The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 126



"Dia bukan yuan"ucap yi dingin memecahkan keheningan diantara mereka.


Sekarang ini Bingbing dan Hui serta Long dan Zhe ze sedang berkumpul di kediaman klan milik klan harimau. Mereka terdiam ketika mendengar suara yi yang dingin mengatakan hal yang tak pernah mereka bayangkan.


"Bohong !"desis bingbing.


"Iya, bagaimana mungkin itu bukan yuan ge... tak ada yang tak bisa menyerupai atau menyamai yuan ge"timpal zhe ze marah.


"Aku hanya merasakannya saja"ungkap yi sembari menghela nafas gusar.


"Apa maksudmu ??"tanya Hui, lelaki menyenderkan tubuhnya kedinding dan dengan santai duduk di sebelah istrinya.


"Kekuatan dan aura yang sangat berat serta tajam itu membuatku sangat terganggu"sahut yi.


"Kemungkinan apa yang dikatakan Yi itu benar"ucap Long.


Keempatnya langsung menatap long, zhe ze yang berada disebelah long langsung memukul lengan kekasihnya itu.


"Apa yang kau katakan !.. bukankah dirimu jarang berada disekitar yuan ge"ucap zhe ze kesal.


"Ya, itu memang benar tapi aku bisa merasakan dengan pasti apa yang dirasakan Yi bahwa itu bukan yuan"jawan long santai.


"Jika itu bukan yuan, jadi siapa ?"tanya bingbing.


"Entahlah... kita hanya bisa menunggu"jawab yi.


"Ti..tidak bisa !!!... kita harus menangkap lelaki yang menyerupai yuan ge !!!"ucap zhe ze.


"Zhe ze dengarkan aku, yi saja hampir terbunuh saat berada di aula takhta kekaisaran... masalah ini tidak seperti masalah yang kau pikirkan... kita harus sedikit hati-hati"ungkap Hui.


Mata Zhe ze langsung terbelalak tak percaya, diantara mereka hanya yi yang bisa mengimbangi kekuatan kaisar tapi kenapa yi hampir terbunuh hanya karena tekanan saja.


"Kita harus diam dan menganggap ini tidak ada"ucap Yi, dirinya langsung menghilang.


Hanya ada keheningan didalam ruangan itu dengan mereka yang bergulat dengan banyaknya pemikiran dibenak mereka.


Xuan duduk diam, matanya yang semerah darah itu tersembunyi dibalik kelopak mata yang sedang menutup. Rambut hitam panjang yang sedikit berantakan terhembus oleh angin yang tiba-tiba datang menerpa tubuhnya.


"Naga pelindung ini menyapa weida de tianghuang"ucap dai luan memberi salam pada xuan.


"Apa yang kau temukan ?"tanya xuan dingin.


"Dunia bawah sedang bergerak lebih cepat dari perkiraan anda, yang mulia"jawab dai luan dingin.


Mata xuan langsung terbuka dengan malas ia menyandarkan dagunya di tangan kanannya.


"Bergerak lebih cepat ?.. hoo tikus-tikus itu sepertinya mulai ketakutan"ucap xuan santai.


"Tapi kenapa anda ingin ikut dalam keramaian ini yang mulia ??"tanya dai luan.


"Aku ??.. bukankah mempersiapkan apa yang harus disiapkan itu hal yang bijak, dai luan kau harus berhati-hati"ucap xuan dingin.


Mendengar ucapan tuannya, dai luan langsung terdiam berusaha memikirkan beberapa kemungkinan kenapa tuannya mau terlibat dari peperangan yang sebentar lagi akan meletus ini.


"Akhir dari peperangan tidaklah baik... dan lebih tidak baik lagi jika aku menutup mata atas jiwa yang sudah melindungi nyawa permaisuriku"jawab xuan dingin.


"Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa, dan jiwa dibayar jiwa bukankah itu sudah hukum alam yang berlaku... yang mana yang kuat dia yang akan berdiri dipuncak rantai"desis xuan lagi.


"Sejak dulu, dunia bawah sudah terlalu serakah... dan kini mereka sekali lagi ingin membangkitkan orang itu, sungguh tak berguna"desis xuan dingin.


