The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 107



Jing mei terdiam duduk diatas ranjangnya, raut wajahnya datar tanpa ekpresi apapun disana.


Tatapan matanya yang kosong hanya bisa menatap hampa kearah sebuah kotak mewah berukuran sedang yang berada tepat di tempat dimana pakaiannya berada.


Semua yang telah terjadi padanya sudah ia  ketahui dari tabib wanita dari klan dunia bawah yang membantunya.


Kenapa bukan ia saja yang mati !!...


Pernyataan itu selalu mencuat keluar dari pikirannya ketika ia mengetahui apa yang terjadi.


Bayinya tak bisa diselamatkan !..


Ia diracuni dan dirinya dengan bodohnya tak menyadari bahwa racun itu sudah mulai meresap mendarah daging didalam tubuhnya hingga membuat bayinya menjadi korban dari keganasan rasa cemburu.


Jing mei mengelus perutnya yang rata itu dan dengan pandangan lemah ia berjalan menuju ke kotak sedang mewah, melihat isi dalam kotak itu yang hampir penuh dengan pakaian mungil yang sudah ia rajut sendiri.


Air matanya tanpa sadar menetes dan terus menetes membasahi pakaian mungil itu. Ia mengelus pakaian ditangannya dengan lembut seakan membayangkan bahwa bayinya ada disana memakai baju mungil itu.


Zheng bai yang masuk kedalam kamar jing mei menatap punggung wanita dengan pakaian tengah tipis berwarna hitam yang sedang membelakangi dirinya.


"Apa yang kau lakukan", ucap zheng bai tiba-tiba.


ia dengan suara dinginnya mengagetkan jing mei.


"Cih, apakah kau kecewa karena bukan kau yang terkena racun itu", desis zheng bai lagi. ia dengan santai duduk dan menatap kearah luar jendela dengan pandangan mencemooh.


Jing mei hanya diam mendengar suara zheng bai, ia tetap terpaku diam memunggungi raja dunia bawah itu tetap tak perduli dengan apa yang diucapkan lelaki kejam itu.


Hening.


"Maafkan jing mei karena tidak sadar anda sudah ada didalam ruangan ini yang mulia "ucap jing mei akhirnya memutus rantai keheningan diantara mereka, matanya yang semula sayu berubah menjadi tatapan tajam. Ia dengan sopan memberi salam kepada zheng bai, suaranya yang tanpa intonasi itu terdengar dingin dan acuh tak acuh.


Jing mei perlahan menuangkan teh hitam untuk zheng bai dan mulai menjamu lelaki itu.


"Apakah kau tahu siapa yang membunuh bayi itu", ucap zheng bai pada jing mei, ia bisa melihat tangan yang sedang menuangkan teh itu sedikit bergetar samar dan sudut bibirnya langsung tersenyum sinis.


"Harusnya ada kasih sayang antara ibu dan anak bukan ?", tanya zheng bai lagi pada jing mei.


Jing mei tertegun mendengar ucapan zheng bai, hatinya ingin memberontak tapi ia sudah sangat lelah. Harapannya seakan sudah diinjak sampai disudut yang paling menyedihkan, dan bukankah jika bayinya tetap hidup itu sama dengan ia yang dengan keji mengorbankan mahluk mungil itu untuk menjadi mesin pembunuh bagi zheng bai karena jing mei tau apa yang akan lelaki itu lakukan. Tak ada kasih sayang diantara mereka, dan ia hanya dimanfaatkan sebagai wadah bagi para mesin pembunuh yang belum terbentuk itu walau ada rasa bersalah yang amat mendalam terasa didalam hatinya tapi ia tahu mungkin takdir sedikit memberikannya sebuah keputusan walau pada akhirnya ia juga merasakan bagaimana belahan jiwanya, bagian dari darah dan dagingnya yang lain harus pergi dengan cara yang sangat menyedihkan. Tapi itu mungkin lebih baik bayinya pergi, dengan begitu ia takkan terus merasa bersalah karena sudah melahirkan sosok yang dikemudian hari akan membunuh banyak jiwa mahluk yang tak bersalah.


Jing mei hanya diam tanpa kata dan terus menuangkan teh hitam untuk dirinya sendiri kemudian ia menyesap teh yang terasa sedikit pahit manis dilidahnya.


"Apakah kau sudah menjadi sampah dungu dan bisu karena kehilangan bahan gagal itu !!!"desis zheng bai dengan suara kesal, ia menyentak cangkir teh yang ia pegang dengan kasar.


