
Tempat suci.
Xuan meletakkan lembut tubuh istrinya diatas tempat tidur paviliun mereka. Ia langsung menuju ketempat ini terlebih dahulu.
Ia dengan perintahnya memanggil para pemimpin roh spiritual kuno.
Rou shu sebagai pemimpin dari seluruh roh ditempat suci dengan cepat membawa seluruh teman sekaligus pemimpin roh lain untuk pergi menghadap tuan mereka.
Setelah sekian lama, mereka kembali bertemu dengan tuan mereka.
Rou shu yang pertama kali datang tatapannya langsung mengarah pada tubuh so ah yang kini tengah berada diatas tempar tidur.
"Maafkan hamba yang mulia, a..apakah dayang ini akan anda perintahkan untuk mengurus tubuh permaisuri agung ?", tanya rou shu hati-hati.
Xuan mengerutkan dahinya.
"Tidak", jawab xuan dingin.
Rou shu terdiam. Bukankah harusnya seperti itu ?!.. dayang harus mengurus semua kebutuhan tuannya. Tapi, ia yang tak bisa berfikir lebih jauh itu hanya diam dan mematuhi ucapan tuannya.
Setelah semua pemimpin roh masuk, atas perintah xuan mereka turun dari tempat suci.
Ratusan roh spiritual kuno dengan cepat melaksanakan perintah tuan mereka.
.
.
.
.
.
.
Xuan menatap lembut wajah wanitanya yang tengah terlelap itu. Ia perlahan membawa tubuh so ah menuju pemandian di sudut dalam paviliun.
Hanya menyisakan setengah pakaiannya, xuan membawa tubuh so ah yang hanya memakai hanfu dalam yang melekat tipis saat terkena air hangat saat tubuh mereka tenggelam masuk kedalam pemandian.
Xuan merawat setiap bagian tubuh istrinya. Dan setelah merasa bahwa mereka telah bersih, ia kembali menuju kamar mereka.
Xuan menahan dirinya. Bagian yang paling membuat ia begitu lepas kendali adalah saat ini. Bagaimana ia harus mengganti hanfu istrinya yang basah. Saat didalam air tadi segalanya tidak jelas tapi sekarang !.. istrinya jauh lebih berkali-kali lipat menggoda.
Kulit putih bersih tanpa celah, lengkungan berisi ditempat-tempat yang begitu pas dan sempurna.
Rambut hitam panjang so ah yang setengah basah sebagian menempel erat dikulit putih wanitanya.
Xuan terbakar.
Ia begitu tersiksa.
Membulatkan tekadnya dan menahan dirinya sendiri. Xuan mengganti hanfu milik istrinya ini dengan tatapan panas membara, ia begitu tersiksa.
Setelah ia berhasil walaupun dengan tangannya yang bergemetaran ingun merobek kain yang menghalangi pandangannya ini. Xuan menggertakkan giginya menahan diri, ia menghembuskan nafasnya dan berusaha menidurkan dirinya yang lain dibawah sana.
Malam ini, ia begitu sengsara.
Xuan kemudian mengganti pakaiannya sendiri, dan secara asal mengikat hanfu atasnya hingga dada bidang dengan otot-otot kuat menonjol jelas di pakaiannya yang tak terikay dengan bear itu. Ia pergi menyusul istrinya, dan masuk kedalam selimut.
Xuan memeluk lembut tubuh so ah.
Hangat.
Mata semerah darah yang berkilat mengerikan itu terlihat sangat kontras ditengah kegelapan. Xuan menatap wajah so ah lagi, ia mengusap lembut dahi so ah lebih tepatnya diantara kedua alis wanitanya.
Tanda lahir ini, ribuan tahun yang lalu ia telah menyembuyikkannya demi keselamatan so ah dan hanya menyisakan tanda lahir ilusi tapi hingga detik ini sedikir demi sedikit tanda lahir ini mulai terlihat kembali.
salahkan ia yang kehilangan sebagian akalnya dan tidak mengingat hal itu.
Tanda lahir klan phonix murni yang diberkahi, begitu merah seperti kobaran api.
Ia kembali melihat bulu mata wanitanya yang terkulai lemah, sedikit bergerak pelan. Hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang begitu merah, semerah mawar.
Xuan mengelus lembut bibir so ah dengan ibu jarinya. Ia menundukkan kepalanya dan mengecup dalam bibir yang begitu manis dan menjadi candunya itu.
