
Nafas so ah naik turun, ia panik. Saat tubuhnya berusaha bergerak untuj kelur dari dalam sulur yang membelenggunya. ia tak bisa, sulur-sulur ini terlalu kuat.
So ah mendorong hingga menendang dan hasilnya tetap sama.
Diam.
Dirinya menghela nafas.
"Lepaskan tubuhku", ucap so ah.
Seakan mendengar ucapan soah, sulur yang melilit tubuhnya bergerak satu persatu. didalam kegelapan sulur, so ah yang tak berusaha menyesuaikan penglihatannya dan merasa bahwa sulur yang mengurung tubuhnya bergerak lambat. Ia dengan cepat keluar dari dalam tanpa berfikir panjang.
Eh, Kenapa tubuhku ringan ??!!..., batin so ah kaget, karena tergesah ia tak menyadari kondisi disekitarnya. Tubuhnya yang secara paksa ia keluarkan dari dalam lilitan sulur terhempas keluar.
"Aaaaaa", reflek suara teriakan ringan keluar darinya.
"Ugh", desis so ah ngilu.
Beruntung sulur-sulur milik rou shi masih melindunginya tapi beberapa bagian pakaiannya yang memang telah robek karena melarikan diri kini harus kembali terkoyak menjadi sobekan hingga menggores kulitnya.
Jari jemari yang kini terlihat kusam dan kotor itu dengan cepat mengusap darah dari luka goresan miliknya. ia perlahan menenanhkan dirinua sendiri, memperhatikan sekitar tempat yang asing.
Lagi-lagi, ia berada didalam hutan !..
Setelah menetralkan nafasnya yang memburu, so ah berjalan ke sisi lain hutan. Dirinya menyelinap dengan penuh waspada dan hati-hati.
.
.
.
.
.
Zheng bai masih menunduk mendengarkan perintah dari sosok cheng rou dihadapannnya.
"Ck, bedebah !...", desis marah cheng ru kesal saat ia melihat wajah mulusnya tergores.
"Jika saja tubuh asliku tidak musnah kecantikan ku takkan ada yang bisa melampauinya !!", ucap cheng rou menggerutu.
"Niang, bersabalah", ucap lembut zheng.
"Bersabar dengan tabir yang tiba-tibu muncul ini atau bersabar dengan sifatmu yang masih menyimpam sisi belas kasih itu !!!", jawab sinis cheng rou.
Zheng bai hanya diam mendengarkan setiap ucapan dari wanita yang ia panggil niang ini. Lelaki itu hanya bisa menunduk tanpa menjawab ucapan demi ucapan yang dilontarkan cheng rou padanya.
Disisi lain, hui dan bingbing mulai menyadari bahwa sesuatu yang salah telah terjadi.
Cheng rou yang merasakan tatapan mata menghunus punggungnya, ia membalikkan tubuhnya.
"Apa yang kalian liaht heh", desisnya dingin.
Hening.
Tak ada jawaban dari balik tabir pelindung, dan cheng rou tersenyum mengejak saat melihat kedua mahluk immrotal suci dari dunia atas dihadapannya itu terdiam.
"Seperti tikus, hahaha benar seperti tikus", ucap cheng rou dingun.
"Menjijikan", desisnya lagi dengan tatapan mata menghina.
Hui yang tak terima atas penghinaan cheng rou tersulut emosi, tapi bingbing dengan lemah menahan suaminya.
"Ayo, kita harus pergi mencari hui lan", ucap bingbing.
Tujuan mereka menuju kearah barat karena dikerajaan barat, putra mereka hui lan berada.
Hui menuruti bingbing, ia diam-diam menahan emosinya sendiri dengan matanya yang melotot tajam kearah luar tabir.
Cheng rou yang melihat lawannya tak tersulut ucapanya hanya tertawa dingin, dan tawanya itu berhenti ketika tiba-tiba melihat keduanya memberikan sujud kehormatan khas kekaisaran dunia atas.
"Apa yang kalian lakukan !!", desis cheng rou dengan perasaan bahagia karena merasa bahwa kedua sosok yang masih berada didalam tabir pelindung itu telah menyerahkan diri mereka padanya.
"Hahahaha, pilihan yang tepat !!", ucapnya lagi dengan suara yang penuh percaya diri.
"Permaisuri agung, maafkan kami", bisik lembut bingbing.
