The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 31



"Ayah ...."ucap Yu Xe dengan suara tercekat ditenggorokannya.


Ia melihat adik yang paling dirinya sayangi sedang meregang nyawa didepannya.


Tubuh adiknya itu sudah bisa dibilang bukan sebuah tubuh lagi dengan darah segar yang terus merembes keluar sekujur tubuhnya hingga membentuk warna merah hitam yang mengerikan bahkan jika diteliti lagi kulit serta daging lelaki itu sudah tak ada ditempatnya dan dua sosok yang ia kenal berada didepannya dengan kondisi dan keadaan yang berbeda.


"Kauu ayahh bajjingann .... lepaskan Yu Xi !!! Apa yang kau lakukan"teriak Yu Xe marah dan bahunya bergetar hebat langsung berlari menuju adiknya.


"Pengawall ... pengawalll .... ahhhkkk"ucap Yu Xe bagai orang gila dan secara serampangan langsung mengambil sebuah pedang dan mengacungkannya pada Tuan Lu.


"Kauu ...."ucap Tuan Lu kaget dengan apa yang dilakukan putri keduanya.


Tuan Lu yang masih dalam kondisi kaget tak bisa menghindar ketika Yu Xe yang langsung melempar sembarangan pedang yang secara tak sengaja melukai perut kanan Tuan Lu.


Yu xe langsung membuka semua belenggu di kedua kaki dan tangan adiknya ini, sembari menangis dirinya terus berusaha membuka rantai-rantai itu. Bajunya penuh dengan bekas-bekas darah segar yang sudah menghitam ketika ia memeluk tubuh lemah adik lelakinya ini.


"Tidakkkk Xi er bangunnn hikss bangunn niang niang menunggu mu ..."kata Yu Xe menangis pilu, tangannya yang menyentuh wajah adiknya memerah karena darah yang mengucur.


"Kauu ******** tuaa !!! Aku takkan mengakui mu sebagai ayah ku .... matilah kau ke neraka"kata Yu Xe marah matanya memerah menyedihkan dan dengan menyeramkan ia mengutuk ayahnya sendiri.


Brraaakkkkk ....


"Apa yang terjadi disini...."kata suara seorang pria yang ternyata adalah putra mahkota dan pangeran Li Bai.


Sebelum kepergiannya menuju kediaman Lu, Yu Xe secara sengaja juga memberitahukan bahwa dirinya pergi ke kediaman gadisnya dan meminta pangeran Li Bai untuk datang kesana karena Yu Xe gelisah dengan sikap pangeran Li Bai yang mulai mengacuhkannya , dirinya pikir ia bisa membuat ingatan romansa antara ia dan pangeran ketika datang ke kediaman tetapi kenapa akhirnya begini dan kenapa putra mahkota juga ikut bersama pangeran Li Bai bukankah itu akan menambah rumit masalah ini.


"Siapa dia ??"tanya putra mahkota yang sudah tak mengenali sosok dalam pangkuan saudari iparnya.


"Dirinya Lu Yu Xi putra mahkota hikss ayah ayah ku menyiksanya hikss"ucap Yu Xe menyedihkan dengan mata memerah tersakiti.


Pangeran Li Bai dengan tanpa emosi datang dan memeriksa denyut nadi Yu Xi , wajahnya secara tiba-tiba menggelap dan langsung berdiri lagi.


"Apa yang kau lakukan Tuan Lu ... bukankah kau tau dirinya sahabat dekatku !"kata pangeran Li Bai marah jika satu pion berharganya ini mati dengan cara yang seperti ini itu sangat tidak menguntungkannya, pion yang ia pertahankan dengan mudahnya dihabisi pria tua tak berfikiran didepannya ini.


"Dirinya bermain belakang dengan selir muda pejabat rendahan ini pangeran .... dia bukan putra yang berbakti pangeran ..."kata Tuan Lu ketakutan.


"Jika dirinya bukan putra yang berbakti kenapa kau menyiksanya hingga seperti ini ??!! Dimana akal warasmu sebagai seorang ayah dan seorang pejabat kekaisaran ?.... selir itu tak berharga dan kau bisa menghadiahkan pernikahan pada mereka"sela putra mahkota tegas.


Sebenarnya putra mahkota Li Xui senang atas kematian satu pion berharga Pangeran Li Bai tapi melihat cara mati yang sebegini kejinya dalam hati ia merasa kasihan maka dari itu ia membela pria di depannya yang sudah menjadi mayat itu.


Tuan Lu sudah tak bisa merasakan sakit di perut kanannya yang terluka ketika mendengar ucapan dari putra mahkota ia langsung sadar dan melihat kedua tangannya yang berlumuran darah dari anak lelakinya sendiri.


"Tidaakkkkk..... apa yang sudah aku lakukan tidaaakkkk Yu xi bangunnn nakk Yu Xii tidakkkk kau tidak boleh matiii tidakkk ... apa apa yang terjadi dengan pikiranku .... "ucap Tuan Lu seperti orang gila.


Melihat gelagat Tuan Lu yang mulai tak wajar putra mahkota langsung memerintahkan para pengawalnya untuk membawa pejabat itu untuk diadili di pengadilan resmi.


Pangeran Li Bai hanya diam saja memegangi tubuh Yu Xe, matanya yang gelap terbenam dalam emosi yang tak terlihat.


