The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 131



Jing mei terduduk diam saat zheng bai mendatangi paviliunnya, ia melihat lelaki yang kejam itu sekarang tengah berbaring di ranjangnya. Tak bergerak, terlihat seolah tidur tapi sebenarnya lelaki itu tidak tidur.


Ia hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata apapun.


Wanita yang sudah sangat lama menemani  lelaki bengis itu untuk menaiki takhta kerajaan dunia bawah tetap dalam kebisuannya. Ia masih tenggelam dalam kesedihan saat menatap sulaman yang sudah ia buatkan khusus untuk calon buah hatinya, sulaman itu adalah satu-satu hal yang bisa ia gunakan untuk menutupi rasa rindu serta rasa bersalah yang menancap tepat dihatinya.


Jing mei yang tak ingin tidur satu ranjang dengan zheng bai, berdiri dan ingin keluar untuk mencari udara segar.


"Kemana ?"tanya zheng bai, matanya yang tadi masih tertutup rapat kini terbuka, ia menatap jing mei.


Penampilan zheng bai yang berantakan dengan kain pakaian yang seharusnya terutup dibagian dada sudah tak terpasang rapi, jing mei muak melihat penampilan menggoda yang sudah banyak digunakan untuk para iblis wanita di luar sana.


"Apa urusanmu ?"tanya jing mei ketus.


"Hoo... kau mau bertemu mei mei mu ?"tanya zheng bai santai yang tertawa mengejek ketika ia melihat ekspresi jing mei berubah drastis.


"Kenapa ia ada disini ?!"desis jing mei, matanya menatap tajam ke arah zheng bai.


"Hahaha maka kembalilah"jawab zheng bai. Lelaki itu menutup matanya kembali dan tak menjawab tentang pertanyaan jing mei.


Jing mei yang sudah ada diambang pintu dan ingin membukanya langsung mengurungkan niatnya. Jika ia keluar mungkin saja adiknya itu akan menyerangnya dengan segala macam hal yang mungkin nanti bisa membuat ia tak bisa mengendalikan emosinya. Jika saja dulu ia bukan anak pertama mungkin ia akan hidup lebih tenang daripada di kurungan emas penuh bangkai didalamnya ini.


Jing mei berjalan perlahan menatap keluar jendela besar, para prajurit zheng bai tampak lalu lalang kesana kemari. Pemandangan yang ia lihat selalu sama dan terus sama, penuh dengan kesuraman didalamnya.


Apa bagusnya takhta kekuasaan sebagai ratu, jika pada akhirnya ia hanya akan menjadi boneka pemanis disisi sang penguasa serakah ?!!...


Apa yang ia lalui sudah dipenuhi dengan darah dan air mata, ia sudah lelah jika harus mengorban segala sesuatu yang ia ingin lindungi tapi pada akhirnya harus menjadi alat penghancur sama seperti bayi yang akan ia kandung dikemudian hari.


Tak ada rantai yang menjeratnya tapi ia tetap terjerat di sudut emas kurungan, tak bisa berkutik ataupun bergerak.


Nyawa semua orang ada ditangannya.


Kehidupan klannya ada ditangannya.


Dan kejayaan yang klannya dapatkan adalah hasil dari pengorbanan seumur hidupnya.


Apakah hal itu setimpal ??...


Jing mei menatap jauh keatas langit gelap dunia bawah.


Suram, hitam, tanpa kebahagiaan.


Keesokannya, zheng bai tetap tak berpindah posisi dan hanya diam malas diatas ranjang jing mei. Zheng bai menatap datar wanita yang tengah tertidur di kursi santai, ia menjentikkan jarinya dan memerintahkan para pelayan untuk mengurus ratunya. Ia sangat tak ingin berurusan dengan adik iparnya tapi melihat bagaimana ekspresi jing mei yang berubah ketika mendengar adik kandung wanita itu sendiri, ada rasa kesenangan yang membuatnya tak bosan.


"Dandani ratu jing secantik mungkin"desis zheng bai memberi perintah.


Semua pelayan sudah terbiasa melihat tuan mereka yang sangat jarang berbagi tempat tidur yang sama tetapi tetap sama mereka tak akan berani mengatakannya kepada yang lain karena kepala mereka akan terputus didetik itu pula akibat kontrak pelayan yang menjerat leher mereka.


