The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 207



"Ini sebuah tanduk ?"pikir so ah.


Ia berusaha dengan cepat membersihkan sisa-sisa tumpukan salju dengan tangannya. Walau tangannya telah memerah dan membeku karena kedinginan, ia tetap membersihkan tumpukkan salju dihadapannya ini seakan ia ketakutan atas suatu hal yang tak ia ketahui.


"....."so ah terdiam.


Apa yang dihadapannya kini membuat ia terdiam, di hadapannya terlihat setengah bagian patung kepala naga hitam. Ia kembali membersihkan bagian mata patung naga dihadapannya ini dan terpekik kaget.


Mata merah darah seakan hidup terasa menelan seluruh tubuhnya, ia terjatuh dan menggigil ketakutan.


Apa yang ia lihat seakan menghantam sesuatu disisi lain memori ingatannya.


"Akhh"desis so ah kesakitan.


Sedangkan itu, rou shi panik terus mencari keberadaan tuannya hingga ia sampai ditempat dimana zhe ze berada.


"Dimana tuanku !!"desis rou shi dingin.


"Tuanmu ??.. permaisuri agung ??.. tidak, bukan nyonya manusia fana itu mengatakan bahwa ia bukan lagi wanita kaisar agung"ucap zhe ze dan hal itu sukses membuat kesal rou shi.


"Aku tidak mengetahui dimana nyonya manusia itu berada"jawab zhe ze.


"Kurang ajar !!!... atas dasar apa kau menghina penolongmu !!"bentak rou shi dingin.


"Kenapa kau marah padaku ??!.. kau hanya roh spiritual yang kebetulan menolong kami, aku akan memberikanmu kehormatan dari kediaman klan vermillion kami"sahut zhe ze tegas dan bangga.


"Cih, dasar tidak tahu malu"ucap rou shi kesal.


Rou shi tak mau lagi berbicara pada mahluk tidak tahu malu dihadapannya ini dan itu pasti akan memakan waktu lama jika ia meladeni ucapan zhe ze yang kelewat tidak tahu malu itu. dasar klan burung angkuh !!, lihat saja nanti akan aku adukan pada weida de tianghuang agar bulu-bulu mu habia dibakar api keabadian !!!, pikir rou shi dongkol.


Dimana tuan ??!!, pikir rou shi cemas.


Ia akhirnya memutuskan untuk pergi ketempat terlarang di sisi lain lembah utara ini dan bodohnya ia lupa memberitahukan hal ini kepada tuannya.


"Ahh... bodohnya akuu"ucap rou ahi pada dirinya sendiri.


"Ukhh... dinginnya"desis rou shi yang kini berada dibukit bunga kristal, hingga matanya tanpa sengaja melihat sesosok yang ia kenal kini tengah terbaring diantara tumpukkan salju.


"Astagaa.... yang muliaaaa"teriak rou shi panik.


Saat ia akan terbang turun menuju ketempat tuannya berada secara tiba-tiba sebuah dinding tidak kasat mata menghalangi tubuhnya.


"Ughh..."ucap rou shi yang kesakitan karena tubuhnya menabrak dinding pelindung dihadapannya.


"Bagaimana ini ??"pikir rou shi panik.


Akhirnya ia mencoba kembali dan kembali hasilnya sama, ia tak bisa masuk kedalam area terlarang dibawah bukit ini.


"Sulur itu !!"pikir rou shi.


Ia dengan cepat menumbuhkan sulur teratai miliknya dan benar saja sulur itu bisa masuk kedalam sana, rou shi membungkus tuannya dengan sulur teratai miliknya dan perlahan mengangkat tubuh so ah yang tak sadarkan diri itu.


"Terima kasih, spiritual alam"ucap rou shi berterima kasih dengan sopan pada sulur spiritual yang berasal dari danau keabadian.


Ia dengan cepat langsung berlari dengan tubuh tuannya yang terbalut sulur miliknya, pintu pavilliun ia buka dengan kasar dan ia langsung membaringkan tubuh so ah yang hampir membeku itu diatas ranjang tuannya.


Dari jauh rou shi melihat bagaimana roh spirirual tumbuhan itu berlari dengan cemas bersama dengan nyonya manusia fana, ia hanya diam tak bergerak dari tempatnya.


"Astagaa... yang muliaa"ucap rou shi panik.


Rou shi yang benci api memaksakan dirinya untuk membakar banyak api diperapian walau pada kenyataannya ia jug punya sedikit kekuatan spiritual berelemen api yang digunakan untuk energi spiritualnya dan ia berhasil membuat ruangan kamar milik tuannya itu terasa panas baginya.


"Tahan, rou shi... kau matipun takkan bisa memberikan imbalan yang cukup untuk kebaikkan tuanmu"bisik rou shi yang menyemangati dirinya sendiri itu.


