
So ah yang bosan menunggu kedatangan suaminya sekarang sedang berkeliling kesetiap sudut kediaman Qi Rui Wang dengan langkah kakinya yang santai namun elegan itu ia banyak menemui hal-hal yang belum sempat ia nikmati karena kejadian beberapa pekan kemarin.
Para dayang dan pengawal yang berpaspasan dengan wangfei mereka sedikit gugup memberi salam karena selama ini tak ada wanita yang mengelola kediaman.
So ah masih memakai kain penutup wajahnya karena suaminya itu tak berkata apapun tentang kain penutup ini , apakah harus tidak ia pakai lagi atau tetap ia pakai karena bimbang so ah memilih memakai kain penutup untuk wajahnya karena ia juga merasa nyaman.
"Wangfei mari saya antarkan ke taman yang wangye persiapkan khusus untuk anda"ucap Mama Luo membuyarkan lamunan so ah.
"Tunjukkan jalannya mama"jawab So ah lembut dan mulai mengikuti mama Luo.
So ah dan mama Luo sampai disebuah pintu dengan ukiran yang sangat indah dan ketika mama Luo membuka pintu itu lebar-lebar mata so ah langsung dimanjakan dengan pemandangan indah didepannya ini , senyum merekah dibalik tabir yang menutupi setengah wajahnya itu.
"Mama , bawakan aku buku yang ada diatas meja"kata so ah dan dirinya langsung berjalan dengan senang memasuki taman itu.
Dirinya duduk dengan santai diayunan berbentuk setengah telur yang dipenuhi dengan rambatan bunga-bunga.
Berayun perlahan angin sepoi-sepoi menerpa lembut wajahnya rasanya sangat sejuk dan nyaman tanpa terasa so ah memejamkan matanya, terlelap tidur.
Mama Luo yang baru saja datang dengan membawa cemilan serta buku yang diminta so ah kaget karena wangfeinya terlelap tidur dengan nyaman dan ia sangat tidak tega membangunkan wangfei didepannya ini.
Yuan yang baru sampai di kediamannya langsung bergegas mencari keberadaan wangfeinya.
"Dimana wangfei ?"tanya Yuan pada chui tapi ia langsung bergegas ketika menghirup aroma mawar yang khas dari tubuh istrinya itu karenanya ia langsung tau dimana keberadaan so ah.
Sampai ditaman , yuan melihat mama Luo yang hanya diam saja berada tepat di belakang ayunan bambu yang dirangkai menjadi seperti setengah telur itu.
"Salam pelayan tua ini pada Qi Rui Wang"kata mama Luo terbata-bata kaget karena Wangye yang tiba-tiba datang.
"Ssttt ... mama pergilah"ucap yuan lirih memerintahkan mama Luo pergi.
Mama Luo langsung bergegas pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
Yuan berjongkok didepan so ah yang sedang tertidur pulas di ayunan dengan nyaman , matanya menatap so ah dengan ekspresi yang tak bisa ia utarakan dengan benar ataupun tak bisa ia jelaskan dengan sangat jelas.
Yuan dengan lembut mengangkat istrinya dan membawanya menuju kekamar.
So ah yang merasakan tubuhnya di angkat sosok yang sangat ia kenali membuka matanya yang masih berkabut karena mengantuk.
"Xuan , kapan dirimu pulang"tanya so ah dengan suara serak khas orang yang baru terbangun dari tidur.
"Istirahatlah ...."ucap Yuan
Yuan masih diam saja ketika so ah memanggilnya xuan , ia tak ingin menyakiti hati wanita yang sudah ditakdirkan menajadi pengantinya. Entah itu kesialan atau keberuntungan bagi wanitanya tapi yang pasti dirinya takkan membuat wanitanya ini merasakan sesuatu yang membahayakan nyawanya karena istrinya tak ada sangkut pautnya dengan masalah antara ia dan xuan.
"Aku lapar ... emm bisakan dirimu menurunkan aku ??..."kata so ah malu-malu pasalnya para pengawal dan dayang melihat mereka berdua seakan melihat hantu.
"Baiklah ... ayo kita makan"kata yuan tanpa menurunkan so ah.
So ah hanya pasrah ketika xuan tidak menurunkannya , kadang-kadang ia kesal dengan tingkah suaminya yang sangat tidak bisa diganggu gugat itu tapi entah kenapa juga beberapa bulan belakangan ini ia tak bisa jauh dari sosok yang memanjakannya ini. So ah kadang merasakan bahwa suaminya ini sangat berbeda dilain waktu kemudian berubah lagi diwaktu lainnya , tak memungkiri perasaan itu kadang juga disudut hatinya ada rasa ketakutan akan bahaya disalah satu sifat suaminya. Rasa penasaran itu semakin besar tanpa ia sadari , dirinya mulai penasaran dengan kepribadian suaminya ini ??.... walaupun sikapnya sama-sama lembut tapi ada satu yang membedakannya ketika so ah benar-benar merasakannya , apakah aku terlaly sensitif ???... pikir so ah gelisah.
Pikiran so ah berkeliaran kesana kemari , raganya ada di ruangan makan ini tapi pikirannya entah pergi kemana.
