
So ah mengedarkan pandangannya, ia berusaha mencari rombongan dari desa tapi tak menjumpai satupun dari mereka, hingga ketika ia melihat banyak kumpulan manusia dari arah barat, dirinya langsung bergegas menghampiri luapan manusia itu.
"Apa yang terjadi ??"tanya so ah pada salah seorang dari mereka yang ikut berkumpul juga.
"Apakah kau tak tau bahwa semua rombongan yang berasal dari desa mati itu akan di eksekusi.."jawabnya lagi sembari ikut menonton.
"Apa... apa.. yang terjadi ??"tanya so ah lagi, matanya terbelalak kaget mendengar hal itu.
"eksekusi ini untuk memperingati musuh kerajaan dan diantara orang-orang desa dari selatan ini pasti ada penyusup yang sedang menyamar, dengan eksekusi ini kemungkinan kerajaan ini akan aman tidak seperti tahun-tahun yang lalu karena dengan persembahan darah mereka kerajaan kita akan lebih makmur..."jawabnya lagi.
"Hey nyonya kau ingin kemana ??"tanya gadis berjubah hitam itu pada so ah.
"Wanita hamil di larang untuk melihat eksekusi ini..."ucapnya lagi.
"Tapi ini hal yang sangat tidak masuk akal..."ucap so ah, matanya menatap tak percaya pada
"Memang tak masuk akal dan terlihat kejam tapi apakah kau tau setiap satu tahun sekali orang yang berasal desa-desa yang ada di sekitar kerajaan ini diantaranya harus mati secara tidak wajar dan tanpa meninggalkan tubuh yang layak tapi tahun ini bertambah mengerikan karena satu desa di arah selatan dalam satu malam tak meninggalkan satu hawa kehidupan dan para prajurit mengatakan bahwa desa itu diserang oleh pasukan musuh.."ucap wanita berjubah itu lagi.
"Kami semua berada dalam kebingungan dan akhirnya mendapatkan solusi ini dari penatua suci... selain bisa memotong para penyusup kami juga bisa mempersembahkan darah orang-orang itu untuk para dewa pelindung"ucapnya lagi.
"Siapa panatua suci itu ??"tanya so ah.
"Itu..."tunjuk wanita berjubah itu pada seorang yang tubuhnya tertutupi jubah hitam pekat, sepekat malam gelap.
So ah melihat arah yang di tunjukkan wanita itu dan ia langsung tercekat, terdiak ditempatnya.
Rasa apa ini ??..
Kenapa aku begitu merasa ketakutan ??..
Siapa penatua itu ?..
Kenapa penatua begitu tega menghabisi nyawa manusia yang tak berdosa...
Samar-sama telinganya bisa mendengar saat papan hukuman penggal berbunyi nyaring secara serempak memotong semua yang ada di bawahnya.
Mata so ah menatap kosong tak berani melihat kearah dimana lautan merah segarĀ baru saja terbentuk.
Kenapa setiap manusia yang ikut membuatku bahagia selalu berakhir dalan keadaan yang tak baik ??...
Nenek Gu, maafkan aku...
Maafkan aku...
Semuanya maafkan aku...
Ia berjalan menjauhi kerumunan besar manusia itu yang sebagian besar menghela nafas lega karena dengan lautan merah itu bisa untuk sementara menangkal mahluk buas yang selalu menyerang.
Pikiran dan hati so ah bergejolak resah, ia berjalan tanpa arah. Ia tak menerima hukuman keji itu tapi dirinya juga tak bisa membersihkan nama semua orang yang sudah ditetapkan penatua suci itu.
So ah merasa bahwa ada sesuatu yang salah disini, tapi apa ??..
Apakah ada seseorang yang sengaja mengikutinya ??!...
Tidak.. itu tidak mungkin...
Tapi kenapa ?!.. diantara mereka bukanlah manusia yang penuh dengan dosa...
Bagaimana dengan anak-anak kecil yang tertawa dijalan-jalan desa...
Air mata so ah terus mengalir dengan deras, dari balik tudung jubah lusuh yang ia pakai masih tersisa kehangatan dari nenek gu.
Langit sore itu mulai dipenuhi dengan langit gelap seakan menandakan kesedihan orang-orang yang di hukum tanpa keadilan, hujan deras mulai mengguyur kerajaan itu. Banyak orang-orang yang berlarian berlindung dari siraman air hujan kecuali so ah yang masih terdiam berdiri.
"ah maafkan aku..."bisik so ah lemah.
"Ayo.. ikuti aku"ucap wanita itu dan langsung menarik tangan so ah menuju kesebuah kedai besar.
"Duduklah dulu nyonya..."ucap wanita itu sopan.
"Terima kasih..."jawab so ah pelan.
