matanya langsung sedikit terbuka karena tak ada satupun serangga atau hewan buas didalam sana. Didalam hati so ah bersyukur tanpa menyadari bahwa sepanjang perjalanannya mencari tempat untuk berlindung ia tak menemui satupun binatang buas padahal ia berada dihutan yang penuh dengan binatang-binatang berbahaya. Dan tanpa so ah tau bahwa hal yang menyebabkan semua itu adalah berasal dari aura dominan yang keluar dari janin yang ia kandung, Janin keturunan weida de tianghuang yang sangat ditakuti diketiga dunia itu membawa sebuah berkah sekaligus malapateka bagi dunia.
So ah perlahan duduk dipermukaan datar gua itu. Ia dengan kuat menyobek rok pakaian tengah yang masih bersih mulai membersihkan lukanya dengan kain sobekan itu. Ia bisa melihat bahwa luka sobekan di perutnya perlahan menutup, apakah tadi xuan yang menyembuhkan luka ini ??..., tanya so ah didalam hatinya.
Dengan hati-hati so ah menyenderkan dirinya kedinding gua. Setetes demi setetes air mata mulai keluar dengan deras dari kedua matanya, ia tak sanggup menahan rasa perih dari yang berasal dari luka itu.
"Akh"desis so ah kesakitan.
Kenapa yuan begitu tega padanya ??!!...
kenapa ??...
Ada begitu banyak pertanyaan yang terus berputar-putar dikepala so ah. Ia sangat ketakutan, ia sangat kesakitan dan ia tak mau janin yang ada didalam rahimnya merasakan apa yang ia rasakan walaupun kenyataannha ia tau janinnya juga ikut kesakitan dan sekarang ia harus terluka, tanpa sadar ia yang sudah sangat lemah dan lelah tertidur.