
Dai luan yang sedang duduk diam dengan punggungnya yang terlihat tegang sangat tidak seperti ia yang biasanya. Lelaki berkulit tan sewarna gandum itu diam bagaikan patung lilin, dan hanya menatap tajam air kolam keabadian.
Apa yang telah aku lakukan ??.., pikiran itu terus terngiang-ngiang di otak dan pikirannya.
Ia merasa berdosa.
Ia terus memikirkan bayi kecil mungil yang sangat-sangat lemah itu dan ia tak bisa menahan godaan untuk melihat sosok mungil itu.
"Aaakhhh..."geram dai luan frustasi.
Disatu sisi, jiwanya menolak keras dan frustasi tapi sisi jiwanya yang lain bersorak bahagia.
Pemikiran gila macam apa ini ?!!..
Logika ku masih waras, tapi kenapa hati dan jiwa ku yang tidak waras ?!!.. apakah aku mempunyai penyakit jiwa ??!!...
Wajah yang dari luar terlihat kaku sekaku papan lurus, keras tanpa celah dan dingin sedingin es milik kerajaan utara tapi jika memperhatikan dengan cermat sorot mata tajam hazelnya yang berkilat penuh rasa frustasi disana.
Pantat leluhur !!, decak dai luan, ia terus mengumpat dengan rasa kesal di dalam hatinya.
Ia bingung harus bersikap seperti apa.
Ia ingin segera pergi dari tempat suci ini jika saja ia tidak mengingat tugas yang sudah diberikan xuan padanya ditempat ini. Untuk pertama kalinya dai luan gelisah, bukan karena perang ataupun bertemu suatu yang mengerikan dan musuh yang menggetarkan inti kekuatannya tapi hal ini lebih mengerikan dari pada perang, lumuran darah dan semua hal itu !!.. ia sampai merinding ketulang-tulang hingga inti spiritual kehidupan di buatnya.
Jika saja ia tak tertarik dengan kekuatan dalam diri so ah yang menariknya, mungkin ia tidak akan terlalu cepat menerima fakta ini tapi itu juga sama saja !!.. cepat atau lambat ia juga akan bertemu belahan jiwanya...
Tapi, sejak kapan naga pelindung kuno mempunyai belahan jiwa ??!... tunggu jika kaum mereka yang langka jarang bisa mendapatkan seorang pasangan abadi lantas ia terlahir dari mana ?!!...
"Aargghh"desis dai luan, kepalanya pusing dan tidak bisa berfikir jernih lagi hingga tanpa sadar pikirannya mengingat tatapan mata yang terlihat polos tanpa dosa saat menatapnya itu.
"Memori brengsek !!"desisnya lagi, ia memarahi dirinya sendiri.
"Tidak bermoral"decih dai luan memaki dirinya sendiri.
Aura hitam terlihat menguar keseluruh tubuh dai luan yang tetap diam seperti patung itu.
Rou shi dan rou shu yang akan memberikan kegiatan yang mulia permaisuri kepada weida de baohu long dai harus mundur ketakutan karena aura hitam disekitar naga pelindung itu.
Mereka saling berpandangan dan menelan ludah gugup menatap punggung naga pelindung agung. Dengan mengumpulkan keberanian yang tak seberapa itu, rou shi dan rou shu dengan gemetaran menyapa dai luan.
"Saa..salam roh spiritual teratai ini ke..kepada weida.. de baohu long dai"ucap keduanya gugup.
Dai luan langsung menoleh saat keduanya memberi salam kepadanya.
"Katakan"ucap dai luan dingin.
"Yang mulia permaisuri sudah terbangun dan sekarang ini sedang bersama yang mulia pangeran serta yang mulia putri dan ...."sahut rou shi cepat.
"Berhenti !! Jangan sebut kedua bayi itu"ucap dai luan dingin.
Hening.
"Tidak, lanjutkan"ucap dai luan lagi.
Ia diam-diam kembali mengutuk mulutnya yang lepas kendali dan malah menanyakan sesuatu tentang kedua bayi kembar itu.
Tapi susu yang sudah tumpah tak bisa ia kembalikan lagi keasalnya dan begitu pula ucapannya yang sudah ia ucapkan tanpa bisa ia cegah, dai luan hanya membuat benteng dingin diseluruh ekspresi wajahnya.
"Yang mulia pangeran dan putri terlihat lebih tenang weida de baohu long dai, apakah anda ingin bertemu permaisuri agung ???... permaisuri agung menanyakan keberadaan weida de tianghuang dan juga permaisuri agung terlihat belum sehat"ucap rou shi gelisah diakhir kalimatnya.
Dai luan terdiam mendengar ucapan roh spiritual didepannya ini, ia terdiam sedikit lama.
