
"Paman, siapa kau ?!", ucap xi yao dingin.
Xuan seperti melihat dirinya yang lain dalam versi yang lebih kecil dan sedikit menggemaskan ?..
Menggemaskan ?.. wajah dingin bocah kecil yang masih mempunyai lemak dipipinya itu ?!...
Xi yao memandang pria asing yang masih berada didalam bayang-bayang hitam kain penutup tempat tidur. Tatapan wajah dinginnya yang khas begitu berbanding terbalik saat ia bersama adik kecilnya.
"Huaaaaaa", tangisan keras ying yue tiba-tiba.
"Ge ge... ge ge... bibi rou shu berbohongg huaaa... niang niang tidak ada huaaaa", tangis ying yue keras.
"Mei mei... mei mei jangan menangis... mungkin kita salah ruangan", jawab cepat xi yao pada adiknya. ia juga dengan tangannya membersihkan bekas tanah yang ada di pipi adiknya.
"Huhuhu... be.. benarkah ??", tanya ying yue sesenggukan.
Mata bulatnya yang berair memerah menyedihkan, dan pipi roti kukusnya terlihat sembab dengan bibir kecilnya yang mencebik menahan tangisan.
Xuan terpana. Tanpa membenarkan pakaiannya yang berantakan hingga perut berototnya terlihat jelas atau memang ia terbiasa dan tidak perduli akan hal itu. *kyaaaa rotii sobeekkk😭
Ia langsung melesat menuju dua bocah kecil yang tingginya tidak sampai lututnya itu dengan pandangan rumit.
Ia yang melihat tangisan bocah kecil yang lebih pendek dari bocah disebelahnya itu merasakan sesuatu yang begitu rumit, sangat rumit. Walaupun xuan kebingungan. Ia mengangkat tubuh kecil yang terasa sangat rapuh dan penuh dengan lemak.
"Kau berat", ucap xuan dengan suara sedikit serak.
Ying yue yang tadinya masih sesenggukan menangis kini wajahnya berubah drastis. Ia melotot, dan warna mata merah semerah darah yang terpantul dimata xuan itu terlihat begitu menggemaskan.
"Aku tidak gendut, paman !", sahut ying yue kesal.
Xuan terdiam. Ia memperhatikan setiap emosi diwajah mahluk kecil dihadapannya ini.
"Paman saja yang tidak kuat seperti ge ge", ucap ying yue ketus, ia menyebikkan bibirnya seperti ikan buntal.
Xi yao hanya bisa mengeluarkan ekspresi keberatannya. dan ia juga setuju atas apa yang diucapkan paman asing itu untuk adiknya.
Xuan melihat jelas ekspresi xi yao.
Xuan terkekeh geli.
Ia menyentil lembut hidung ying yue.
"Aduhhh", ucap ying yue.
Xuan tertawa.
"Dan kau, bocah", ucap xuan pada xi yao yang memperhatikan mereka dari samping.
"Aku bukan bocah, paman", desis xi yao dingin.
"Turunkan mei mei ku", ucap xi yao lagi.
"Hahahaha... tidak mau...", goda xuan.
Xi yao melotot melihat xuan.
Xuan kembali tertawa. Ia mengelus lembut kepala xi yao, dan sontak saja bocah kecil itu terdiam. Ia seperti memikirkan sesuatu dan melihat xuan lagi.
"Ikuti aku", ucap xuan. Tangan yang awalnya berada di kepala xi yao kini berpindah ketangan kecil bocah lelaki itu.
Xi yao menurutinya.
Ying yue berada di gendongan tangan kiri xuan.
Xi yao yang tengah ia genggam dengan tangan kanannya.
Xuan menuju tempat tidurnya.
Ia secara sengaja membuat formasi kecil agar so ah tertidur lelap tanpa gangguan. Tapi, karena kedatangan dua bocah istimewa ini ia membuka formasinya.
"Apakah kalian kenal wanita yang tengah tertidur itu ??", tanya xuan.
Xi yao dan ying yue diam.
Mereka saling pandang, dan memandang xuan.
Merasakan hal yang sedikit mengganjal.
"Jika mereka bukan keturunan ku, maka akan tetap aku jadikan anakku !", pikir xuan yang penuh dengan rencana gelap dipikirannya. Ia tersenyum dalam. ia terlanjur telah jatuh pada dua bocah ini.
Xuan, dengan lembut meletakkan ying yue di tempat tidur dan xi yao di tempat duduk kayu sebelahnya.
Ia membangunkan so ah.
"Istri, bangun", ucap xuan lembut.
"Eeenn", sahut so ah malas. Suaranya terdengar menggoda di telinga xuan dan apa yang ia tahan dipikirannya kembali muncul dengan cepat kepermukaan.
Ukh !!!..., ia diam-diam hanya bisa terlebih dahulu membuang jauh pikirannya.
"Niang", panggil ying yue.
So ah yang tadinya masih dengan mata tertutup dan tengah merenggangkan tubuhnya untuk bersiap bangun terhenti. Mata cantiknya langsung terbuka dan hal pertama yang menyambutnya adalah ketiga sosok yang menatapnya.
