The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 84



So ah berjalan keluar dari gua tempat dirinya bersembunyi. Sinar matahari yang sudah mencapai tepat diatas kepalanya membuat so ah tak bisa dengan cepat menyesuaikan keadaan.


"Dimana ini ??"tanyanya pada dirinya sendiri.


Matanya menatap sekelilingnya yang penuh dengan pepohonan rimbun, dari kejauhan bisa ia dengar suara burung yang berkicau.


"Akhh..."desis so ah kesakitan dengan tubuh yang sedikit hampir terjatuh, ia memegangi perutnya yang terasa ngilu.


Setelah ia menenangkan dirinya,so ah perlahan berjalan menjauhi gua, ia terus berjalan tanpa memperdulikan rasa sakit dikakinya karena menginjak ranting dan bebatuan yang tajam.


Burung yang menemaninya tiba-tiba saja datang dan terbang tepat diatas kepalanya.


"Apakah kau bisa mengerti apa yang ku ucapkan ??"tanya so ah lirih.


Ia sudah sangat kelelahan, fisiknya sudah sangat tidak terlalu kuat apalagi ditambah rasa sakit yang terasa ngilu terus menusuk didalam perutnya. So ah perlahan menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon besar, ia menatap burung yang terbang diatasnya dengan tatapan sayu.


Kemanapun ia memandang hanya ada pepohonan rimbun, ia bahkan tak yakin apakah jalan yang ia lewati ini benar membawanya menuju jalan keluar yang sebenarnya.


"Akhhh... hikss"lirih so ah yang merasakan rasa tajam menyakitkan dari arah perutnya, Ia memegangi perutnya dan mengelusnya perlahan.


"Bertahanlah sedikit lagi... niang akan mencari jalan keluar untuk kita..."ucap so ah lembut, suaranya sedikit tertahan, ia menahan air matanya yang kapan saja siap keluar dari kedua matanya. Tapi bagaimanapun ia menahan air matanya tetap saja pertahanannya runtuh begitu saja.


So ah menangis terisak-isak, ia merasakan rasa sesak bercampur kesakitan yang nyata.


Dimana sosok yang melindunginya berubah menjadi sosok yang membenci darah dagingnya sendiri...


So ah berusaha untuk bangkit lagi, ia berusaha untuk tidak memperdulikan rasa sakit di perutnya. Ia harus segera mungkin mencari seorang tabib.


"Anakku harus selamat !!..."pikir so ah dengan tekad dihatinya.


Ia mengambil sebatang kayu dan menopang tubuhnya sendiri dengan kayu itu. Mata so ah terus menatap awas sekelilingnya, ia berusaha menajamkan indera pendengarannya. Ketika ia lelah, ia akan berhenti sebentar dan menumbuhkan sedikit tanaman buah-buahan.


So ah juga melihat bahwa burung yang membawanya itu tetap tak bergeming dan terbang diatas kepalanya hanya mengacuhkan burung itu. Tetapi ketika burung itu melihatnya memakan buah-buahan yang sudah ia tumbuhkan dengan susah payah, turun dan berada tepat didepannya. Burung itu menatap penuh minat pada buah apel yang so ah pegang.


"Apakah kau mau ??"tanya so ah sembari mengulurkan satu buah apelnya. Burung itu mendekat kearahnya dan mulai memakan apel yang ia beri. tiba-tiba ia mendengar suara kekacauan yang asalnya tidak jauh dari tempat dirinya beristirahat, burung yang bersamanya pun mulai bergerak-gerak mengawasi tajam sekitarnya dengan gelisah.


"Ssttt... tenanglah"ucap so ah lirih. Ia mengelus lembut leher burung besar itu, dan burung itu langsung meresponnya dengan menundukkan kepalanya kearah so ah seakan meminta wanita didepannya itu untuk cepat-cepar naik keatas punggungnya.


So ah yang langsung mengerti dengan gerakan hewan raksasa didepannya itu langsung bergegas naik.


Bisa ia dengar suara kekacauan dari arah belakangnya yang terdengar semakin jelas. ketika mereka sudah terbang tinggi, so ah bisa melihat gerombolan banteng-banteng liar yang menerjang ke arah tempat dimana ia beristirahat tadi.


