The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 215



"Yang mulia, sebaiknya kita pergi dari wilayah ini dan kembali", ucap rou shi cemas.


"Ada apa ??", tanya so ah.


"Diam", ucap so ah cepat.


Derap langkah berat yang terdengar getarannya dari kejauhan hingga datang juga aliran angin besar seperti badai yang perlahan datang mendekati mereka, ia bisa merasakannya begitu juga dengan rou shi yang mulai menegang.


"Yang muliaa !!!...", panggil rou shi saat tiba-tiba melihat tubuh tuannya itu terbawa burung besar raksasa.


"Apa-apaan ini !!!.... astaga", ucap rou shi panik, ia dengan cepat mengejar burung yang membawa tuannya itu hingga saat ia sampai dipohon tertinggi.


Keadaan yang lebih parah mengejutkannya, wilayah utara telah kacau bahkan dari kejauhan ia mendengar teriakan manusia yang diserang binatang buas spiritual. Ia menyesali kebodohannya, ia sangat menyesalinya !!! seharusnya ia tak menuruti ucapan burung egois itu dan tuannya tetap aman!!!...


Tidak !!!, sekarang yang paling penting adalah tuannya. rou shi menggelengkan kepalanya, ia berusaha sadar kembali. Rou shi mengikuti burung raksasa yang membawa so ah, ia mengejar burung itu.


GGGRRRROOOOOAAAAARRRRR ....


GGGRRRRRR ....


GGGRRRRROOOAAAAAAA ......


Geraman besar disertai suara mengerikan didepannya mengagetkan rou shi.


"Ck", desis rou shi kesal saat tubuhnya tak bisa mengikuti kecepatan burung spiritual itu.


Ia mengeluarkan cambuk teratainya dan bertarungan dengan binatang buas spiritual yang kini tengah menghalanginya. Cambukan demi cambukan rou shi mengenai tubuh binatang buas spiritual yang menyerangnya, darah dan daging berceceran kesegala arah saat cambuk dengan aliran kekuatan spiritual itu bertemu dengan tubuh besar binatang buas spiritual.


Lengkingan kesakitan terdengar nyaring menghantarkan gelombang kejut yang mengacaukan sekelilingnya. Rou shi dengan cepat menghindari tubuh besar milik hewan buas yang telah ia bantai itu dibelakangnya, ia mengabaikan binatang-binatang kecil spiritual yang memakan tubuh setengah hidup milik binatang buas spiritual dibelakangnya itu.


Rou shi melihat burung spiritual raksasa yang membawa tubuh tuannya terbang semakin jauh, hanya terlihat titik hitam yang semakin pudar diatas langit.


Sedangkan itu dibelakangnya ia mendengar banyak geraman bahaya, saat rou shi menolehkan kepalanya untuk melihat situasi dibelakang tubuhnya sontak saja matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat.


binatang kecil spiritual yang memakan tubuh binatang buas spiritual itu secara bertahap merubah bentuk tubuh mereka. Kini bukan lagi satu binatang buas spiritual melainkan bertambah dan terus bertambah, bahkan mungkin tingkatannya lebih kuat dari yang pernah ia lihat.


Rou shi dengan binatang buas spiritual yang mengejar dibelakangnya terus berlari, ia takkan sanggup jika harus melawan puluhan binatang buas spiritual itu. Sebisa mungkin dirinya harus menghindari para mahluk gila itu.


Raungan keras terdengar bergemuruh.


So ah yang berada dalam cengkeraman burung raksasa tengah berusaha untuk melepaskan dirinya dari cakar-cakar tajam burung. Darahnya sedikit mulai merembes keluar karena goresan tajam cakar burung itu. Saat so ah tak sengaja mengalihkan pandangannya dan melihat kondisi dibawahnya, ia terpana sekaligus terkejut.


Hancur.


Apa yang ia lihat kini sangat mengerikan.


Hewan-hewan mengerikan asing yang mengeluarkan suara geraman liar mereka, bangkai yang dimakan satu sama lain oleh hewan-hewan buas yang kini tengah berebut makanan tubuh mangsa mereka hingga perubahan tubuh hewan buas itu sangat membuat diri so ah terkejut. Dan kini, ia melihat dari berbagai arah hewan hewan itu tengah mengejar sesuatu dengan liar.


Disisi lain cengkeraman burung raksasa ditubuhnya semakin berat hingga membuat dirinya susah untuk bernafas.


Burung ini ingin membunuhnya !!!..


"Ugh", ucap so ah menahan rasa sakit, ia berusaha melihat sekelilingnya dan matanya langsung tertuju pada bukit tinggi tepat dimana burung ini akan melintasi tempat itu.


