The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 110



Di tengah-tengah kerajaan timur terdapat alun-alun besar yang biasanya digunakan untuk pengorbanan orang-orang yang telah dipilih oleh penatua agung, kini alun-alun yang dulunya suram berubah menjadi penuh dengan suasana sukacita.


Tempat yang dulunya penuh dengan bau busuk darah dan bangkai berubah penuh dengan hiasan-hiasan perayaan yang melambai-lambai seakan merayakan kematian orang-orang yang dikorbankan.


Sebuah pertunjukkan sedang diadakan disana, tabuhan-tabuhan dan gemerincing musik mulai memenuhi setiap telinga yang mendengarnya dan semakin banyak pula orang-orang yang berkumpul disana.


"Apa itu ??"tanya so ah pada xuan.


Banyaknya orang yang melihat pertunjukkan didepan mereka membuat tubuhnya tenggelam dalam banyaknya penonton, Ia hanya bisa mendesah kecewa saat tak bisa melihat pertunjukkan jauh didepan sana.


Xuan menyerahkan kertas minyak pembukus roti kukus yang masih tersisa satu itu ketangan so ah. So ah yang memegang bungkusan roti itu dengan pandangan bingung tapi ia langsung kaget ketika tubuhnya diangkat secara tiba-tiba, ia langsung mengcengkeram bahu xuan.


"Apa yang kau lakukan ??"tanya so ah, tapi saat ia menoleh kearah pertunjukan itu terlihat sangat jelas, matanya langsung berbinar senang.


Xuan menggendong so ah layaknya anak kecil dan agar membuat so ah nyaman ia menyangga tubuh istrinya itu di lengannya, ia menatap mata yang penuh dengan sinar kebahagian terpancar disana.


Sesekali xuan mencium perut so ah ketika ia merasakan ada pergerakan disana dan so ah yang masih fokus menikmati pertunjukkan didepan mereka.


"Apakah lelah ??"tanya so ah pada xuan.


So ah menunduk menatap xuan dengan pandangan bertanya tapi yang ditatap hanya diam tak menjawab dan balik menatap matanya.


"Kau sangat berat... aku lapar"ucap xuan dengan santai.


"Apakah itu benar ???... maafkan aku... tu..turunkan saja aku, suami"ucap so ah dengan nada bersalah ia mengguncang lembut bahu xuan.


"Hahaha aku bercanda tapi suapi saja aku"ucap xuan kemudian, bagi xuan ia seperti mengangkat bulu-bulu ringan ditelapak tangannya.


So ah menatap roti kukus yang sudah ia makan setengahnya dan ia cukup merasa bersalah karena memakan habis roti kukus yang mereka beli, jangan salahkan ia yang rakus tapi bayi didalam perutnya sangat menginginkan roti kukus lezat itu. Xuan langsung menggigit setengah dari roti kukus yang sudah so ah makan ketika ia melihat istrinya itu sedikit ragu-ragu.


Ketika pertunjukkan besar itu berhenti sebentar untuk beristirahat, banyak pasang mata yang baru sadar melihat bagaimana seorang lelaki dewasa yang tanpa malu menggendong wanita hamil dan mereka semua bisa menebak bahwa wanita hamil itu ingin ikut serta melihat pertunjukkan didepan mereka tadi. Banyak pasang mata yang iri melihat kasih sayang antara so ah dan xuan, biasanya tak banyak pria yang mau bertukar kasih sayang didepan umum apalagi mencurahkan kasih sayang seperti xuan menggendong tubuh so ah yang sudah berbadan dua itu.


"Orang-orang menatap kita"ucap so ah lirih, ia menahan rasa malunya dengan menunduk dalam.


"Biarkan saja... apakah istri kecil ku ini lelah ??"tanya xuan, ia mendongak menatap wajah wanitanya.


"Tidak... tapi aku takut dirimu yang lelah su..suamiku"jawab so ah kaku.


"Hahaha aku tidak lelah... aku senang bisa menggendong kalian"jawab xuan dengan suara berbisik lembut yang hanya bisa didengar mereka berdua.


"Suamiku, apakah kakak ipar sudah mengetahui keberadaan kita ??"tanya so ah tiba-tiba pada xuan, ia sedikit mengkhawatirkan permaisuri shui lan dikekaisaran Qi. Pasalnya sudah hampir satu tahun semenjak kejadian itu, ia takut jika banyak orang yang khawatir dan pastinya ia sangat merasa bersalah.


"Tenang saja... keduanya sudah ku kirimkan surat... aku mengatakan pada mereka bahwa kita butuh waktu untuk sedikit bersantai"ucap xuan pada so ah.


Xuan tak sepenuhnya berbohong, tapi melihat bagaimana kondisi yang sebelumnya sangat agresif menjadi terlalu tenang, ia sedikit bisa menebak dimana alur yang akan di bawa oleh kerajaan dunia bawah yang mulai sedikit demi sedikit membangun banyak kekuatan itu.


