The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 57



"Ada seseorang yang menguping"desis Yi.


"Biarkan saja... aku tau"jawab Yuan dingin.


Ia sengaja membuat so ah tau seberapa ia membenci janin itu. Wanita itu harus tau apa yang seharusnya ia pilih. Semua keputusannya takkan goyah.


Disatu sisi Zheng Bai menemui Ling Zhi, wanita beracun yang telah menjadi sekutunya.


"Ahh yang mulia kenapa anda datang kemari saat aku merindukan kehangatan anda"ucap Ling Zhi menggoda.


Pakaian vulgar yang ia tidak ia pakai dengan benar mempertontonkan beberapa bagian tubuh privasinya. Ia berjalan dengan sensual kearah Zheng Bai dan mengelus dada bidang lelaki itu dengan gerakan yang mengundang.


"Tahan dulu Zhi er"ucap Zheng Bai sembari memegang tangan putih pucat dengan suluran urat ungu itu.


"Ada apa yang mulia...?? Bukankah anda senang hmm"tanya Ling Zhi dengan suara merajuk.


"Kemarilah"jawab Zheng Bai sembari mengangkat tubuh wanita beracun itu kedalam pelukannya.


Zheng Bai mendudukan ling zhi dipangkuannya. Wanita beracun itu dengan manja bersantai didada bidang zheng bai sembari tangan pucatnya membuka satu persatu kaitan di baju zheng bai.


"Apa yang kau butuhkan ??"bisik Ling Zhi sensual.


"Racun mematikan hmm"desis zheng bai.


"Untuk apa ??..."tanya ling zhi menautkan alisnya.


"Aku butuh racun mematikan untuk melukai manusia ..."ucap zheng bai.


"Hahaha yang mulia permintaanmu cukup membuatku kaget...."ucap ling zhi tertawa.


"Belum ada yang meminta ku untuk melukai para manusia fana... dan kami juga tidak berinteraksi dengan mereka selama ribuan tahun"lanjut ling zhi lagi tersenyum menggoda.


Zheng bai yang melihat wanita beracun ini mulai bermain basa basi langsung membelai sensual tubuh wanita ini dengan kasar.


"Ehhmmm...."desah Ling Zhi tertahan karena serangan tiba-tiba dari Zheng Bai.


"Ahh yaa aku baru ingat ehhmm aku punya ahh racun langka untuk mahluk immortalhhhmmm ..."desah Ling Zhi tertahan.


Mereka berdua saling berbelit satu sama lain mencari kepuasan untuk tubuh yang sama-sama haus akan kenikmatan duniawi. Seakan tak memikir hari esok ataupun apa yang akan terjadi mereka terus bergelung dengan gila didalam gua itu.


So ah yang terus memaksakan matanya untuk terlelap tidur tetap saja tak bisa ia pejamkan matanya.


So ah yang merasa frustasi hanya menghela nafas gusar.


Detik demi detik berganti menit dan jam hingga ketika kokokan ayam terdengar baru ia bisa memejamkam matanya.


Mama luo yang masuk kedalam kamar utama, sedikit kebingungan karena tak biasanya wangfeinya ini masih tidur dijam-jam seperti ini.


Mama luo membuka tirai jendela kamar so ah dan langsung dengan perlahan-lahan membersihkan ruangan kamar tidur utama ini.


"Mama..."lirih so ah dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.


"Ya wangfei ??"jawab mama Luo.


"Antarkan sarapan ke kamarku"ucap so ah dari balik tirai tempat tidurnya.


So ah diam-diam hanya melanjutkan tidurnya lagi. Tubuhnya perlu beristirahat.


Yuan yang ada di ruang makan utama kediaman hanya terdiam karena tak melihat so ah. Ia lebih memilih diam dari pada bertanya ketika mama luo yang datang melayani makannya.


Yuan merasakan bahwa so ah berada di kamar dan tidak turun hanya bisa mendecih kesal.


"Kenapa dia tak kemari"ucap yuan dingin.


"Maafkan saya wangye tetapi wangfei tidak enak badan dan ingin sarapannya di bawa ke kamar utama"jawab mama luo berhati-hati.


