The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 129



So ah terbangun dari tidurnya dan sangat kaget saat ia membuka matanya, jantung berdetak sangat kencang dan keringat dingin mengalir deras disekujur tubuhnya. Ia terduduk diam bersandar pada papan tempat tidur, tangannya tanpa sadar menggenggam erat selimut yang menutupi setengah tubuhnya.


"Apa... apa yang terjadi ??"bisik so ah lirih.


Deru nafasnya terasa sesak dan terengah-engah seakan baru saja lari dari ribuan kilo jauhnya.


So ah menyentuh jantungnya yang terasa sakit seakan ia ditikam oleh sebuah pedang yang tak kasat mata. Ia mata mulai menggenang menuruni pipinya, semakin deras. Ia meremat kain berusaha menahan rasa sakit yang kian parah menghantam tubuhnya.


"Aaaaaggghhh.... haah... hah..."ucap so ah lirih.


Kulit yang semula mulai berwarna dengan cepat berubah menjadi pucat pasi. Ia yang menahan rasa sakitnya hampir seperti menunggu sebatang dupa habis terbakar dengan keringat dingin yang deras mengalir membasahi pakaiannya.


Praayynggg....


Gelas giok kecil beserta teko giok hancur jatuh ke lantai karena tangan so ah yang tak kuat lagi untuk mengambil air minum yang ada diatas meja samping tempat tidurnya.


Dua roh teratai yang xuan perintahkan untuk menjaga so ah kaget saat mereka mendengar pecahan barang dari dalam ruangan tuan mereka yang baru, dengan cepat keduanya masuk kedalam.


Seorang dayang muda berpakaian serba jambu dengan cepat menahan tubuh so ah yang hampir jatuh ke lantai.


"Rou shi cepat hilangkan pecahan itu"ucap rou shi pada dayang lainnya yang berpakaian biru muda.


"Baik jie jie"jawab wanita itu cepat.


Sebuah cahaya kebiruan keluar dari telapak tangannya dan terbang menuju serpihan-serpihan pecahan giok.


Rou shu membantu tuannya untuk duduk kembali diatas tempat tidur, dan setelah merasa posisi tuannya aman. Rou shi dan rou shu memundurkan tubuh mereka, keduanya membuat gestur memohon maaf tepat di bawah ranjang so ah.


"Apa... apa yang kalian lakukan ??"tanya so ah.


"Maafkan kami, yang mulia... kami tidak sopan karena menerobos masuk kamar anda tanpa izin dan kami juga tidak memberi salam terlebih dahulu kepada yang mulia"ucap ruo shi cepat, wajahnya masih menghadap lantai begitupun denhan rou shu.


"Angkatlah kepala kalian"ucap so ah lembut.


"Terima kasih yang mulia.... semoga keabadian menyertai yang mulia permaisuri agung"ucap keduanya bersamaan.


"Dimana xuan"tanya so ah langsung.


Mereka berdua terkejut dan saling berpandangan saat so ah bertanya tentang yang mulia kaisar tanpa memakai nama kebesaran yang mulia, mereka belum pernah sekalipun mendengar yang mulia kaisar mengizinkan seseorang untuk memanggil dengan cara yang seperti itu bahkan wanita itu dulu tidak pernah diizinkan oleh kaisar. Rou shu dan rou shi ingat ketika dulu mereka di turunkan dari tempat suci untuk menjadi dayang pribadi dari weida de tianghuang, wanita itu sangat dekat dengan weida de tianghuang hingga peperangan terjadi dan semua roh tanaman suci di segel kembali di atas kekaisaran, jadi mereka semua tidak tahu bagaimana dengan nasib wanita itu. Dan kembali ke masa sekarang mereka semua di bangkitkan kembali dari segel yang membelenggu untuk melayani tuan mereka yang baru, rou shu dan roh tanaman yang melihat bagaimana weida de tianghuang yang dingin dan tak tersentuh mau menyentuh mahluk lain selain dirinya sendiri dengan penuh kasih sayang, itu sudah cukup mengagetkan mereka. Rou shu yang  lebih dulu sadar dari rasa keterkejutannya langsung menjawab pertanyaan so ah.


"Weida de tiang huang keluar dari tempat suci ini yang mulia permaisuri"jawab rou shu sopan.


