The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 119



Segerombol prajurit dengan kuda ditunggangan mereka terlihat melaju dengan kencang ditengah jalan utama kerajaan timur. Orang-orang yang ada di jalanan itu sontak langsung menjauh dari jalanan karena tak ingin terinjak-injak oleh kuda.


"Ituu... ada prajuritt"teriak salah seorang yang ikut berkumpul untuk melihat apa yang terjadi pada gadis pelayan yang bekerja di rumah penginapan.


Salah satu kuda berhenti tepat disebelah kerumunan orang-orang itu.


"Apa kau pelayan yang selamat ?!"tanya pemimpin prajurit pada gadis yang tengah menangis terisak-isak ketakutan.


"Ya, benar ini... ini anakku tuan... tolong... tolong lindungi kamiii...."ucap sang ibu gadis pelayan memohon pada kepala prajurit.


"Ibuu... ada monster... ibuu... ibuuu... ayo kita lariii"teriak gadis pelayan itu mulai terdengar melengking, menakuti setiap orang yang mendengar jeritannya.


"Bawa gadis itu dan ibunya ke tempat yang aman... dan untuk kalian semua jangan ada yang melangkah keluar dari rumah kalian... kami akan menangkap orang yang membantai rumah penginapan itu !!... sekarang gerbang untuk keluar dari kerajaan ini sudah ditutup !!!... siapapun yang melihat orang itu cepat katakan kemana dan jangan beri tempat bagi keduanya untuk bersembunyi di rumah kalian !!!... dan setelah kami memeriksa apakah gerbang memang benar tetutup rapat... kalian ikut kami menuju tempat rahasia untuk bersembunyi karena penatua suci yang akan melawan mosnter itu."ucap kepala prajurit itu pada orang-orang yang mulai berkumpul mengelilinginya.


"Tuan, apakah benar orang yang kalian cari itu membunuh seluruh orang yang ada di penginapan ??... jika iya, kenapa ia hanya menyisakan satu orang saja untuk lolos ? Seharusnya dirinya membunuh semua orang dan tidak membiarkan gadisi ini membuat kekacauan untuk dirinya sendiri bukankah itu hal yang sangat bodoh ??!...."ungkap salah seorang dari kerumunan itu.


Semua orang saling berpandangan satu sama lain ketika mendengar ucapan dari sosok yang mereka sendiri bingung dimana orangnya. Perkataan orang itu sangat masuk akal dan bisa diterima oleh mereka.


"Jika kalian ragu... silahkan kalian beraktifitas dan menerima kematian yang akan datang... kami sudah mengetahui bahwa orang itulah yang selama ini membawa kekacauan bagi kita, kami tidak berkata seperti ini jika kami sendiri tidak melihat bagaimana monster itu membunuh dengan brutal, beruntung pangeran dilindungi oleh penatua suci dan membuat kita melakukan pengorbanan dari tahun ketahun !!... jadi jika kalian ingin ikut dengan kami... hidup kalian akan selamat..."ucap kepala prajurit itu terdengar meyakinkan.


Satu sama lain dari mereka ada yang meragukan keputusan kepala prajurit kerajaan mereka dan ada pula yang percaya akan ucapan kepala prajurit sehingga mereka dengan cepat bergegas pergi dan mengemasi barang-barang mereka. Sebagian orang-orang itu bisa melihat sesosok anak kecil yang ternyata berbicara dengan lantang tadi, pakaian anak kecil itu terlihat lusuh dan tak terawat. Semua orang yang melihatnya sembari menggelengkan kepala dan kemudian pergi membubarkan diri mereka sendiri untuk bergegas pergi mencari perlindungan.


"Nak, dikemudian hari kau harus mengesampingkan rasa logikamu... cepat ikutlah kami pergi berlindung"ucap seorang pada anak kecil itu.


"Tidak, bibi... aku mengatakan hal yang sebenarnya"jelas anak kecil itu lagi tetap pada pendiriannya.


"Aku harap kau, nenek dan adik-adikmu baik-baik saja..."jawab bibi itu sembari menghela nafasnya, ia disatu sisi lebih percaya pada perkataan anak yang sudah sangat ia kenal ini akan tetapi ia juga tak ingin jika nyawanya harus sia-sia.


"Bibi, jika kau ikut dengan mereka... aku takut kau juga takkan selamat"jawab anak kecil itu dengan suara sedih.


"APA YANG KAU BICARAKAN, PENGEMIS KECILL !!!!"gertak marah seorang lelaki bertubuh tambun.


