
Mata jing mei sedikit melebar tapi ia langsung menetralkan ekspresinya, ia langsung menatap sosok berdarah disampingnya dengan pandangan datar.
"Apa yang sedang anda mainkan yang mulia"tanya jing mei pada zheng bai.
Ia dengan dingin memutar tubuhnya dan ingin beranjak pergi dari tempat terkutuk ini sekarang juga, tapi tubuhnya langsung berhenti takkala mendengar ucapan zheng bai.
"Apakah kau masih memikirkan orang lain dari pada dirimu sendiri hahaha cih aku sangat terharu"desis zheng bai tertawa mengejek.
Jing mei sangat tau jika ia mematuhi perintah beracun dari lelaki gila didepannya itu sama saja ia mengorbankan seluruh nyawa klannya, jadi ia lebih memilih untuk diam.
"Bawa wanita jalang ini ke ruang penyiksaan"ucap zheng bai pada wan yao, mata jing mei sedikit berkilat ngeri mendengarnya hal apa yang sudah dilakukan sosok didepannya ini sampai harus masuk kedalam ruangan yang lebih terkutuk dari ruangan lain didalam kerajaan ini. Saat mata jing mei melihat wajah ling zhi yang tertutup antara hidup dan mati ia baru mengerti bahwa wanita inilah yang sudah meracuni dan membunuh bayinya serta wanita beracun inilah yang sudah merusak rencana besar zheng bai hingga menyentuh titik dimana ia sendiri tak berani menyinggung lelaki gila semacam zheng bai.
"Apakah kau sudah tau siapa dia ?"tanya zheng bai padanya secara tiba-tiba, ia hanya menoleh menatap lelaki itu dengan pandangan dingin tanpa emosi disana dan kemudian ia pergi meninggalkan lelaki itu tanpa berkata apapun.
"Hahaha kenapa kau menjadi sangat munafik... bisa saja aku membunuh meimei mu yang dungu itu"ucap zheng bai.
Jing mei yang sudah berada diujung pintu keluar dari ruang singgasana itu langsung menghentikan langkahnya, ia menoleh kearah zheng bai.
"Apa hubungan ku antara meimei bukanlah urusanmu yang mulia"ucap jing mei dingin.
"Hahaha bukankah kau tau meimei mu sangat mencintaiku"jawab zheng bai lagi sembari tertawa sinis.
"...."jing mei hanya terdiam mendengar ucapan lelaki itu dan ia melanjutkan langkahnya lagi tanpa menoleh kebelakang meninggalkan lelaki gila dibelakang punggungnya.
Dirumah penginapan,
So ah terbangun dari tidurnya, ia menatap kesamping dan merasakan ada tangan hangat yang memeluk erat tubuhnya.
"Kenapa kau bangun ?.. tidurlah lagi tubuhmu masih butuh istirahat"ucap xuan pada so ah, matanya masih tertutup saat ia berbisik dengan lembut.
"Aku... aku sudah cukup beristirahat"jawab so ah malu.
Ia merasa canggung dengan posisi mereka yang terasa sangat intim, dimana lengan xuan menjadi bantalnya dan ia yang bersandar didada bidang xuan hanya perutnya yang menjadi pembatas diantara mereka berdua. Tangan xuan dengan lembut mengelus perut so ah dan dari sana ia bisa merasakan bahwa mahluk-mahluk kecil didalam sana meresponnya.
"Aduh..."kernyit so ah karena ia merasa sedikit tak nyaman saat bayinya menendang-nendang dengan aktif.
"Kenapa kalian nakal"ucap so ah lembut, ia ikut mengelus sisi perutnya yang lain.
"yang satu iri pada yang lain"jelas xuan terkekeh lucu saat merasakan tangan so ah yang lain ikut mengelus sisi perut yang lain.
"Ah apakah mungkin mereka rindu padamu ??"tanya so ah pada xuan, kepalanya mendongak menatap wajah tampan yang ternyata jaraknya hanya beberapa inci dari wajahnya sendiri. Ia yang melihat apa yang telah dirinya lakukan langsung malu dan sedikit memundurkan tubuhnya tapi punggungnya ditahan dengan kuat oleh tangan xuan. Dengan muka memerah malu-malu, so ah menenggelamkan wajahnya sendiri didada xuan.
Lelaki itu hanya terkekeh geli dan mengelus lembut surai panjang so ah dengan penuh kasih sayang.
Ledakan-ledakan kembang api mengagetkan so ah dan ia tadinya hampir terlelap langsung terbangun karena suara keras itu.
"Apa itu ??"tanya so ah pada xuan, ia melihat xuan yang sedang bersandar pada dinding tempat tidur.
