
"Ge ge, apa yang kau lakukan ??"tanya so ah, saat ini ia tengah mengunjungi paviliun dai luan.
So ah bisa mendengar suara gaduh dan ribut dari balik pintu yang tertutup ini.
Apa yang tengah dilakukan gegenya ??...
Sudah tiga hari semenjak so ah berkata akan pergi sementara waktu dari tempat suci ini, dan selama itu pula dai luan menguburkan dirinya sendiri didalam ruangan pribadinya dan tak menemui so ah.
"Pyuuu..."ucap bola bulu kepada tuannya.
"Diam"tatap dai luan dengan pandangan mengancam.
"Pyuu"kedua telinga bola bulu itu langsung terkulai lemas karena reaksi tuannya.
Mata besar roh spiritual itu menatap pintu masuk dengan pandangan penasaran dan kemudian mengalihkan pandangannya lagi menatap sang tuan. Bola bulu pemalu itu menggelindingkan tubuhnya dan berusaha melewati celah pintu tapi langsung tertahan karena dai luan yang dengan cepat mengikat tubuh transparan milik roh spitualnya, bola bulu pemalu itu memandang dai luan dengan mata berair.
"Hahhh.... biarkan saja"bisik dai luan.
Lelaki berkulit tan pucat itu merebahkan tubuhnya di kursi lembut yang berada didalam ruangan kamarnya. Ia menutup matanya, berusaha mengabaikan panggilan mei meinya serta sosok mungil lain yang disisi lain paviliun kini tengah ikut serta memanggil dirinya.
Jika ia keluar sekarang, ia masih belum punya alasan yang bisa dikatakan kepada so ah. Jadi, ia lebih memilih sebagai seorang pengecut untuk sementara waktu ini.
Ia bisa mendengar helaan lembut nafas yang terdengar kecewa milik so ah dan langkah kaki yang perlahan mulai menjauh dari ruangannya ini.
Mungkin untuk sementara seperti ini lebih baik, pikir dai luan sembari membuka matanya dan menampilkan mata tajam berwarna kuning terang, bersinar tajam dalam kegelapan.
So ah berjalan meninggalkan kamar dai luan dengan perasaan kecewa dan juga sedih, sebegitu tidak inginkah gegenya untuk memberikan izin kepadanya ??... hal tersebut justru membuat so ah semakin penasaran dan merasakan hal yang tidak baik benar-benar terjadi.
Ditambah lagi rasa sakit intens didada kirinya semakin hari semakin menjadi-jadi, ia tak berani berbicara tentang rasa sakitnya yang ia pikir hanyalah rasa sakit biasa sampai tanda merah gelap di dada kirinya semakin hari semakin terlihat jelas dan kemudian hilang tak berbekas.
Xuan.
So ah memandang jauh ke arah gazebo, menurut ucapan dua dayangnya. Xuan biasa menghabiskan waktunya disana, duduk sendiri.
Apakah dulu kau juga begitu sangat kesepian ??
Tak ada yang berani mendekati sosok agung, weida de tianghuang. Semua mahluk ditempat ini sangat menghormati kaisar agung mereka dan bahkan sebagian dari mereka takut akan kekuatan weida de tianghuang. Hanya naga pelindung agung milik weida de tianghuang, Dai luan. Sosok weida de baohu long dai yang terus menemani sosok kaisar agung weida de tianghuang He Jun Lianxu.
So ah melihat sesosok bayangan pria berambut perak yang tengah duduk diam menatap kelopak bunga persik yang berjatuhan dan diterbangkan angin. Ia mengedipkan matanya dan sosok bayangan itu lenyap dari pandangan matanya.
"Xuan"bisik so ah, ia tak percaya bahwa itu hanyalah khayalannya semata.
Mata so ah melihat kesegala arah berusaha mencari sosok xuan, tapi kosong. Ia tak menemui lelaki itu.
So ah berjalan perlahan menuju ke gazebo. Ia berdiri diam menatap kelopak-kelopak merah jambu yang tergeletak berhamburan menutupi tanah hijau dibawahnya.
Abadi.
So ah mengetahuinya semenjak ia datang ketempat ini, segala sesuatu yang berada ditempat ini tidak pernah mati.
Apakah xuan juga seorang mahluk abadi ?? Tak pernah menua atau mati ?? Jika iya, bukankah bersama dengan dirinya akan membuat xuan malu akan kondisi dirinya yang semakin hari akan menua dan mati, pikir so ah kosong.