So ah yang terbangun menatap bingung sekitarnya.


Tempat apa ini ??, pikirnya bingung.


Tebing tinggi dengan berbagai macam ukuran terlihat jelas didepan matanya, dari sela-sela tebing besar itu terdapat aliran air tejun yang jatuh kebawah. Kelopak bunga persik terbang kearahnya dengan membawa aroma sejuk khas dari hutan persik sama persis seperti ketenangan hutan persik dilembah utara.


"Aku dimana ??"tanyanya pada dirinya sendiri.


So au melihat lentera merah yang tergantung disalah satu dahan pohon persik jauh didepannyai itu, ia berjalan melewati jembatan tangga yang sepertinya menghubungkan satu tebing ke tebing lainnya.


Apakah ini tebing hutan persik ??, pikir so ah dan ia langsung berhenti tepat ditengah jembatan itu, ia memandang kebawah.


Danau besar.


Sinar terang bulan purnama yang menerangi Danau besar dibawahnya yang memantulkan cahaya berkilauan, indah. Potongan kelopak bunga persik yang sedang mekar itu berterbangan dan jatuh memasuki aliran danau.


"Airnya dingin, udara malam yang sejuk ini juga dingin, apakah kau tidak taku membeku kedinginan disana ??"ucap so ah pada potongan kelopak harum bunga persik yang memasuki aliran sungai, Kelopak mata so ah turun, ia merasakan kesedihan aneh dihatinya.


So ah kembali melanjutkan langkah kakinya menuju keseberang tebing, ketika tangannya akan mengambil lentera merah ia terkejut pada lengannya sendiri.


So ah memperhatikan lengan hanfunya, bahannya begitu sama dengan bahan yang ia pakai di lembah utara dan lagi pakaian yang ia pakai kini terlihat indah.


Apakah tubuhku kembali transparan ?!, pikir so ah kaget.


So ah kembali menenangkan dirinya dan berjalan dengan hati-hati, takut jika ada sosok lain yang mengetahui keberadaannya.


Hanfu abu-abu so ah bergerak lembut mengikuti gerakannya, rambut panjangnya yang ia gerai sebagian dengan sanggul sederhana dan juga tusuk rambut mutiara bergemerincing lembut saling memantul satu sama lain, seirama dengan langkah kakinya ditengah hutan persik.


So ah berhenti saat ia melihat cahaya terang yang berasal dari kediaman besar.


Kediaman ?.., dan entah kenapa firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang buruk.


Banyak prajurit yang berjejer menjaga setiap sudut kediaman yang terlihat besar dan megah ini, so ah memandang sekelilingnya sekaligus melihat kemana arah yang harua ia tuju.


Firasatnya semakin tidak enak, dan lagi kenapa para prajurit itu memberikan hormat mereka padanya.


Deg.


Deg.


Mata so ah terbelalak.


"Apa yang kau inginkan"desis yuan dingin.


"Aku ??.. kehancuran dunia atas hahahahah"ucap wan yao tertawa mengerikan.


"Jika itu yang kau inginkan, matilah"desis yuan dingin.


Kaisar dunia atas itu bertarung sengit dengan mahluk yang berasal dari dunia bawah.


Bumm...


Bummm...


Getaran besar telah membuat konsentrasi yuan terbagi menjadi dua, ia harus bisa memastikan bahwa keempat daratannya masih tetap terlindungi karena disana adalah sumber kekuatannya untuk saat ini.


Ia mengeluarkan pedang miliknya yang lain dan mengalirinya dengan energi spiritual miliknya. Yuan dengan kejam memotong habis pohon raksasa dihadapannya ini dengan kekuatan spiritualnya.


Getaran disertai gemuruh besar melingkupi wilayah kekuasaan kekaisaran dunia atas, langit yang terang berubah gelap menandakan hujan badai yang akan datang lebih besar dan menakutkan.


Hal yang sama terjadi di dunia manusia yang terkena imbas dari pertarungan didunia atas.


Dunia manusia terkena bencana besar, badai datang menghancurkan sebagian tempat tinggal milik para manusia fana.


Cheng rou yang berada di gunung utara melihat awan gelap melingkupi daerah gunung ini, dingin menggigit tulang mulai terasa bagi para manusia fana tapi tidak dengan para immortal.


"Apa yang tengah terjadi ??"tanya bingbing pada yi dan hui.


"Aku tidak tahu, tapi mungkin saja terjadi sesuatu didunia atas"ucap yi, ia bisa merasakannya.


Dunia atas sedang dalam kondisi kacau, apakah mereka akan datang melindungi tanah kelahiran mereka atau tetap pergi karena pengkhianatan yuan pada kesetiaan mereka ??...


Ketiganya terdiam dalam pikiran yang sama.