Apa ini yang dinamakan rasa kasih sayang itu ???..., pikir xuan.
Jika dulu, ia begitu bodoh serta tidak perasa untuk merasakan perasaan manusiawi seperti ini dan tak bisa menebak apa yang ia rasakan.
Kini, ia tahu bahwa perasaan apa ini, dan apa yang ia mau...
Xuan memeluk tubuh so ah.
Kehangatan yang menenangkan jiwa bengisnya.
Ia sebenarnya tidak membutuhkan tidur, tapi hal itu juga diperlukan untuk menenangkan sebagian energi spiritual.
Ia tersenyum dingin.
"Keh, kau tak ingin menyerah heh", desisnya dingin.
Hanya keheningan dingin yang menjadi jawaban atas ucapannya. Xuan kemudian memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Ying yue yang mengetahui bahwa niangnya telah kembali dan saat ini tengah tertidur di paviliun utama. Kaki kecil gemuknya berlari cepat.
Xi yao mengejar adik kembarnya itu dari belakang.
"Mei mei, tunggu", panggil xi yao yang sudah lebih dulu kelelahan karena berlari mengejar adiknya yang begitu aktif itu.
"Huhu, Gege gunakan kekuatan mu untuk mengejar ku", sahut ying yue merengut dengan kedua pipi tembamnya yang membuat seperti roti kukus merekah.
Xi yao terdiam.
Benar, apa yang dikatakan adiknya. kenapa ia dengan bodohnya ikut berlari !!?... tapi, itu juga terjadi karena ia begitu mengkhawatirkan mei meinya.
Xi yao yang tak ingin harga dirinya terluka karena apa yang ia lakukan dan ia hanya bisa terdiam kaku ditempatnya memikirkan alasan yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan wajah dan harga dirinya sebagai seorang kakak.
Ying yue yang kesal karena kakak laki-laki itu hanya diam mematung tanpa niat untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Ia menghentak-hentakkan kakinya mendekati Xi yao.
"GE GE !!!", panggil kesal ying yue.
"Ya", tanya xi yao bodoh.
Hening.
"Huaaaaaaaaaa.....", tangisan ying yue pecah. Ia begitu kesal pada gegenya hingga tanpa sadar menginjak kakinya sendiri alhasil tubuh berisinya terjatuh dan masuk kesisi lain semak di sebelah mereka.
Xi yao yang masih belum memproses apa yang terjadi dihadapannya ini hanya bisa meringis mendengar jeritan adiknya.
Akhirnya kedua bocah kembar itu sampai didepan paviliun milik so ah.
Mereka berdiri diam, menatap pintu depak paviliun.
"Ge ge", panggil ying yue.
"Ya, mei mei", jawab xi yao.
Dan mereka masih diam ditempat.
"Ge ge", panggil ying yue lagi.
"Ya, mei mei", jawab xi yao.
"Apakah yue er terlihat cantik ??", tanya ying yue sembari berkedip polos menatap kakak kembarnya.
Xi yao menoleh melihat adik kecilnya. Dan ia tersadar bahwa ia belum membersihkan dirinya karena terlalu panik saat ying yue berlari sembari memanggilnya dari luar paviliun paman dai luan.
Xi yao terdiam. Penampilan apa yang telah ia buat !!! Bocah yang sudah lupa umurnya sendiri dan bertindak seperti orang dewasa itu hanya bisa menggerutu tapi saat ia melihat penampilan adik kecilnya, ekspresinya bengkok.
Beberapa semak yang menyatu dengan rambut panjang adiknya, dan beberapa daun juga ada disana !!..
Wajah bulat mei mei nya juga penuh bekas tanah.
Dan jangan lupa, hanfu yang mereka pakai kini begitu lusuh dan berantakan !!..
Bagaimana nanti jika niangnya tidak mengenali mereka berdua sebagai anaknya ?!!..
Disisi lain, ying yue hanya memiringkan kepalanya melihat ekspresi kosong kakaknya. sepertinya aman. Ia langsung melesat masuk dan berlari menuju kamar utama.
.
.
.
BRAKKKKK
Pintu kamar yang terbuka lebar cukup mengagetkan xuan setelah sebelumnya ia merasakan derap langkah datang kearah kamar mereka yang ia pikir itu adalah dayang ditempat ini.
Tiga pasang mata yang berwarna sama itu saling menatap satu sama lain.