The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 75



Ketika mata xuan melihat kearah pasukan pengkhianat itu, bisa ia lihat seseorang dengan jubah abu-abu yang menutupi seluruh tubuhnya dan berdiri disebelah zheng ji. Xuan merasakan aura yang sangat tidak asing baginya sedikit mengernyit.


"Kenapa dia bisa ada disini ??... jangan-jangan !!"pikir xuan dengan mata yang sedikit terbuka dan kemudian ia menyunggingkan senyum mengejek.


"Hahaha bahkan seseorang yang hampir dapat dipercayai bocah bodoh itu berubah menjadi ****** dan mulai berbalik arah atau mungkin sudah lama berbalik arah cih"pikir xuan dingin. Karena hal itulah ia benci wanita, tak ada wanita yang benar-benar murni. Itulah yang selalu ia patrikan didalam pikirannya semenjak kejadian itu.


"Dai luan ?!!.. bagaimana dengan bocah lelaki bodoh itu !!"pikir xuan mulai gelisah tapi ketika ia merasakan hawa kehidupan tipis disebelah barat daya dia bisa tau bahwa mungkin dai luan bertarung dengan wanita ini.


Xuan tau siapa wanita berjubah yang berusaha untuk menyembunyikkan auranya itu. Dan ketika wanita itu berjalan dengan cara yang sangat arogan, bibir xuan langsung tersenyum meremehkan.


"Weida de tianghuang..."ucap Zhi Ruo genit memberi sapa pada xuan.


Zhi ruo, wanita yang berasal dari klan rubah dan ia adalah rubah yang ditakdirkan menjadi pelayan bagi rubah merah dan rubah putih yang mungkin saja langka jarang ditemukan, selama ini hanya rubah merah yang memimpin klan dan rubah cokelat hanya menjadi rubah rendahan yang melayani kebutuhan rubah merah.


Wanita itu mempunyai bakat dalam pengobatan dan sangat cocok dengan arti namanya itu. Ia tidak terima karena ditakdirkan sebagai rubah rendahan yang bertugas melayani rubah bangsawan selama sisa hidup mereka, oleh karena itu ia terus mencari cara agar bisa menaikkan status sosialnya. Ia juga sangat berambisi untuk menduduki kursi penguasa klan, tapi hal itu selalu mustahil karena warna dari wujud rubahnya yang terus membuatnya bertambah benci akan takdir yang harus ia jalani sebagai rubah pelayan.


Ia tak terima hingga tak sengaja ia bertemu dengan zheng ji yang saat itu tengah menyusun rencana untuk menyerang weida de tianghuang. karena ambisi zheng ji yang sama seperti ambisinya, lelaki itu ingin menguasai ketiga dunia dan ingin menjadi seorang kaisar agung penguasa. Lelaki itu akan memberinya sebuah status yang jika suatu saat nanti mereka berhasil membunuh weida de tianghuang, ia akan menjadi permaisuri agung ketiga dunia.


Hingga mereka menyusun rencana untuk mendekati weida de tianghuang, ya tugas zheng ji untuk dirinya adalah perlahan-lahan untuk menggoda weida de tianghuang. Tapi hal itu sangat mustahil karena weida de tianghuang yang seakan menutup dirinya hingga pada akhirnya ia yang menyamar sebagai dayang istana kekaisaran dunia atas bertemu dengan dai luan.


Awalnya ia merasa bahwa lelaki berkulit tan itu sangat tidak berguna sebagai batu loncatan hingga satu waktu ia melihat dai luan melaporkan sesuatu pada weida de tianghuang yang saat itu mereka sedang berada di taman kekaisaran dunia atas.


Zhi ruo yang memilik pesona rubah penggoda perlahan ingin mulai mempengaruhi dai luan dengan pesona rubah miliknya akan tetapi hal itu selalu saja gagal. Hingga suatu waktu ia menggunakan kekuatannya sendiri untuk menyakiti dirinya sendiri dan menjebak dai luan alhasil dai luan mau dekat dengannya walaupun lelaki itu sedikit menjaga jarak padanya.


Ia perlahan-lahan mulai mengorek informasi sedikit demi sedikit dan ketika ia tau bahwa weida de tianghuang yang bersemayam ditempat suci, melihat ada celah ia mulai menyebarkan sebuah rumor dikalangan para pemimpin klan agar mereka saling memusuhi satu sama lain dan membuat dunia atas menjadi kacau.


Para raja pemimpin klan mulai bertarung diam-diam satu sama lain hingga membuat ketidakseimbangan didunia atas dan hal itu bisa saja membuat beberapa kekacauan juga di dunia manusia.


Xuan yang bersemayam ditempat suci harus terbangun ketika dai luan mengatakan bahwa keadaan menjadi bertambah sangat keruh hanya karena tipu muslihat wanita rubah itu dan juga banyak penghianat yang menunggunya di padang kematian.


