The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 225



"Apa yang terjadi ??", tanya yuan pada roh binatang spiritual yang telah ia perintahkan untuk melihat pergerakan dunia bawah.


"Apa yang mereka kejar ??", tanya yuan.


Ia melihat para mahluk buas dan juga binatang spiritual ganas dari dunia bawah mulai bergerak kembali kesatu arah menuju ke kerajaan barat. Dan disaat itu pula, ia mengetahui bahwa terdapat formasi tabir besar pelindung besar disana.


"Bajingan itu !!!... cih memasang kubah pelindung itu ?!", desis yuan dingin.


Siapapun itu, tanpa berkedip ia bisa tahu bahwa pembuat kubah kuat itu tidak lain adalah xuan.


Tubuh yuan sedikit mendingin.


Jika benar lelaki itu yang membuat kubah besar pelindung untuk para manusia, kemungkinan besar formasi ittu takkan bisa disentuh oleh siapapun kecuali para manusia dengan jiwa yang penuh dengan rasa ketakutan besar bisa masuk kedalam sana. Tapi itu bukanlah hal yang ia khawatirkan !!!...


Dimana lelaki itu kini !!!.. ia tak bisa merasakan nafas kehidupan milik xuan diruang dimensinya.


Cih, iblis busuk !!!


Yuan terhina karena para manusia yang telah memberikan penghormatan padanya, ia tak senang karena secara tak langsung xuan telah mengejek ketidakberdayaannya. Hatinya mulai menghitam dan menghitam penuh kebencian.


Takhta yang ia duduki kini harusnya ia yang mendudukinya. dan itu adalah hak miliknya !!..


Ia masih tak menerima fakta bahwa darahnya bukanlah darah murni pemilik takhta kekaisaran dunia atas.


Bao Bao !!!... ya !!... aku masih punya naga suci itu untuk membuktikan diriku sendiri !!!...


Saat yuan masuk kembali kedalam ruang dimensi dimana baobao berada. kembali, naga putih itu telah hitang.


"Apa yang terjadi ??!...", tanya yuan pada dirinya sendiri.


Dirinya hancur.


Ia mulai merasakan rasa putus asa dihatinya.


"ARRGGGHHHH", geram yuan penuh dengan rasa frustasi.


Ia terduduk diam didepan kursi kebesaran kaisar kekaisaran dunia atas.


Satu persatu hal yang ia lindungi telah pergi, dan hal itu terjadi karena kebodohan serta rasa ketakutannya akan keberadaan xuan.


Bahkan kini, ia membencinya.


Jika sedari awal ia bisa mempertahankan semuanga agar jiwa xuan tidak lepas kendali mungkin kini so ah masih berada disampingnya.


Apa yang harus ia sesali kini ?!!..


KELEMAHANNYA !!


ATAU RASA KEBENCIANNYA ?!!...


Ia dengan bodohnya telah hampir membunuh bayi milik so ah !!.. bukankah itu hal yang wajar saat melihat istrinya tengah mengandung bayi milik mahluk lain sekalipun mahluk itu memakai tubuhnya tapi tetap saja aliran spiritual yang mengalir didalam rahim so ah bukanlah aliran spiritual miliknya begitu juga dengan jiwanya !!!...


Xuan mahluk abadi sedangkan dirinya ??.. bukankah ia hanyalah batu loncatan bagi lelaki kejam itu !!!...


Satu lagi keyakinan mengerikan mulai merambat naik, menaiki pikiran yuan.


Ia meyakinkan dirinya bahwa disini, ia tak salah sama sekali dan kesalahan itu tetap ada pada xuan.


"Sebelum segalanya menjadi runyam, ia harus membunuh segala sesuatu yang menghalangi jalannya", pikir yuan dingin.


.


.


.


.


.


.


Lembah Utara.


"UGH", desis dai luan kesakitan.


"Bajingan !!!..", bentsk dai luan kasar.


Ia mengumpat kasar pada bunga kristal hidup yang telah menusuk lengannya itu.


Bunga kecil yang masih tetap mengikutinya dan terus menusukkan kelopak-kelopak bunga kristal padanya.


"Ck, pergi bodoh !!", umpat dai luan pada roh kecil dibawahnya itu. Seperti anjing yang telah dibuang tuannya, terlihat kelopak-kelopak bunga kristal itu layu.


"Baiklah-baiklah, apa yang kau inginkan ?!", tanya dai luan pada mahluk suci dihadapannya ini.


.


"Ikut denganku ??", tanya dai luan.


.


"Bukan ?!!... ck !!.. siap yang ingin kau ikuti hah !!... hanya ada naga pelindung ini disini bodoh !", bentak marah dai luan. ekspresi dinginnya kini berganti dengan ekspresi kekesalan ekstra disana.


Ia sudah tak punya waktu lagi, secepat mungkin ia harus menemukan dimana tubuh tuannya yang asli berada. Tapi, ia langsung berbalik saat bisikan bunga kristal itu datang kepikirannya.


Dai luan terdiam.


