The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 96



So ah yang sudah diberikan sebuah halaman berukuran sedang yang mungkin saja jika hanya ia seorang yang meninggali tempat ini akan terasa sepi.


Sudah hampir sebulan dirinya berada di kerajaan timur dan ia sudah terbiasa dengan aktivitas-aktivitas yang ia jalani sekarang.


Perutnya yang semakin membesar itu tak menyulitkan dirinya untuk beraktivitas walaupun ia harus sering kelelahan karena membawa beban berat yang walaupun sering menyulitkannya hatinya tetap terasa hangat.


Racun yang masih berada didalam tubuhnya tak bisa disembuhkan oleh tabib manapun dan karenanya ia hanya diberi suplemen vitamin untuk tetap bisa bertahan walau kadang-kadang ia harus menderita dimalam hari tetapi melihat bayi yang ia kandung tak terkena imbas dari racun itu, dirinya sedikit bersyukur.


Hari ini ia berencana ingin secara diam-diam mendatangi rumah penggadaian, jarak antara rumah penggadaian dan halaman rumahnya tak terlalu jauh jadi hal itu cukup tidak menyulitkannya. Dengan membawa satu gengam kantong yang berisi koin dan satu botol porselin kecil yang ia masukkan kedalam saku tengah jubahnya, so ah keluar dari halamannya menuju ke rumah penggadaian yang sudah menjadi miliknya itu.


Saat ini ketika dirinya yang tak curiga mengenai apapun datang lewat pintu belakang rumah penggadaian itu, pintu belakang yang sepi dan tak dijaga siapapun ia masuki dengan santai.


Ketika so ah yang akan menuju ke tempat dimana ia dan xi mei sering berbincang-bincang, ia mendengar suara seseorang yang sedang berbincang didalam sana.


"Dimana kau mendapatkan kalung ini ??"tanya seseorang dari dalam ruangan itu yang terdengar seperti suara lelaki.


"Aku mendapatkannya dari tamu ku"jawab xi mei santai.


"Hahaha kau jangan main-main denganku mei er... apakah kau tau barang ini ditempa oleh ayahmu dan sekarang keberadaannya masih hilang"ucap lelaki didalam berbicara.


"Jika kau memberitahukan ku siapa pemilik kalung ini mungkin hubungan kita akan ku pikirkan lagi ah tidak tetapi aku ingin membawamu sebagai selir kehormatan di kediaman ku..."ucapnya lagi.


"Kau sering ingkar janji padaku !"desis xi mei tajam.


So ah kaget mendengar suara xi mei yang berbeda dari biasanya, apa yang sedang terjadi ??.. siapa lelaki didalam ?!.. dirinya masih terus mencuri dengar pembicaraan mereka dari sisi ruangan yang terdapat tanaman hias lebat disana.


"Pangeran ini takkan ingkar janji... dengarkan aku sayang... pangeran ini akan benar-benar menepati janjinya"ucap lelaki itu yang mulai mendekato xi mei.


So ah yang mengintip dari celah-celah dinding yang setengahnya di buat dari kertas tebal itu terbelalak kaget melihat lelaki asing itu mendekati xi mei dan memeluk mesra xi mei hingga dilanjutkan dengan perbuatan setengah cabul yang lelaki itu lakukan. So ah yang melihat xi mei hanya diam saja merasa bahwa mereka berdua sepertinya sepasang kekasih dan dari apa yang ia dengar lelaki itu adalah seorang pangeran.


"Apakah mungkin ini pertemuan rahasia ??!!... tapi kenapa harus di rumah penggadaian ini !"pikir so ah mulai curiga.


"Berhenti"desis xi mei galak.


"Kenapa hmm ???... apakah kau tak rindu pada si kecil pangeran ini ??"ucap pangeran itu cabul.


"Huang De bisakah kau serius !... apa yang kau inginkan ?!"desis xi mei tajam.


"Hahaha aku suka dirimu yang galak seperti harimau betina ini mei er"ucap huang de sembari mengambil sejumput rambut xi mei dan menghirup aromanya.


"Ehmm..."desis xi mei tertahan karena tangan huang de mulai bermain-main pada tubuhnya.


Huang de puas melihat xi mei yang sudah berantakan ditambah lagi muka gadis tidak-tidak tetapi sudah menjadi seorang wanita ini merah segar.


"Katakan padaku... siapa orang yang memiliki kalung ini ?"tanya huang de lembut.