Lelaki tambun itu mendengar ucapan anak kecil berbaju lusuh yang dengan beraninya berbicara hal yang tak masuk akal baginya, ia berfikir bahwa apa yang dilakukan para prajurit kerajaan adalah hal yang benar dan sudah pasti para prajurit kerajaan itu takkan membahayakan apalagi mengancam nyawa mereka.


"Pergilah, Cen besar... ia hanyalah anak kecil"ucap bibi San berusaha meredam amarah pria tambun di didepan mereka.


"Pergi ?!!... kau sudah gila !!!... jangan harap kau akan menyesal dan memohon-mohon didepan gerbang dalam istana nantinya !!!... cih dasar kelompok bodoh !!"decih Cen sembari berbalik pergi dan berlari dengan tubuhnya yang penuh dengan lemak itu.


"Jhi kecil, dari mana kau dapatkan kata-kata kasar itu !!"ucap bibi San sembari menjewer telinga Jhi kecil.


"Maafkan aku bibi... aduhhh... adduhhh"ucap Jhi memohon sekaligus mengaduh karena jeweran ditelinganya.


"Baiklah, anak nakal sekarang kenapa kau berkata bahwa orang-orang itu takkan selamat dan hanya kita yang selamat ??"tanya bibi San pada Jhi.


"Ituu.... bibi bisakah ikut dengan ku ??"tanya Jhi sembari melihat sekeliling mereka yang sudah mulai dipenuhi dengan orang-orang yang membawa barang berharga mereka, dan menurutnya pemandangan saat ini yang ada didepan matanya terlihat sangat konyol.


Akhirnya tangan kecil Jhi membawa bibi San kesebuah tempat kumuh yang bibi san sendiri sudah tau tempat apa yang mereka datangi ini. Sudut kecil kumuh yang tak menarik perhatian siapapun, dan dipenuhi dengan para pengemis dan buruh kecil.


Entah kenapa jantung bibi san semakin berdetak takkala melihat banyaknya kerumunan pengemis dan buruh kecil serta orang-orang miskin yang berkumpul menjadi beberapa kelompok di beberapa sudut tempat dengan makanan dihadapan mereka. Setengah dari penduduk kerajaan timur adalah para rakyat kalangan bawah ini dan setengah dari mereka adalah kalangan tengah dan atas.


Mereka makan dengan sukacita dan berbincang dengan raut wajah penuh dengan kebahagiaan. Berbanding terbalik dengan di pusat kerajaan yang saat ini sebagian besar orang-orang sedang berlindung dibenteng dalam kerajaan.


"Ada apa ini ?"tanya bibi san tak percaya, Wajah wanita dewasa yang berada diusia pertengahan dua puluhan itu tercenga tak percaya.


"Bibi, lihatlah... aku tak berbohong kan bahwa semua yang dikatakan para prajurit itu bohong"ucap Jhi kecil dengan suara bangga.


"Kau... kalian... kalian ditipu mentah-mentah oleh monster itu dengan makanan ini !!"ucap bibi san.


"Tidak bibi... kami dilindungi disini apakah bibi tidak melihat kubah ajaib yang melindungi kita... aku juga ditugaskan peri cantik untuk membawa orang-orang yang tersisa"ucap Jhi dengan rasa bahagia sekaligus tidak senang karena tak ada yang percaya padanya.


Kubah ?!!...


Mata bibi san langsung melihat ke sekelilingnya dan ia bisa menyadari bahwa ada sebuah tabir penghalang tipis berwarna hijau kebiruan yang menyelubungi seluruh tempat ini.


Ia tahu bahwa yang menyelubungi tempat dimana mereka berdiri ini adalah tabir pelindung spiritual, semua ini ia ketahui karena dirinya dulu adalah kepala prajurit dari kerajaan timur dan karena raja mulai membelot jauh dari norma-norma kerajaan yang sudah ditulis dalam . Ia akhirnya memilih untuk mengundurkan dirinya dan menghapus identitasnya kemudian menjadi wanita penjual tanaman bunga.


Setiap tabir mempunyai auranya sendiri dan ia tahu tabir ini sangta kuat bahkan dirinya sendiri tak mengetahui bahwa ada sebuah tabir besar yang sudah terbentuk disudut lain kerajaan.


Siapa dan apa yang sedang terjadi ?..


Kenapa setiap kejadian yang ia lihat terasa seakan menggiring mereka untuk pergi berlindung ??...


Keringat dingin tipis diam-diam membasahi kening bibi san yang mulai gelisah...