
"Hiks hiks hiks"isakan so ah yang tertahan di ranjang kamarnya.
Tubuh wanita itu meringkuk seperti janin dengan kedua tangannya yang memeluk erat perutnya. Ia bisa merasakan kehidupan yang terpancar hangat dari sana.
"Apakah dirimu mencoba menenangkan niang ??"bisik So ah lembut dan kemudian ia menangis lagi.
Dadanya terasa sesak, pikirannya terasa sangat kacau dan hatinya terasa sangat sakit dan satu-satunya cara meluapkan emosinya itu hanya dengan menangis sendirian seperti ini setiap malamnya.
"Tenanglah niang disini"bisik so ah lembut dan mengelus perutnya lagi.
Turun dari ranjangnya dan mengusap air matanya, so ah berjalan perlahan kearah jendela kamarnya. Disana ia bisa melihat langit malam gelap bertabur bintang.
Indah.
Apakah aku bisa menggapai dirimu niang dan membuat hatiku merasa tenang ??
Bibi Wei pernah berkata bahwa niang niang ada diantara bintang yang bersinar terang itu, jadi ketika so ah merindukan niangnya ia akan menatap langit malam.
"Lihat lah nak .... nenek .... niang dari niang melihat kita dari sana"tunjuk so ah keatas langit.
Berjalan masuk kedalam kamarnya dan mengambil mantel hitam milik Yuan. Dari mantel itu ia bisa merasakan aroma suaminya, dengan begitu hatinya sedikit tenang.
Mungkin janin ku ingin bertemu ayah mereka, itu yang selalu ia pikirkan ketika ia memakai mantel hitam besar ini. Tetapi ketika ia tau bahwa yuan sendiri tak menginginkan bayinya, anaknya, darah dagingnya sendiri rasanya hatinya sangat kesakitan dan sesak.
Berjalan perlahan kearah taman, ia bisa melihat para peri yang bersinar terang menyambutnya. Tersenyum lembut ketika salah satu dari mereka menariknya dan menyuruhnya duduk di ayunan setengah telur. para peri-peri tanaman itu langsung mengelilinginya dan menabur serbuk emas yang ternyata membuatnya menjadi hangat.
"Terimakasih"ucap so ah lembut.
Para peri-peri itu berterbangan penuh kegembiraan dan memutar-mutar tubuh mereka yang berwarna-warni serta berkelap-kelip ditengah kegelapan saat mereka mendengar suara lembut seperti lonceng yang bergemerincing merdu.
So ah tersenyum bahagia melihat teman barunya ini. Beberapa peri mungil itu membawa Buah-buahan dari sisi lain taman ini dan menaruhnya dipangkuannya.
Ketika buah itu ia makan, rasanya sangat nikmat dan ajaibnya so ah dengan lahap memakan habis buah-buahan yang mereka bawa.
"Apakah buah ini kalian petik bukan dari sisi kebun ditaman ini ??"tanya so ah.
Mereka serempak menggelengkan kepala dan menunjukkan kearah atas. So ah melihat kearah langit dan kemudian kearah mereka lagi dengan kebingungan.
"Kalian dari sana ?"tunjuk so ah dan mereka mengangguk antusias.
"Astaga lucunya"ucap so ah bahagia.
Ia berayun-ayun dengan santai dan ditemani para peri yang terus mengitarinya dengan bahagia. Angin dingin malam tak membuat so ah merasakan dinginnya karena ada pelindung berwarna emas yang melindunginya serta menghangatkan badannya.
So ah berbaring santai diayunan favoritnya dan menatap keatas langit malam yang yang terbentang luas.
"Dunia apa yang peri ini tinggali ??"batin so ah.
"Ataukah dunia yang sama dengan dunia yang ditinggali suami ku ??"lanjutnya dengan pandangan sendu dengan sorot mata kosong.
Malam itu ia habiskan dengan keheningan dan ia tak sendiri disini karena para peri itu yang menemaninya setiap malam.
Yuan yang mulai kesal karena naga hitam ini masih tetap bertahan di bawah tanah terus menerus membabi buta mengarahkan kekuatannya.
Gggggrrrrrrr ....
Retakan-retakan tanah mulai terbentuk dan terus melebar menjadi retakan yang sangat besar sekaligus mengerikan.
