
"Haaaahhh...."mata so ah terbuka kaget.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya hingga ia bisa merasakan ngilu disana.
"Tenang... niang niang ada disini"ucap so ah sembari mengelus lembut perutnya.
Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya, pikirannya mulai tak tentu arah dan gelisah. Seakan tau apa yang dirasakan ibunya, janin yang ada diperutnya bergerak lembut.
Setelah menenangkan dirinya sebentar, so ah merasakan beberapa sinar yang menerobos masuk kedalam tirai-tirai panjang putih transparan yang ia turunkan semalam.
So ah turun dari ranjang ayunnya dan berjalan sebentar menuju pemandian kecil yang ada di bawah gazebo. Ia mencelupkan kakinya diair yang terlihat sangat jernih itu.
"Salam kepada yang mulia permaisuri agung"ucap sebuah suara dari arah belakangnya. Saat menolehkan tubuhnya, so ah melihat rou shi dan rou shu yang memberikan salam padanya.
"Apakah kalian yang ditugaskan untuk menjadi dayangku ??"tanya so ah langsung.
"Ya, yang mulia"jawab keduanya sopan.
"Kenapa xuan belum kembali ??"tanya so ah.
"Maafkan kami yang mulia, weida de tianghuang tidak mengatakannya"jawab rou shu.
So ah diam tanpa berkata apapun dan keduanya sedikit menjauh dari tuan mereka dan hanya mengawasi dari kejauhan.
"Apa yang kalian lakukan disini ?"tanya dai luan.
"Ah salam kepada weida de baohu long dai"ucap keduanya yang awalnya kaget sekaligus tak percaya dengan lelaki yang berdiri tegak didepan mereka.
Sang naga pelindung agung yang tak pernah bisa di perintah oleh siapapun selain sosok yang ia lindungi. Banyaj misteri tentang umur asli dari sang naga pelindung ini sendiri, dan banyak pula dari para mahluk yang berfikir bahwa sang naga pelindung adalah leluhur seluruh wilayah dunia bawah. Ribuan tahun lalu, rou shu mendengar bahwa sang naga pelindung yang dibawa weida de tianghuang disisinya dan mereka berdha berperang melawan jutaan lebih mahkluk yang memberontak.
*Wěidà de bǎohù lóng \= Naga Pelindung Agung (gelar dai luan sebagai naga pelindung).
"Kami menunggu perintah yang mulia permaisuri.."jawab keduanya.
"Buatkan masakan yang bisa menghangatkan tubuh dan kemari"ucap dai luan memberi perintah.
"Baik, weida de baohu long dai"jawab rou shu dan rou shi.
"Kalian bisa pergi"ucap dai luan pada keduanya.
Dai luan yang harus diam-diam bersusah payah menyelinap dari para mahluk dunia atas termasuk si rubah merah yang mungkin saja bisa merasakan keberadaan tapi untungnya si rubah merah itu sedang mengurus kekacauan yang terjadi di dunia manusia.
Ia berjalan pelan menuju ke arah so ah, melihat dari belakang bagaimana punggung dan bahu mei meinya yang lesu serta sedih. Dai luan merasa kasihan, ada sebuah denyut yang mengalir ke jantungnya saat ia dekat dengan so ah.
Tidak....
Bukan tentang ia berani menyukai milik tuannya...
Sesuatu yang terasa sangat istimewa...
Denyut itu bisa ia rasakan dari dalam perur so ah, lebih tepatnya salah satu dari kedua bayi itu mempunyai sebuah ikatan yang menyambung di jantung, inti spiritualnya.
Denyutnya terasa tenang dan nyaman.
Rasa haus darah yang sama besarnya seperti milik weida de tianghuang tak ia rasakan...
Pikiran keji tentang membuat sebuah barang spiritual pembunuh massal lainnya tak ia pikirkan...
Jantungnya berdetak halus...
Sangat berbeda saat berada di gunung ji selatan...
Aura spiritual kedua bayi so ah terasa lebih seperti momentum berat tapi secara bersamaan terasa lembut yang tengah berkembang....
