The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 226



"Mereka menyebar", bisik wan yu dingin.


"Menyebar ???", tanya chen qu.


"Hahahaha, trik bodoh macam apa itu ?!", lanjutnya lagi tertawa mengejek.


Tapi, sebelum chen qu berbicara lagi. Raja dunia bawah, zheng bai telah hadir dihadapan keduanya.


"Salam yang mulia", ucap cepat keduanya.


"Dimana para tikus itu ?", ucap zheng bai dingin.


"Mereka menyebar dalam dua arah yang mulia", jawab cepat wan yu.


"Dimana arah rubah itu", ucap zheng bai pada wan yu.


"Timur, yang mulia", jawab wan yu.


"Hahahaha, bodoh... bodoh... hahaha", ucap zheng bai yang tertawa terbahak-bahak.


Kemudian, lelaki itu menghilang tanpa jejak.


Hening.


"Kenapa yang mulai terlihat senang ??", tanya chen qu pada wan yu.


"Ck, bodoh", decih wan yu dingin.


Chen qu hanya bisa menahan emosinya atas ucapan dingin lelaki gila disebelahnya ini.


Wan yu memisahkan dua kelompok mahluk buas buatan miliknya menuju dua arah yang berbeda. Setelah melihat seluruh mahluk buas itu bergerak saling berlawanan arah, ia dengan dingin memilih arah dimana yi berada.


Dendam lama masih belum selesai.


ia ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.


.


.


.


.


Hui yang bersama dengan istrinya dan so ah, berlari dengan cepat menuju ke kerajaan barat.


Sulur yang melayang karena sisa serbuk spiritual milik bing bing sedikit memberikan kemudahan pelarian mereka.


Bingbing yang berada dipunggung suaminya mulai merasakan bahaya besar tengah datang menghampiri mereka.


"Suami", ucap bingbing lemah.


"Apa yang kau rasakan ??", tanya hui pada istrinya.


"Sesuatu yang kuat mendekat", ucap bingbing lemah.


Hui yang juga bisa merasakan apa yang dirasakan istrinya, terus bergerak cepat. Ia tak menghiraukan sekelilingnya. Pandangannya terfokus didepan hingga ia bisa melihat bayangan tabir pelindung besar yang berada diperbatasan kerajaan barat. sama seperti apa yang diucapkan yi padanya.


Mereka semakin dekat !!!...


SEDIKIT LAGI !!!...


Hui bisa melihat dinding tabir pelindung yang hanya berjarak beberapa puluh langkah dihadapannya itu dengan pandangan penuh harap.


Hui semakin mempercepat langkah kakinya dengan sisa-sisa kekuatan spiritual miliknya. Ia yang terlalu fokus hingga tak menyadari ada sosok berjubah hitam yang bergerak memotong jalannya.


ZRAAAKKKK....


KRAATAKK....


Satu pohon patah, dan hui untungnya bisa menghindari bahaya yang datang secara tiba-tiba itu tapi tidak dengan buntalan sulur diujung lain.


BAHAYA !!!..


Peringatan bahaya berdering keras ditelinga hui.


ZRAKKK....


Kembali, kilatan putih menyala hampir memotong kepala hui. Hui yang telah memiliki pengalaman selama beratus tahun dengan mudahnya menghindar, tapi tidak sampai disitu. Tendangan kuat menghantam ulu hatinya.


Mata hui terbelalak saat tahu siapa yang telah mengejar mereka.


Tap, terlambat.


Tubuhnya dan tubuh istrinya telah terlempar jauh menuju ke dalam dinding tabir pelindung.


Hui yang dengan cepat mengubah posisi agar istrinya tetap aman. ia berusaha menahan rasa sakit yang mungkin saja akan menghantam tubuh mereka atau kemungkinan besar tubuh keduanya akan hancur jika bertabrakan dengan tabir, tapi saat tubuhnya menghantam lebih dulu, dan kemudian menghantam keras tanah dibawahnya. ia tertegun kaget.


Apa yang terjadi ???!...


"Suamii", bisik bingbing lemah.


"Tidak ada apa-apa", ucap hui lembut.


Ia menatap tajam sosok cheng rou yang berada dalam balutan jubah hitam.


Sosok cheng rou yang hanya berdiri diam, membuat hui sedikit kebingungan.


Apa yang terjadi disini ?!!..


Pertanyaan terjawab saat ia melihat sosok cheng rou datang mendekati mereka dan terlihat wanita itu merentangkan tangannya menyentuh dinding tabir.


