The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 115



"Maafkan saya sudah mengganggu ketenangan tuan dan nyonya"ucap tuan pemilik penginapan pada so ah dan xuan.


Xuan sengaja membiarkan lelaki tua itu untuk masuk kedalam ruangan mereka, ia ingin melihat sejauh mana manusia-manusia ini berani mengusik mereka. Xuan yang masih duduk didepan so ah hanya diam tanpa ekspresi, sebelumnya ia sudah meminta so ah untuk memasang kembali kain untuk menutupi setengah wajah istrinya itu.


"Ada apa ?"ucap xuan dingin, dari balik topengnya ia menatap lelaki tua didepannya dengan pandangan datar


"Maafkan saya tuan, tetapi anda dan istri anda diundang yang mulia pangeran kerajaan ini untuk saling beramah-tamah satu sama lain tuan, dan juga yang mulia pangeran penasaran dengan anda yang berasal dari luat kerajaan..."ucap tuan pemilik penginapan itu dengan ucapannya yang manis dan lihai dalam membujuk.


"Haa... sungguh kehormatan yang besar bagiku dan juga istriku..."jawab xuan sembari tertawa datar.


"Bukankah begitu, istriku ?"tanya xuan lembut pada so ah.


So ah hanya mengangguk mendengar ucapan xuan padanya, ia merasa ada sesuatu yang salah atas undangan pangeran yang tidak ia ketahui siapa itu. Tapi, tiba-tiba saja sebuah ingatan melintas di pikirannya. Jika itu pangeran yang ia lihat saat lelaki itu bersama xi mei dan seseorang yang melakukan hal bejat bukankah itu sama saja berbahaya baginya dan xuan.


Xuan yang melihat kegelisahan so ah, langsung menggenggam tangan istrinya itu, ia perlahan berdiri dan menuntun so ah menuju ke rumah penginapan disisi lain rumah yang mereka tempati.


So ah mencengkeram erat tangan xuan, ia merasa kegelisahannya terus bertambah.


"Tenanglah... tidak akan ada apa-apa..."bisik xuan lembut padanya.


Xuan melirik sekilas disekitarnya dan ia tahu bahwa mereka berdua sudah dikelilingi oleh banyak prajurit. Saat mereka sudah sampai di depan pintu rumah penginapan yang ditempati huang de, xuan bisa mendengar suara-suara tawa menjijikan dari para manusia dari dalam sana. Aroma mewangian yang sangat menyengat memuakkan membuat dirinya ingin mendecih dengan kasar disaat itu pula.


"Ada apa ??"tanya so ah lembut, ia bisa merasakan emosi suaminya yang walau tertutup topeng itu.


"Tidak apa, hanya saja aku tak ingin membuat anak dan istriku melihat ataupun mencium sesuatu yang busuk"ucap xuan pada so ah.


Tuan pemilik rumah penginapan bergidik ngeri mendengar ucapan lelaki yang menyewa tempatnya itu, ia merasakan sesuatu yang buruk lebih buruk daripada kematian sedang merayap dan membuat punggung berdesir dingin ketakutan.


"Mari, tuan dan nyonya silahkan masuk"ucap tuan pemilik penginapan itu sopan, ia menuntun keduanya untuk memasuki ruangan.


Huang de yang tengah bersenang-senang dengan beberapa gadis muda yang memang sengaja dipersiapkan penginapan untuk melayaninya langsung melihat kearah pintu yang terbuka.


"Haa... para tamu kehormatanku sudah datang.... kalian pergilah gadis-gadis cantik untuk menuangkan segelas minumana manis berharga bagi para tamuku"ucap huang de sembari mengusir para gadis-gadis itu dan mengedipkan matanya.


Para gadis-gadis muda cantik itu mulai mengerti apa yang dimaksud pangeran, mereka langsung pergi menyambut kedua tamu pangeran huang.


"Kami menyapa yang mulia pangeran kerajaan timur"ucap xuan menyapa huang de. Suaranya yang datar dan tanpa celah membuat huang de sedikit bingung dengan apa yang akan ia balas saat ia mendengar suara yang seakan disatu sisi mengejek dan menghinanya itu tapi mendengar jelas dari intonasinya tak ada yang salah akan kalimat itu. Mengabaikannya, huang de langsung memerintahkan xuan dan so ah untuk duduk didepannya.


