
So ah yang tertidur lelap setelah pasca melahirkan buah hatinya perlahan ia terbangun.
"Kenapa dengan tubuhku ??"bisik so ah lemah pada dirinya sendiri.
Rambutnya yang panjang tergerai berantakan, tersebar di punggungnya saat ia dengan hati-hati duduk dan bersandar dipapan tempat tidurnya. Ia melihat tangannya yang begitu pucat, seakan darah tak mengalir disana.
Melihat kesisi jendela yang terbuka lebar, ia merasakan sedikit angin masuk kedalam kamar yang sepi ini sampai suara tangisan bayi pecah didalam ruangan.
Mata so ah sedikit terbuka, ia merasakan sebuah halusinasi saat mendengar suara yang amat sangat ia rindukan sejak lama, ia dengan cepat menyentuh perutnya dan merasakan bahwa perutnya yang rata itu hingga matanya menatap dua ayunan tempat tidur sedang di samping tempat tidurnya.
Tanpa alas kaki, so ah memaksakan tubuhnya yang masih lemah itu berjalan kearah ranjang bayi.
Tangisan yang ia dengar terasa merdu sekaligus menyiksa hatinya.
Ia menatap bayi mungil yang terlihat cantik dibalik tirai tipis ranjang bayinya.
Mata bayinya yang berair berkedip-kedip dan pipinya penuh lemak itu memerah dengan bekas air mata yang berkilauan, so ah tak tega tapi saat bayinya berkedip-kedip lucu memandang sosok yang tak pernah bayi itu lihat dan sesaat kemudian bayi itu tersenyum indah.
"Bayiku"bisik so ah, air matanya mengalir deras tak mampu menahan rasa sedih sekaligus rasa bahagia yang memenuhi tiap sudut hatinya.
"Cantik"bisik so ah, ia sedikit terisak saat jari lentiknya menyentuh lembut pipi mungil bayinya.
Tangan lembut kecil itu perlahan memegang erat telunjuk so ah, dan dengan bahagia bayi kecilnya terus menggenggam erat jari telunjuknya.
"Iya, ini niang niang"bisik so ah lembut.
"Harta berharga niang sangat cantik dan lembut seperti batu giok, sangat berharga"bisik so ah lagi.
Ia perlahan dan hati-hati mengangkat mahluk mungil itu kedalam rengkuhan lembutnya.
"Lihat, betapa gemuknya harta berharga niang niang"bisik so ah lagi, ia mengecup lembut pipi bayinya dengan gemas dan menggosoknya hidungnya pada hidung mancung mungil milik bayinya.
Bayinya tertawa menggemaskan saat bibir so ah menyentuh pipi dan hidungnya, tangan mungilnya menggapai-gapai pipi so ah dan menepuknya lembut.
So ah terdiam saat ia mendengarkan rengekan pelan disebelah ayunan bayinya dan saat membuka satu ayunan lagi, kembali matanya langsung berair, ia menahan air matanya yang akan tumpah tapi tetap tak bisa, ia sedikir terisak.
Ia menatap bayinya yang lain, yang saat ini tengah melanjutkan tidur lelapnya tanpa memperdulikan saudaranya yang lain. Dengan hanya menatap sosok mungil yang tengah terlelap itu, so ah bisa melihat cetakan jelas dari diri xuan yang melekat pada sosok mungil yang tengah tertidur lelap di ayunannya.
Ia mengelus lembut pipi bayinya dengan satu tangannya yang lain memegang bayinya yang lain. Ia dengan hati-hati menaruh bayi perempuannya di atas tempat tidurnya dan kemudian mengambil satu bayinya yang lain.
Ia duduk pelan diatas ranjangnya memperhatikan dua sosok mungil yang kini tengah tertidur lelap. So ah hanya memandangi keduanya dengan lembut.
Entah berapa lama ia memandang dua sosok mungil berharganya, ia ikut kembali terlelap disamping kedua anaknya.
Entah kenapa energi yang ia punya sedikit demi sedikit terus melemah dan melemah, walaupun ia tau bahwa jam istirahatnya sangat lah panjang tapi ia tak bisa menahan rasa kantuk dan lelahnya.
Saat terbangun kembali, so ah kaget melihat kedua harta berharganya tak lagi berada diatas tempat tidurnya. Ia langsung terbangun dan menatap kearah ranjang bayinya.
Rou shi dan Rou shu kini tengah menjaga kedua bayi tuan mereka tapi saat merasakan pergerakan dari arah ranjang keduanya langsung menoleh dan dengan cepat memberikan salam kepada so ah.
