The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 101



Darah mulai merembes menuruni leher so ah, ia yang terus menggigit bibirnya dengan ganas hingga mungkin saja bibir dalamnya sudah terkoyak.


"Buka... buka mulutmu !"desis xuan, ia memegang rahang so ah dengan satu tangannya dan satu tangannya yang lain menahan tubuh wanitanya agar tidak limbung masuk kedalam air.


Xuan yang melihat so ah tak ada tanda-tanda untuk melepaskan gigitan pada bibirnya sendiri itu dengan paksa ia mencengkram kedua sisi rahang so ah dengan tangannya.


Kedua belah bibir mungil so ah berwarna merah darah karena lumuran cairan berbau amis besi, Bibir mungil yang sedikit terbuka itu terengah-engah menahan sakit hingga terdengar gigi-gigi so ah yang bergemelutuk keras menahan sakit.


"Ss..ssaakitt... hiks.. hiks..."bisik so ah hampir tidak terdengar oleh xuan jika saja ia tidak berada tepat di samping so ah.


"Brengsekk !!!"umpat xuan diam-diam menahan amarah karena racun yang yuan lumurkan pada pedang perak serpihan jiwa itu sudah bertahan didalam tubuh so ah.


Ia dengan cepat mengangkat tubuh yang tanpa sehelai benang itu dan langsung membalutnya dengan jubah hitamnya, telihat buntalan besar hitam ia bawa masuk kedalam kamar.


"Tenang... jangan gigit bibirmu..."bisik xuan berusaha menenangkan so ah, ia masih terus merengkuh tubuh ringkih so ah.


Setelah meletakkan so ah diranjang, ia mengalirkan energi kekuatannya kepada so ah yang perlahan energi berwarna hijau transparan mulai menyelimuti mereka berdua.


Wajah pucat tanpa darah disana dengan keringat dingin yang terus bercucuran keluar dari setiap sudut tubuhnya hingga membuat ranjang dan jubah yang membalut tubuh so ah menjadi lembab.


So ah perlahan membuka kedua matanya, ia dengan lemah menatap xuan yang ada disampingnya. Fisik lelaki itu yang sama persis dengan yuan membuat so ah sedikit menjadi kaget dan was-was, jika bukan karena aura keduanya yang sangat kontras berbeda mungkin dirinya takkan bisa membedakan keduanya, dan sekarang kondisinya sangat menyakitkan, lebih dan lebih menyakitkan daripada hari-hari ketika racun ini aktif. Ia tak bisa melihat perbedaan lelaki didepannya, apakah ia xuan ? Ataukah mungkin yuan yang setiap saat mungkin akan membunuh buah hatinya ?!.. tapi melihat lelaki yang tengah bersender di pinggir ranjang tanpa melakukan apa-apa, so ah secara naluriah langsung mengangkat tangannya yang gemetaran hebat itu kearah tangan kekar yang ada di sampingnya.


"Tttolong... selamatkan... selamatkan anak.. anak yang ada didalam perut ku ini"lirih so ah dengan suara gemetaran lemah, bibirnya yang kering pucat itu berusaha bergerak untuk berbicara walaupun pada akhirnya suara yang keluar dari tenggorokannya adalah suara liri gemetaran yang terdengar menyedihkan.


Xuan yang tengah menyerap energi murni dari alam disekitar mereka langsung menoleh karena merasakan gerakan pelan dari arah sampingnya.


"Apa ??"tanya xuan, ia yang mengerti arti ucapan so ah langsung membawa tubuh so ah kedalam pelukannya.


"Kau... kenapa kau mau mempertahankan anak ini ??"tanya xuan masih dengan menyerap energi murni alam, ia meletakkan dagunya diatas puncak kepala so ah dan kedua tangannya merengkuh tubuh lemah itu didalam pelukannya.


"Aku... hanya tak ingin... anakku... yang tak berdosa ini mengalami hal yang sama..."jawab so lirih, ia yang tak kuat hanya bisa menyenderkan kepalanya di dada xuan dan lebih memilih mencari kehangatan dari lelaki yang sedang memeluknya ini, ayah dari anak-anaknya.