"Semoga dewi kehidupan tetap melindungi jiwa dan tubuhmu, aku yang telah menerima salah satu bagian dari serpihan jiwa dewi penyembuhan memberikan berkah kehidupan untuk tubuh manusiamu", ucap bingbing lembut.
Ia tanpa sadar meneteskan air matanya karena merasa sangat bersalah akan rencana mereka yang gagal ini, begitupula dengan hui suaminya yang terlihat ikut merasakan rasa penyesalan untuk dermawan mereka.
"Dikehidupan ini dan selanjutnya, kehidupan ini akan berada sepenuhnya ditanganmu", ucap hui dan bingbing secara bersamaan.
Janji mereka yang telah mereka torehkan dalam jiwa spiritual mereka terikat keras membelenggu keduanya.
Disisi lain, so ah merasakan sebuah ikatan spiritual dan secara mengejutkan dua lingkaran indah berukuran kecil timbul di lengan kirinya.
"Apa ini ??", bisik so ah.
Sinar rembulan yang redup membuat ia sedikit tak bisa melihat dengan jelas apa yang berada ditangannya itu. detik berikutnya dua cahaya redup keluar dari lukisan berukuran kecil dilengan miliknya dan mulai meredup. tak mengambil pikiran dan mengabaikannya, so ah kembali dengan hati-bati melanjutkan perjalanannya yang anehnya setelah kemunculan dua tanda aneh dilengannya tubuhnya terasa seidikit ringan.
Ia melihat lagi kearah bulan yang bersinar redup, pikirannya melayang pada dua sosok kecil diatas sana.
"Semoga kalian tetap baik-baik saja", ucap so ah lembut.
.
.
.
.
"Kemarilah", ucap cheng rou senang.
"Jangan bermimpi !!", desis hui dingin, udara disekitarnya mulai memberat dan cheng rou yang merasakan sesuatu yang aneh sedikit mundur.
Bukankah kekuatan spiritual mereka telah habis terkuras !!!... ada apa ini !!!.., pikir cheng rou.
Disisi, lain bingbing juga merasakan apa yang dirasakan suaminya. Tubuhnya kembali, ia merasakan aliran lembut spiritual memenuhi inti spiritual miliknya yang sebelumnya telah sekarat.
"Keajaiban apa ini ??", pikir bingbing tak percaya, raut wajah yang tadinya kuyu dan pucat kini telah segar kembali.
Cheng rou yang melihat perubahan drastis dari keduanya hanya bisa mendecih dingin.
"apa ini !", desis cheng rou dingin.
Ia bisa merasakan lonjakan melimpah energi spiritual milik kedua orang yang berada didalam tabir pelindung itu dan kekuatan mereka terkumpul drastis kembali seperti semula. secara bersamaan cheng rou merasakan keberadan para mahluk dunia atas dalam jumlah besar disekitar mereka.
"Zheng bai, pergi dan lihat", desis cheng rou dingin.
"Baik, niang", jawab cepat zheng bai menghilang dalam kegelapan.
Cheng rou yang masih berdiri diam, ia terlihat memikirkan sesuatu.
Disisi lain, hui dan bingbung kini tengah berperang argumen mereka lewat telepati pikiran milik keduanya.
"Jangan lakukan hal sembarang, suami !", ucap bingbing pada suaminya.
"Apa yang kau katakan ?!.. kita juga harus pergi menyelamatkan manusia itu", ucap hui pada istrinya.
"Aku yakin nyonya so ah baik-baik saja", jawab yakin bingbing pada suaminya.
"Jika kita keluar dari tempat ini, aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi dan kita harus melihat terlebih dahulu situasi saat ini", ucap bingbing lagi.
"Apa kau tak merasakan hawa keberadaan para pasukan dunia atas ?", tanya bingbing.
Hui terdiam.
Benar.
Ia merasakan keberadaan para pasukan dunia atas dalam jumlah besar. Tapi, kenapa mereka berada didunia manusia !!!.., pikirnya.
Ia kembali melihat formasi pelindung yang jika lebih diteliti lagi terlihat kuno tapi kuat ini dengan pandangan dalam, siapapun yang memasang formasi ini berarti ia telah tau apa yang akan terjadi.
Dan lagi hui berfikir bahwa terlalu konyol jika para pasukan dari kekaisaran dunia atas itu harus mati sia-sia disini.