Mama luo melihat aura yang di keluarkan wangyenya ini sangat gelap dan berbeda dari biasanya hanya berusaha untuk tetap menjaga pikiran wangye agar tetap normal serta memikirkan keadaan wangfei. Mama luo juga menjadi iba karena kesibukan wangyenya ini yang setiap saat tak berada di kediaman utama.


"Baiklah... aku akan kembali beberapa hari lagi"ucap yuan dingin sambil berlalu pergi.


"Baik wangye"ucap mama luo sembari mengundurkan dirinya dan langsunf bergegas membawa sarapan untuk wangfeinya.


So ah duduk di pinggir tempar tidurnya dengan kaki yang menggantung tak mencapai lantai kamar. Mama luo yang ada disampingnya hanya diam melihat nyonya kediaman Qi Rui yang kosong bagaikan manekin hidup. Sarapan yang ia bawa pun perlahan-lahan uap yang keluar mulai memudar.


"Wangfei ..."panggil mama luo karena so ah yang hanya diam saja semenjak kedatangannya.


"Ya mama"jawab so ah singkat.


"Makanan anda akan dingin dan itu tidak baik bagi tuan muda kecil"kata mama luo lembut.


"Ahh ya baiklah... maafkan aku"jawab so ah dan ia langsung memakan bubur didepannya dengan perlahan-lahan tanpa nafsu makan. Walau tak ada keinginan untuk makan tapi ia harus makan jika tidak bagaimana anaknya bisa hidup.


"Dimana wangye ?"tanya so ah.


"Wangye dalam perjalanan kekaisaran wangfei mungkin dua atau tiga hari lagi wangye akan pulang"jawab mama luo.


Apakah ini yang dinamakan kesempatan ??...


Pikiran so ah mulai bercampur aduk memikirkan beberapa hal yang sangat membuat bimbang hatinya. Tapi hal itu harus ia putuskan sekarang juga, jika tidak ia takkan tau bagaimana nasib anaknya nanti.


"Mama nanti sore aku ingin pergi ke sungai  Xilang"kata so ah tiba-tiba.


Mama luo sangat kaget mendengar perkataan so ah. Kenapa tiba-tiba wangfeinya ingin pergi kesungai besar yang dekat dengan hutan belantara itu... memang pemandangan disana tak diragukan lagi keindahannya tetapi pemandangan disana juga menyimpan banyak bahaya yang tersembunyi karena hutan belantara disana menyimpan banyak hewan buas. Biasanya setiap tahun akan diadakan perburuan disana jadi karena hal itu area sungai besar Xilang sangat jarang orang yang pergi berjalan-jalan kesana walaupun ada itupun tak seramai diibukota.


"Wangfei apakah bisa anda pergi  bersama wangye dilain hari ??"tanya Mama luo berusaha membujuk so ah.


"Tidak... aku juga ingin melihat suasana rakyat kerajaan Qi"jawab so ah sembari tersenyum.


"Baiklah wangfei saya akan menyiapkan semua persiapan"jawab mama luo dan mengundurkan dirinya.


So ah membuka laci penyimpanan di meja riasnya dan mengambil sebuah kotak kecil seukuran telapak tangan dan langsung membuka kotak kecil itu.  Didalam kotak terlihat butiran-butiran biru yang ia tau sebagai pil penghilang aura dan menyamarkan aroma tubuhnya. dulu mama wei yang memberikan pil-pil ini saat ia tanyakan dimana mama wei mendapatkan pil ini, mama wei hanya diam menundukkan wajahnya tak mau berbicara.


Ia juga bersyukur karena dengan pil ini dirinya akan aman. Semenjak bertemu yuan dan ia merasa tenang dengan kehadiran lelaki itu yang membuat dirinya tak lagi mengkonsumsi pil penyamar aroma itu dan lagi sekarang ia sedang mengandung membuatnya takut dengan efek samping pil itu. Tapi melihat kondisi yang ia alami sekarang itu akan baik jika lelaki itu tak tau keberadaannya.


Ia akan hidup damai dengan anak-anaknya sendiri di tempat yang jauh.


Ia juga takkan lagi merasa sedih.


Ya itu mungkin pilihan yang terbaik.