
Xuan yang membawa tubuh so ah yang tak sadarkan diri dalam dekapannya, ia bawa so ah dengan hati-hati dan langsung melesat menuju ke tempat manusia yang dekat dengan tempat dimana ia berada.
Xuan memasuki kerajaan timur, tempat dimana so ah ingin melarikan diri tapi dengan santai ia masuk kedalam kerajaan itu.
Xuan memasuki sebuah penginapan dan langsung dengan tanpa malu ia yang masih menggendong intim tubuh so ah memerintahkan para pelayan itu.
Para pelanggan dan orang-orang yang ia lewati dijalanan ia acuhkan, ia sangat jijik jika harus bersentuhan dengan para manusia.
"Bawa pakaian dan tempat terbaik milik tempat ini"perintah xuan dingin, ia langsung melempar satu genggam kantung yang berisi penuh ingot emas yang ia ambil dari ruang dimensi milik yuan, sang pemilik penginapan langsung senang dan dengan sigap memerintahkan pelayan-pelayannya untuk melayani tuan agung mereka.
"Terima kasih tuan... terima kasih... anda bisa tinggal di rumah penginapan ini sepuasnya"ucap pemilik rumah penginapan itu.
Setelah menunggu beberapa saat, xuan diberikan sebuah satu rumah kecil penginapan mewah yang terpisah dari penginapan lainnya yang menurutnya sangat sederhana tapi layak untuk ditempati, rumah penginapan dengan satu kamar dan ada beberapa ruangan lainnya itu sedikit membuatnya bernafas karena mereka takkan bercampur dengan para manusia busuk.
Setelah para pelayan itu memberikan pakaian di kamar penginapan dan langsung xuan usir keluar.
Xuan membawa so ah menuju kolam pemandian, disana ia dengan perlahan memasukkan tubuh so ah kedalam kolam pemandian air panas yang tidak besar itu.
Ia memandang tubuh ringkih wanita yang setengah badannya sudah tenggelam dalam pemandian air panas, uap-uap yang mengepul keluar melewati wajah yang masih tertutupi setengah kain, ia dengan perlahan membuka pakaiannya sendiri dan hanya menyisakan celana panjang hitamnya.
Otot-otot yang terbentuk ditubuh tingginya sedikit basah terkena cipratan air kolam yang hanya sebatas pinggangnya, ia dengan santai melepaskan ikatan rambutnya dan membiarkan rambut hitam panjangnya setengah basah terkena air.
"Ck bagaimana kau bisa tahan rambutmu diikat dengan kencang setiap hari..."desis xuan dengan sinis ia mencemooh yuan.
Xuan dengan santai membawa tubuh so ah kedalam ruang lingkup tangannya. Ombak kecil yang ikut bergerak tak beraruran mengikuti gerakannya yang terlihat liar tapi lembut itu.
"Apakah segala begitu kejam bagimu ?"tanya xuan dengan suara dingin, ia tak mendapat respon apapun dari tubuh wanita dalam dekapannya ini.
Xuan menyandarkan tubuh so ah ke pinggir kolam dan perlahan mulai melepaskan ikatan rambut so ah yang tergulung berantakkan itu kemudian ia turun mulai melepaskan kain penutup wajah so ah, wajah pucat yanh mulai memerah karena uap cukup menandakan ada kehidupan yang lemah disana ia juga bisa melihat bahwa so ah sengaja menyembunyikan tanda lahir merah cin hingga pada akhirnya ia sampai pada pakaian compang camping yang sudah tidak layak untuk dipakai.
Xuan dengan pelan membuka pakaian so ah, disana ia bisa melihat luka gores dilengan kanan so ah dan dibagian bawah tulang selangka yang terlihat semakin cekung tapi tetap indah terdapat goresan luka yang sedikit lebih dalam daripada di lengan.