"Ia tak menunggu ku bangun"bisik so ah pada dirinya sendiri, ia sedih.


"Siapa kalian ?"tanya so ah.


"Salam kepada yang mulia permaisuri, pelayan ini bisa anda panggil dengan nama rou shu dan ini saudara perempuan pelayan ini bernama rou shi"jawab rou shu sopan.


So ah memperhatikan kedua dayang yang kini berdiri sedikit jauh darinya. Dua wanita yang sama-sama memilik kecantikan indah dan menyenangkan untuk di pandang mata. Saat ia sedang memperhatikan keduanya, rasa sakit yang menghujam jantungnya menjadi betambah sakit bahkan berkali-kali lipat menghantam jantungnya.


"Aagghh..."suara so ah tertahan merasakan rasa sakit dijantungnya dan saat itu kesadaranya direnggut kegelapan yang pekat.


Rou shi dan rou shu melihat tuan mereka tak sadarkan diri langsung dengan cepat menahan tubuh itu kembali.


"Kenapa dengan yang mulia permaisuri shu jie ?"tanya rou shi.


"Yang mulia permaisuri tidak terluka tapi kenapa ia merasa kesakitan ?"tanya rou shu pada dirinya sendiri dan itu didengar oleh rou shi.


"Apa maksudmu jie jie ??"tanya rou shi.


"Atau mungkin..."lanjut rou shi lagi, ia dengan cepat membuka setengah pakaian so ah dan melihat di bagian dada atas terdapat bekas merah padam yang sangat kontras dengan kulitnya.


"Lihatlah"ucap rou shi.


"....."rou shu diam saat melihat bercak merah padam itu perlahan menimbulkan tulisan kuno.


"Cepat panggil chi jie"ucap rou shi pada rou shu.


Rou shi mengeluarkan kekuatan spiritiul berwarna kebiruan dari telapak tangannya  dan menyelimuti tubuh tuannya dengan kekuatan spiritual alam miliknya.


"Baik jie jie"jawab rou shu, mendengar dari suara shi jie yang kaget rou shu tau bahwa ada hal yang tidak baik sedang terjadi.


Ia langsung memejamkan mata, memanggil saudaranya yang lain dengan telepati spiritual mereka.


Dari arah jendela yang di buka rou shi terlihat cahaya biru datang dengan cepat memasuki kamar so ah.


"Chi jie, tolong !!... cepat !!"ucap rou shi.


"Apa yang terjadi..."tanya rou chi.


Mata rou chi langsung berpusat pada apa yang dilakukan rou shu, matanya langsung terbelalak ketika melihat tulisan kuno yang ada di dada sebelah kanan wanita yang sedang terbaring didepan rou shu.


Ia langsung ikut membantu rou shu dengan menyalurkan kekuatannya juga. Tulisan kuno itu langsung hilang beserta dengan bercak merah padam di dada so ah.


"Apa itu tadi ?"tanya rou shu pada rou chi.


"Aku tidak tau, tapi tulisan itu sangatlah tidak asing"jawab rou chi.


"Tapi, jie jie apakah hal itu berbahaya bagi yang mulia ??"tanya rou shi.


"Sangat berbahaya, nyawanya bisa saja hilang"jawan rou chi.


"Iya, itu sangat benar... aku tidak tau apa yang menyelamatkan yang mulia permaisuri... tapi iti berkah yang baik"timpal rou shu.


"Iya, itu berkah"jawab rou chi.


Wanita itu menatap jauh keluat jendela, menerka akan kejadian yang tak pernah ia lihat. Rou chi yang menjadi pemimpin dari para roh tanaman suci ditempat ini sedikit berfikir bahwa luka itu bukan luka biasa yang hanya muncul dan pergi begitu cepat.


Apakah mungkin weida de tianghuang sudah bersumpah janji setia abadi pada wanita itu ??!!...


Jika iya, akan masuk akal jika tuan mereka yang baru ini terluka....


Tapi apakah weida de tianghuang mau menerima wanita yang terlihat lemah itu ??...


Sedangkan, weida de tianghuang adalah mahluk abadi yang tak akan tersentuh perasaan melankonis semacam itu.


Tapi, bagaimana jika itu benar ??!!


Rou chi berfikir keras, ia menerka apa yang sebenarnya terjadi. ia tak tahu bahwa satu diantara pertanyaannya itu adalah kebenaran.