
Cheng rou yang zheng bai perintahkan untuk mencari jejak darah langka itu dengan santai ia menelusuri jalan dimana aroma darah langka itu menghilang hingga ia sampai di pertengahan gunung bersalju, ia melihat dihadapannya kini terdapat sisa-sisa pertarungan hebat yang tadinya sempat ia laporkan pada tuannya.
Salju masih meleleh ditempat ini, begitu hebat api itu hingga membuat tempat ini masih berantakan meninggalkan jejak.
Cheng rou yang berdiri diam ditengah-tengah bekas tempat pertarungan perlahan ia mengeluarkan aura spiritualnya, ia mencari keberadaan sisa-sisa mahluk yang mempunyai esensi spiritual.
Tak ada satupun ??, pikir cheng rou dingin.
"Kurang jauh", desisnya.
Cheng rou membentangkan tangan kirinya dan dari dalam lengan bajunya keluar serangga terbang berwarna hitam yang keluar mengelilingnya.
"Cari"desis cheng rou dingin.
Serangga hitam terbang itu mengeluarkan aura spiritual hitam sama seperti aura yang keluar dari tubuh cheng rou, serangga hitam itu terbang dengan membawa segerombolan serangga hitam lainnya yang terbang dibelakangnya.
Cheng rou yang melihat ribuan serangga yang terbang berpencar kesegala arah tersenyum dingin.
Tak berselang lama, senyumannya semakin berkembang mengerikan.
"Kena kau !!"desis cheng rou senang.
Ia dengan cepat pergi menuju kesuatu tempat meninggalkan tempat berantakan dibelakangnya.
Yi bisa merasakan banyak bahaya hitam disekitar mereka.
"Hui, apakah kau juga merasakannya ??"tanya yi pada hui.
"Iya, aku merasakannya"sahut hui.
Bingbing yang kemampuan bertarungnya masih jauh dibawah kedua pria juya bisa merasakan atmosfer disekitar mereka mulai berubah drastis.
"Serangga beracun !!!"pekik bingbing yang sekilas melihat ada satu serangga hitam berada dipundak yi.
"Jangan-jangan ?!!"desis yi dan hui secara bersamaan.
"Yi, cepat hempaskan serangga itu dengan pedangmu !!... jangan sentuh mahluk kecil menyusahkan itu"ucap bingbing lagi.
"Tidak... tidak... terlambat !!"desis bingbing yang dengan langsung menarik pedang milik hui disampingnya.
Crakkk...
Serangga itu dengan cepat terpotong menjadi dua bagian saat pedang yang bingbing pegang menebasnya.
Yi dan hui terpatung diam karena kecepatan bingbing.
So ah yang berada dilembah utara dikagetkan dengan kedatangan rou shi.
"Apa yang terjadi ??"tanya so ah pada rou shi.
"Yang mulia, apakah anda tidak menyesali keputasan anda ??"tanya rou shi tiba-tiba.
"Tidak, itu hak mereka"ungkap so ah lembut.
Wanita yang kini telah menjadi seorang ibu itu kini tengah duduk diam melihat keluar kamarnya. Mata lembabnya memandang jauh kedepan, dimana tabir penghalang masih terlihat membatasi daerah ini.
"Tapi, kenapa gadis muda itu ditinggalkan ?"tanya rou shi.
"Gadis muda ??"tanya so ah.
"Iya, yang mulia"jawan rou shi.
So ah hanya diam, ia tahu jawaban atas pertanyaan rou shi dan ia tidak mau menjawabnya karena ia tahu mungkin saja rou shi takkan terima atas keputusannya.
"Nona muda dari klan burung vermillion itu terlihat menjadi diam dan pemurung yang mulia"ucap rou shi lagi.
"Bagaimana kau bisa tahu ?"tanya so ah.
"Nona muda itu kini berada di antara pohon itu"ucap rou shi lagi sembari menunjukkan tempat dimana zhe ze berada.
"Dan jangan ikuti aku"ucap so ah lagi memberikan peringatan pada rou shi.
"Baik, yang mulia"jawab rou shi patuh.
So ah memakai jubah hitam yang terlihat hampir sama dengan milik suaminya walaupun pada dasarnya ia tahu bahwa kemungkinan besar semua barang ditempat ini adalah milik xuan.
Aroma yang sama, ia tahu bahwa kerinduannya sedikit terobati.
