
So ah yang terbangun diruangan asing langsung tersentak kaget, ia merasakan mimpi buruk karena tatapan dari nyonya petani yang pergi bersamanya ke kota pusat kerajaan ini yang waktu itu di eksekusi.
Setelah mengembalikan kesadarannya secara oenuh, ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang terus berdetak kecang menyakitkan.
ia merasakan ketidakadilan dimata nyonya petani itu, ia merasa sangat bersalah. ia tenggelam dalam lamunannya beberapa saat hingga rasa sakit kembali menyerangnya.
"Akhh..."desisnya sedikit merasa ngilu, ia perlahan mengelus lembut perutnya berusaha menenangkan bayinya.
Setelah merasa tidak terlalu sakit lagi, so ah langsung mengemas barang-barangnya dan keluar dari penginapan sederhana itu.
Sudah terhitung hampir setengah bulan dirinya berada di kota pusat kerajaan ini untuk mencari informasi tapi tetap saja hasilnya nihil dan uang yang ia punyaipun semakin menipis.
Orang-orang yang berjalan lalu-lalang kesana kemari terlihat sangat ramai walaupun hari masih pagi. Matanya yang jernih itu melihat kesekeliling tempat sembari berjalan-jalan diarea pasar, ekspresi so ah langsung bersinar cerah ketika melihat tulisan di papan yang ia cari.
Ia berjalan menuju sebuah tempat penggadaian barang-barang.
"Apa yang ingin dilakukan seorang pengemis di rumah gadai seperti ini ?!"hina seorang wanita pedagang yang juga sedang menggadaikan barangnya.
So ah hanya melirik wanita paruh baya itu dengan pandangan mata sayu tapi dingin, ia sudah memantapkan hatinya bahwa semenjak ia pergi dari kediaman Qi Rui Wang dan juga perbuatan yuan padanya membuat dirinya tau bahwa tidak ada yang melindungi dirinya sendiri kecuali dirinya sendiri, Ia harus berpangku pada tubuhnya sendiri dan ia juga harus melindungi buah hatinya yang masih belum mengerti dunia.
"Maafkan saya nyonya tapi apakah ada yang salah ??... didepan toko ini tidak mempunyai larangan jika tidak memperbolehkan seorang hina masuk"ucap so ah dengan suaranya yang lembut dengan melepaskan tudung jubahnya yang lusuh.
Pemilik tempat penggadaian itu hanya dengan cermat melihat so ah dari atas kebawah, walaupun pakaian wanita didepannya ini lusuh dan sedikit berantakan tapi dari tatapan dan tingkah lakunya menunjukkan hal yang sebaliknya apalagi suara wanita ini terdengar sangat merdu seperti gemerincing lembut lonceng surgawi.
"Kenapa sangat familiar ?"pikirnya.
"Apa yang ingin anda gadaikan nyonya ??"tanya pemilik toko yang langsung datang menghampiri so ah dan wanita paruh baya itu.
Ia langsung memotong ucapan wanita paruh baya itu dan dengan lihai menuntun so ah untuk bergeser ditempat sebelah wanita paruh baya itu.
"Berapa sanggup tempat ini membeli barang ini ?"tanya so ah sembari melepas kalung emas berbandul giok langka miliknya.
Mata wanita pemilik toko penggadaian itu langsung terbelalak ngeri melihat kalung yang berada di tangan so ah.
Kalung emas berbandul giok langka berwarna biru terang seukuran tetesan air yang jika terkena sinar matahari menjadi transparan itu dan ia bisa lihat didalamnya terdapat banyak butiran-butiran emas murni yang sudah dibuat menjadi serbuk yang berkilauan ketika dirinya menaruh bandul giok mungul seukuran air mata itu di bawah sinar matahari, sulur-sulur ukiran yang sangat khas satu sama lain membuat pemilik toko tau bahwa itu ukiran khas yang berasal dari kerajaan barat yang sangat makmur.
"Kami.. ah tidak... ku..kualitas kalung ini terlalu langka dan berharga nona dan mungkin semua barang berharga serta uang dari toko ini takkan sanggup untuk membayar harga sebuah kalung ini"ucap wanita itu sembari memegang kalung emas berbandul giok itu dengan sangat hati-hati.
"Jika seperti itu bisakah aku menjadi pemilik dari tempat ini ?"tanya so ah santai, so ah berfikir bahwa itu hanyalah kalung biasa karena bentuknya yang sangat ringan dan nyaman dipakai serta tidak mencolok dikesehariannya.
