The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 212



Menghilang ??!!


Cheng rou mengerutkan dahinya, ia melebarkan tangannya dan beberapa serangga hitam yang ada disekelilingnya menyebar terbang kesegala arah, hingga ada satu serangga yang datang kepadanya.


"Cih", decihnya kesal.


Yi, hui dan bingbing akhirnya mengambil keputusan dengan mencari jalan keluar lain dari gua yang telah mereka masuki, sesekali hui menghancurkan beberapa batu yang menghalangi jalan mereka.


Batuan terjal disekitar mereka kian menyempit hingga mereka berhenti.


Jalan buntu.


"Aku akan melubangi sedikit bagian atas gua ini", ucap yi.


Yi bisa merasakan tak ada hawa bahaya diatas mereka dan ia dengan cepat menghancurkan dinding terjal diatas mereka. Sinar terang serentak masuk menyilaukan pandangan ketiganya yang telah berkubang dalam kegelapan bawah tanah.


Yi, Hui dan bingbing melompat keluar dari dalam lubah besar yang kini telah terbentuk karena yi.


"Apa-apaan ini ??!!!", ucap bingbing tak percaya.


Jauh didepan mereka kini, seperempat bagian dari gunung utara telah menghitam.


"Kita harus menjauh dari tempat ini !!!", ucap yi.


"Tidak ada waktu lagi, ayo cepat !!!", ucap yi.


Sinyal bahaya telah berbunyi nyari dikepalanya, yi tak bisa menganggap remeh sesuatu didepan mereka. Semakin cepat mereka pergi, semakin besar kemungkinan mereka bisa selamat. Tidak apa-apa menjadi pencundang, karena kini kekuatan mereka tidak lebih cukup untuk menghadapi sesuati didepan sana.


Daratan yang bukan daratan milik para immortal membuat kekuatan spiritual mereka semakin menipis, dan yi lebih memilih menghindari bahaya daripada menantang bahaya itu sendiri.


Saat ketiganya telah berbalik kearah lain, tiba-tiba dari dalam lubang besar hasil buatan yi terdengar suara gemuruh besar.


"Cepat !!!... larii !!!", ucap yi.


Mereka bergegas pergi menjauh sejauh mungkin dari lubang itu hingga semburan hitam keluar dari dalam gua.


Serangga hitam terlihat terbang keluar dari dalam lubang itu bagaikan muntahan perut gunung berapai dengan cepat memenuhi kawasan disekitar mereka.


"Terlambat", ucap cheng rou yang berada ditengah-tengah kawanan serangga miliknya.


BUMMMM.


BUMMMMMM..


Yi mengeluarkan hembusan api besar kearah serangga-serangga itu, ia berusaha semaksimal mungkin untuk memanggang seluruh serangga terbang itu.


"Gege, apa yang kau lakukan pada mereka ??", tanya seseorang dengan nada sedih.


Hui, Yi dan bingbing terdiam melihat sosok yang kini telah terlihat dari balik ribuan serangga hitam itu.


"Yang mulia, dayang ini merasakan bahaya besar jauh didepan kita", ucap rou shi pada so ah.


"Ck, biar aku yang akan melindungi kalian"ucap zhe ze cepat.


Sekarang peluangnya untuk keluar dari tempat ini sangat besar, setelah ia menemukan mereka, ia akan meminta yi ge untuk mencari dimana gua kristal itu berada.


So ah terdiam mendengar ucapan zhe ze dan juga dayangnya, keduanya bagai dua kutub yang saling berlawanan.


Kini mereka telah keluar dari dalam lembah utara, ia memperhatikan sekeliling mereka yang penuh dengan salju putih.


Dingin.


"Apakah kau tau dimana jalan untuk menuruni gunung ini ??"tanya so ah sembari merapatkan kain tebal yang membalut tubuhnya.


"Dayang ini mengetahuinya, yang mulia"sahut rou shi cepat.


Tapi, sebelum so ah berbicara zhe ze terlebih dahulu menyeret kasar tangan so ah untuk mengikutinya.


"Apa yang kau lakukan !!", bentak rou shi cepat, ia menampar tangan zhe ze.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu !!!", bentak zhe ze kesal, ia melihat tangannya yang telah memerah biru memperlihatkan bagaimana besarnya pukulan itu.


So ah yang melihat kejadian dihadapannya terjadi begitu cepat langsung melerai keduanya.


"Cukup !", ucap so ah tegas.


"Yang mulia, dia telah melukai anda"ucap rou shi yang melihat pergelangan tangan tuannya yang juga telah memerah ungu.


