
So ah yang memakai sedikit perhiasan seperti biasanya membuat mama luo tak berfikir sesuatu yang mencurigakan. Tapi mama luo tak tau dibalik baju itu so ah sudah membawa dua kantung kecil perhiasan yang berisi beberapa cincin berbarga serta pil penyamar dan juga pisau kecil yang menempel dipahanya.
So ah berjalan menuju kereta kuda dengan mama luo yang mengikutinya dari belakang tapi ketika ia melihat bahwa dirinya dikawal banyak pengawal membuat hatinya tak senang.
"Mama kenapa banyak pengawal ??"tanya so ah.
"Ini demi keamanan anda wangfei"jawab mama luo.
"Aku tak butuh banyak pengawal mama... semakin banyak pengawal semakin banyak orang yang tau"jawab so ah dengan nada yang tegas dari balik cadarnya.
"Maafkan hamba wangfei tetapi perintah wangye agar keselamatan anda tetap terjaga"jawab mama luo lagi.
Keselamatan ??!!...
Yang ia pikirkan adalah aku dan bukan anak yang ada dalam perutku... batin so ah sedih.
"Singkirkan pengawal-pengawal itu dan bawa dua pengawal"perintah so ah langsung.
Mama luo mendengar perintah so ah sebagai qi rui wangfei untuk yang pertama kalinya menjadi sangat terkejut dan langsung mematuhi perintah tersebut tanpa berfikir panjang lagi karena so ah yang langsung naik ke kereta kuda.
"Lain kali aku tak ingin sesuatu yang berlebihan seperti ini mama"kata so ah dari balik tirai kereta kudannya.
"Baik wangfei"jawab mama luo yang langsung mengisyaratkan semua pengawal untuk mundur dan hanya menyisakan empat pengawal terlatih.
Disisi lain, dengan pasukan kekaisaran yang sudah terlatih yuan yang sedang dalam perjalanan ke beberapa kerajaan kecil milik Kekaisaran Qi untuk mengurus para pemberontak disana. Bermil-mil jauhnya dengan cepat mereka lewati dalam setengah hari mereka sudah sampai di sebuah padang bukit yang luas yang menandakan semakin dekatnya tujuan mereka. Dengan beberapa ribu pasukan kekaisaran Qi yang sudah yuan asah kemampuan mereka masing-masing, Sekarang ini rombongan kekaisara berhenti di sebuah padang bukit yang luas.
Kuda-kuda dengan zirah gagah berkumpul jadi satu di padang itu dengan beberapa tenda militer yang dengan cepat sudah di bangun dibeberapa titik.
Didalam tenda, yuan hanya diam tanpa berbicara satu katapun membuat para prajurit yang ia bawa hanya bisa diam tak berani bersuara. Hingga seorang pria yang berada diatas kuda memasuki kawasan peristirahatan rombongan kekaisaran Qi, baru mereka semua bisa bernafas lega.
"Wangye, para pemberontak itu semakin melebarkan sayap mereka untuk mencari sekutu di beberapa kerajaan kecil diluar kekaisaran"lapor seorang mata-mata yang baru saja sampai didepan yuan.
Yuan yang berada didalam tenda militernya hanya diam tak merespon.
"Wangye ??"ucap chui sedikit mengeraskan suaranya.
Yuan yang tersadar dari lamunannya hanya berdehem kaku.
"Bagus... jika sudah seperti itu bukankah mereka harus dilenyapkan sampai ke akar-akarnya"jawab yuan dengan senyum mengerikan dari balik topeng hitam perangnya.
Chui dan mata-mata yang ditugaskan yuan hanya bisa menggidik ngeri melihat senyum yuan. Mereka berdua hanya merasa kasihan dengan nasib para pemberontak karena yuan sudah memutuskan hidup mereka dengan senyuman itu.
So ah yang ada didalam kereta kuda hanya menatap hampa perjalanannya.
"Wangfei apakah anda ingin saya temani ??"tanya mama luo pada so ah yang berada di awal jembatan.
"Tidak... mama lihat ada perahu kecil penangkap ikan disana"tunjuk so ah sembari tersenyum senang.
Mama luo yang mendengar nada suara wangfeinya kembali seperti semula sedikit menghela nafas. Ia hanya memberi kode keempat pengawal kediaman untuk tetap mengawasi wangfei, para pengawal kediaman mengangguk patuh dan langsung berpencar ke beberapa titik sungai.