Tak ada air tanpa riak tenang.


Ia juga harus menekan yuan, dan ia masih belum mempunyai fikiran untuk membuat pergerakan yang nyata karena ia bisa merasakan musuh yang sebenarnya masih bersembunyi dengan rapat didalam kegelapan.


Ia perlahan menurunkan so ah dan mereka mulai berjalan-jalan lagi meninggalkan area pertunjukkan.


"aku sangat merindukan kakak ipar perempuan... tapi apa yang akan kita lakukan ??"tanya so ah.


Ia menatap kedai-kedai kecil di pinggir jalan dan matanya langsung tertuju pada kedai kecil yang menjual beberapa lentera kertas.


"Apakah ini cantik ??"tanya so ah lagi pada xuan, ia memegang sebuah lentera kertas sedang berbentuk kotak tapi ia memegangnya dengan pandangan tak tertarik. So ah menaruh kembali lentera kotak itu dan matanya tanpa sengaja melihat lentera berbentuk bunga teratai putih mekar. Ia menatap lentera itu kemudian menatap xuan lagi secara bergantian dan ia tersenyum dari balik penutup wajahnya.


Xuan menatap so ah yang membeli dua buah lentera berbentuk teratai.


"Ada apa ??"tanya xuan pada so ah, ia membantu istri kecilnya itu dan dengan lembut menuntunnya.


"Ayo kita kesana"jawab so ah, suaranya terdengar bergemerincing merdu menyenangkan telinga saat tangan rampingnya menarik lembut tangan xuan menuju ke pinggiran aliran air.


Xuan memperhatikan sekelilingnya terdapat banyak lentera yang mengapung di sepanjang aliran air sungai buatan milik kerajaan ini.


So ah menyerahkan satu lenteranya untuk xuan dan membawa lelaki itu menuju ke pinggiran aliran air sungai buatan setelah sebelumnya ia meminta api milik salah seorang yang juga ikut mengapungkan lentera.


"Apa yang kau lakukan ??"tanya xuan pada so ah, ia melihat wanita itu sedikit kesusahan untuk berjongkok karena perut buncitnya itu jadi xuan mengambil alih lentera milik so ah dan menaruhnya diatas aliran air. Lilin yang berkedip samar-samar mulai memancarkan cahayanya diatas aliran air bercampur bersama dengan lentera-lentera lain.


"Orang-orang disini sedang mendoakan semua orang yang telah menjadi korban untuk menghilangkan kesialan tapi bagiku mereka bukan dikorbankan untuk itu dan hal itu sangatlah tidak manusiawi"ucap so ah pada xuan, ia menatap banyak lentera yang mengapung disana.


"Jadi dua lentera ini dirimu ingin mendoakan mereka atau istri kecilku ini ingin memberikan pesan kepada mereka ??"tanya xuan pada akhirnya.


"Ti..tidak tetapi ini untukmu"jawab so ah lembut, ia menundukkan pandangannya tak berani menatap xuan.


"Untukku ??... berarti suami mu ini sudah mati untuk pengorbanan tidak masuk akal itu ?"ucap xuan dengan nada menggoda.


"Tidak.... tidak... bukan begitu... aku hanya sedang mendoakan keselamatan mu dan anak-anak yang ada didalam perutku, aku ingin kalian tidak mendapatkan kesialan disepanjang hidup"jawab so ah sembari menatap dua lentera itu dengan pandangan lembut.


"Dan lagi pasti lentera-lentera ini kurang untuk mereka, jadi aku hanya akan mendoakan mereka dari sini"ucap so ah lagi.


"Aku memilih lentera teratai putih ini karena teratai adalah bunga yang melambangkan bunga keabadian di tengah air yang kadang ganas dan tenang... aku ingin dirimu dan anak-anak ini nantinya seperti teratai putih yang penuh dengan berkah yang selalu abadi dan dilindungi surga"lanjut so ah lagi.


Xuan terhenyak saat mendengar alasan so ah, untuk pertama kalinya dalam kehidupannya ada sosok lain yang mendoakan keselamatannya. Ia menatap so ah dengan pandangan yang tak terbaca dan perlahan ia langsung merengkuh lembut tubuh mungil istrinya itu.


Di kehidupan ini, di tiga kehidupan mereka nanti, dan jika mereka bereinkarnasi, ia sebagai weida de tianghuang akan selalu menjadi pasangan abadi dari permaisurinya.


Entah apa rintangan yang akan ia hadapi, ia takkan menyerahkan tubuh dan jiwa wanita ini pada siapapun...


Walaupun wanitanya pergi pada dewa kematian, di detik itu pula ia akan mengikuti wanitanya !!!