So ah terlihat berfikir cepat, sepertinya hal yang lebih akan terjadi jika mereka tetap dalam satu kelompok, ia melihat bagaimana kasarnya zhe ze padanya cukup membuktikan bahwa mungkin saja nanti rou shi juga akan terluka. rasa ngilu yang sedikit menyengat ditangannya cukup bisa membuktikan bahwa sosok zhe ze tak bisa jika harus melakukan kerjasama dengan dirinya.


"Tidak apa-apa, jika ia tahu jalan keluar dari tempat ini, biarkan ia pergi... kita akan mencari jalan lain", ucap so ah tegas.


Zhe ze terdiam, rou shi tersenyum penuh kemenangan.


Zhe ze merenggut marah, di kekaisaran dunia atas tak ada satupun mahluk yang tidak menurut padanya, mereka semua menyanjung dan menghormatinya bahkan sangat patuh pada apa yang ia ucapkan. Dan manusia dihadapannya ini tidak patuh padanya ?!!... ia muak jika harus bersama dengan dayang tanaman spiritual dihadapannya ini.


Manusia dan tanaman, cih sangat cocok, pikir zhe ze jijik.


"Tanpa ku kalian tidak akan bisa menemukan gua itu", desis zhe ze sombong.


So ah terdiam mendengar ucapan zhe ze, ia hanya bisa menghela nafasnya. Zhe ze yang tak diberikan jawaban akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan so ah dan rou shi.


"Yang mulia, apa yang akan kita lakukan ??"tanya rou shi pada so ah.


"Ayo kita pergi terlebih dahulu dari gunung ini"ucap so ah.


"Tapi kita sama sekali tidak mempunyai informasi apapun tentang gua kristal yang anda cari"ucap rou shi hati-hati.


"Apakah sebaiknya kita kembali ke lembah ??", ucap rou shi. ia masih tetap berusaha mengubah pikiran so ah.


"Tidak, kita akan tetap pergi"ucap so ah yakin.


Ia merasa bahwa jika mereka kembali lagi kelembah dirinya takkan bisa menemukan gua itu. tapi disisi lain, Ia juga merasa bahwa disana ada jawaban atas pertanyaan dikepalanya dan so ah tetap memilih untuk pergi dari lembah karena kemungkinan besar ada beberapa orang yang bisa ia mintai bantuan.


Rou shi terlihat cemas karena so ah yang tetap berusaha untuk pergi.


Maafkan aku, weida de baohu long dai, pikir rou shi sembari bersujud memohon didalam hatinya. sebelumnya, Ia telah meninggalkan sebuah pesan didalam paviliun lembah agar nanti weida de baohu long dai bisa dengan cepat mencari mereka hanya hal itu yang sedikit menenangkan keraguan dihatinya.


Dilain sisi, zhe ze terbang dengan cepat diantara dahan-dahan yang telah terselimuti salju tebal. Ia menghindari dahan-dahan itu, semakin cepat ia terbang semakin cepat pula dirinya menyusul ketiganya.


Semakin zhe ze menuruni gunung utara, ia semakin dihadapkan dengan kondisi pepohonan yang sebagian telah rubuh dan menghitam.


Apa ini bekas pertarungan waktu itu ?, pikir zhe ze melihat bekas-bekas kerusakan diwilayah gunung utara yang semakin ia menuruni gunung semakin besar kerusakan disekitarnya.


Bekasnya masih baru !! Berarti disekitar sini telah terjadi pertarungan, pikir zhe ze yang mulai waspada.


Yi, Hui dan bingbing yang telah terpojok berpencar kelain arah yang berbeda. Mereka berusaha mengecoh fokus cheng rou, akan tetapi ribuan serangga hitam terus terbang mengejar mereka.


"Membosankan", desis cheng rou sembari menguap.


"Bedebah sialan !!!", bentak hui kesal pada serangga-serangga yang mengejarnya.


"Huiii jangan sentuh serangga itu !!!", ucap yi dari kejauhan tapi terlambat hui telah memotong ribuan serangga hitam terbang itu dengan pedangnya.


Saat pedang hui menebas serangga terbang hitam milik cheng rou, hewan kecil itu mendadak bersatu menjadi perisai keras yang meledakan dan memantulkam kembali kekuatan spiritual kearahnya.


"Ugh", hui memuntahkan darah segar akibat benturannya dengan serangga-serangga itu.


"Haaa... kena", ucap cheng rou senang saat melihat tubuh hui yang mulai limbung diatas daratan bersalju.


Darah merah terlihat menggenang disekitar tubuh Hui, dan terserap tumpukan salju disekitar tubuhnya.