Dai luan sudah tau apa arti dari senyuman tuannya itu dan ia sudah tau bahwa nasib mereka yang telah berani mengusik ketenangan tuannya takkan baik.


"Racun ular yang kau buat, kenapa tubuh ini tidak membusuk seperti pertama kali aku memakainya lagi ?"tanya xuan.


"Racun ular kuno yang anda maksudkan bukan menyerah tubuh tetapi perlahan menggerogoti jiwa yang terkena racun, perlahan ingatan dari jiwa itu akan tumpang tindih tak karuan dan sampai sekarang aku belum menemukan satu bahan penawar nya yang mulia"jawab dai luan.


"Darah phoenix"desis xuan.


"Ya, anda benar"jawab dai luan.


"Kau boleh pergi ke tempat suci... lindungi wanitaku"ucap xuan santai.


"Apa... apa yang akan anda lakukan ??"tanya dai luan.


"Aku ???... bersenang-senang"jawab xuan sembari tertawa mengejek. Entah siapa yang ia tertawakan tetapi itu bukanlah hal yang baik.


Xuan pergi menuju kedunia manusia, disana ia diam-diam memperhatikan orang-orang yang sudah diselamatkan berada didalam kekaisaran Qi. Ia juga bisa melihat banyak pasukan dari kekaisaran ini yang dengan cepat mengerti maksud dari kedatangan orang-orang ini.


Setidaknya manusia-manusia tidak terlalu bodoh, pikir xuan.


Sedangkan itu di kekaisaran Qi, Sang kaisar Qi kini sedang berada didalam kamarnya bersama dengan permaisuri Shui Lan.


"Apakah mereka mengirim surat ?"tanya Kaisar.


"Ya, suamiku lihatlah... apakah kau tahu jantung selalu berdetak tak karuan tapi sepertinya mereka sudah berbaikan lagi"ucap permaisuri shui lan lembut.


"Ya, kau benar istriku... kesalahpahaman mereka sudah tidak ada lagi"ucap kaisar.


Ia memeluk istrinya itu dengan penuh kasih sayang, mereka saling berbincang dengan tenang satu sama lain mendiskusikan apa yang telah terjadi pada orang-orang yang berada di wilayah timur.


"Bagaimana menurutmu ?"tanya kaisar.


"Kita harus memperkuat benteng perbatasan dan menarik orang-orang disana untuk datang ke wilayah dalam kekaisaran, aku merasa orang-orang yang tiba-tiba berada disini itu bukanlah sesuatu yang baik jika kita mengabaikan mereka ataupun mengabaikan peringatan mereka juga"ucap permaisuri bijak.


"Ya, kau benar... sepertinya kedepannya tak akan ada lagi waktu luang"ucap kaisar Qi.


Kaisar Qi langsung menuliskan surat peringatan ketiga penjuru kerajaan besar, disana ia memperingatkan setiap kerajaan untuk memperkuat benteng pertahanan mereka. Ia membeberkan informasi yang ia dapatkan dari kerajaan timur dan karena surat yang ia sampaikan itu membuat ketiga kerajaan menjadi waspada.


Xuan yang sudah tau apa yang telah di tulis kaisar Qi diam-diam membuat sebuah tabir pelindung raksasa disetiap penjuru wilayah utama kerajaan.


Dalam keheningan dirinya tersenyum dingin, ia bisa merasakan angin malam yang berhembus membelai tubuhnya. Telinganya bisa mendengar derap langkah kasar yang berjalan dengan cepat menuju kekekaisaran Qi.


Dibawah sinar rembulan, rambutnya yang sudah berubah perak berkibar diterbangkan angin-angin nakal.


Dekat.


Semakin dekat.


Dan tepat dibawahnya.


Mata tajamnya menatap dingin kearah mahluk-mahluk buas yang sudah kehilangan akal dibawahnya, siapa orang yang bisa mengendalikan mahluk-mahluk ini itu termasuk kedalam perhitungannya.


"Mati"desis xuan santai.


Didetik itu pula puluhan atau mungkin ratusan makhluk mati dengan kondisi tubuh yang tercabik-cabik oleh udara tajam yang tak terlihat. Xuan hanya duduk diam diatas dahan tertinggi pohon, ia tak merasa terusik dengan teriakan-teriakan serta raungan penuh rasa amarah serta rasa kesakitan dibawahnya.