Yu Xe merasakan kedingingan dalam dekapan suaminya. Mengigit kuat bibirnya sendiri agar dirinya kesakitan, tubuh Yu Xe mulai gemetaran hebat seakan-akan ketakutan tapi ia ingin memanfaatkam kematian adiknya untuk mengambil belas kasihan Pangeran Li Bai, merasakan tubuhnya dipeluk Yu Xe diam-diam merasa bahagia tapi dengan bodohnya ia tak menyadari pangeran Li Bai sedang kesal dan mengetahui wanita dalam pelukannya ini tak punya rasa belas kasihan dirinya bertambah kesal.


"Jangan gigit bibirmu Yuyu"bisik pangeran Li Bai datar.


Nada suara itu tak menyadarkan telinga Yu Xe bahwa itu merupakan sebuah peringatan dingin untuknya, Yu Xe yang terlalu haus akan cinta pangeran Li Bai menutup mata atas segala tindakan pangeran Li Bai itu adalah takdir yang dibuat sendiri dan jebakan menyedihkan untuk dirinya masuki dengan otak yang sudah buta dengan dahaga cinta semu dari sosok yang ia cintai.


Bukankah suatu hal yang sangat menyakitkan itu dikhianati oleh orang yang sudah kau cintai dan percayai dengan hidupmu sendiri ??...


Dan dirinya tak sadar akan hal itu dan terus menerus membodohi dirinya sendiri dengan obsesi berlebihan yang menjebaknya dalam rasa sakit yang menyakitkan lebih sakit ketimbang mati secara langsung.


Karena kematian mendadak dari tuan muda kediaman Lu seluruh kalangan mendapat berita besar yang heboh banyak yang berspekulasi apalagi menteri Lu yang sebagai ayah dari Tuan Muda Lu sekarang berada didalam penjara sedang menunggu pengadilan untuk dirinya dalam beberapa hari kedepan.


Martabat tinggi yang di bangun dan dibawa kediaman Lu mulai mendapat cemohan dari berbagai kalangan akan ketidakwarasan isi kediaman itu.


Bahkan berita bahwa Menteri Lu yang membawa banyak gadis dari berbagai rumah bordil untuk dijadikan selir itu sudah cukup membuat para kalangan mempergunjingkan ketidakbangsawanannya kediaman Lu itu.


Apalagi norma-norma masyarakat saat itu sangat tidak menyukai para gadis muda dari rumah bordil selain merusakan rumah tangga kediaman juga merusak citra mereka serta mereka berfikir para gadis itu banyak membawa penyakit mengerikan maka dari itu setiap ada bangsawan yang ingin bersenang-senang mereka pasti sebisa mungkin menyembunyikan hawa keberadaan mereka begitupula para bangsawan lain.


Selir An yang mendengar anaknya mati dan Tuan Lu yang sudah di bawa kepengadilan menjadi syok berat.


"Tiidaakkk anakku sayangg kau pasti masih hidupp hikss tidakkk"jeritnya mulai tak waras.


Para mama dan pelayan yang mendekatinya habis ia lempari dengan guci-guci kaca hingga para mama dan pelayan selir An menjadi takut.


Ketika datang waktu makan malam, mama kepercayaannya yang merawat selir An dari bayi yang secara langsung ditugaskan membawa makanan untuk selir An karena para pelayan muda ketakutan dengan sikap mengerikan selir itu dan bahkan anak selir An, nona muda Yu Xe yang sekarang menjadi wangfei pangeran Li Bai enggan bertemu ibunya.


Perlahan Mama duduk di hadapan selir An, mama itu melihat tak ada cahaya di wajah selir An apalagi matanya sangat kosong rambut panjang hitam yang selalu dirinya rawat pun sangat berantakan dan kusut apalagi bajunya yang masih terdapat bercak darah Tuan Muda masih melekat ditubuh selir An sangat mengerikan.


"Mama .... kenapa hal ini terjadi.... anakku hikss anakku hiksss"ucap selir An dan kemudian bangkit dirinya perlahan mengambil sebuah buntalan kain yang ternyata didalamnya berisi sebuah guling kecil, buntalan itu ia balut persis seperti membalut bayi.


"Mama lihat anakku anakku terlahir hahaha Yu Xi lihat niang niang akan membawakanmu adik lelaki baru"kata Selir An gila.


"Nyonya sadarlah nyonyaaa"ucap mama itu dan langsung mengambil buntalan yang ada didekapan selir An.


"Apa yang kau lakukan pada bayiku mama .... lepaskan diaaa"kata selir An agresif dan secara sembarangan mengambil mangkuk sup yang masih panas dan langsung melemparkannya ke kepala mama itu.


Darah langsung nengucur dari kepala mama itu, merasa kepalanya yang mulai berkunang-kunang, mama itu juga merasakan bahwa selir An mengambil buntalan kain itu.


"Anakku anakku sayangg jangan takut niang niang disini"ucap selir An.


Malam itu kediaman Lu digemparkan dengan berita bahwa selir An mulai tak waras dan menjadi orang gila karena itu terjadi secara mendadak halaman mawar ditutup rapat tak boleh ada yang menyebarkan berita dan jika ada berita yang terlepas seluruh kepala pengawal dan pelayan menjadi taruhannya.