Ia terdiam.
Ketiga sosok didepannya diam menatapnya.
"Niang", panggil takut-takut ying yue, kepala kecilnya menunduk menyedihkan saat tak mendapat respon apapun dari so ah.
Hening.
"Ying Yue", ucap so ah lembut. Mata berkaca-kaca, ia merentangkan tangannya dan menarik tubuh kecil ying yue masuk kedalam pelukannya.
Ia mengecup seluruh wajah ying yue dengan perasaanya yang begitu membuncah.
Xi yao disisi lain hanya diam melihat sosok yang kini tengah menciumi gemas wajah terutama pipi adiknya. Tapi, tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh sosok yang ia panggil paman itu.
"Dan dia, istri nama apa yang kau beri padanya ??", tanya xuan pada so ah.
"Xi Yao", jawab so ah. Ia mengusap lembut wajah xi yao dan xuan membawa xi yao agar anaknya itu juga bisa memeluk tubuh hangat ibunya.
"He Jun Xi Yao dan He Jun Ying Yue", ucap xuan.
"Paman, adalah fuqin ?", tanya polos ying yue.
"Hahahaha... iya panggil paman tampan ini fuqin", ucap xuan senang. Wajah dingin datarnya kini telah terlepas sempurna, ia begitu senang dan bahagia dengan hadiah berharga untuk kedatangannya di tempat suci ini.
"Fuqin dan muqin", ucap ying yue.
"yue er cerdas", ucap so ah tersenyum lembut. Ia mengelus lembut surai hitam xi yao dan untuk kedua kalinya hidung ying yue disentil lembut oleh so ah.
Ying Yue tersenyum manis, hingga kedua matanya melengkung membentuk bulan sabit cantik.
Xuan yang melihat interaksi ketiganya merasakan sesuatu hal yang sangat berharga.
Ia memeluk ketiganya dalam pelukan besar.
"Fuqin, yue er terjepittttt", sungut ying yue.
Dan tawa bahagia terdengar setelahnya.
"Apakah kalian ingin bertemu satu orang lagi ?", tanya xuan pada keduanya.
So ah hanya diam.
Ia sudah tau apa yang dimaksud xuan. Dan ia hanya membiarkan ketiganya untuk berbincang ringan lebih lama.
.
.
.
.
Beberapa hari telah berlalu ditempat suci. So ah dan xuan bersama dengan dua bayi berharga mereka telah melewati hari yang begitu hangat dan hangat.
Xuan yang telah masuk ke dalam ruang dimensi miliknya terlihat berjalan menuju ke sebuah paviliun besar yang telah ia bangun di dimensinya ini.
Ia mendatangi satu ruangan.
"Apa kau masih tidak ingin bertemu so ah ??", tanya xuan dingin.
Hening.
Sosok itu masih diam tak menjawab pertanyaan xuan.
Dan pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
Xuan membiarkan sosok itu pergi.
.
.
.
.
Tubuh xuan di luar dimensi kembali membuka kedua matanya.
Yuan yang untuk pertama kalinya membuka mata merasakan sesuatu yang berat dikedua sisi pahanya. Ia merasa bahwa saat ini mereka tengah berada di gazebo.
Ada dua bocah yang terlihat sama persis tapi berbeda kelamin tengah duduk di pangkuannya.
"Fuqin, tidur", ucap ying yue.
"Fuqin tidak tidur", jawan xi yao dingin.
Ia tadinya enggan untuk duduk dipangkuan fuqinnya, tapi setelah tubuhnya diangkat fuqin ia baru menurut dan ternyata tidak buruk juga. Sedangkan itu, mereka juga menunggu muqin yang tengah memasakkan sesuatu untuk mereka.
Xi yao dan ying yue serta xuan telah tergila-gila untuk masakan yang so ah buat.
Di tempat suci, harga diri weida de tianghuang sudah tidak ada pada tempatnya.
Weida de tianghuang yang dulunya begitu mengerikan dan mengerikan, kini telah menjadi sosok yang begitu memanjakan tiga sosok harta paling berharga dibandingkan nyawanya.
Yuan hanya diam, ia melihat so ah bersama dengan seorang dayang dibelakangnya.
"Yao er, yue er, duduk ditempat kalian... jangan membuat fuqin kesusahan", ucap so ah sembari menyusun makanan diatas meja dengan dibantu para dayangnya.
Yuan terkesiap. Dua bocah dihadapannya ini adalah anak so ah yang telah berulang kali coba ia bunuh.
"Yuan, jangan tatap mereka dengan pandangan seperti itu", ucap so ah lembut.
Yuan terdiam.
"Muqin, fuqin bukan fuqin", ucap santai xi yao.
"Fuqin ini, tetap fuqin kalian, jadi dimasa depan tetap panggil fuqin dan jangan membedakan kasih sayang, mengerti ?", ucap So ah lembut.
"En", jawab cepar Xi yao dan Ying yue.