Wanita dengan kecantikan surgawi itu berjalan lembut menyusuri hutan kecil penuh dengan pohon-pohon penuh warna dihadapannya.
Kelopak merah muda yang jatuh terbang diterpa angin lembut memenuhi hutan kecil menenangkan ini. Di ujung lain hutan kecil bunga persik, daun-daun merah maple yang masih tetap di dahan pohonnya ikut jatuh turun mengikuti kelopak kecil merah jambu yang jatuh lembut, seakan kedua daun dan kelopak itu tak ingin mengalah menampilkan kecantikannya.
So ah sedikit tersenyum memikirkan pikiran konyolnya.
Ia mulai terbiasa tanpa kehadiran xuan dan kedua bayi kembarnya walau pada kenyataannya ia sangat merindukan ketiga mahluk yang sangat ia cintai itu. Tapi, ia akan tetap berusaha agar segalanya menjadi membaik seperti semula.
Suara gemericik air jernih yang mengalir membelah dua hutan dengan dua warna kontras itu menenangkan pikirin so ah, hingga ia melihat kain hanfu biru yang melambai disalah satu dahan dekat dengan suara gemericik air.
"Apakah kau masih marah ??"tanya so au lembut.
Hening.
Ia tak mendapat jawaban apapun dari sosok yang ia tanyai.
"Apakah kau tidur ??"tanya so ah lagi.
Zhe ze masih diam tak menjawab apapun.
"Baiklah, menangislah... aku akan diam di bawah sini"ucap so ah lagi.
Hening.
So ah memutuskan untuk duduk dibawah pohon persik yang telah mengeluarkan buahnya, ia memetik satu buah matang yang dahannya secara ajaib datang mendekat kearahnya dan ia memakan buah persik itu dengan senyum diwajahnya.
Keheningan dan kedamaian yang menentramkan pikirannya. So ah untuk pertama kalinya bingung dengan apa yang terjadi disekitaranya. Tempat ini menerima ia dengan terbuka, ia merasa seperti tuan rumah pemilik lembah utara. Apalagi tabir pelindung yang melindungi tempat ini menurut rou shi mustahil bagi siapapun untuk masuk sesuka hati mereka karena sejak ribuan tahu lalu weida de tianghuang selalu membunuh setiap mahluk yang berani mendekati tempat ini tanpa seizinnya dan ia bisa dengan mudah masuk kedalam lembah ini tanpa terluka, ia pada awalnya sedikit kebingungan hingga yi, hui dan bingbing meminta izin untuk keluar dari lembah utara dan mereka berhasil keluar. Awalnya so ah berfikir apakah mungkin kebetulan, jika ia memberikan izinnya tabir pelindung kuat itu akan dengan mudah mengizinkan ketiga mahluk immortal itu keluar tapi ternyata ia merasakan bahwa segala sesuatu ditempat ini mematuhinya dan ia mencobanya lagi dengan memerintahkan rou shi keluar dari tempat ini dan kemudian masuk lagi ketempat ini.
Terlihat mustahil tapi ia yakin itu sangat nyata.
So ah memandang telapak tangannya yang terlihat bercahaya karena sinar matahari sore. Ia diam-diam sedikit demi sedikir mengasah kemampuannya, ia tak ingin lagi jika dikemudian hari orang terdekatmya harus terluka karena ketidakberdayaannya.
So ah yang merasa bahwa zhe ze tak merespon, berjalan pergi meninggalkan gadis muda itu. Dan keesokan harinya ia kembali datang.
"Apakah kau masih marah ??"tanya so ah.
Hening.
Hening.
Hening.
"Ti..tidak"jawan zhe ze dengan suara lemah.
"Apakah kau lapar ??"tanya so ah pada zhe ze.
Itu pertanyaan bodoh karena disekitar zhe ze banyak bergelantungan buah-buah persik ranum.
"Tidak..."jawab zhe ze yang tetap menjawab pertanyaan so ah.
Zhe ze dengan cepat turun dari dahan pohon dan datang berlutut didepan soah.
"Apa yang kau lakukan ??"tanya so ah.
"Maafkan ketidaksopanan nona muda ini, yang mulia permaisuri agung"ucap zhe ze yang meminta maaf pada so ah karena ia telah berani bersikap lancang pada permaisuri kekaisaran dunia atas.
Deg.
So ah terdiam mendengar ucapan zhe ze.