Ia melihat sekelilingnya yang penuh dengan kepulan asap hangat dari teh-teh yang sedang diseduh diatas meja-meja diberbagai sudut.
"Anda ingin memesan apa nyonya ?"tanya wanita itu sopan.
"Tidak.. teh hangat saja sudah"ucap so ah berusaha menolak dengan halus.
"Hahaha tapi tidak dengan didi atau mungkin meimei kecil di perut anda nyonya..."ucapnya sembari melepaskan tudung jubahnya.
Wajah muda yang terlihat sangat segar itu tersenyum padanya, kecantikan segar yang perlahan mulai terbentuk terlihat memancar dari raut gadis muda didepannya.
"Terima kasih"ucap so ah takkala gadis didepannya ini menyodorkan segelas teh hangat padanya.
"Tidak apa-apa nyonya..."ucap gadis muda itu tersenyum.
"Apa yang kau lakukan dibawah hujan ??"tanyanya penasaran.
"Hukuman itu... apakah seringkali terjadi disini ?"tanya so ah dengan hati-hati, ia melihat gadis muda didepannya ini terdiam sedikit lama dan kemudian melihat ke kanan kiri disekitaran mereka.
"Itu bukanlah hal yang tabu lagi nyonya... dan juga hal itu sangat tidak manusiawi tetapi kami tak bisa berbuat banyak karena tanpa pengorbanan itu mungkin saja akan lebih banyak lagi korban-korban lainnya..."ucap gadis itu dengan nada yang sedikit menggantung.
"Kenapa kau sangat ingin tahu nyonya ?"tanya gadis itu padanya.
"Aku hanya..."lidah so ah kelu saat gadis itu menanyakan apa alasan dirinya bertanya sedangkan nyawa orang-orang desa itu sudah tak bisa dikembalikan lagi, tapi hatinya merasa sangat bersalah karenanya.
"Hal ini terjadi beberapa tahun yang lalu, saat itu terjadi pembunuhan dimana-mana dan korbannya selalu saja mati dalam bentuk yang tak bisa dikenali lagi... hal itu terus berlanjut secara terus menerus... kami tidak tau bagaimana jalan keluar dari masalah itu dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembunuhan berantai itu harus ditutup rapat-rapar agar kerajaan luar tak mendengarnya dan bisa saja itu menjadi kelemahan kami... dan apakah kau tau nona, pembunuhan yang terjadi didesa itu bukan dilakukan oleh manusia karena sewaktu para prajurit datang memantau segala sesuatu sudah hangus berantakan tak menyisakan satu kehidupan seakan jiwa mereka terhisap oleh sesuatu..."ucap gadis itu menjelaskan kepada so ah.
"Terhisap ??"tanya so ah.
"Ya, mayat-mayat mereka masih utuh hanya saja tubuh mereka mengering tanpa satupun darah di tubuh mereka..."ucap gadis itu dengan santai.
"Bagaimana kau tau hal sedetail itu nona ??"tanya so ah sedikit curiga.
"Hahaha aku mendengarnya dari para penggosip nyonya..."jawab gadis itu sambil tersenyum, ia memakan hidangan didepan mereka dengan santai.
Ketika gadis itu melihat sekelilingnya tiba-tiba matanya terbelalak kaget dan ia langsung berdiri.
"Maafkan aku nyonya, jika ada orang yang bertanya macam-macam padamu jangan percayai orang-orang itu dan juga jangan bertanya pada siapapun secara sembarangan.... untuk makanan ini biar aku yang membayarnya..."ucap gadis itu terburu-buru dan langsung pergi dengan memakai tudung jubahnya lagi.
So ah hanya memandang bingung punggung kecil gadis yang berlari tergesah-gesah itu seakan gadis itu dikejar sesuatu yang berbahaya. Perlahan mata so ah melirik sekitarnya dan baru ia sadari bahwa disetiap sudut ruangan ada banyak prajurit kerajaan yang sedang mencari seseorang, mungkinkah gadis itu yang mereka cari ??...
So ah kemudian berdiri dan bertanya pada para pelayan di kedai ini apakah gadis itu sudah benar-benar membayarnya dan ternyata gadis itu juga memberikannya kamar penginapan di kedai itu.
"Kenapa gadis itu sangat baik pada orang asing yang baru ditemuinya !?"batin so ah bertanya-tanya.
"Apakah kalian kenal gadis tadi ?"tanya so ah pada pelayan yang mengantarkannya.
"Ya nyonya... nona muda itu adalah pelanggan tetap di kedai ini"jawab pelayan itu sopan.
So ah sedikit lega mendengarnya dan tak berfikir macam-macam mungkin saja gadis itu memang baik hati.
"Bagaimana dengan para prajurit kerajaan ?"tanya so ah kemudian.
"Para prajurit mencari tuan putri, kami juga tidak tau detailnya seperti apa, nyonya"jawabnya sopan.