"Apa itu ?"tanya xuan, ia masih terus mengalirkan energi suci alam untuk mendetoksinifikasi racun yang ada ditubuh so ah.


"Aku... hanya ingin kau menerimanya... berikan ia rumah untuk pulang"ucap so ah lirih, matanya terasa semakin berat tapi ia masih berusaha menahannya.


"Xuan, kau harus merasakan dia bahagia berada disampingmu..."ucap so ah, ia dengan tangannya yang masih gemetaran hebat membawa tangan xuan menuju perut buncitnya.


"Lihat... "lirih so ah sembari tersenyum lemah.


"Cukup... jangan katakan hal yang berlebihan..."ucap xuan berusaha menenangkan so ah.


"...."so ah menatap wajah xuan, wajahnya yang pias pucat pasi menahan sakit seakan bingung dengan apa yang xuan katakan.


"Anak kita, kembar"ucap xuan lirih.


Anak kita...


Kembar..., pikir so ah yang tak bisa mengeluatkna kata-kata dari mulutnya.


So ah hanya terdiam kaget mendengar kata-kata xuan, kata-kata itu seakan bagai siraman embun pagi yang menyejukkan hatinya, ia merasa bahwa anaknya, buah hati nya diterima dengan baik oleh xuan.


"Xuan, bolehkan aku tidur .... aku lelah"ucap so ah lirih, matanya terus terasa berat dan ia sangat lelah.


"Tidak... jangan tidur... sedikit lagi kau harus bertahan so ah"ucap xuan, nada suaranya mulai terdengar panik.


Xuan memeluk tubuh so ah dan mendudukkan tubuh so ah diatas pangkuannya. Xuan merengkuh tubuh ringkih yang mulai terasa melemah itu dengan erat, ia terus mengalirkan energi murni dari alam kedalam tubuh so ah.


Xuan yang hatinya gelisah tiba-tiba terhenyak dengan apa yang telah ia lakukan untuk so ah, ia terdiam menatap tubuh so ah yang tengah ia rengkuh dengan erat seakan takut wanita ini pergi jauh meninggalkannya. Perasaan di bilik lain hatinya terasa aneh dengan apa yang telah ia lakukan.


Apakah sekarang ia tanpa sadar ikut mulai mencintai so ah ??


Atau mungkin karena ini adalah tubuh yang sebelumnya yuan, serpihan kekuatannya tempati dan tubuh ini mencintai so ah ??!..


Lantas kenapa jiwanya ikut kesakitan melihat so ah kesakitan...


Kenapa efek janji setia keabadian yang ia buat tak berefek pada tubuhnya tetapi malah menyerang tubuh so ah...


Xuan tau jawabannya, tubuh so ah masih berusaha menerima darahnya dan karena racun itu tiba-tiba menyatu dengan darah so ah sehingga keadaan didalam tubuh so ah menjadi kacau saat ini.


Xuan dengan kejam mengigit lengannya dan langsung menghisap darahnya sendiri, lelehan segar darah mulai menuruni rahang tegas milik xuan. Ia dengan cepat meminumkan darah miliknya ke dalam mulut so ah, mata xuan memperhatikan bulu mata so ah yang terkulai lembut, ia tau rasa kesakitan yang dialami wanitanya.


Sebagai seorang manusia setengah immortal seharusnya racun ini bisa dikeluarkan dengan mudah tetapi karena racun imortal milik yuan ikut masuk kedalam tubuh yang belum bisa menerima sepenuhnya darah yang xuan berikan kepada so ah akhirnya membuat darah itu sendiri kalah karena melawan racun pembunuh itu.


"Cepat... kau harus bertahan..."pikir xuan.


Lelehan-lelehan darah merah pekat mulai menuruni kedua rahang mereka, bibir yang  pucat ternodai warna merah darah bagai mawar kutukan yang bermekaran.


So ah yang berada diujung kesadarannya bisa merasakan bagaimana bibir xuan mencium bibirnya dan mengalirkan cairan berbau besi yang memenuhi seluruh rongga mulutnya hingga masuk dengan paksa kedalam lambungnya.


Disaat ia ingin membuka matanya kembali tapi ia sudah ditarik kedalam kegelapan yang tak berujung.