The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 114



Lelaki tua yang menjadi pemilik dari rumah penginapan di buat marah karena seorang gadis pelayan yang menggedor-gedor pintunya.


"Apa yang kau lakukan !!"bentaknya marah.


"Maafkan pelayan ini tuan tetapi pangeran ingin anda datang ke ruangannya"ucap gadis pelayan itu dengan nada ketakutan.


"Apa kau bilang !!?"ucap tuan pemilik rumah penginapan itu kaget.


Ia langsung tergesah-gesah pergi menuju ke rumah penginapan yang ditempati huang de.


Sampai disana tuan pemilik penginapan itu langsung berkeringat dingin, ia berusaha menarik nafasnya dan kemudian mengetuk pintu dengan sopan.


"Pelayan tua ini menyapa yang mulia pangeran"ucap tuan pemilik penginapan menyapa huang de sembari masuk kedalam ruangan.


"Berdiri..."ucap huang de datar.


"Maafkan hamba yang mulia, tetapi apakah anda membutuhkan sesuatu yang lain ??"tanya tuan pemilik penginapan itu hati-hati.


Mata huang de langsung memicing tajam menatap lelaki tua yang berdiri tak jauh didepannya itu.


"Apakah kau pikun heh... bukankah aku sudah memerintahkanmu untuk mengundang orang yang kuinginkan !!"bentak huang de kasar.


Mendengar hal itu seketika tuan pemilik penginapan langsung bersujud didepan huang de.


"Maafkan pelayan tua ini yang mulia... maafkan hamba yang muliaa..."ucap tuan pemilik penginapan ketakutan, bahu lelaki tua itu gemetaran saat ia menubrukkan dahinya ke lantai ruangan itu. Rasa sakit yang ia terima bukanlah apa-apa jika dengan itu nyawanya bisa selamat.


"Cepat undang mereka"desis huang de kasar.


"Apakah hamba juga perlu mengundang suaminya yang mulia ?"tanya tuan pemilik penginapan itu hati-hati.


"Suami ?? Seorang bawahanku ada yang berkata bahwa lelaki itu memakai sebuah topeng... apakah itu benar ?!"tanya huang datar.


"Ya, yang mulia.... suami dari nyonya muda itu sepertinya tak ingin menunjukkan wajahnya.."jawab pemilik penginapan itu lagi.


"Hahahahaha jika ia memakai topeng berarti bangsawan kecil itu mempunyai kekurangan diwajahnya hahahaha bagus sangat bagus"ucap huang de tertawa gila.


Ia melambaikan tangannya mengusir tuan pemilik penginapan itu.


Tuan pemilik penginapan langsung berjalan dengan cepat menuju ke rumah penginapan diseberang sana. Ia bisa melihat bahwa pintu depan rumah itu tertutup rapat dan belum dibuka,ia tahu apa makna dari hal itu yang berarti memberitahukan bahwa sang tamu tak ingin diganggu siapapun. Tapi, sekarang nyawanya lebih penting daripada menjilat orang lain.


Sesekali tuan tua pemilik penginapan itu mengelap keringat yang terus bercucuran dikeningnya dengan sapu tangan.


Pemilik penginapan itu menarik tali yang tersambung kedalam, tapi tak ada sahutan apapun dari dalam rumah penginapan yang ditempati tamunya ini, hampir setengah batang dupa ia menunggu dan ia mulai ketakutan.


"Suami, ada yang membunyikan lonceng"ucap so ah pada xuan.


"Biarkan saja, lanjutkan makanmu"jawab xuan lembut. Tangan lelaki itu dengan lihat menyisir rambut so ah dan kemudian menyanggul setengah rambut milik istri kecilnya.


"Hmmm ada yang kurang"ucap xuan pada so ah.


"Kurang ??"tanya so ah kebingungan, ia menoleh dan melihat ke cermin yang ada tepat di depan mereka.


"Apa itu ?"tanya so ah pada xuan, ia melihat suaminya yang tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah kotak kecil dari udara kosong.


"Diam dulu..."ucap xuan sembari memegangi kepala so ah yang akan menoleh melihat kearahnya.