Setelah menimbang dengan cepat, so ah merentangkan tangan kanannya. Ia berusaha menumbuhkan pohon disekitar bukit yang sebentar lagi akan ia lewati. ia yang hanya berbekal dari ingatan asing yang ia ingat berusaha membuatnya menjadi nyata.


BRUUUAAAAKKKK ....


KRAKKK....


KRAKKKK....


Batang-batang besar tumbuh dengan cepat, so ah sendiri terpana saat melihat apa yang telah ia lakukan. Kini dihadapannya bukan lagi batang pohon yang ia inginkan melainkan berbentuk pohon raksasa !!!...


Disaat panik, ia melihat ratusan hewan buas mulai berlarian menuju kearah pohon-pohon itu. Para hewan itu mulai merobohkan pohon yang telah ia tumbuhkan.


GRAAAAA ...


"Akhh", desis so ah kaget saat tubuhnya secara tiba-tiba menghantam keras ranting-ranting pohon buatannya sendiri.


Goresan kecil tapi dalam menggores pakaiannya, dan perlahan darah miliknya mulai merembes keluar.


Disisi lain, rou shi yang mencium aroma darah milik tuannya langsung tersentak panik. Ia dengan cepat melesat pergi menyusul tuannya.


Kekacauan besar terjadi, hewan-hewan buas mulai menggila digunung utara dan beberapa dari mereka mulai berlari menurun gunung mulai masuk kedalam wilayah milik manusia.


"Apa yang terjadi ??", tanya cheng rou pada dirinya sendiri. getaran keras disekitarnya hanya menambah rasa kesal, cheng rou mendecih.


Yi, Hui, dan bingbing yang mendengar ucapan cheng rou hanya terdiam. Mereka juga ikut merasakan getaran keras diatas tanah yang kini mereka injak, dan juga suara gemuruh hewan buas terdengar begitu jelas.


Serangga-serangga hitam yang mengelilingi cheng rou pun ikut membentuk diri mereka menjadi lingkaran besar yang melindungi tuan mereka.


"Haaaa", desis cheng rou menyeringai saat seekor burung hitam kecil datang padanya.


"Hahahaha ternyata sudah dimulai", ucap cheng rou tertawa senang.


"Anakku memang pintar", ucapnya lagi sembari terkikik bangga.


Yi, Hui dan bingbing melihat aneh tindakan cheng rou, apalagi ucapan wanita itu. Saat ini, aura wanita dihadapan mereka bukanlah aura yang dikeluarkan oleh cheng rou dan hui serta bingbing bisa melihatnya dengan pasti.


"Siapa kau ?!!", desis bingbing mengancam.


"Aku ??..", tanya cheng rou sembari tersenyum dan memiringkan kepalanya kearah bingbing.


"Bing jie, apakah kau lupa padaku ??", tanya cheng rou santai.


Hening.


"Kenapa kalian diam ??", tanya cheng rou santai.


"Hahaha... akan menyenangkan jika aku meninggalkan kalian disini... hah sayang sekali mungkin tubuh immortal berharga yang aku lihat ini takkan utuh lagi hahahaha", ucap cheng rou.


Wanita dengan jubah hitam itu menghilang diikuti dengan serangga-serangga miliknya yang meninggalkan Hui, Bingbing dan Yi.


"Apa yang terjadi ??", tanya Hui.


"Sesuatu yang tidak baik !!!", desis bingbing.


"Kita harus melarikan diri secepat mungkin !!", ucap Yi.


Suara gemuruh besar semakin mendekati mereka, dan energi spiritual milik mereka masih lemah karena pertarungan. Disaat posisi terpojok, secara tiba-tiba burung biru raksasa menghampiri mereka.


"Zhe ze !!!"ucap Yi.


"Tidak ada waktu lagi !!... jie jie, ge ge... cepat !!!", ucap zhe ze yang kini tengah menunggangi burung spiritual kesayangannya itu.


Karena keadaan yang mendesak. Hui, Yi, dan Bingbing tidak sadar bahwa ada sosok lain yang kini juga tengah berada diatas burung spiritual besar milik kediaman klam vermilion itu.


Cranggg...


Crakkk...


Brakkkk....


Dai luan memotong habis hewan buas yang ia temui, tapi semakin ia memotong habis tubuh binatang buas spiritual itu akan dijadikan mangsa binatang lain dan kembali menjadi binatang buas spiritual ganas.


Siklus ini akan berbahaya jika dibiarkan !!, pikir dai luan dingin.


Siapa bedebah yang berani melakukan suatu percobaan seperti ini ?!!!... jika terus dibiarkan manusia yang paling banyak dirugikan !!! Dan lagi ini tempat yang agung !!... mereka memang ingin mencari kuburan tanpa tiang !!.., pikir dai luan kesal karena tempat milik weida de tianghuang yang sebagian lebih telah hancur berantakan sekaligus penuh dengan energi yang tak seimbang.