Crak..
Crakk...
Suara ketukan kecil dipinggir gazebo mengalihkan perhatian so ah.
"Apa itu ??"pikir so ah.
"Surat ??"pikir so ah.
So ah berjalan mendekati anak panah itu dan melihat kesekelilingnya yang tak terlihat satu mahlukpun disana, dengan cepat ia mengambil panah itu dan membuka surat yang berada disana.
"Apa ini !!!"pikir so ah kaget.
Ia membuang anak panah itu dan bergegas pergi menuju ke paviliunnya.
"Salam kepada yang mulia permaisuri agung"ucap rou shi dan rou shu yang langsung memberi salam kepada so ah.
So ah perlahan berjalan menuju keayunan bayinya, ia melihat dua anaknya masih tertidur lelap kemudian berjalan ke tempat duduk santai yang sudah dayangnya persiapkan.
"Apakah kalian tahu dimana sungai keabadian ?? Aku mendengar bahwa sungai itu sangat indah ??"tanya so ah, ia perlahan meminum tehnya.
Rou shi dan rou shu terdiam merasa sangat tegang saat mendengar pertanyaan tuan mereka.
"Anda benar, yang mulia"sahut rou shi, pada akhirnya mereka berdua sebagai seorang dayang yang melayani so ah.
Mereka memberitahukan dimana keberadaan sungai keabadian yang juga sebagai rumah mereka.
"Bisakah besok kita berjalan-jalan disana ?"ucap so ah lembut.
"Aku ingin melihat keindahan teratai murni"ucap so ah lagi.
Rou shu dan rou shi kembali terdiam.
"Baik... baik yang mulia"ucap rou shu kaku. Rou shi menyenggol tangan kakak perempuannya itu dan memberikan kode padanya.
"Maafkan kami yang mulia tetapi kami harus mendapat izin dari weida de baohu long dai jika anda ingin keluar agak jauh dari paviliun ini."ucap rou shu lagi.
Kini, giliran so ah yang terdiam.
"Weida de baohu long dai takkan keluar dari kamarnya, dan tempat yang akan menjadi tujuan kita dekat dengan paviliun ini, tak akan ada yang salah"ucap so ah santai.
"Biarkan aku sendiri saja berjalan-jalan kesana, kalian jagalah buah hatiku, yao'er dan yue'er"ucap so ah lembut, matanya sedikit bergetar gelisah.
Rou shi dan rou shu hanya bisa diam, mereka sedikitk hawatir melihat tuan mereka yang sepertinya ingin datang kesungai keabadian.
Kenapa ???...
Apakah mungkin yang mulia permaisuri ingin melihat penjara di bawah air itu yang bahkan mereka sendiri tidak pernah bisa masuk kedalam sana walaupun tempat itu jelas-jelas berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka atau lebih tepatnya berada dibawah tempat tinggal mereka.
So ah kini tengah bermain bersama dua buah hatinya yang semakin hari kecepatan tumbuh tubuh mereka sedikit demi sedikit mulai terlihat tumbuh sehat dan gemuk.
Balita berusia satu tahun lebih itu sudah bisa duduk dengan sendirinya di kasur tidur milik so ah, yao'er yang menjadi kakak kembar yue'er memandang datar acuh tak acuh pada adik perempuanya yang kini tengah berguling-guling kesana kemari membuat keributan hingga kain kasur menjadi berantakan tak rapi. Yue'er menatap kakaknya dengan pandangan mata berbinar seakan mengakatan bahwa apa yang ia lakukan adalah hal yang paling menyenangkan didunia, tapi dibalas yao'er dengan pandangan datar tak berminat.
Yue'er yang kesal karena kakak lelaki kembarnya ini tak merespon dan hanya menatap malas serta tetap diam pada posisinya melemparkan kerincing mainan yang tepat berada didekat tubuh kewajah datar yao'er.
Cringg..
Bruk...
Yao'er menatap adik perempuannya dengan wajah memerah, marah. Ia merakak mendekati biang masalah dan akan menghukumnya tapi sebelum ia berhasil menghukum si biang masalah, tubuh kecilnya sudah terlebih dahulu diangkat ibunya.
Tawa kecil balita terdengar legit mengalun lembut dari arah depannya, yue'er tergelak melihat tatapan wajah kakak lelaki kembarnya sembari menjulurkan lidah kecil merahnya.