So ah membayangkan jika tidak ada burung raksasa ini yang menemaninya mungkin saja ia akan bernasib naas seperti pohon-pohon yang hancur terinjak itu.


Semakin mereka terbang tinggi keatas, semakin so ah bisa melihat dengan jelas bahwa sebagian area di hutan ini lebih tepatnya hutan yang mengarah ke barat banyak yang hancur tak berbentuk hingga ada beberapa yang sudah menjadi tanah tandus yang lapang dengan asap hitam yang membumbung tinggi.


Dan ia bisa melihat hal yang sangat menakutkan takkala banyak mayat-mayat yang tubuhnya sudah tak utuh tersebar dimakan burung-burung besar pemakan bangkai.


"Ap..apa... apa yang terjadi disini ??"tanya so ah dengan suara yang terbawa angin.


Matanya menatap sekelilingnya penuh dengan rasa ketakutan, dan perutnya tiba-tiba merasakan sangat mual hingga ia ingin mengeluarkan semua isi dalam perutnya.


Tak ada yang menemaninya...


Tak ada yang bisa ia andalkan kecuali dirinya sendiri...


So ah berusaha menguatkan hatinya sendiri dan berusaha untuk tidak menatap lama pemandangan mengerikan yang ada dibawahnya.


Burung itu terus terbang menuju ke arah barat, sepanjang perjalan mereka dari kawasan gunung ji selatan semakin so ah temui pemandangan yang lebih mengerikan dari yang pertama kali ia lihat.


So ah yang merasakan burung besar tumpangannya ini sedikit menurunkan jalur terbangnya sedikit kebawah, mungkin karena burung ini kelelahan karena mereka sepertinya terbang sudah cukup lama. Entah sudah beberapa hari mereka ada diatas langit karena jika mereka turun mungkin keadaan akan lebiu mengerika dan lagi burung yang ia naiki tak menunjukkan tanda-tanda untuk turun ketanah.


Ketika mereka sudah sampai di ujung perbatasan gunung ji selatan, tiba-tiba sebuah anak panah melayang melewati kepala so ah tepat di depan matanya hingga membuat so ah tersentak kaget.


Merasakan sesuati yang mengancam nyawa, burung tunggangannya langsung bergerak gesit menghindari serangan brutal panah-panah yang entah kenapa menyerang mereka.


Burung yang ia naiki mulai bergerak-gerak agresif karena semakin lama panah-panah tajam itu menghujami mereka.


Ia juga tak berani melihat kebawah karena banyaknya hujaman anak panah yang diarahkan kepada mereka.


Crakk...


"Akhhh..."so ah tersentak kaget takkala sebuah panah menancap di sayap burung raksasa yang ia naiki ini.


"Tidakkk... jangann... bertahanlah"ucap so ah mulai ketakutan karena mereka akan terjun bebas dari atas.


Sayap yang terpanah itu membuat burung yang so ah naiki bergerak liar. Ia yang merasakan tak ada jalan lain selain melompat ke bawah karena jika ia dan bersama burung ini jatuh ke tanah mungkin saja janinnya akan terluka.


So ah yang melihat didepan mereka ada sungai besar yang mengalir sangat deras berusaha keras untuk menguatkan dirinya sendiri.


Ia harus lompat...


Jika ia mati disana...


Setidaknya, janin ku tidak akan kesakitan...


"Maafkan niang... hikss..."ucap so ah yang mulai menitikkan air matanya.


"Maafkan niang jika tak bisa merawat dirimu dengan baik... maafkan niang... maaff... hikss.. hikss"ucap so ah yang semakin menangis terisak-isak menyedihkan..


Hatinya merasa teriris karena keadaan yang semakin genting membuatnya memilih jalan yang berbahaya dan juga mematikan.


Jika saja ada hari dimana semuanya tak semenyakitkan ini...


Ia yang melihat aliran sungai besar yang mengalirkan airnya dengan deras semakin dekat dan dekat.


Hingga..


So ah memeluk perutnya yang buncit itu dengan erat dan ia langsung menyeburkan dirinya sendiri masuk kedalam sungai besar itu...


Air sungai menghantam tubuhnya dengan keras, dadanya terasa sesak penuy dengan air dan yang ia lihat hanyalah cahaya matahari yang semakin meredup...


Gelap...