Yuan melihat so ah hanya diam saja hanya menyuap beberapa suapan kemudian menghela nafas dari balik kain penutup disebagian wajahnya sedikit mengernyit tapi tak ia perlihatkan ekspresinya itu dari balik topeng.
So ah melonjak kaget mendengar apa yang dikatakan Yuan secara tiba-tiba.
".... iya ... bolehkan aku beristirahat xuan ?"tanya So ah lagi menatap suaminya
"Apakah kau sudah kenyang"tanya yuan lembut
"Sudah ... aku sangat kenyang"jawab So ah lagi kebingungan dengan semua perubahan suaminya ini.
Yuan berdiri dan mengikuti so ah menuju kamar mereka.
Sesampainya mereka berdua dikamar so ah yang melihat suaminya itu berjalan santai kearah jendela melihat langit yang mulai gelap dengan sembrutan merah dari matahari itu , ia langsung mengganti bajunya dengan baju yang nyaman baginya.
Duduk dimeja rias dari ujung matanya , so ah masih melihat suaminya yang berdiam diri. Kenapa hari ini terasa menjadi sangat canggung ??? ... batin so ah sambil melepas satu persatu hiasan rambutnya.
"So ah ... panggil aku Yuan"kata Yuan yang membalikkan badannya menghadap kearah so ah.
So ah yang sudah berbaring diranjang dikagetkan dengan perkataan suaminya yang tiba-tiba itu. Dirinya langsung mendudukan diri kemudian menatap suaminya itu dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Kenapa dirimu berkata seperti itu ?? Bukankah beberapa waktu lalu wangye juga memerintahkan aku untuk memanggil diri wangye dengan nama xuan tapi kenapa sekarang ??..."tanya so ah memastikan dengan kebingungan jelas diwajahnya.
Yuan berjalan perlahan menuju kearah ranjang kemudian duduk disebelah so ah dan memegang lembut tangan so ah dengan tangannya seakan berusaha menenangkan diri istrinya.
"Jika suatu saat aku berkata bahwa kau tidak boleh memanggilku dengan nama Yuan, larilah"ucap yuan serius meremat dengan lembut tangan mungil didalam telapak tangannya hampir membungkus seluruh tangan mungil indah itu.
"Kenapa ??"tanya so ah masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya ini. Jantungnya mulai berdegup kencang mendengar kata-kata yang keluar itu.
"Tidak apa-apa sekarang istirahatlah .... lupakan apa yang baru saja kukatakan"jawab Yuan ambigu kemudiaj ia berdiri dan berjalan menuju ke arah jendela lagi membelakangi so ah.
So ah menatap kosong punggung lelaki yang membelakanginya itu, Ia sedih dengan tingkah lelaki yang sudah menjadi suaminya ini. Dari kenapa dirinya menghilang ketika keberangkatan mereka sampai dengan kecelakaan yang terjadi di bawah lereng gunung dan yang sekarang ini terjadi, kenapa tak ada satupun sikap dari suaminya ini yang bisa membuatnya menjadi tenang.
Yuan membuka tirai jendela kamar mereka dan menatap keluar tanpa arti langit gelap, seandainya semuanya semudah apa yang dikatakan mungkin hatinya takkan merasakan rasa was-was akan keselamatan istrinya. Yuan merasakan bahwa wanita dibelakang punggungnya ini sedang menatap kecewa dengan tingkahnya tapi bagaimana lagi dirinya hanya bisa melindungi belahan jiwanya dengan selamat jika tidak mulai dari sekarang. Tingkah xuan yang tiba-tiba tidak seagresif dulu sudah cukup membuatnya merasakan ada sesuatu yang ditunggu lelaki itu.
Tak tahan terus menerus ditatap dengan tatapan itu, Yuan berbalik dan mulai melepaskan pakaian luarnya.
"Istirahatlah ...."kata Yuan lembut tapi tak dijawab satu patah katapun dari istrinya dan direspon dengan membalikkan tubuhnya ganti memunggunggi Yuan.
Menghela nafas, Yuuan berbaring disisi so ah. ia menyangga sisi tubuhnya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya mengelus lembut puncak kepala so ah.
"Apakah kau marah ??"bisik Yuan lembut
"Tidak"jawab so ah dengan suara serak
"Kau menangis"bisik Yuan lagi dan dengan lembut ia membalik badan istrinya memeluk erat tubuh mungil yang terlihat sangat kecil dan ringkih didalam dekapannya itu.
So ah kaget tiba-tiba tubuhnya yang dibalik serta didekap Yuan dengan sangat erat, menahan matanya yang panas ia memeluk erat tubuh suaminya ini dan dengan rakus menghirup aroma yang sedikit berbeda tapi menenangkannya.
"Jangan seperti ini lagi"kata so ah yang suaranya terbenam dalam pelukan yuan.
"Tidak akan lagi ... aku janji"bisik Yuan goyah tak yakin akan janjinya, ia terus memeluk erat tubuh wanitanya seakan takut kehilangan tubuh mungil hangat dalam dekapannya.