
Huang de yang berada didalam rumah penginapan kesal tak menemukan tanda-tanda bahwa sosok yang ingin ia lihat tidak menunjukkan sosoknya, ia yang sudah hampir kehabisan kesabaran karena terlalu lama menunggu kedatangan mangsanya, matanya langsung berkilat saat ia melihat ada seseorang yang masuk kedalam rumah penginapan disebelahnya melewati jendela disamping kanannya itu.
"Hmm..."ucapnya sembari memicingkan matanya, yang ia lihat hanyalah sesosok bayangan hitam disinari sinar bulan yang kemudian hilang dengan cepat.
Huang de langsung memanggil pemilik penginapan dan memerintahkannya untuk mengundang sosok di sebelah rumah penginapan itu sebagai tamu kehormatannya, dengan disertai ancaman pemilik rumah.
"Maafkan saya yang mulia, tetapi ini sudah sangatlah larut jika harus mengundang keduanya menjadi tamu anda"jawab pemilik rumah penginapan itu takut-takut, disisi lain ia juga merasa waspada kepada tuan yang menyewa sisi lain rumah penginapan miliknya itu, ada rasa ketakutan yang menekannya saat berhadapan dengan tuan penyewa itu. Dan sekarang dirinya harus mengikuti perintah yang tak masuk akan dari pangeran dihadapannya ini.
"Kehh, kau sedang mempertanyakan apakah aku tidak punya sopan santun dan otak hah !!..."desis huang de tajam.
"Ampuni... ampuni hamba pangeran.... yang rendahan ini tidak bermaksud untuk menyinggung yang mulia"jawab tuan pemilik penginapan gemetaran ketakutan.
"Pergi, undang mereka untuk menemui pangeran ini besok pagi !"desis huang de kesal.
Pemilik rumah penginapan itu langsung mengundurkan dirinya dengan ketakutan dan langsung cepat-cepat bergegas pergi dari tempat itu, entah dosa apa yang telah ia lakukan hingga bertemu dua gunung yang dua-dua ia tak berani singgung. Tubuhnya yang tambun itu mengeluarkan sapu tangan saat ia mengelap wajahnya yang terus mengeluarkan keringat dingin saat ia dengan cepat berjalan pergi menjauh dan hilang memasuki salah satu bilik ruangan lain.
Xuan yang mendengar semua perkataan huang de sedikit mengerutkan alisnya, apa yang diinginkan orang diseberang rumah penginapan itu ia tau tapi ia hanya memikirkannya sekilas dengan malas.
"menjijikan"desis xuan dingin.
Xuan berbaring disebelah so ah, ia menatap wajah tidur yang terlihat lembut dan tenang itu dengan pandangan penuh arti, dirinya memainkan rambut panjang hitam yang terhampar berantakan diatas tempat tidur mereka.
Rambut.
Wajah.
Ia tak pernah merasa bosan menatap setiap sudut tubuh so ah melainkan ia terus bertambah serakah karena wanita ini, rasa serakah yang tak ingin satu orangpun menyentuh ataupun memandang miliknya ini.
Ia beralih ke perut buncit yang tersembunyi di bawah selimut itu dan mengelusnya lembut, ia bisa merasakan salah satu dari mereka sudah sedikit lebih membaik dari sebelumnya. Xuan sedikit menurunkan tubuhnya hingga tepat didepan perut so ah, ia mengecup lembut perut itu.
"Apakah kalian merasa kesakitan selama ini ?"tanya xuan lirih.
So ah yang terbangun karena gerakan xuan langsung terdiam saat ia mendengar suara lirih xuan, ia hanya diam tak berani bergerak dan berusaha mengatur nafasnya agar tetap stabil.
"Ya, itu sudah pasti... tapi kalian juga yang selama ini melindungi niangniang, fuqin sangat bangga dan sekarang giliran fuqin yang melindungi kalian semua, jadi sekarang jadilah anak baik dan jangan menyusahkan niangniang"ucap xuan yang menjawab pertanyaannya sendiri, ia perlahan mengalirkan energi spiritualnya ke perut so ah, seakan dihisap oleh sesuatu dengan lembut energi itu masuk dan kemudian hilang. Tanpa mengubah posisinya, tangannya memeluk tubuh so ah.
So ah merasakan rasa asam di hidung dan mulutnya, matanya berair dan ia ingin menangis saat mendengar ucapan xuan, disisi lain ada rasa hangat dan nyaman terasa memasuki perutnya dan ia bisa merasakan ada sedikit energi yang membuat tubuhnya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Ia juga bisa merasakan tangan suaminya yang memeluk lembut tubuhnya, perlahan so ah membelai lembut kepala xuan.