"Kalian, awasi pergerakan pemimpin roh spiritual teratai"ucap dai luan memberi perintah, ia menerbangkan dua lingkaran spiritual yang berpendar samar-samar menuju kearah leher rou shi dan rou shu.
Rou shi dan rou shu saling berpandangan satu sama lain saat lingkaran spiritual tipis itu menjerat leher mereka dan kemudian rou shi mengangguk di ikuti rou shu mematuhi perintah.
Dai luan berdiri diam memperhatikan dua roh spiritual yang sudah berbentuk cahaya terbang menuju danau keabadian.
Ia takkan melupakan tikus kecil itu, pikir dai luan mengantisipasi segala sesuatu dimasa depan.
Ia juga masih belum menerima perbedaan umur yang jauh, sangat-sangat jauh dari kata nalar manusia.
Ia menggelengkan kepalanya berusaha mengusir bayangan sosok mungil yang berada didalam paviliun sana dengan berusaha memusatkan energi spiritualnya mencari keberadaan xuan.
Ia tak menemukan satu jejakpun, sama seperti waktu itu. Setelah peperangan dan xuan menghilangkan dirinya sendiri dengan membagi jiwa spiritualnya menjadi yin dan yang, setelah itu Kekuatan spiritual milik tuannya tak bisa ia rasakan.
Hilang tak berbekas.
Kepala dai luan langsung terasa seperti disiram air dingin, ia terus berusaha mencari keberadaan tuannya.
"Tenang"pikir dai luan.
Bukan sekali atau dua kali lagi hal yang sama sering terjadi dan tugasnya sebagai naga pelindung hanyalah melindungi dan menuruti semua perintah tuannya hingga detik ini ia masih tetap tidak bisa keluar dari dalam tempat suci ini karena perintah mutlak dari xuan.
Dai luan mengalirkan sedikit energi spiritualnya, ia membuat sekumpulan burung kecil dari energi spiritualnya dan menyebarkan burung-burung itu pergi kesegala penjuru.
"Gege"panggil sebuah suara lembut dari belakang dai luan.
Punggung dai luan langsung menegang, ia dengan pelan menoleh dengan gerakan kaku. Ia mengantisipasi sosok mungil yang mana yang so ah bawa digendongannya. Dai luan menghela nafas lembut saat melihat saudari angkatnya itu tidak membawa siapapun ditangannya.
"Ada apa ah mei ??"tanya dai luan, ia menarik kursi yang ada dipaviliun untuk so ah duduki.
"Apakah gege mengetahui keberadaan suami ku ??.. xuan ? Atau yang mahluk disini panggil weida de tianghuang ?"tanya so ah pelan.
Selama ini ia selalu diselimuti kegelapan tentang semua hal yang telah terjadi diluar nalarnya sebagai seorang manusia. Ia penasaran dan sangat-sangat ingin tahu siapakah sosok suaminya...
Penjelasan xuan kepadanya masih belum bisa membuat hatinya tenang...
Kenapa mereka bisa bertolak belakang ?!..
Dan juga kenapa semua mahluk takut pada suaminya...
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan...
Apa hubungan suaminya itu dengan sosok didepannya ini...
Yuan...
Xuan...
Dua nama itu sangat membuat so ah bergetar dingin, satu nama yang membuatnya bergetar ketakutan karena rasa ingin melindungi buah hati dan jantung berharga kehidupannya dan satu nama lainnya yang membuat hatinya berdesir dengan rasa aman yang ambigu dalam satu waktu...
Ia merasa hanya dirinya sendiri yang tetap dalam kegelapan...
Ia merasa bahwa ia sendiri yang tersiksa disini, tanpa kejelasan atas semua hal yang begitu banyak rahasia didalamnya...
Ia juga ingin tahu dimana ia sekarang...
Apakah ini masih tetap berada didunianya ?..
Atau mungkin dimensi lain yang tak ia ketahui...
Jika mungkin ada hal lain yang membuat ia dan suaminya untuk tetap bersama harus terus berpisah tanpa ucapan ataupun salam perpisahan...
Harus berapa lama lagi ia menunggu ??..
Menunggu dengan menyedihkan dan harus bersembunyi serta melarikan diri...
Dan so ah tak ingin anak-anaknya terancam...
Cukup dirinya yang merasa tersiksa tapi tidak untuk anak-anaknya...
so ah juga berfikir bahwa mahluk fana sepertinya tak akan bisa bersama dengan mahluk yang kehidupannya begitu abadi hingga ribuan tahun...
apakah suatu hari, xuan akan pergi meninggalkannya karena perubahan pada tubuhnya yang akan terus menua dan berkeriput hingga rambutnya memutih...