"Salam kepada permaisuri agung"ucap keduanya sopan.
So ah memperhatikan keduanya dan setelah terdiam sedikit lama karena berusaha mengingat kembali siapa keduanya ia baru ingat bahwa keduanya adalah dayang yang melayaninya tempo hari.
"Kalian boleh berdiri"ucap so ah pada keduanya.
"Maafkan kami yang mulia karena makanan untuk anda sudah mendingin, kami akan mengambilkan yang baru lagi"ucap rou shi sopan.
Dengan cepat rou shi mengambil kembali makanan hangat untuk so ah. So ah memakan bubur yang sudah rou shi persiapkan, ia hanya bisa menghabiskan seperempat dari makanan yang tersedia diatas mejanya. Setelah merasa kenyang, Ia sedikit merasa bersalah karena tidak seperti biasanya, ia tak menghabiskan seluruh makanannya.
"Apakah anda ingin membersihkan diri yang mulia permaisuri ??"tanya rou shi pada so ah.
"Ah.. ya"sahut so ah sedikit kaku, tubuhnya masih terasa lemas dan mungkin saja setelah mandi ia sedikit bisa menambah energinya.
"Bisakah aku meminta tolong kepada kalian ??"tanya so ah lembut.
"Silahkan, yang mulia permaisuri agung"sahut keduanya dengan cepat.
"Biarkan aku mandi sendiri tanpa kalian atau dayang lain temani"ucap so ah.
Rou shi dan rou shu saling memandang satu sama lain, sangat jarang mereka mengetahui ada seorang wanita yang mandi tanpa dibantu oleh pelayan mereka apalagi wanita berdarah bangsawan.
"Ba..baiklah, yang mulia permaisuri agung"ucap keduanya sopan.
"Bisakah kalian tidak memanggilku seperti itu ?? Panggil saja dengan namaku, so ah"ucap so ah lagi.
"Ka.. kami merasa bahwa sangat tidak sopan jika hanya memanggil yang mulia permaisuri agung seperti itu"ucap keduanya lagi dengan sopan.
"Hmmm... baiklah... cukup yang mulia saja tanpa permaisuri agung"ucap so ah lagi.
"Tidak apa-apa bukan ??"ucap so ah lagi.
"Ti..tidak bisa, yang mulia permaisuri agung... kami.. kami tidak bisa memanggil yang mulia permaisuri agung secara sembarang"ucap rou shu bijak.
"Hmm... saat kita satu ruangan, cukup panggil yang mulia tanpa penolakan atau kalian ingin memanggil namaku ?"ucap so ah lagi.
"Ah... kami... kami tidak berani yang mulia permaisuri"ucap keduanya.
"Hmm... yang mulia"ucap so ah lembut.
"Ba..baiklah, yang mulia"sahut rou shi dan rou shu dengan cepat.
So ah langsung tersenyum lembut melihat keduanya, perlahan ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang pemandian yang ditunjukkan rou shi.
"Saya akan menunggu anda disini, yang mulia"ucap rou shi sopan.
"Baiklah"sahut so ah lembut.
Ia berjalan masuk kedalam ruang pemandian, uap-uap hangat memenuhi ruangan besar yang penuh dengan kain-kain merah tipis disisi-sisinya, menutupi bak mandi mungkin, itu yang dipikirkan so ah tapi saat ia menyibakkan satu kain merah. Mata so ah langsung melotot kaget melihat kolam sedang yang ia pikir hanya bak mandi biasa mengepul dengan banyak uap disana.
Air yang berwarna putih susu dengan taburan bunga mawar dan mewangian segar dari bunga-bunga memenuhi tiap sudut indera penciumannya. Saat ia memasukkan tubuhnya kedalam air, so ah merasakan bahwa ini bukan air melainkan susu.
Kenapa boros sekali ?!..
Mungkin aku akan mengatakan kepada keduanya agar tidak menyiapkan segala sesuatu yang berlebihan...
Hatinya sedikit menangis saat air berbau susu segar lembut itu menyapu seluruh tubuhnya...
So ah merendam tubuhnya dan berusaha merilekskan pikiran dan tubuhnya dengan menghirup dalam aroma menyegarkan yang menguar dari mewangian bunga-bunga disekitar tubuhnya, rasa lelah yang ia rasakan masih ada.
Tubuhnya seakan terus melemah dan melemah, tapi ia harus tetap kuat demi kedua harta berharganya...