The Great God's Eternal Love To Empress

The Great God's Eternal Love To Empress
Chapter 97



"Apakah kandungan nyonya tidak apa-apa ??" tanya gadis itu pada so ah.


"Tidak akan apa-apa... bayiku kuat"ucap so ah sembari tersenyum simpul.


Setelah menerima undangan dari xi mei, so ah diam-diam mengelabuhi para pelayan rumah gadai yang ia lihat masih berdiri memantau rumahnya dan pada dini hari ia lewat pintu belakang rumahnya langsung pergi bergegas menuju tempat dimana gadis yang ia ketahui sebagai anak petani itu tinggal.


Jubah hitamnya yang besar menutupi seluruh tubuhnya, barang-barangnya sengaja ia tinggalkan dan ia hanya membawa beberapa benda berharga yang bisa ditukar dengan uang dimana depan, kantong kecil berisi sedikit perhiasannya ia ikat di pahanya dan kantong berisi koin-koin perak ia bawah disisi kantung pakaiannya.


Pil khusus yang diberikan mama wei masih setia ia bawa dan sekarang hanya tersisa dua pil, pil yang digunakan untuk menyembunyikan aroma tubuh dan darahnya. So ah mengingat bahwa kata mama wei yang membuat pil khusus ini adalah ibunya, entah apa yang dipikirkan ibunya waktu itu hingga memberikan pil semacam ini pada anaknya dan sekarang so ah tau bahwa pil ini sangat berguna baginya. So ah hanya berhenti meminum pil ini ketika sudah menikah dan sekarang entah kenapa ia merasa bahwa ia harus mengkonsumsi pil khusus ini.


"Nyonya, kenapa kau begitu tergesah-gesah ??"tanya gadis itu polos.


"Hahaha tidak apa-apa mungkin karena kehamilanku... kapan kita akan berangkat ??"tanya so ah.


"Kemungkinan saat matahari mulai terbit"ucap gadis itu santai.


"Hey Nian kecil, apakah kau sudah memberi pakan pada kudamu ??"tanya seorang tua pada gadis itu.


"Sudah paman... tapi aku tidak punya tali untuk gerobak besar ini"ucapnya sembari mendesah berat.


"Hahaha kau kekurangan uang lagi... memarilah akan kupinjamkan satu"ucap paman itu sembari menggelengkan kepalanya.


"Hahaha terima kasih paman... nyonya duduklah disini, maafkan aku karena tempat kami kumuh"ucap Nian pada so ah dengan sopan.


"Tidak apa-apa... ini sudah lebih dari cukup... Ni..Nian tunggu sebentar"ucap so ah.


"Ah ada apa nyonya ??"tanya Nian memberhentikan langkah kakinya.


"Ambillah ini"ucap so ah sembari menyerahkan sekantong koin peraknya.


Mata Nian terbelalak kaget melihat uang perak yang terlihat didalam kantong ini, tangannya sedikit gemetar, ia tak pernah melihat uang sebanyak ini dan biasanya ia hanya akan mendapatkan beberapa puluh tembaga dan perak bisa dihitung dengan jari-jarinya. Nian yang merasa jika ia menolak pemberian so ah menjadi tidak sopan akhirnya ia dengan jujur hanya mengambil lima perak saja.


"Kenapa nyo...nyonya ??"ucap Nian sedikit kaget karena kedua tangannya yang dengan paksa di beri so ah koin-koin perak dari dalam kantongnya dan hanya menyisakan setengah dari penuhnya isi kantong itu.


Sekembalinya Nian, so ah diperlakukan sangat baik oleh gadis muda itu, ia diberikan dua roti kukus hangat dengan isian daging.


"Apakah kau sudah makan ??"tanya so ah pada Nian.


"Sudah nyonya"ucap Nian.


Tapi seakan menjawab ucapan so ah, perut Nian berbunyi nyaring dan sang empu hanya bisa diam-diam menutupi mukanya yang memerah malu.


"Makanlah"ucap so ah sembari menyerahkan satu roti kukus gemuk yang uap panasnya masih mengepul hangat terlihat sangat menggiurkan dengan kilauan minyak dan daging didalamnya, Nian merasa sangat bersyukur bisa bertemu orang sebaik so ah. Ia kemudian duduk di tanah dan memakan roti kukusnya dengan hati yang bahagia.