Tangan itu meleleh karena bersentuhan dengan tabir, dan sukses saja hal itu membuat hui terdiam.


Terasa siraman es dingin diseluruh tubuhnya.


Mereka selamat !


Tapi, tunggu !!!...


Buntalan sulur itu !!!...


Hui panik.


Dan cheng rou tersenyum sinis melihatnya.


"Aku tau apa yang kau pikirkan, kakak ipar", ucap cheng rou dingin.


"Bing jie, hutangku padamu telah aku bayar", ucap cheng rou lagi.


Mata wanita setengah keturunan klan vermilion itu terlihat dingin tanpa empsi.


"Darah dibayae darah, dan nyawa dibayar nyawa... sekarang hutang nyawaku padamu sudah tiada, nyonya utama klan harimau", lanut cheng rou lagi.


Tangan kanannya yang meleleh itu telah kembali tumbuh. Ia melambaikan tangannya dan membawa sulur dibelakang tubuhnya.


"Harta langka ini, telah menjadi milik kerajaan kami", ucap cheng rou dingin. Cheng rou menepuk-nepuk ringan sulur dibelangnya, ia tersenyum miring.


"TIDAAKK !!!!!.... BERIKAN SULUR ITU !!!", teriak bingbing. Wajah pucatnya memerah padam, terlihat sangat tertekan sekaligus khawatir. Tubuh lemahnya ditahan Hui.


"Tenangkan dirimu, istriku", ucap hui pada bingbing.


"Bagaimana aku bisa tenang !!!... dia telah membantu hidupku !!!... bukan sekali tapi dua kali !!!", ucap bingbing panik.


"Apa yang kau katakan ?!", tanya hui pada istrinya.


"Wanita itu tak bersalah apapun !!..", sahut ningbing.


Ia masih berusaha sekuat tenaga melepaskan dirinya dari dekapan suaminya.


Cheng rou yang melihat tingkah bingbing hanya terkekeh dingin.


Apa yang ia pastikan beberapa saat lalu telah pasti, tabir besar pelindung aneh yang berada dikeempat lerajaan dihadapannya ini tak bisa sembarangan masuk dan untuk keluar lagi dari dalamnya.


Bukankah sosok yang memasangnya begitu penuh perhitungan, keh.


Cheng rou hanya mendecih, ia bisa memastikan bahwa tidak ada serangga ataupun manusia yang bisa keluar dari dalam tabir besar pelindung untuk menghindari adanya manusia yang berkhianat didalam sana.


Perhitungan yang begitu teliti, cheng rou menyipitkan matanya. Ia berusaha mencari titik lemah formasi tabir pelindung besar karena perintah dari tuanyua hingga ia mendapatkan temuan untuk bahan uji coba dan ternyata hasilnya seperti apa yang ia pikirkan.


Mahluk dari dunia bawah yang menyimpan energi gelap, takkan bisa menembus masuk kedalam tabir. Energi yin yang negatif hanya akan membunuh pemiliknya sendiri saat berbenturan dengan batas tabir pelindung. Berbeda dengan energi yang milik mahluk dunia atas, dan sudah dipastikan bahwa sosok yang telah memasang tabir besar ini adalah bagian dari kekekaisaran dunia atas.


Ia harus waspasda.


Dan sekarang, aroma memabukkan yang berasal dari dalam sulur sedikit memudar.


Cheng rou terdiam, Ia yang dengan bodohnya baru menyadari dengan apa yang terjadi mendesis kesal.


"Ck, sialan !", desis cheng rou kesal.


Sulur yang tadinya terbentuk rapi kini hancur karena kekuatan yang cheng rou keluarkan. Cheng rou murka, ia menatap hui dan bingbing dengan pandangan dingin.


"Apa yang telah kalian lakukan !!!", bentak marah cheng ru.


"KATAKANN !!!", tekan cheng ru lagi.


Cheng ru dengan gila menyerang tabir pelindung dihadapannya itu dengan kekuatan miliknya, tapi sayang tabir itu masih tetap kokoh tak tergores ataupun retak karena kekuatan spiritual miliknya.


Bingbing hanya bisa tersentum lemah, entah darimana ide itu berasal. Ia lega.


Setidaknya ini adalah hal terakhir yang bisa ia berikan untuk penyelamatnya.


Tapi apa yang ia pikirkan tak sebanding lurus dengan rencananya sendiri.


Kehancuran besar yang akan datang, tergerus dengan cepat dan menyedihkan.


Bingbing dan hui tak tahu bahwa rencana mereka yang mereka pikir terbaik itu telah membawa kehancuran yang lebih besar dikemudian hari.