Huang de melihat nyonya muda yang memancarkan aura bangsawan yang sangat jarang ditemui manapun apalagi penutup wajah yang membuat auranya semakin misterius membuat huang de semakin gila ingin membuka kain penutup di wajah itu. Ia bisa melihat bulu mata panjang dan lentik yang terkulai lembut seakan berteriak untuk menyelamatkan kecantikan dari tempat buruk. Semakin huang de menatap setiap sela tubuh kecil wanita didepannya itu, rasa serakah dan rakusnya semakin tinggi, didetik itupula ia ingin membunuh suami dari wanita didepannya itu tapi memikirkan resiko bahwa dimasa depan ia akan sulit untuk menggenggan hati yang benci, ia meninggalkan pilihan itu. Ia ingin mendorong suami nyonya muda itu untuk tergoda pada harta kekayaannya dan juga ia akan memberikan sejumlah besar wanita-wanita cantik dibawah kungkungan tubuh itu. Dan lagi dengan bantuan penatua agung yang berpihak padanya hal itu takkan menjadi mustahil.


Sedari awal so ah sudah tak suka akan tatapan tak sopan yang terus dilayangkan huang de padanya. Diam-diam ia hanya bisa menggenggam keliman pakaiannya.


"Kalian berasal dari mana, tuan dan nyonya ?"tanya huang de, ia dengan santai meminum tehnya.


Xuan yang mulai kesal saat memperhatikan tingkah menjijikan manusia didepannya yang tanpa tahu malu memandang istrinya itu. Tangannya sudah gatal ingin membunuh manusia didepannya ini.


"Kami berasal dari tanah yang jauh, yang mulia"jawab so ah tiba-tiba.


Xuan langsung menoleh menatap istrinya dengan pandangan bertanya, tapi saat ia merasakan tangan so ah yang ada di bawah meja menyentuh lembut punggung tangannya ia sedikit mengerti, wanitanya tak ingin ia membunuh dan bertindak kejam.


"Tanah yang jauh ?? Hahaha sangat menarik... tapi nyonya suaramu sangat menyenangkan telinga, pangeran ini"ucap huang yang semakin berani. Ia mengangguk dan memberikan kode lain pada para gadis pelayan, para gadis pelayan itu langsung bergegas memamerkan tarian mereka sekaligus mereka juga menampilkan kemolekan tubuh mereka.


Xuan hanya menatap datar kumpulan domba bodoh didepannya itu, ia sudah berada diambang batas kesabarannya melihat tingkah tak tahu malu dari manusia-manusia yang mengelilingi mereka. Sesaat ia akan mematahkan salah satu kaki penari yang berpakaian menjijikan itu, xuan merasakan sebuah aura lain yang perlahan dari kejauhan datang mendekat kearah mereka.


Salah satu pengawal datang dengan tergesah-gesah kearah huang de dan pengawal itu membisikkan sesuatu hingga membuat huang de mencengkeram cangkir tehnya dan kemudian ia merilekskannya kembali.


Xuan hanya tersenyum sinis, ia juga ikut mendengar apa yang dibisikkan pengawal itu pada huang de. Bukankah menyenangkan melihat wajah busuk lelaki tak tahu malu itu kebingungan atas perubahan yang terjadi dan hal itu semua terjadi karena tindakannya sendiri tapi tetap saja ia tak senang jika so ah masuk kedalam rencana busuk lelaki menjijikan didepannya itu.


Xuan masih penasaran dengan aura gelap yang dibawa sosok yang terus datang mendekat kearah mereka, ia yang sudah sedari awal menekan kekuatan spiritualnya hingga tak tersisa apapun dipermukaan hanya tersenyum semakin lebar.


Dunia bawah.


Sungguh cerdik.


Bahkan dunia atas yang selalu berusaha melindungi manusia harus ditipu mentah-mentah seperti ini tepat dibawah hidung mereka.


Penatua suci.


Kesepakatan menjijikan.


Dasar manusia bodoh.


Huang de yang dengan enggan langsung memerintahkan pengawal itu untuk mengizinkan sosok yang akan datang dengan kehormatan tinggi dan tanpa ada celah kesalahan apapun, ia kembali tersenyum seolah tak ada apa-apa kepada tuan dan nyonya muda yang sudah ia tetapkan sebagai incarannya itu.


Ia tak perduli jika harus membunuh suami dari nyonya muda yang ia yakini suaminya ini merupakan sosok buruk tanpa rupa yang rupawan seperti wajahnya.


Huang de terus mengajak so ah berbicara, ia sudah mulai ketagihan untuk mendengar lebih banyak suara merdu milik so ah tapi setiap kali ia mengajukan pertanyaan selalu saja xuan yang dengan datar dan dingin menjawab pertanyaannya. Ia sudah mulai sangat kesal tapi ia tak akan menyia-nyiakan kesempatannya kali ini. Ia harus bisa membawa wanita ini pulang kekediamannya dan bahkan jika wanita ini tak mau duduk di posisi selir, ia akan memberikan posisi istri utama untuk wanita ini. Huang de yang sudah percaya diri menatap so ah dengan pandangan rakus, hanya tinggal menunggu penutua agung ia bisa dengan cepat membuat nyonya muda didepannya ini menjadi wanitanya.