"Kenapa kau duduk ditanah ??"tanya so ah merasa tak enak melihatnya.


"Tidak apa-apa nyonya... takdirku memang harus duduk disini"ucap Nian sembari tersenyum.


Mata so ah sedikit sayu mendengar kata takdir yang terucap dari bibir gadis muda didepannya ini.


Apa takdirku ??...


Saat fajar mulai menyingsing rombongan petani dengan gerobak-gerobak buruk mulai berjejer rapi, bersiap-siap keluar dari kota untuk mengambil kembali barang-barang bahan makanan.


Nian yang melihat pakaian so ah sangat kontras dengan mereka sedikit mengerut, ia tak tau kenapa wanita hamil didepannya ini ingin keluar kota akan tetapi ia ingin menolong wanita baik hati ini.


"Nyonya, kemarilah"ucap Nian.


"Kenapa ??"tanya so ah.


Walaupun so ah memakai jubah besar dan kain penutup setengah wajahnya tapi karena jubah hitamnya sangat bersih berbeda dengan jubah lusuh dan kotor yang dipakai oleh sebagian rombongan ini, ia akan terlihat mencurigkan dan akhirnya ia mengerti kenapa Nian melumuri sebagian jubahnya dengan lumpur.


Perjalan mereka berjalan lancar, so ah melihat kebelakang dimana benteng kerajaan yang semakin kecil dan terus mengecil hingga hilang dari pandangan mata.


Tapi ia tak tahu bahwa takdir kembali menjungkir balikkan kehidupannya...


Sedangkan di rumah penggadaian, xi mei menunggu so ah didalam bilik tempat dimana dirinya dan so ah biasa bertemu, waktu yang terus bergulir hingga matahari mulai turun tapi wanita yang ia tunggu tak datang.


"Apakah kau benar sudah memperhatikan rumahnya ??!"tanya xi mei tajam, wajah muda segar yang kemerahan sudah hilang dari raut mukanya yang kini sangat berbanding terbalik dengan ekspresi dirinya saat bersama so ah.


"Maafkan kami nyonya tetapi kami benar-benar memantau rumah itu"ucap salah seorang pelayan yang ia perintahkan untuk mengawasi rumah so ah.


"Tak berguna !!... sekarang cepat siapkan kereta"ucap xi mei marah.


Ia sangat marah, kenapa so ah mengabaikannya ??.. ataukah mungkin wanita itu sedang sakit... ia harus bergegas menemui batu loncatannya yang sangat berharga...


Tapi ia harus menelan amarahnya hingga rasanya ia ingin muntah darah karena ketika ia mendatangi rumah yang sudah ia berikan pada so ah, rumah itu kosong. Tapi ketika melihat pakaian yang masih terlipat rapi rasa curiga belum terlalu menggerogoti hatinya sampai kemudian ia memecahkan semua barang-barang disekitarnya karena mendapat kabar bahwa wanita hamil itu hilang seolah ditelan bumi.


"P*l*c*r sial !!"umpat kasar xi mei dengan mata yang hampir keluar dari rongganya dan terlihat memerah menjijikan.


Ia langsung mengirim pesan rahasia kepada kekasihnya, pangeran huang de.


Pangeran huang de yang mengetahui bahwa mangsanya lolos tepat dibawah mata mereka juga ikut malu sekaligus marah. Ia tak ingin membiarkan panatua agung mengetahui tentang hilangnya wanita itu langsung bergegas mengerahkan pasukan pribadinya untuk keluar dari kota.


"Apakah aku boleh ikut denganmu ??"tanya xi mei pada huang de.


"Kenapa kau ingin ikut ??"tanya huang de.


"Aku.. aku ingin melihat j*l*ng itu mati dengan memohon dikakiku !!"ucap xi mei dengan suara kesal.


Huang de mengelus rambut kekasih rahasianya itu dengan lembut, dan karena rayuan xi mei diatas ranjang kemudian ia pada akhirnya mengizinkan xi mei untuk ikut serta mencari keberadaan so ah. Ia yang sudah mendapat informasi tentang kemana dan siapa yang membawa wanita itu langsung bergegas pergi bersama dengan xi mei.


Mereka tak tau bahwa hal jahat takkan selalu berakhir baik atau mungkin membawa bencana bagi mereka sendiri yang sama-sama serakah.


Tapi, begitulah manusia.