"Apakah benar itu yang kau inginkan ??", tanya dai luan apatis.


kelopak-kelopak bunga dihadapannya terlihat bergerak riang.


Dai luan menatapnya datar.


Lagi. Kelopak-kelopak kristal itu kembali layu tanpa semangat.


Dai luan terkekeh kejam.


"Apa yang akan kau berikan ??", tanya dai luan licik.


"Tidak menutup fakta juga bahwa kau bisa melukai tuanmu", lanjut dai kuan lagi.


Bunga kristal itu dengan cepat menggelekkan seluruh kelopaknya, terlihat tak setuju akan kalimat terakhir dai luan padanya.


"Ck, baiklah", ucap dai luan aantai.


"Layani pemilikmu sampai mati dan bahkan sampai dikehidupan selanjutnya kau harus melindungi tuanmu", ucap dai luan padanya.


"Meleburlah pada jiwa tuanmu, dan berikanlah ikatan darah roh sucimu padanya", ucap dai luan dengan suaranya beratnya.


"ingat !, jangan biarkan dia kesakitan", desis dai luan mengancam.


Perlahan roh kecil itu menghilang dengan butiran serbuk yang berkilauan diatas salju putih.


"Sekarang giliran, kalian !!", desis dai luan pada pohon tua besar dibelakangnya.


Ia juga melirik sinis patung naga hitam dengan mata semerah darah itu.


.


.


.


.


Dunia bawah.


Jing mei bergerak gelisah.


ia berjalan dan kemudian duduk kembali terlihat sangat-sangat tak tenang sekaligus rasa takut mulai merayap dihatinya.


"Dimana yang mulia ??", tanya jing mei pada pelayannya.


"Hamba tidak mengetahui dimana keberadaan yang mulia raja, yang mulai ratu", jawab sopan pelayannya.


Bagaimana ini, pikir jing mei.


Jing mei melihat kearah luar jendela kamarnya, disana ia melihat kedua mahluk immortal itu masih menjadi bahan pertunjukkan.


"Bisakah kalian lepaskan mereka ??", ucap jing mei.


"Maafkan hamba yang nulia, tapi perang akan segera terjadi", ucap sebuah suara yang tiba-tiba datang kearah jing mei, dan itu adalah cheng rou.


"Kenapa kau adan disini", desis jung mei tak suka.


"Hahaha, yang mulia ratu... apakah mata anda bermasalah ??", tanya cheng rou dingin.


Jung mei hanya diam tak menjawab pertanyaan cheng rou.


Ia tahu bahwa yang berada dihadapannya ini hanyalah sebuah klon hidup, tapi ia juga tak bisa meremehkan klon hidup seperti cheng rou yang kemampuannya hampir menyamai yang asli. dan lagi entah sejauh mana rencana demi rencana mematikan yang telah zheng bai buat selama puluhan tahun demi berperang dengan dunia atas.


"Apakah perang ada hubungannya bagi mereka berdua", desis jing mei dingin.


"Mereka adalah tangkapan yang sangat patut untuk ditunjukkan pada para rakyat anda, yang mulia ratu", ucap cheng rou manis.


Jing mei muak dengan sifat seluruh mahluk dari dunia bawah. Apakah karena sifatnya yang satu ini, dirinya berbeda dengan para mahluk lainnya dari dunia bawah yang mempunyai hati yang hitam ?!..


"Salah satu dari keduanya adalah seorang jenderal besar dari dunia atas, dan juga saudari sepupuku", jawab cheng rou dingin.


Jing mei yang tak bisa mengatur ekspresinya atas ucapan klon cheng rou hanya bisa melirik ekspresi klon disampingnya itu, terlihat ekspresi puas disana. Ia hanya bisa berdiam diri.


.


.


.


.


Wilayah Selatan Perbatasan.


"Yi, pikirkan kembali rencanamu", ucap bingbing lemah.


"Aku tetap pada apa yang telah aku ucapkan", sahut yi dingin.


"Benar, apa yang dikatakan istriku, yi pikirkan kembali", ucap hui pada yi.


Tapi, tetap saja. Jawaban yang sama tetap keluar dari mulut lelaki dingin itu.


Suasana hutan yang terlihat tenang itu telah berubah menjadi wilayah para mahluk buas dari dunia bawah yang berkeliaran menuju mangsa dari tuan mereka.


Tak ada akal pikiran atas tindakan mahluk-mahluk buas yang haus akan darah, segalanya yang terlihat oleh para mahluk buas dari dunia bawah telah habis mereka mangsa termasuk hewan-hewan kecil yang berada didalam hutan tak luput jadi santapan mereka.


Darah-darah segar berceceran mengerikan, bau amis bangkai menyengat terasa pekat menempal pada batang-batang pohon yang kini tak berbentuk lagi.


Hancur berantakan.


Begitu juga dengan keempat kerajaan besar di keempat wilayah milik para manusia.


Mencekam.


Penuh akan antisipasi dan teror ketakutan dibenak masing-masing.