"Kenapa ?? Apakah aku mengganggu tidurmu ?"tanya xuan dengan suara serak, ia mendongak menatap so ah.
"Tidak... tapi terima kasih"jawab so ah lembut, suaranya tertahan dan sedikit sengau.
"Tidak apa-apa.... semuanya akan baik-baik saja..."jawab xuan lembut.
Hening.
Xuan mendengarkan hembusan nafas tenang so ah yang perlahan-lahan berubah menjadi dengkuran lembut yang menandakan bahwa sosok yang sedang memeluknya ini sudah memasuki dunia mimpi.
Xuan tidak menurunkan kewaspadaannya, ia hanya berfikir mungkin lebih baik mereka tidak menarik perhatian tikus-tikus busuk lainnya.
Rantai-rantai hitam terlihat mengikat tubuh yuan, kepala yuan yang menunduk tak bisa memperlihatkan ekspresi lelaki itu.
"Kenapa kau begitu lemah eh"desis xuan dingin.
Ia dengan kasar mengangkat kepala yuan, tatapan mata tajam menembus penglihatannya dan xuan hanya tersenyum mengejek takkala yuan mendecih kepadanya.
"Tubuh ini takkan bertahan lebih lama, apakah kau tahu itu ?"ucap xuan tiba-tiba.
"Apa yang kau katakan !!"desis yuan dingin.
"Hahaha bukankah kau yang bertarung dengan naga pelindungku dan dengan bodohnya tubuh ini terkena racun ular kuno"jawab xuan santai, ia menciptakan kursi dan duduk didepan yuan.
Yuan yang pikirannya kacau tak bisa mengingat dengan jelas apa yang telah terjadi, Ia menatap tajam sosok yang sangat mirip dengannya itu.
Racun.
Kepergian so ah.
Amarahnya.
Kegilaannya.
Dan ia yang dengan gila menusuk perut wanita yang ia lindungi.
Permaisurinya.
Rasa muak, amarah dan kebencian bercampur menjadi satu karena tau bahwa wanitanya lebih memilih melindungi iblis yang sedang berkembang ditubuh wanita itu sendiri.
"Apa yang sudah kau lakukan pada pikiran ku !!"desis yuan dingin, ia menahan rasa sakit yang sangat parah karena berusaha mengingat segalanya dengan jelas.
"Pikiranmu ?... hahaha bukankah kau sangat membenci darah dagingku yang sedang menunggu waktu untuk melihat dunia heh... dan kau juga ingin membunuh so ah hahaha sungguh mengagumkan !!"sentak xuan dengan suara dingin. Aura hitam yang menyelubungi dirinya berubah berat dan mencekik.
"Anak ? Darah yang mengalir ditubuhmu adalah milik iblis pembawa kehancuran... aku berjanji aku akan membunuhmu dan semua keturunanmu tanpa terkecuali cih walaupun so ah melindunginya takdir mereka adalah tetap pada kematian dan akan ku pastikan itu dimasa depan...."ucap yuan tajam.
Ikatan rantai-rantai itu semakin agresif, erat mencengkeramnya, Yuan tertawa gila, mendongak memelotot tajam kearah xuan.
"Apakah ini yang kau bisa heh ?.. apakah kau tau siapa iblis yang kau hadapi hahaha... kau produk gagal, separuh jiwa kekuatan yang agung ini harus dinodai darah kotor dari keturunan lain"desis xuan dingin.
"Keh, apakah kau mau membuatku dengan sukarela menyerahkan separuh serpihan kekuatan ini hahaha kau sangat tak tahu mau xuan !!,"desis yuan.
Ia teramat sangat kesal dan ingin sekali rasanya ia menerjang xuan dengan pedangnya akan tetapi jika bukan karena cengkeraman dari rantai-rantai terkutuk yang melilit ditubuhnya dan ia bisa merasakan bahwa rantai-rantai inilah sumber dari kekacauan yang sedang terjadi didalam jiwanya. Inti kekuatan spiritualnya terasa sangat panas terbakar dan secara acak mulai menerjang setiap titik pusat kekuatan yang ada di jiwanya sekarang ini.
Yuan yang terus berontak mulai melemah, energinya seakan terhisap sedikit demi sedikit kedalam rantai-rantai itu dan ia sudah tau dengan pasti saat xuan memberinya lemparan kekuatan spiritual ia langsung tak sadarkan diri, tenggelam kedalam lautan kegelapan.
"Jika cara halus tak bisa bukankah lebih menyenangkan jika cara kasar kukeluarkan hahahaha.... dan sesekali lihatlah bagaimana wanitamu begitu patuh padaku"desis xuan sebelum yuan kehilangan kesadarannya.
Xuan hanya menatap sosok yang penuh dengan lilitan rantai hitam itu dengan pandangan datar penuh perhitungan.