"Apa yang kalian lakukan !"ucap jing mei tajam.


"kau sensitif juga ternyata"ucap zheng bai.


Jing mei langsung terdiam, ia sedikit tersadar dengan beberapa pelayan yang mengelilinginya pasti karena perintah sepihak dari zheng bai.


"Apa yang akan kau lakukan ?"tanya jing mei.


"Kau akan tahu nanti, penuhi tungasmu"ucap zheng bai, lelaki itu langsung menghilang tertelan kegelapan.


Jing mei langsung mempersiapkan dirinya sendiri dibantu dengan para pelayan-pelayannya. Hanfu hitam tetap menjadi pilihannya semenjak ia datang memasuki kerajaan dunia bawah, dan hingga kini ia tak pernah menggantinya dengan warna lain.


Ia langsung di bawa oleh para pelayannya menuju ke ruang takhta kerajaan dunia bawah. Sekelebat bayangan memasuki ingatannya saat ia melewati tempat yang sama, tempat dimana wanita beracun itu hampir meregang nyawa.


Jing mei tetap mengukuhkan pandangannya, ia berjalan dengan angkuh saat ia mendengar bahwa para tetua klannya sepertinya datang mengunjungi istana kerajaan. Disana zheng bai sudah duduk dikursi kebesarannya, kursi kosong yang hanya menemani kursi kebesaran tak bisa ia duduki takkala zheng bai dengan tidak tahu malunya menahan tubuh jing mei dan mendudukan wanita itu dipangkuannya. Jing mei sedikit berontak tapi ia bisa merasakan cengkeraman kuat di pinggangnya, ia diam dan menatap tajam zheng bai dari balik bulu matanya. Zheng bai yang merasakan tatapan tajam dari jing mei, hanya menggoda jing mei dengan mengelus lembut pinggang wanitanya.


Tangan jing mei menggenggam erat pakaian zheng bai, seakan mengancamnya jika berbuat lebih.


"Apakah kalian rindu pada ratuku ??"tanya zheng bai.


"Ya, yang mulia... mei berharga kami, sangatlah kami rindukan"ucap seorang panatua.


"Hahaha sayangnya kalian kali ini tak akan bisa menemuinya seperti yang lalu"ucap zheng bai santai.


"Kakak ipar lelaki, kenapa dengan keadaan mei jie ??"tanya lembut seorang wanita mida berpakaian menggoda.


"Apakah kau tak melihat bahwa kami baru saja kehilangan buah hati kami"ucap zheng bai dingin.


"Maafkan aku kakak ipar, adik ipar yang kecil ini turut berduka"ucap wanita itu, jing chanxi.


Hening.


Pertemuan basa basi yang hanya membuat rasa kebosanan jing mei semakin meluap, apalagi dengan keberadaan adiknya ini. Ia sudah sangat muak jika harus terus bersandiwara. Ia mengurungkan niatnya saat akan bertanya bagaimana keadaan ibunya. Tatapan penuh peringatan dari adik lelakinya yang paling kecil, jing chanxu saudara kembar dari jing chanxi.


Ia ingin turun dari posisi menjijikan ini, tapi jeratan tangan zheng bai sangat kuat.


Brengsek !!!..., jing mei terus mengumpat dalam hatinya, hingga tanpa sadar ia tertidur.


Zheng bai bisa merasakan kepala wanita yang ada di pangkuannya ini bersandar lemah pada bahunya. Dirinya tersenyum datar dan kemudian ia berdiri dari tempat kebesarannya berjalan dan tak menghiraukan semua mahluk penjilat yang datang padanya ini.


Jing chanxi mendengus kasar saat melihat bagaimana romantisme keduanya menyeruak keluar, matanya terasa panas. Ia ingin saat itu juga menarik wanita jalang itu dari pelukan hangat raja dunia bawah dan mencabik-cabik wajah jelek wanita itu.


"Cih !!!"decihnya tak suka.


Jing chanxu hanya menatap dalam diam bagaimana saudaranya yang tua diperlakukan dikerajaan ini. Dan ia menatap datar saudara kembarnya yang punya isi otak udang dikepalanya itu.