Ia membuka kotak kecil yang ia ambil dari ruang penyimpanan miliknya, ukiran emas yang terdapat di sudut pinggir permukaan kotak berwarna hitam pekat membuat kotak kecil yang xuan pegang terlihat sangat berharga. didalam kotak itu terdapat sebuah tusuk rambut giok berwarna hitam dengan corak merah gelap disana, terdapat ukiran burung phonix diujung pegangan tusuk rambut itu yang juga ukiran-ukiran rumit terlihat memenuhinya hingga sampai ketengah tusuk rambut. Tusuk rambut phoenix, itu yang xuan tau saat ia mendapatkan tusuk rambut itu di sebuah tempat kuno. Waktu itu, ia hanya duduk diam melihat dai luan bertarung dengan seorang wanita ular dan membunuh wanita tua keriput itu, matanya tak sengaja melihat sesuatu berkilauan yang energi spiritualnya memancar hangat kearahnya.


"Dai, ambil barang itu"ucap xuan pada dai lain waktu itu.


Dai luan yang waktu itu juga mengekstrak racun ular kuno milik wanita ular yang baru saja ia bunuh langsung dengan patuh mengikuti perintah tuannya. Tapi sesaat tangannya yang akan menyentuh benda itu, tangan dai luan langsung terbakar oleh sesuatu.


Api merah cepat merambat karena tangan dai luan yang secara sepontan ia kibaskan kesegala arah.


"Diam"ucap xuan, xuan berdiri dan menjentikkan jarinya kemudian api-api merah yang mulai memakan segala sesuatu itu langsung padam dan hanya menyisakan abu-abu hitam.


Tangan pucat xuan mengambil hal yang membuatnya sedikit ingin tahu apa itu, saat tangannya menyentuh benda itu tak ada hal apapun yang terjadi seperti yang terjadi pada tangan dai luan.


Ukiran burung phoenix berwarna merah gelap dengan ornamen-ornamen bunga yang terukir saling melilit satu sama lain dengan gantungan elegan yang terdengar bergemerincing saat tusuk rambut itu ia angkat.


Satu hal yang xuan tahu saat ia mencoba tusuk rambut itu keberbagai mahluk, semua dari mereka yang akan ia tancapkan tusuk rambut ini ke sanggul kepala mereka disaat itu pula api merah menyambar dengan ganas membunuh sosok yang akan ia pakaikan tusuk rambut.


"Belum menyentuh, tapi kau denganĀ  arogan membunuh... keh bukankah tuan mu sangat agung atau mungkin mahluk-mahluk itu menjijikan dengan hati yang dipenuhi dengan intrik hitam"ucap xuan seakan berbicara dengan tusuk rambut indah yang ada di tangannya dulu.


Ia yang sudah bosan karena percobaannya selalu gagal akhirnya hanya meletakkan tusuk rambut phoenix itu disudut ruang penyimpanannya.


Dan sekarang ia bisa merasakan tusuk rambut ini berontak dengan kasar dari dalam kotaknya saat ia menyentuh rambut so ah.


"Apa yang kau inginkan"desis xuan tajam dari dalam pikirannya. Tapi tusuk rambut giok itu terus berontak tak tenang.


"Jika kau berani membakar wanitaku, aku akan meleburkanmu dengan kejam !"desis xuan dingin saat ia mengeluarkan kotak hitam berukir sulur emas itu dan disaat itu pula ia mengambil tusuk rambut giok phoenix. Ia bisa merasakan tusuk rambut ditangannya ini bergetar halus seakan bahagia karena bertemu sosok yang telah lama dirindukan, xuan tersenyum dalam saat melihatnya.


Gemerincing kecil terdengar saat tusuk rambut giok itu berada di sanggul setengah rambut so ah.


"Apakah cantik ?"bisik xuan lembut.


"Sangat indah"jawab so ah terpana dengan keindahan tusuk rambut giok yang xuan pasangkan untuknya.


Detail-detail halus yang terlihat saat indah sekaligus berharga dan langka itu sedikit membuat so ah gemetar. Ia bisa melihat ada lonceng emas kecil dan juga permata merah di ujung rantai-rantai emas yang menyatu dengan ukiran burung phoenix di tusuk rambut gioknya. Ukiran bunga yang terlihat hidup yang dihubungkan dengan sulur-sulur emas, hitam dan merah perpaduan warna yang sempurna.


Senyum indah terpatri di bibir so ah, ia menoleh menatap xuan.


"Suami, apakah dirimu tidak lapar ?"tanya so ah pada xuan.


"Tidak, melihatmu saja perutku sudah penuh"ucap xuan sembari duduk di kursi depan so ah. Mata xuan menatap mangkuk-mangkuk makanan dan so ah secara bergantian dengan pandangan menggoda.


Wajah so ah langsung memerah malu melihat isi dari mangkuk dimeja mereka hanya tertinggal setengahnya saja.


Kenapa nafsu makannya sangat besar !!!...