Maya xuan dengan tajam menatap wanita yang sudah melepaskan jubahnya itu.


Pakaian hitam perang yang terlihat sangat  tidak sesuai karena memperlihatkan bagian-bagian yang bisa membuat seseorang tergoda, Zhi ruo dengan bangga membusungkan dadanya sombong.


"Kita tak perlu takut.... aku membawa apa yang kau perintahkan yang mulia"bisik zhi ruo sensual ditelinga zheng ji.


"Hahaha kau memang wanitaku yang berharga"ucap zheng ji tertawa terbahak-bahak sombong.


Xuan mulai diserang lagi dengan berbagai macam kekuatan dari segala arah kekuatan-kekuatan spiritual itu mulai menghantam dirinya. Ia dengan kekuatan spiritualnya menangkis kekuatan para pengkhianatan itu dengan kubah hitam yang sudah ia buat tetapi ketika kubah hitam itu hancur ia harus dikagetkan dengan serangan tiba-tiba dari zheng ji.


Trraanggg ...


Dasshh...


Hembusan angin dari dua pedang yang saling berbenturan satu sama lain membuat segala sesuatu disekitar mereka terhempas dengan hebat.


Xuan langsung tersenyum bengis ketika merasakan tekanan kekuatan dari lelaki didepannya ini.


"Cih"balas zheng ji.


Mereka terus beradu pedang satu sama lain, pedang hitam xuan yang mulai berdeting nyaring ketika berbenturan keras dengan pedang milik zheng ji.


"Hahaha kau ingin melahapnya bukan ? Tapi kau harus bersabar... musuh kita sedikit kuat"ucap xuan pada pedangnya.


Zheng ji melihat xuan yang seakan mengabaikannya mulai dipenuhi dengan rasa kesal.


Zheng ji menghantam xuan dengan kekuatan spritualnya dari kedua arah, depan dan belakang.


Boommm....


Banyak kabut yang mengepul tebal disekeliling xuan. Zheng ji yang melihat xuan masih bediri tegak bertambah marah, tetapu ketika ia melihat bahwa pakaian luar milik weida de tianghuang setengah hangus, ia tersenyum sinis.


"Hahaha bukankah bahan pakaian anda terlalu murahan, weida de tianghuang"ucap zheng ji tersenyum mengejek.


"Haha ya dan hal itu sangat mengganggu yang agung ini"jawab yuan dengan suara berat dingin berwibawa.


Perlahan xuan melepaskan pakaian luarnya dan hanya menyisakan satu pakaian tengah berwarna hitam. Xuan membuang pakaian luar itu sembarangan hingga terdengar suara bedeum kecil dari pakaian luar itu karena berat pakaiannya yang tak main-main.


Zhi ruo yang melihat weida de tianhuang dan zheng ji yang bertarung dengan ganas  berusaha mencari celah kelemahan weida de tianghuang. Setelah sedikit lama ia mengamati karena ia bisa tau bahwa zheng ji sudah sampai dibatasnya disaat itu pula ia menemukan celah besar langsung dengan cepat mengarahkan panah yang sudah ia beri racun kuno pembunuh mahluk immortal yang dosisnya sudah ia lipatgandakan dengan racun-racun kuno langka lainnya.


"Kali ini weida de tianghuang takkan selamat dari maut !!!"pikir zhi ruo angkuh.


Jleebb...


Jleebb...


Dua panah besar beruntun menusuk tepat didada dan bahu xuan. Darah merah bercampur hitam mulai merembes keluar dari dada dan mulut xuan.


Ia terbatuk-batuk beberapa kali dan mulai memuntahkan darah segar dari mulutnya. Baju hitam yang bersih itu mulai terkena darah kembali tapi kali ini yang mengotori pakaiannya adalah darahnya sendiri.


Xuan mulai menyangga tubuhnya sendiri dengan pedang hitam ditangan kanannya yang ia tancapkan ke tanah sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mencabut panah yang tertancap didada dan bahu kanannya. Sontak saja aksinya yang brutal membuat banyak ribuan pasang mata yang melihat aksi itu langsung memundurkan diri mereka.


Tapi mereka, para pasukan pengkhianat mulai senang karena weida de tianghuang yang sepertinya terluka cukup dalam. Mereka dengan berani mulai mempersiapkan serangan kedua untuk weide da tianghuang tanpa mau tau bahwa mereka terlihat seperti cecunguk pengecut dimata xuan yang sedikit mulai sayu dan lemah.


Satu lawan sejuta ?!...


Hahaha bukankah para mahluk ini meremehkan yang agung ini ....


Ahh tapi inikah rasanya terluka....


Sudah berapa lama aku tidak terluka..., Pikir xuan gila mulai menetralkan nafasnya yang sedikit terasa sesak sesak.