
Suram.
Hening.
Hui, Bingbing, Yi dan Long serta Zhe ze duduk diam di sudut ruang tempat dimana kaisar bisa gunakan sebagai ruang bersantainya. Ruangan yang hanya dipisahkan satu sekat dengan kamar utama, mereka bisa dengan pasti memantau pergerakan dari dalam kamar. Tapi, kondisi mereka kini tidak lebih dari tidak baik-baik saja. Wajah pucat dan lemas dengan lingkaran mata penuh tampak jelas diwajah mereka yang biasanya segar.
"Apa yang harus kita lakukan ??"tanya zhe ze cemas.
Hening.
Tak ada yang mampu menjawabnya, mereka sudah mengerahkan seluruh kekuatan spiritual mereka untuk menahan agar kekuatan spiritual milik yuan tidak hancur beserta dengan organ dalamnya.
Mereka sudah berjuang tiga hari ini tanpa istirahat sedikitpun dan melihat tubuh dari kaisar agung yang kini hanya terbaring tak bergerak ada rasa pahit membanjiri tenggorokan mereka.
Tubuh yuan yang terbaring diatas tempat tidurnya tak bergerak sedikitpun. Lelaki itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun, tapi berbeda dengan jiwa yang ada didalam tubuh yang terbaring itu.
Jiwa yuan yang telah sekarat bertambah sekarat, kini ia dengan paksa mencari keberadaan jiwa xuan.
Pagoda besar terbentuk dengan sombong ditengah-tengah ruang dimensi yang tercipta, yuan melihatnya dengan tatapan penuh kebencian.
Ia sendiri baru sadar bahwa sebuah pagoda dengan banyak lapisan pelindung terbentuk didalam ruang dimensi yang dahulunya ia buat sendiri untuk menyegel keberadaan xuan.
Yuan menembus setiap tabir pelindung yang dibuat berlapis oleh xuan, ia tidak memperdulikan keadaan jiwanya yang sudah sekarat.
Jiwa dengan inti spiritual yang sekarat itu terus menembus tabir pelindung, setiap ia berhasil memasuki satu lapis dan setiap itu pula seteguk darah merah hampir hitam keluar dari jiwa nya. Inti energi spiritualnya mulai kacau.
Hingga ia sampai dipuncak pagoda, pakaian yang ia pakai sudah basah oleh darahnya sendiri.
Mata yuan sedikit melebar melihat sosok didepannya.
Jiwa xuan mengambang di antara keempat pilar yang berdiri tegak mengurungnya. Jiwa lelaki itu tidak bergerak seincipun dari sana, rambutnya yang sehitam malam sedikit demi sedikit ternodai oleh warna perak di ujung hingga ketengah rambut hitamnya yang juga mengambang bebas. Jiwa dengan kulit yang terlihat pucat transparan itu tak terganggu saat yuan dengan paksa ingin menembus masuk kedalam pilar-pilar besar itu.
"Coughh"
"Coughh"
Semakin yuan berusaha menghancurkan keempar pilar yang melindungi jiwa xuan, semakin sekarat pula inti spiritualnya. Tanpa pilihan, yuan pergi keluar dari dalam pagoda itu.
Kekuatan spiritual yang berpusat di tangan yuan mulai membesar dan terus membesar, ia menyegel xuan beserta pagoda itu disaat terakhir. ia tahu bahwa energi spiritualnya akan habis jika ia melakukan hal bodoh semacam itu, tapi ia tak ingin melihat jiwa yang ingin merebut tubuhnya terus berulah dan merusak semua hal, termasuk so ah.
Mata yuan berkilat dingin saat ia mengingat wanitanya.
"Cih, persetan dengan racun kuno biadab itu !!! Kita harus pergi mencari penyebab masalah ini !!"bentak bingbing kehilangan rasa kesabarannya.
Wanita cantik yang biasanya tanpa emosi itu di buat frustasi dengan racun ular kuno, ia merasa gelar sebagai tabib agung dengan tangan penyembuh ilahi hanya mencoreng harga dirinya karena ia sendiri tak bisa mencari penawar racun.
"Kita harus mencari naga pelindung dunia bawah"ucap zhe ze tiba-tiba.
"Jangan implusif, kita bisa saja jadi korban selanjutnya"sahut yi dingin. Matanya sangat tidak enak dipandang, lelaki itu merasa kepalanya sangat sakit hingga rasanya ingin pecah.
