
So ah merasakan banyak potongan fragmen hancur dan berantakan memenuhi ingatannya, terlihat sangat kacau hingga ia tak sanggup lagi untuk bertahan dan mengingatnya.
Saat ia terbangun dari tidurnya, so ah tak berpindah tempat dan tertidur disamping ayunan milik kedua harta berharganya.
So ah yang sudah berdiri dan menyapa kedua buah hatinya harus dikagetkan dengan fakta bahwa kedua buah hatinya sudah bertumbuh besar menjadi balita usia kurang lebih satu tahun setengah.
"Apa yang terjadi ?!!"pikir so ah syok.
Ia dengan cepat mengabaikan tubuhnya yang kram dan kaku, berjalan dengan cepat menarik lonceng disamping tempat tidurnya.
"Salam kepada yang mulia permaisuri agung"ucap rou shi dan rou shu.
"Abaikan sopan santun !!!"ucap so ah dengan suara panik, untuk pertama kalinya sebagai seorang ibu ia merasakan perasaan panik.
"Apa yang terjadi dengan anakku ??!... dimana kedua bayiku ??"tanya so ah.
Rou shi dan rou shu saling berpandangan satu sama lain, mereka kebingungan atas pertanyaan tuan mereka.
"Maaf yang mulia tetapi pangeran Yao dan putri Yue tetap berada disini... tak ada mahluk yang berani masuk kemari tanpa izin anda, yang mulia"ucap rou shu menjelaskan.
So ah terduduk diam.
"Ah... iya..."pekiknya pelan.
"Panggil... panggil ge ge..."ucap so ah lagi.
"Bukan !!.. panggil weida de baohu long dai... cepat"ucap so ah masih panik.
Suaranya yang bergetar terdengar panik sekaligus menyedihkan hingga siapapun akan merasakan simpatinya hanya karena mendengar suaranya. Tapi, rou shi maupun rou shu bingung dengan apa yang akan mereka jelaskan pada tuannya tentang pertumbuhan seorang bayi dari keturunan darah immortal agung.
Rou shi dan rou shu berfikir bahwa pertumbuhan kaum immortal sedikit lebih bermakna, mereka bisa sedikirtmerasakan bagaimana menjadi seorang bayi lemah sangat berbeda jauh dengan pertumbuhan para roh spiritual yang terbelenggu lama dan langsung terbangun di usia menginjak remaja.
Rou shi yang pergi dengan cepat mencari dai luan. Disisi lain juga diikuti rasa panik yang tertularkan dari tuannya menuju paviliun milik naga agung pelindung, ia berkeringat dingin dan tanpa rasa takut langsung mengetuk pintu kamar dai luan. Rou shi mengetuk dengan panik dan tidak sabaran hingga pintu dibuka ia masih berusaha untuk mengetuknya, jika bukan karena dirinya yang terbiasa berlatih beladiri kemungkinan tangannya yang lancang ini akan mengetuk dada bidang naga pelindung agung, dan membayangkannya saja cukup mengerikan.
"Tenangkan diri anda, yang mulia permaisuri"ucap rou shu pada so ah.
So ah hanya duduk, diam, dan kaku. sampai dai luan datang ia tetap pada posisinya, jika bukan karena rou shu yang memanggilnya ia takkan sadar dari kepanikannya.
"Apa yang terjadi, ah mei ??"tanya dai luan.
"Ge ge, anakku... anakku dimana ??"tanya so ah pelan.
Ia yang sedari tadi menahan air matanya agar tidak tumpah, tetap berusaha menahan air matanya hingga membuat matanya memerah basah.
"Apa yang kau katakan ??"tanya dai luan kebingungan.
Lelaki itu berjalan menuju ke ayunan bayi, ia membuka kain kelambu yang menutupi ayunan itu.
Hening.
Dai luan melihat so ah, kemudian kedalam ayunan lagi.
"Anakmu tidak hilang ah mei"ucap dai luan.
"Tidak, bayi ku dimana ??"tanya so ah lagi, masih tak percaya.
"Pertumbuhan mereka memang bisa dikatakan lebih cepat dari anak manusia biasanya"ucap dai luan mulai menjelaskan.
"Apa... apa yang kau katakan gege ?? ke..kenapa bisa seperti itu..."tanya so ah, bingung.
So ah dengan pelan berjalan kesebelah dai luan, ia membuka seluruh kain tipis kelambu diayunan itu. Ia menatap dua balita dengan pipi penuh lemak seperti roti kukus yang kini tengah tertidur lelap.