"Apakah kau ingin melihat kembang api ??"tanya xuan pada so ah.
"Kembang api ??.."tanya so ah bingung.
"Ya, kemarilah"ucap xuan yang sudah berdiri dan turun dari tempat tidur sembari memakai sepatunya.
Semburan warna-warni cerah berhamburan menghias di langit gelap malam terlihat sangat indah bagaikan pecahan-pecahan meriah warna pelangi, kerumunan orang-orang yang berlalu lalang penuh dengan hiruk pikuk suasana kebahagian membuat mata so ah berbinar takjub dengan pemandangan didepannya itu. Kibaran-kibaran bendera merah yang penuh kebahagiaan memenuhi setiap sudut toko dan jalanan kota ditambah lagi suara musik jalanan menambah ramai suasana malam.
"Apa itu ??"tanya so ah pada xuan, dari jendela ia menatap bingung keramaian dibawah mereka.
"Entahlah, tapi mungkin saja ada sebuah perayaan besar di kota ini"jawab xuan lembut.
"Ternyata begitu... emm apakah kita bisa turun kebawah ??"tanya so ah kemudian, ia menatap penuh harap kearah lelaki disampingnya itu yang sedang bersandar dengan malas di bingkai jendela.
Tanpa menjawab xuan langsung mengambil jubah hitam miliknya dan memakaikan jubah hitam itu ketubuh so ah.
"Di luar dingin jadi pakailah ini dulu"ucap xuan sembari menuntun so ah keluar dari penginapan itu.
"Apakah aku harus memakai penutup wajah ??"tanya so ah pada xuan.
"Kenapa harus ??"tanya xuan.
"Aku ada disini, jadi jangan takut"lanjut xuan lagi sembari mengikat tali depan jubah miliknya.
"Tapi..."ucap so ah yang ragu-ragu untuk mengucapkan kelanjutan kata-katanya dan ia hanya memilih untuk diam.
"Ada apa ??"tanya xuan.
Xuan menatap paras kecantikan langka tepat didepannya ini dengan pandangan bertanya dan yang ditatap hanya bisa menunduk malu karena prilakunya.
"Topeng... apakah anda tidak memakai topeng lagi ??,"tanya so ah lirih.
Xuan langsung tersenyum menggoda kearah so ah, "hahaha apakah istri kecilku ini cemburu dengan wanita lain ??...,"tanya xuan sembari tertawa terkekeh.
"Atau istri kecilku yang manis ini tidak ingin ketampanan suaminya dinikmati orang lain hmm ??... ternyata istri kecilku ini serakah hahaha,"lanjut xuan lagi sembari mencolek pipi so ah yang sudah memerah dengan gemas.
"Aku... aku... tidak... anda tidak boleh seperti itu... aku tidak cemburu"jawab so ah dengan suara tergagap dan malu, matanya menatap sekeliling ruangan itu dengan tidak fokus.
"Anda ??... kenapa istriku memanggil suaminya sendiri dengan formal ??,"tanya xuan.
"Itu aku aku bingung harus memanggilmu apa, xuan"ucap so ah pelan, ia menghindari tatapan xuan karena merasa bersalah, asal jangan menatap mata xuan dan ia hanya bisa menunduk.
"Xuan ??"tanya xuan lagi dengan suara rendah, seakan tidak suka dengan apa yang di ucapkan so ah.
Hening.
Dan so ah tidak tahan dengan keheningan serta rasa bersalah dihatinya. Bulu matanya yang lentik itu bergerak-gerak, bergetar takkala ia akan mengatakan sesuatu.
"Su...suami"ucap so ah lembut atau mungkin hampir tidak terdengar jika saja xuan bukan mahluk immortal.
"Hahahaha..."xuan tertawa puas mendengarnya, ia merasa ada perasaan yang menggelitik dihatinya ketika mendengar bagaimana so ah memanggilnya dengan nada malu-malu serta wajah cantik yang terus menerus bersemu merah bagaikan seribu musim penuh berkah kebahagiaan.
Xuan dengan santai mengetuk pelan dahi so ah tepat di tanda lahir semerah cinnabar itu. Ia kemudian memegang lembut tangan so ah, membawanya keluar dari kamar penginapan ini.
Tubuh so ah yang tenggelam didalam jubah hitam milik xuan terlihat jatuh hingga menyentuh tanah ketika ia yang memakainya dan karena xuan memegang tangannya jadi ia tanpa rasa takut tersandung kain jubah itu. Rasa hangat dan nyaman semakin melingkupi tubuhnya, ia juga sesekali menyentuh perutnya yang buncit itu dengan lembut saat mereka keluar dari kamar penginapan.