Yuan langsung membentangkan sayapnya dan terbang sejauh mungkin.
Dari inti retakan itu terlihat sosok mahluk besar yang keluar dari dalam tanah. Sisik-sisik hitam yang memenuhi badannya berkilauan dengan mengerikan, mata merah ganas hewan surgawi itu menatap bengis kearah sosok yang mengusik ketenangannya. Tubuh besar hitam meliuk-liuk mahluk itu keluar dari dalam kedalaman perut bumi dan terlihatlah darah dari punggung mahluk itu yang terus mengeluarkan darah hitam segar.
Yuan tersenyum sinis dengan geraman menantang dari mahluk hitam besar ini. Aura kuat yang keluar dari sosok yang sudah berubah wujud menjadi wujud seorang manusia itu membuat darah yuan menjadi sangat haus akan peperangan. Sikap yang selama ini ia tahan perlahan merebak keluar dengan aura mengerikan yang sama dengan aura hitam milik xuan.
Lelaki yang memakai kain yang hanya ia lilitkan dipinggang itu menatap Yuan dengan pandangan kaget. Benar aura yang keluar dari tubuh pria yang berada diatas itu aura sang agung dari yang agung. Ia dengan cepat menundukkan kepalanya penuh hormat.
"Salam naga ini pada yang agung"ucap lelaki itu menundukkan kepalanya dengan hormat.
Mata yuan terbelalak kaget dan mendekati lelaki naga itu.
"Siapa kau ?!"tanya Yuan. Ia tak pernah punya seorang dari klan naga yang ia tugaskan didunia bawah.
"Saya yang anda perintahkan untuk menjaga dunia bawah ini dari kegelapan"jawab lelaki itu tetapi setelah ia melihat sosok didepannya dari dekat. Ia langsung waspada.
"Tidak anda bukan yang agung"ucapnya lagi.
"Apa maksudmu !!.. apakah kau sekutu xuan ?"tanya Yuan lagi.
"Semua yang kau miliki seperti yang agung tapi itu hanya seperempat jiwanya"jawab lelaki itu dengan nada kecewa dan ia langsung dengan cepat menghilang.
Yuan yang mendengar ucapan lelaki itu langsung membelalakan matanya.
Siapa aku ??...
Dua kalimat yang selalu menjadi pertanyaan atas eksistensinya didunia ini.
Dua kalimat yang selalu ia ragukan apakah ia benar-benar hidup didunia ini !!..
Dan yang mengetahui semua itu hanya lelaki yang ada didalam tubuhnya yang mungkin saja ini bukan tubuhnya.
Lantas dia siapa ??!!!...
Kenapa semua terasa membingungkan untuk ia terima dengan nalarnya selama kehidupan imortalnya sebagai kaisar dewa agung.
Ia seperti sebuah bonekah yang diombang-ambingkan dengan pertanyaan itu.
Pemikirannya hanya bermuara disatu titik yaitu dititik dimana ia sendiri tak berani memikirkannya.
Tidak ...
Kau harus melawan jiwa xuan.
Ini tubuhku dan aku yang paling berhak atas kuasa tubuhku sendiri.
Jika bisa aku akan menyerap kekuatan jiwa xuan dan menjadikan jiwa itu kekuatanku.
Tekad Yuan yang mulai terbentuk sekeras baja itu menguasai pikirannya dan membuat ia menjadi sosok yang berbeda.
Penuh dengan obsesi dan keegoisan yang membutakan pikirannya.
Yuan langsung pergi melesat ke dunia manusia. Dalam perjalanannya itu ia melihat dikawasan dalam hutan belantara yang banyak ditumbuhi pepohonan tinggi serta besar itu terdapat banyak hewan-hewan buas gaib yang berkeliaran bebas dan memencar kesegala arah.
Ketika ia berhenti dan memperhatikan pergerakan kacau dibawahnya dari arah kanannya tiba-tiba seekor kadal raksasa membuka lebar-lebar mulut busuk yang penuh gigi runcing menjijikan kearahnya secara tiba-tiba.
Trraaanggg ....
Jlleeebbb....
Yuan tanpa menoleh menebas tubuh kadalĀ itu menjadi dua. Ia melihat bangkai kadal raksasa yang terbelah menjadi dua diatas tanah itu di serbu kawanan hewan buas gaib dari segala arah memakan bangkai kadal itu.