Semua terdiam mendengar ucapan yi, jika lelaki rubah itu berkata demikian bahwa tidak ada harapan jika harus menemui mahluk yang bahkan sosoknya tidak mereka ketahui wujudnya.
"Tidak ada cara lain selain menemui mahluk itu"ucap zhe ze pelan.
"Dan apakah ada kemungkinan jika kita mengeluarkan semua isi dunia bawah, dan dengan begitu mereka akan dengan cepat memecah perang ?"sahut hui dingin.
Zhe ze terdiam mendengarnya, tapi berbeda dengan long, kekasihnya ia menggeram marah pada hui.
"Jadi apa solusi mu ??!!"sahut long marah.
"Bisakah kalian diam !!"bentak bingbing sembari mengancam keduanya, wanita itu menarik zhe ze untuk duduk disebelahnya setelah sebelumnya ia tanpa kasihan menendang suaminya sendiri ke samping tempat duduk long.
Hui dan long langsung terdiam saat mendengar ancaman bingbing.
Mahluk yang tengah mereka bicarakan kini sedang dalam kondisi tegang. Wajah yang selalu datar tanpa ekspresi kini hancur, lelaki itu terus berjalan tak tenang didepan pintu besar yang menghalanginya. Ia berjalan mondar-mandir hingga membuat para roh tumbuhan mengernyitkan dahi mereka, pusing melihat tingkah tak biasa dari weida de baohu long dai.
Teriakan demi teriakan menyakitkan bisa ia dengar dari dalam sana. Walau samar ia bisa mendengar pasti bahwa suara didalam sana penuh dengan perjuangan dan rasa sakit.
Setiap so ah berteriak dengan suara terendam, dai luan juga menahan nafasnya. Ia seakan ikut merasakan rasa sakit dari so ah hingga kulitnya yang tan itu jadi pucat. Ia sangat frustasi.
Siksaan macam apa ini !!...
Jantungnya ikut bergetar, energi asing yang ia rasakan dari dalam tubuh mei mei nya semakin gencar menabrak inti spiritualnya.
"Akhh, dimana weida ?!!.. bajingan gila... brengsek !!... kenapa mei mei harus menikahi lelaki bajingan seperti dia !!"pikir dai luan kesal.
Dahinya yang tak pernah berkerut dalam kini berkerut dengan ekstrem.
Ia tak menyadari bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa sangat frustasi dan tertekan dengan sedemikian rupa hingga tanpa sadar ia mengumpati kaisar agung yang selalu ia hormati itu.
Sebenarnya dalam segi umur, ia dan xuan berada di umur yang tidak jauh berbeda atau mungkin ia lebih tua ribuan tahun dari xuan, ia tak perduli. Ia hanya menjalankan tugasnya sebagai naga pelindung yang mendampingi kaisar naga.
Disisi lain, so ah tengah berjuang keras berjuang melahirkan buah hatinya. Ia terus menggigit keras kain putih yang berada di mulutnya dan dengan kasar ia mengcengkeram erat kain kasurnya.
Rou shu dan rou shi berkeringat dingin melihat bagaimana rou chi fokus pada permaisuri mereka. Walau dalam keengganan rou chi harus tetap melayani tuan mereka, pemimpin dari para roh teratu itu berusaha mati-matian.
"Alirkan lebih banyak energi spiritual alam pada tubuh yang mulia"ucap rou chi yang masih tetap fokus.
Rou shu dan rou shi menahan nafas mereka saat mereka dengan cepat mengalirkan energi spiritual alam, jumlah yang tak bisa di berikan oleh manusia tapi so ah serap dengan gila.
Energi spiritual alam yang mereka berikan berguna sebagai energi pelindung untuk permaisuri dan anak yang ia kandung, hal itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Tangisan keras berbunyi nyari saat rou chi menggendong sosok mungil di tangannya, ia dengan cepat memberikan sosok mungil itu ke tangan rou shi dengan lembut.
Rou shi dengan cepat menerima sosok mungil itu dan langsung memerintahkan para roh teratai untuk membawa air suci, ia memandikan sosok kecil itu.
Untuk kedua kalinya so ah mengerang hebat. Wajahnya yang awalnya pucat dan penuh keringat kini bertambah pucat, ia mengerang penuh kesakitan dan darahnya semakin banyak.