"Mereka punya kekuatan spiritual besar sama seperti ayah mereka, weida de tianghuang"sahut dai luan singkat.
Ia menatap balita mungil yang kini tengah terlelap tidur.
Pipi roti kukus penuh lemak yang putih lembut seperti tahu dan merah mekar seperti kelopak mawar, sangat imut.
"Apakah besok yao er dan yue er akan tumbuh besar lagi ??"tanya so ah pada dai luan.
"Kemungkinan tidak, ah mei... tapi kita tidak tahu"sahut dai luan yang kini sudah berjalan menjauh sejauh-jauhnya dari area ayunan itu.
"Berbeda dengan bayi manusia yang masih memerlukan banyak makanan dari ibu mereka, keturunan murni weida de tianhuang menyerap energi spiritual suci milik alam, ah mei jadi kau jangan khawatir... kedua anakmu tak akan apa-apa jika mereka tidak makan, selagi banyak energi suci murni milik alam keduanya akan tumbuh lebih cepat dan kuat.... di sini adalah tempat yang aman"ucap dai luan menjelaskan.
So ah hanya terdiam mendengar ucapan dai luan, jadi selama ini ia tak tahu alasan kenapa kedua anaknya tidak terlalu banyak meminum air asinya yang disisi lain walau mereka jarang meminum padanya, tubuh kedua anaknya begitu sehat dan gemuk.
Yue er yang bangun terlebih dahulu dengan malas merenggangkan tubuh kecil balitanya. Mata phoenix lembut milik yue er menatap so ah, mata kecil lembut yang kini tengah berkaca-kaca saat melihat so ah.
Balita itu memandang so ah dengan pandangan merajuk dan membuang mukanya, tak ingin menatap so ah. Yue er dengan tangannya yang masih rapuh kecil putih menggoyangkan tubuh kakak lelakinya, Yao er.
Balita mungil itu menggerakkan tangannya dan dengan keras memukul tubuh kakak lelakinya.
So ah masih belum bisa mencerna dengan apa yang dilakukan yue er hingga ia mendengar rengekan kesal dari arah sampingnya.
Yao er terbangun, mata tajam phoenix balita kecil itu menatap tajam sosok yang menganggu tidurnya, terlihat sangat menggemaskan.
Yao er yang kesal dengan gangguan yue er padanya, ia membalikkan tubuh kecilnya dan balik memukul yue er.
Wajah kecil yue er memerah menahan tangisan, ia kembali berbalik menatap so ah. Mata cantik milik anaknya itu memerah dan semakin berkaca-kaca, bibir merah alami yue er juga ikut mencebik.
"Hu.."
Terdengar sedikit suara yue er yang lolos keluar dari kedua belah bibir.
"Huu..."
"Huu... huueee"isak yue er menangis keras.
Gerakan tangan kecil balita itu bertambah keras memukul kakak lelakinya.
Yao er terdiam saat menatap adik perempuan kembarnya yang disisi lain tubuhnya bergetar karena menangis dan marah padanya. Tatapan balita kecil itu acuh tak acuh, tapi saat tangan kecil yue er memukul kembali tubuhnya. Kembali, tak mau kalah ia memukul adik perempuan kecilnya.
So ah menatap kedua anaknya yang kini sudah bisa duduk dan tengah bertengkar hebat, mendadak kepalanya bertambah sakit.
"Ge ge, tolong aku"ucap so ah tak berdaya, menatap dai luan.
Dai luan terdiam mematung menatap darah daging dari weida tianghuang yang terlihat dingin serta kejam sekarang keturunan kaisar agungnya mempunyai sifat macam berandalan pasar versi kecil. tak ada sifat kalem dan wibawa yang di turunkan kaisarnya !!... apakah mungkin sifat asli xuan seperti ini ???... pikir dai luan tertawa menghina dalam hatinya.
"Tolong gendong yue er"ucap so ah pada dai luan.
"Ti..tidak bi..bi..bisa aku menggendong yao er sa..saja"sahut dai luan cepat.
Tapi melihat tatapan memohon so ah yang terlihat kewalahan, ia langsung menggendong balita kecil yang juga mulai ikut menangis.
Hingga Tangisan keras pecah diruangan itu, di ikuti dua mahluk yang panik tidak tahu dengan urusan mengurus mahluk hidup kecil yang rapuh itu.
Ribut.
Kacau.