"So ah mei"panggil dai luan.
Saat so ah melihat lelaki dengan kulit tan pucat berdiri kokoh di belakangnya, jujur ia kaget.
"Luan ge !!!...."seru so ah.
Dirinya langsung mengangkat kakinya tapi karena kondisinya yang tengah berbadan dua, ia sangat kesulitan.
Dai luan dengan lembut dan sopan membantu so ah untuk berdiri.
"Apa yang kau lakukan disini ??"tanya dai luan.
"Kau memakao pakaian tipis dan tidak tebal... apakah kau tidak kasihan melihat calon keponakan paman ini kedinginan ??"ucap dai luan lagi sembari sedikit bercanda.
Wajahnya yang dingin sangat kontras dengan ucapannya yang penuh dengan nada bercanda membuat so ah terkikik geli.
Suara so ah yang tertawa seperti alunan melodi lembut yang membuat beberapa kupu-kupu keluar dari sarang mereka dan berterbangan disekitarnya.
"Kenapa kau tertawa ?"tanya dai luan.
"Kau sangat lucu gege..."ucap so ah tertawa geli.
"Ohhh... lihatt anakku yang tadinya bergerak langsung menjadi diam saat kau datang...mereka takut padamu setelah suamiku tentunya"ucap so ah lagi dengan nada lucu dan penuh kasih sayang saat mengucapkan kata suami.
"Tapi sayang, setiap kali gege datang dia selalu pergi bahkan menghitung hari kelahiran anak kami, ia seakan pergi di telan bumi"ucap so ah.
Kini mereka sedang duduk di kursi yang sudah disiapkan di gazebo. Dai luan yang mendengar ucapan so ah terdiam, ia sebagai lelaki yang tak pernah dekat dengan mahkul bernama wanita hanya bingung untuk mengatakan apa dan bagaimana caranya untuk menghibur adik perempuan angkatnya ini.
"Aku sangat takut gege... bagaimana jika ada sesuatu yang tidak kuketahui telah terjadi... perasaanku selalu gelisah"ucap so ah sedih.
"Semuanya akan baik-baik saja, ah mei"ucap dai luan pada so ah.
Ia juga bisa menebak kejadian yang akan terjadi dimasa depan, kekuatan dari dunia bawah yang tidak diketahui dunia atas sudah lebih dari cukup membuat sebuah ancaman besar.
Para mahluk dunia atas lebih bodoh dari yang ia kira, atau karena dulu weida de tianghuang menghabisi bibit busuk penuh intrik kelicikian hingga membuat keturunan yang tersisa hanya orang-orang dengan kemampuan dungu yang hanya bisa memerintah segala sesuatu dengan sekali tunjuk saja ???..
Itu lebih menjijikan dari yang ia kira.
Rou shu dan rou shi datang dengan mangkuk serta nampan makanan yang melayang-layang di samping mereka. Keduanya dengan hormat melayani so ah dan dai luan.
"Makanlah, ah mei"ucao dai luan.
lelaki itu mengambilkan semangkuk sup yang masih mengepul uapnya. So ah dengan senang hati memakan semua yang disajikan oleh para dayangnya. Makanan yang tidak ia ketahui itu penuh dengan esensi spiritual murni dan terasa sangat menggugah selera makannya hingga ia sedikit bisa melupakan kesedihannya.
Rou shu dan rou shi saat melihat bagaimana kedekatan weida de baohu long dai dengan yang mulia permaisuri sedikir ternganga. Tak ada yang bisa mendekati dua lelaki paling menakutkan itu yang bahkan pemimpin roh tumbuhan suci dengan kecantikan bunga teratai, rou chi saja hanya bisa mendekati dalam batas yang telah mereka tentukan. Dan sang naga pelindung agung yang mereka ketahui tak mempunyai banyak ekspresi diwajah tan pucatnya itu kini sedang menghibur yang mulia permaisuri yang hanya seorang manusia rendahan.
jika dai luan mendengar pikiran rou shu dan rou shi, keduanya mungkin akan menjadi teratai panggang.