Zheng bai sangat kesal dengan wanita didepannya ini, ia kesal karena jing mei tak meluapkan emosinya seperti biasa malah wanita itu dengan licik bersikap sopan padanya. Apalagi untuk sekarang ini, ia juga kesal kepada ling zhi rasanya ia sangat ingin melumatkan tubuh beracun wanita itu untuk dijadikan pupuk kotoran di penjara bawah tanah kerajaan miliknya ini, dan karena ling zhi juga ia harus kehilangan banyak sumber daya yang sudah ia berikan untuk bayi yang ada didalam perut jing mei.


"Bedebah !!... jalang busuk !!!"umpat zheng bai yang kemudian pergi dari kamar jing mei dengan penuh amarah.


Jing mei hanya menutup matanya mendengar pintu besar yang dibanting dengan kasar itu, ia hanya menatap keluar jendela dengan pandangan tak terbaca.


Disisi lain, wan yao sudah melemparkan tubuh ling zhi didepan singgasana milik zheng bai. Sepanjang jalan yang ia lalui ceceran merah darah yang ia seret telah mengering dan meninggalkan jejak mengerikan tapi hal itu juga sebagai peringatan untuk semua mahluk yang ada di bawah perintah kerajaan dunia bawah bahwa siapapun itu yang bertindak tanpa mematuhi apa perintah dari raja dunia bawah maka pilihannya hanya satu yaitu kematian yang keji !!...


Ling zhi yang masih diambang batas kesadaran dan merasakan tubuhnya yang sudah diseret dengan kejam kemudian dilemparkan dengan kasar langsung memekik marah.


Darah yang keluar dari setiap sudut luka menganga yang ia terima di sekujur kulitnya membuat penampilannya seperti seonggok daging berdarah menjijikan.


Matanya yang ungu itu melotot marah ketika wan yao membuka lilitan sulur beracun miliknya dan hanya menyisakan kedua kakinya yang terikat penuh tak bisa bergerak.


Ling zhi meraung marah takkala tau ia berada di mana dan ia langsung dengan tepat menebak siapa yang berani melakukan hal ini padanya.


"Dimana bajingan itu !!!", teriak ling zhi marah, urat-urat ungu terlihat mulai menyala membuat kulitnya yang pucat berdarah itu terlihat seakan terpecah-pecah retak mengerikan.


"Sssttt...."desis zheng bai dari arah kegelapan, lelaki itu berjalan mendekati ling zhi yang tersungkur tak bisa bergerak.


"Lepaskan aku !!!... bukankah ini tidak sesuai dengan perjanjian !!"ucap ling zhi dengan suara geram.


"Perjanjian ?"tanya zheng bai dengan suara main-main.


"Bukankah kita tidak punya sebuah perjanjian ? Hahahaha kau sungguh pintar membuat sebuah lelucon menjijikan"desis zheng bai lagi, ia dengan kejam menginjak kaki ling zhi yang masih tertancap duri tajam sulur beracun.


"Aaakkhhhh.... apa yang kau lakukan !!!"teriak ling zhi kesakitan, ia menggeliat dengan keras dan berusaha membebaskan dirinya sendiri dari cengkraman duri sulur tapi semakin ia bergerak semakin tajam pula duri-duri itu menusuk setiap inci kulitnya hingga menembus daging.


"Panggil ratu jing mei"perintah zheng bai pada bawahannya.


Ia dengan santai duduk diatas singgasananya dan menatap ling zhi yang penuh dengan genangan darah beracun milik wanita itu sendiri.


Ia sedikit kagum pada ling zhi karena wanita itu tak mati dengan cepat atau mungkin wan yao sengaja membiarkan ling zhi setengah hidup dan mati agar ia bisa dengan puas menyiksanya, tapi zheng bai tak perduli akan hal itu.


Jing mei yang dipanggil raja untuk menghadap keruang singgasana langsung mengernyit bingung tapi ia tetap pergi kesana. Entah apa yang terjadi tapi dari apa yang ia dengar dari nada bawahan zheng bai yang gemetaran ketakutan sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.


Sampai diruang singgasana yang gelap itu, jing mei melihat sosok lain yang sedang tergeletak dengan kondisi menyedihkan karena banyak darah yang berceceran disana dan bahkan ia baru menyadari bahwa corak merah disepanjang jalan menuju ke ruang singgasana ini juga mungkin darah milik sosok penuh darah ini.


"Ratu ini menyapa yang mulia raja dunia bawah"ucap jing mei memberikan salamnya kepada zheng bai, ia mengacuhkan sosok didepan zheng bai.


"Bunuh mahluk didepanku dan aku akan membebaskanmu"ucap zheng bai tiba-tiba.