Xuan mengelus lembut luka itu dan kemudian langsung menanggalkan seluruh pakaian so ah, ia dengan lembut mencuci tubuh so ah hingga sampai para perut so ah yang membuncit itu yang dengan tanpa penghalang apapun ia sentuh didalam air dengan tangan besarnya.
"Apakah disini ada mahluk hidup kecil yang berusaha kau lindungi dengan nyawamu ?"tanya xuan lirih.
"Cih, bahkan aku sendiri tidak tau dari mana aku dilahirkan hahaha"lanjut xuan mengejek kata-katanya sendiri.
Tangannya yang kasar bertemu kulit selembut tahu hingga ia sedikir menyadari bahwa disana ada bekas luka memanjang yang berada dipinggir perut hingga kebelakang pinggang ramping so ah.
"Jika kau melihat luka ini, mungkin hal ini akan jadi aibmu hahaha"ucap xuan tertawa senang.
"Apakah kau menyapaku ?"tanya xuan dingin yang tidak mendapat respon apapun dari dalam perut so ah hingga pada akhirnya ketika ia akan mengangkat tangannya, pergerakan didalam perut so ah terasa mulai aktif.
Xuan hanya diam mematung tanpa tau harus berbuat apa, tangannya tak bergerak dan hanya diam kaku merasakan sesuatu yang tak pernah ataupun terbayangkan selama hidupnya yang abadi ini.
Energi ini ?!..
Apakah energi itu berasal dari perut so ah ?!..
Ia tanpa berfikir panjang langsung sedikit memancing kembali energi spiritual murni yang ia rasakan dengan samar itu, ia bisa merasakan bahwa bayi yang so ah kandung merespon kekuatannya dan bisa ia rasakan juga kekuatan itu terasa lebih lembut dan rapuh.
Xuan yang masih fokus dengan penemuan barunya tak memperhatikan bahwa so ah mulai membuka kedua matanya.
"Akh.."ucap so ah lirih menahan rasa perih dari luka-lukanya.
Matanya yang cantik terbelalak kaget takkala tatapannya yang masih samar-samar itu melihat seorang pria besar disampingnya dan sedang memeluk tubuhnya dengan intim, ia bisa merasakan ada tangan asing yang terasa hangat mengelus perutnya dengan lembut.
"Aaaaaa...."teriak so ah ketakutan.
Xuan langsung menoleh kearah lengkingan suara yang membuat telingannya sedikit berdenging.
"....."so ah menatap xuan begitupun denhan sebaliknya.
"Kau... ah.. anda.. anda.."ucap so ah dengan suara patah-patah, ia yang menyadari bahwa tubuhnya tak memakai pakaian apapun hanya bisa menenggelamkan tubuhnya sendiri hingga sebatas dagunya.
"Apa yang kau lakukan ?"tanya xuan dingin.
"Aku ??.. aku.. malu"ucap so ah lirih, mukanya yang sudah merah karena uap mulai bertambah lebih merah seperti kepiting rebus yang baru keluar dari kukusan.
"Hahaha aku sudah hapal setiap sudut tubuhmu... setiap jengkalnya aku sangat hapal..."ucap xuan dingin, ia menatap so ah dengan tatapan yang sedikit menggoda.
Dilihat dengan tatapan seperti itu tak ayal membuat so ah salah tingkah.
"Kau.. kau menggodaku... dasar.. dasar cabull !"cicit so ah dengan suara kecil, ia yang ingin berpindah tempat harus tertahan oleh bebatuan kolam.
Suaranya yang terdengar merdu dan lembut mengalun masuk kedalam indera pendengaran xuan dan hal itu terasa sangat menyenangkan.
"Akhh..."desis so ah tiba-tiba dengan kedua alisnya yang saling mengerut satu sama lain, wajahnya yang menyiratkan rasa sakit membuat xuan langsung menahan tubuh so ah yang hampir limbung masuk kedalam air.
So ah yang merasakan racun itu terus menyerangnya dan terasa lebih menyakitkan, ia tak bisa berfikir apa-apa selain menggigit bibirnya hingga berdarah.