Sungai xilang yang sangat besar itu terlihay seperti lautan luas dimata so ah. Ia berjalan perlahan menaiki jembatan kayu yang ada di tengah-tengah sungai. Diam-diam matanya melirik kearah mama luo yang berada di ujung pertama jembatan, sembari memperhalus gerakannya seolah-olah ia begitu menikmati pemandangan di sungai besar ini, so ah terus berjalan menjadi lebih cepat dan cepat hingga ia mencapai ujung jembatan panjang itu dan dihadapkan dengan hutan belantara yang mulai terlihat gelap mengerikan. Ia terus berjalan tanpa rasa takut dan tak menoleh kebelakang lagi.
Didalam pandangan so ah ia melihat sesosok wanita berjubah hitam yang sangat ia kenali yaitu perawat basahnya, mama wei.
Dari ujung mama luo mulai menyadari bahwa wangfei nya sudah semakin menjauh dari pandangan mereka. Ia langsung bergegas mengejar so ah diikuti para pengawal yang berlari berusaha menyusul wangfei mereka.
"Tidaakkk .... wangfei jangan... jangan masukkk !!!"jerit mama luo dari kejauhan karena bayangan wangfei yang sudah tenggelam masuk kedalam hutan bersama dengan bayangan sosok hitam itu.
Buuuuummmm
Buuummm
Terdengar ledakan sinyal berasap yang dikirim mama luo ke atas langit hal itu ia lakukan agar pasukan khusus yang ditinggalkan yuan untuk menjaga kediaman langsung bergerak kearah mereka.
So ah tanpa melihat kebelakang terus dan terus berlari, ia tak perduli kulitnya yang tergores duri-duri dan ranting pepohonan karena yang terpenting sekarang ia harus pergi mengejar sosok itu. walaupun keputusan ini sembrono tapi hal ini membuat ia ingin berjuang untuk melihat sosok yang sudah ia anggap sebagai ibu itu.
Ke empat pengawal yang mengejar so ah terus berusaha mengejar ketertinggalan mereka yang semakin membuat jarak besar antara mereka dan wangfei yang sudah terlalu dalam masuk kedalam hutan berbahaya ini. Apalagi ditambah dengan hari yang sudah mulai semakin gelap membuat penglihatan mereka menjadi terbatas.
So ah yang merasakan bahwa sosok yang ia kejar hanyalah halusinasinya dirinya langsung bersandar disebuah pohon besar terengah-engah dan saat ia menyadari bahwa hari sudah sangat gelap, perasaan takut mulai menggerayangi pikirannya. Sembari memeluk perutnya yang sedikit membuncit itu, ia dengan cepat memegang akar besar menjalar pohon yang ada di sampingnya dan tak lama kemudian akar itu merespon sentuhan so ah. Terlihat jalaran akar yang membentuk sebuah tangga kecil yang menuju ke puncak tertinggi pohon tua besar. Ia langsung menaiki tangga akar itu dengan hati-hati dan so ah dengan lembut duduk di salah satu dahan pohon yang sangat besar.
Nafasnya yang tak beratur membuat dadanya terasa sesak apalagi ditambah dengan rasa nyeri di bagian bawah perutnya karena ia yang terus berlari tanpa henti.
"Terimakasih"bisik so ah lembut yang langsung direspon dengan dedaunan pohon itu yang bergerak menjadi pelindung di atasnya.
Ia berfikir kemampuannya ini hanya sebatas pada tanaman kecil tetapi ternyata semua tanaman bisa mengerti apa yang ia ucapkan dan hal itu membuat so ah sedikit lega karena ia punya alam yang melindunginya.
"Maafkan niang"bisik so ah lembut dengan suaranya yang gemetaran sedih.
"Niang hanya rindu perawat basah niang tapi sekarang kita tersesat disini"lanjut so ah sambil tersenyum miris.
Ia yang awalnya ingin kabur lewat kereta rombongan yang akan berhenti di tengah ibukota malam ini dan celakanya ia malah tersesat dihutan mengerikan ini.
Sendirian.
So ah memeluk perutnya dengan kasih sayang berusaha menenangkan dirinya sendiri serta kandungannya dan perlahan memejamkan matanya kelelahan.