"Seorang wanita yang berasal dari selatan"ucap xi mei mulai buka suara.


"Dan karena harga dari kalung ini sangatlah banyak jadi aku memberikan rumah gadai ini padanya... akan sulit jika rumah gadai ini masih menjadi milikku karena kau yang terus berlari kemari"ucap xi mei dengan raut muka kesal.


"Bagaimana lagi... melihat kalung rantai ini aku merasa bisa mencari keberadaan ayahku"ucap xi mei sembari mengambil kalung rantai berbandul giok kecil air mata  itu.


"Jika  wanita itu berasal dari selatan kenapa tak ikut dieksekusi ?"tanya huang de.


"Aku tak tahu... tapi yang pasti aku bisa menjadikan wanita itu batu loncatanku"ucap xi mei dengam wajah tanpa dosa.


"Batu loncatan ??!!... apa yang ia maksud ?!.."pikir so ah kaget. Jantungnya seakan berhenti berdetak, ia sangat kaget mendengar percakapan kedua orang didalam ruangan itu.


Aroma musim semi yang mulai tercium kuat dari dua orang yang berbincang sembari berbuat cabul sudah cukup membuat perut so ah keram ingin memuntahkan semua yang ada didalam perutnya, jika bukan karena ia penasaran dengan sisi pembicaraan yang melibatkan namanya mungkin ia lebih memilih pergi menjauhi tempat ini.


"Besok kau harus mengundangnya datang kemari untuk mengunjungimu"ucap huang de dengan mata sedikit berkilat tajam.


"Untuk apa ?.. apakah ia juga akan dieksekusi ??"tanya xi mei mengerutkan keningnya, seakan tanpa dosa setelah mengucapkan kalimat itu sekarang ini dirinya hanya sedang sibuk mengenakan kembali pakaiannya yang berantakkan.


"Entahlah... tetapi penatua suci ingin mencari satu orang yang masih tersisa dari daerah selatan itu"ucap huang de acuh.


"Bagaimana penatua suci bisa tau ?"tanya xi mei jengkel.


"Apakah kau tau di badannya terdapat beberapa perhiasan langka, aku sangat ingin memilikinya dan sekarang kau memerintahkanku untuk membuat wanita itu diambil"lanjut xi mei bertambah jengkel.


"Tenang saja... besok kau bisa merampas perhiasannya dan lagi aku sudah menyebar seluruh pasukkan ku untuk mencari keberadaan ayahmu di luar kerajaan"ucap huang de yang disambut senyuman bahagia dari xi mei.


So ah masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia berfikir xi mei adalah gadis muda yang baik dan polos, dirinya juga tak berfikir macam-macam pada gadis itu, ia hanya ingat xi mei merasa sangat bahagia mendengar dirinya memanggil xi mei dengan sebutan meimei tapi pada kenyataannya ia hanyalah kambing kurban yang siap disembelih kapanpun.


Seharusnya ia berfikir lebih tajam lagi, mana mungkin gadis semuda itu bisa mempunyai tiga rumah gadai yang sangat terkenal jika bukan karena kepintarannya bermain kotor dibawah lengan tangannya.


Saat ini ia sudah berada dijalanan pasar yang ramai hingga tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang.


"Apakah kau tidak apa-apa ??"tanya so ah pada gadis yang jatuh tersungkur di depannya.


"Tidak... tidak apa-apa..."jawab gadis itu sopan, ia yang perhatiannya tertuju pada perut besar so ah langsung berusaha bangkit dengan bantuan tangan so ah yang terulur padanya.


"Maafkan aku nyonya karena aku terlalu terburu-buru"ucap gadis itu sembari tersenyum.


"Apakah kandungan anda baik-baik saja ??.."tanya gadis itu sopan.


"Tidak apa-apa... bolehkan aku bertanya padamu... apakah gerbang kota sudah kembali dibuka ??"tanya so ah lamat-lamat.


"Gerbang kota ??"tanya gadis itu bingung.


"Aa yaa tapi hanya gerobak makanan saja yang diizinkan keluar masuk kota nyonya, memangnya ada apa nyonya ??"tanya gadis itu sopan.


"Bisakah aku ikut keluar dari kota ?"tanya so ah langsung, ia dengan cemas melirik kanan-kirinya dan langsung mengajak gadis itu untuk datang kekediamannya.


Gadis itu hanya memandang so ah karena tangannya yang ditarik dengan pandangan bingung.