
DUMMMM....
DUMMMMMM..
BRAKKK... BUKKK..
GGGRRRRGGRRR....
wan yu dan chen qi terdiam melihat pemandangan luar biasa didepan mereka sekarang ini.
Pohon-pohon raksasa yang tak pernah mereka jumpai di ketiga dunia kini telah berubah menjadi benteng raksasa. Dibawah benteng itu terlihat hewan-hewan buas yang saling menggigit dan menabrakkan tubuh mereka satu sama lain karena gila akan aroma darah milik so ah.
Kuat, dan tak terkalahkan.
Itu terlihat dari benteng pohon yang terjalin satu sama lain dengan kokoh.
"Tapi,masih amatiran lemah", desis wan yu dingin.
Wan yu terkekeh.
"Apa yang kau maksud eh", tanya chen qi.
"Kau lihat disepanjang pohon yang saling menjalin satu sama lain itu menyimpan banyak celah, sekali di hancurkan semua hancur", ucap wan yu santai.
Itu karena pencipta dari benteng ini belum sempurna, aura spiritual lemah yang ia rasakan dari setiap jalinan tak akan bisa menghalau mahluk dengan kekuatan spiritual lebih besar.
Ia yang awalnya sedikit goyah melihat banyaknya pohon raksasa dihadapannya ini menjadi percaya diri kembali saat merasakan bahwa pohon-pohon raksasa dihadapannya hanya bisa menghalau tenaga hewan-hewan buas miliknya.
Bagaimana jika dihancurkan ???... haha itu mungkin akan lebih menyenangkan, pikir wan yu.
Ctakk...
Ia dengan santai melemparkan bola hitam sebesar kelereng kearah jalinan pohon raksasa dihadapannya.
Wan yu tersenyum gila melihat kekuatan penghancur miliknya yang akan dengan keras menghantam benteng dihadapan mereka itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hening.
.
.
.
.
.
.
Hanya terdengar suara raungan kasar dan juga debuman keras benda yang saling bertabrakan satu sama lain.
Chen qi hanya terdiam saat melihat bola yang wan yu lemparkan tak membuahkan hasil yang diinginkan lelaki itu.
"Bedebah bodoh", desis chen qi dingin.
"Ck, apa yang kau katakan !!!", bentak wan yu yang sangat malu.
"Lihat apa yang akan aku lakukan", ucap chen qi.
Lelaki yang telah menghisap kekuatan spiritual milik saudaranya itu dengan cepat melesat jauh diatas para hewan bias yang kini semakin bertambah banyak.
Chen qi dengan licik menghantam jalinan pohon raksasa dihadapannya ini dengan tinju spiritualnya.
"Lagii", sentak chen qi tertawa girang.
"Lagii... lagii", ucapnya lagi yang semakin gila menghantam tinjunya.
Brakk...
Brakkk...
Brakkkk....
"Bedebah busuk !!!", umpat chen qi kasar hingga saat tinju terakhirnya ia memberikan kekuatan penuh disana.
Krakk...
Krakkk....
Grrrrrroooooooooaa....
Bertepatan dengan jalinan pohon yang membentuk benteng itu hancur diikuti dengan hewan-hewan buas yang menyerbu masuk kedalam.
"Setelah ini, ini akan lebih mudah" ucap chen qi santai.
.
.
.
.
"YANG MULIAAA", teriak rou shi.
So ah hanya terduduk lemah saat rou shi datang menghampirinya. Tangannya yang menyentuh tanah bisa merasakan getaran hebat dari kejauhan. Benteng yang ia buat telah runtuh dan sekarang ia ditambah lagi dayangnya dalam bahaya besar. Tubuhnya juga terasa sangat lemas dan lemah karena kekuatan yang ia keluarkan telah mencapai batasnya.
Mata sayu so ah menatap lemah sosok dayang dihadapannya ini yang kini tengah panik berusaha memapah tubuhnya.
"Tinggalkan aku", ucap so ah pada rou shi.
"Tidak, hamba tidak akan pergi", ucap rou shi cepat.
Hening.
"Kau akan mati jika bersamaku", ungkap so ah dengan suara lemah.
"Tugas hamba hanyalah melayani anda, yang mulia permaisuri agung", sahut rou shi cepat.
"Kita harus pergi menuju lembah utara, disana tempat paling aman, yang mulia", ucap rou shi lagi.
"Kita sudah terlalu jauh", sahut so ah lemah.