Kalung liontin Air mata barat yang dihadiahkan putri mahkota Ning ternyata sangat membantu hidupnya sekarang ini.
"Anda.. anda ah maafkan saya... jika jika anda ingin menjadi pemilik tempat ini tidak apa-apa saya senang... saya senang..."jawab cepat wanita itu.
"Apakah kau tidak menyesal ??"tanya so ah.
"Tidak saya tidak menyesal"ucap pemilik toko itu girang.
Dirinya berani mengambil keputusan itu dengan cepat karena dirinya tau barang-barang berharga yang menempel ditubuh wanita didepannya ini lebih berharga daripada seisi tokonya dan lagi jika ia bisa mempunyai koneksi dengan wanita ini bukankah hal itu tidak sebanding dengan hanya memberikan satu toko penggadaiannya diantara 3 tokonya yang lain, dan lagi sangat jarang seorang wanita bangsawan bisa memakai barang langka dari kerajaan tetangga hingga dirinya percaya pada pilihannya ini.
Dia juga tak ragu memberikan Kepercayaannya walau ia tak tau siapa wanita asing didepannya ini tapi yang pasti aura wanita ini sangat tak asing baginya.
So ah sedikit bersyukur karena kalung giok langka yang ia pakai tak terlepas dari lehernya, dan dengan jumlah koin emas yang banyak setidaknya untuk beberapa bulan kedepan dirinya takkan takut kelaparan dan lagi sekarang dirinya sudah menjadi seorang nyonya pemilik toko penggadaian ini.
"Apakah disini ada ruangan lain ??"tanya so ah pada wanita yang melayaninya.
"Maafkan saya... maafkan saya... mari nyonya"ucap wanita itu dengan sopan.
"Apa yang terjadi ??"tanya wanita pedagang itu ketika melihat pengemis itu diperlakukan begitu sopan.
"Maafkan saya nyonya tapi saya tidak mengetahuinya..."jawab pelayan itu sopan.
"Dimana pemilik tempat ini ?!!"tanya wanita paruh baya itu arogan.
"Yang bersama wanita tadi adalah pemilik toko ini, nyonya"jawab pelayan itu lagi.
"Bagaimana bisa ???!!!"bentak wanita paruh baya itu tak suka, ia melirik penuh rasa dengki ke arah bilik yang ada dilantai atas.
"Maafkan saya nyonya, uang anda masih kurang jika ingin menukar perhiasan ini dengan liontin giok dari kami"kata pelayan itu sopan.
"Apa maksudmu ?!... ini perhiasanku yang paling mahal..."ucap wanita paruh baya itu tak suka.
"Maafkan kami nyonya, masih ada orang lain yang ingin mempunyai bisnis dengan kami dibelakang anda... jika anda ingin berbisnis bisa kembali esok hari"ucap pelayan itu lagi.
Wanita paruh baya itu pergi dengan ekspresi sombong dan angkuh, ia melirik semua orang-orang yang ada dibelakangnya dengan tatapan menghina.
"Cih, jika bukan karena toko ini adalah tempat penggadaian yang paling besar diantara tempat lain, mana sudi aku berbaur dengan pengemis-pengemis miskin ini"desisnya didalam hati.
Wanita paruh baya berbadan gendut itu langsung pergi dengan menaiki kereta kuda yang ia bawa. Ia sudah berjanji didalam hatinya bahwa ia akan mengadukan hal ini pada pada suaminya dirumah.
"Siapa yang berani melawanku !!... humpt... dasar orang-orang miskin tak tahu malu... cih jika saja perhiasanku mencukupi untuk membeli kalung langka itu sudah pasti wanita-wanita j*l*ng kecil tak tau malu yang menggoda suamiku akan iri sampai mati atau mungki mereka akan menelan bulat-bulat muntahan darah mereka sendiri karena iri padaku !!! Hahahaha itu akan sangat bagus... sangat bagus hahahaha..."pikir wanita paruh baya itu dengan gila.
Ia sudah sangat kesal karena banyak selir dan wanita murahan dari rumah bordil yang dibawa suaminya kedalam kediaman mereka dan hasilnya ia juga harus berjuang demi mendapatkan kasih sayang walaupun statusnya sebagai nyonya utama kediaman tapi hal itu tetap saja mengkhawatirkan bagi hatinya yang sudah dipenuhi dengan keserakahan.