Insting so ah bisa merasakan bahwa kini mereka telah terpojok, dan lagi tak akan ada kesempatam jika mereka harus kembali ke gunung utara, dan jika mereka tetap melakukan itu berarti mereka harus memutar jalan dua kali lipat dan kini tubuhnya begitu lemah.
Ia tak ingin membebani rou shi, tapi ia tidak bisa juga membiarkan dayangnya ini harus melindunginya.
"Maafkan hamba yang mulia, tetapi ini keputusan hamba", ucap rou shi yang dengan cepat membalut seluruh tubuh tuannya dengan sulur teratai.
"Apa yang akan kau lakukan ??", kaget so ah.
"Anda hanya perlu beristirahat sebentar yang mulia", sahut rou shi cepat.
Kini, hal pertama yang harus ia lakukan adalah menutup seluruh luka milik tuannya walaupun itu hanya bisa sedikit menyembuhkan sebagian luka yang parah setidaknya luka milik tuannya takkan mengeluarkan lebih banyak darah lagi.
"Lepaskan aku !!!... apa yang kau lakukan ??!!... rou shii... rou...", teriak so ah panik hingga suaranya menghilang dari balik sulur yang kini mengambang diudara, membalut tubuhnya.
Sebelum tubuh so ah memasuki sulur buatan rou shi, dayang itu telah lebih dulu memasuki obat spiritual yang ia temukan kedalam tubuh so ah. ia tak tahu obat jenis apa itu, tapi yang pasti hal itu berharga karena dengan obat itu aroma darah di tubuh tuannya menghilang. rou shi tanpa menunda lagi, ia bergegas pergi ke arah berlawanan. Ia harus menemukan tempat yang tinggi agar bisa menghindari hewan-hewan buas itu dan juga dua tamu yang tidak diundang ini, ia harus bisa mengelabuhuinya.
Getaran-getaran besar ditanah serta raungan-raungan mengerikan mulai terdengar sayup dibelakang tubuhnya, walaupun begitu ia tak berani melonggarkan tubuhnya barang sedikitpun. Walaupun ia harus mati !! Tuannya akan tetap harus hidup, itu yang ia pikirkan.
BUMMM...
BUMMMMM....
Chen qi tertawa senang melihat mahakaryanya, kini hutan belantara di bawah lereng gunung telah hancur. Banyak kawah dalam, banyak hewan buas berkeliaran dan bahkan pohon-pohon tak lagi menancapkan akar mereka.
Kekacauan besar telah mereka lakukan disebagian perbatasan wilayah selatan.
Sedangkan itu, hewan-hewan dan mahluk spiritual yang telah mereka sebar masih terus berusaha untuk menyerang wilayah manusia.
Utara.
Barat.
Timur.
Selatan.
Keempat wilayah besar itu secara bersamaan telah mengalami hal yang sangat mengejutkan sekaligus menakutkan. Seluruh prajurit dikeempat wilayah telah berjaga didepan benteng pelindung spiritual yang telah long lemparkan.
Keadaan sangat mencengkam, senyap membawa teror.
Di kekaisaran Qi.
"Yang mulia, apakah kita tidak bisa mengirim para prajurit istimewa untuk membawa kembali Wangye dan Wangfei ??!!", tanya permaisuri Shui Lan.
"Tenangkan dirimu, istriku", sahut lembut kaisar qi yang berusaha menenangkan istrinya.
"Aku yakin, Yuan takkan bertindak gegabah dengan apa yang akan ia lakukan", ucap kaisar Qi.
"Tapi, sepertinya akan ada badai besar yang akan menyerang", lanjut kaisar Qi lagi.
.
.
.
.
Kekaisaran Dunia Atas.
Yuan yang murka melihat bagaimana pasukan long harus mati sia-sia mendesis mengerikan. Awalnya ia yang tak bisa menarik long untuk kembali ke kekaisaran dunia atas merasa kesal tapi saat mendengar dan melihat apa yang telah terjadi rasa amarah yang meluap tak bisa ia kendalikan.
Long telah menemukan sosok lain yang juga ia kenali siapa mahluk itu !!!...
Dan lagi melihat bagaimana ketiga jenderal agung milik kekaiaaran dunia atas tak berkutik dan terlihat lemah menambah emosi kesalnya.
"Menjijikan", desis yuan saat mendengar ucapan cheng rou.
"KUMPULKAN SELURUH PASUKAN", perintah yuan.